ARDIAN

ARDIAN
Preman


__ADS_3

Nanda melihat tanganya, masih setia di cekal oleh cowok bertindik itu, matanya yang tajam menatap Nanda dengan penuh selidik.


“Lepasin tangan lo!” perintah Nanda.


Cowok itu semakin mengeratkan celakanya, membuat Nanda berusaha lepas dari Ardian.


''Dimana ruangan cowok, yang lo bawa semalam!'' matanya menyala, seakan-akan di kedua bola matanya, siap mengeluarkan api.


''Maksud lo?'' dahi gadis itu mengerut, diantara dua alisnya.


''Nggak usah pura-pura bodoh lo!'' desis Ardian.


Nanda menatap Ardian tidak suka. ''Lo nggak usah sok kenal sama gue!'' Nanda berusaha melapaskan tanganya yang di cekal oleh Ardian.


Nanda berusah melepaskan tanganya yang di cekal oleh Ardian, tanganya ia rasakan perih, kulitnya sangat sensitif.


Dia yakin, pergelangan tanganya kini, sudah memerah.


Setelah berhasil melepaskan tanganya dari Ardian, mereka berdua kembali beradu tatap. ''Gue buru-buru, nggak ada waktu buat ladenin preman!'' decit Nanda lalu melenggang pergi.


Ardian tersenyum, melihat punggung Nanda sudah berjalan menjauh meninggalkanya di koridor.


Nanda masuk kedalam mobil, pak Budi langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang.


Gadis itu melihat pergelangan tanganya memerah, akibat cekalan Ardian yang memakai tenaga.


Satu jam menjaga Dika, membuat Nanda tau, mengapa cowok itu sampai seperti itu, saat ia menemukannya terkulai lemas, di dekat toilet.


''Dasar preman, apa dia nggak mikir, tindakannya itu bisa bunuh anak orang!'' geram Nanda. Mengingat, percakapanya dengan Dika tadi. Jika Ardian yang membuat Dika seperti itu.


''Non Nanda ada masalah?'' tanya pak Budi, tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.


Nanda menggeleng, seraya mengambil permen karet dari saki celana jeans yang ia kenakan.


Dia mulai mengunyah permen karetnya, sehingga pikiranya sedikit tenang.


Perlahan-lahan, mobil yang di bawa oleh pak Budi, berjalan lambat. Karna lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.


Brum...


Brum..


Motor sport berwarna hitam singgah di tepat di samping mobil Nanda.


Ardian membuka kaca helm full fecnya, sehingga matanya dengan mata Nanda bertemu.


Nanda menatap tajam Ardian, ''dasar preman,'' racau Nanda yang masih di dengar oleh Ardian.


Ardian masih menatap Nanda, gadis itu dengan wajah angkuhnya memakan permen karet seraya menatapnya.


''Gara-gara lo, tangan gue memar!'' Nanda menunjukkan pergelangan tanganya, kepada Ardian.


''Lo pikir gue peduli?'' balas Ardian membuat Nanda mengumpat.

__ADS_1


''Dasar preman lo!''


Pak Budi hanya diam saja, melihat anak majikannya itu mengoceh dengan seorang cowok yang mengendarai motor, singgah tepat di samping mobilnya.


Ardian kembali memasang kaca helmnya, saat lampu lalu lintas mulai berubah berwana hijau.


Cowok itu melajukan motornya, tidak peduli dengan pengendara motor lainya, mengumpat dirinya.


''Gila!'' ngeri Nanda, melihat Ardian begitu lihai membawa motor.


''Teman barunya non Nanda?'' tanya pak Budi.


''Bukanlah!'' jawab Nanda dengan amit-amit


Ardian berada di depan pagar rumah Nanda, duduk dengan enteng diatas motornya. Menunggu kedatangan Nanda.


''Non Nanda, itu bukanya cowok yang di lampu merah tadi?'' tanya pak Budi membuat Nanda melihat kearah luar.


Benar saja, Ardian berada di depan pagar rumahnya.


''Itu preman ngapain sih kesini!'' dengus Nanda.


''Turunin Nanda di depan pagar pak,'' perintah Nanda.


Pak Budi memberhentikan mobil, lalu Nanda keluar dengan wajah kesal.


‘’Ngapain lo di depan pagar rumah gue!'' usir Nanda.


''Dimana ruangan cowok, yang lo bawa semalam!''


Ardian tersenyum tipis.


“Pantas saja Leo menjulukinya gadis permen karet.”


''Jangan sampai gue culik tuh anak! Kalau lo nggak kasi tau gue!'' ancam Ardian membuat Nanda menatapnya dengan tatapan permusuhan.


''Gue nggak tau maksud lo apa.'' Nanda berusaha pura-pura tidak tau, membuat Ardian tersenyum jenaka.


''Lo pikir, gue nggak tau. Di tempat lo bawa tuh anak semalam, ada CCTV. Gue bisa lihat dengan jelas, lo bawa itu cowok!'' Nanda terdiam.


Saat sahabtnya ke markas, Ardian malah membelokkan motornya menuju tempat semalam, dimana ia menghajar Dika abis-abisan.


Saat mengecek cctv, dia sedikit terkejut saat melihat Nanda menolong Dika.


Nanda bersedekap dadah kearah Ardian, dengan dagu ia naikkan, dengan mulutnya setia mengunyah permen karet, membuat Ardian membenarkan ucapan Izam dan Ethan.


Jika gadis di depanya memang angkuh dan sombong.


''Eh, preman. Kalau mau pukul anak orang, pake otak, kasihan anak ornag! Bisa-bisanya lo ajar anak orang sampai mau mati!''


'‘Sesuai yang lo bilang, kalau gue preman. Kenapa gue harus kasihan?'' Ardian menaikkan alisnya sebelah membuat Nanda menatapnya dengan malas.


''Mending lo pergi dari sini!'' usir Nanda mengibaskan tanganya kearah Ardian.

__ADS_1


Ardian memperhatikan tangan Nanda, tangan gadis itu semakin memerah.


“Kulitnya sensitif?”


“Kalau lo nggak kasi tau gue, gue bak—“


“Bakalan apa?” potong Nanda membuat Ardian menatap gadis itu tajam.


Nanda begitu berani padanya, padahal di sekolah tidak ada yang berani kepada dirinya. Bahkan para sahabatnya tidak pernah memotong perkatanya.


“Ara!!”


Suara Gina dari dalam rumah, terdengar sampai luar. Ardian menaikkan alisnya sebelah, nama Ara juga tadi, di sebut oleh Gerald.


“Mending lo pulang!” usir Nanda lalu pergi meninggalkan Ardian di depan pagar rumah.


“Iya, Mah!”


***


Izam mengunyah kue yang dibawa Ardian, untuk mereka berlima. Padahal kue itu, kue yang di beri Tari pada hari Sabtu, namun baru Senin kue itu sampai di tangan para sahabatnya.


Mereka sedang mengobrol, mengenai Nanda yang menyelamatkan Dika semalam.


“Yang bener lo, Ar. Masa iya sih itu cewek angkuh nyembunyiin tuh cowok di rumah sakit,” ujar Izam. Seraya memakan kue yang begitu nikmat, dibawa oleh Ardian.


“Udah ada bukti cctv,” sahut Leo, yang melihat video rekaman cctv itu di krim Ardian, di Group mereka berenam.


“Padahal tuh anak udah mau sakaratul maut,” sahut Rafael membuat Izam bergedik ngeri. Mulut sahabatnya itu memang…n


“Bukan nyembunyiin, tapi dia nolongin,” sahut Gerald.


Ia sempat terkejut. Saat melihat rekaman yang di kirim oleh Ardian. Pantas saja Nanda berada di rumah sakit.


Mereka hanya berlima. Sementar Ethan belum juga datang.


“Kita bahas ini, kalau Ethan udah datang,” final Ardian, mereka akan menyusun rencana untuk menculik Dika.


“Tumben-tumbenan tuh Sethan terlambat.”


“Itu dia,” tunjuk Leo, melihat Ethan masuk kedalam kelas dengan wajah kusut.


“Muka lo Ken—“


“Gue putus sama, Vani,” ucap Ethan dengan lesuh. Ethan langsung memotong ucapan Izam, dia tidak mau jika cowok itu bertanya panjang kali lebar.


Terlihat wajah cowok itu tidak bersemangat.


“Udah gue bilang, cewek itu buat kita nggak fokus,” ucap Rafael.


Huft


Hembusan nafas berat di keluarkan Ethan. “Bantu gue balikan.”

__ADS_1


__ADS_2