
Nanda memejamkan matanya, saat Ardian sudah memulai aksinya, membuat para penonton berteriak-teriak histeris. Yang paling heboh adalah para penonton cewek, karna yang melakukan atraksi adalah cowok tampan, membuat mereka semakin tergila-gila.
"Keren banget cowok lo, Nan!" teriak Puri, membuat seluruh tatapan mata langsung terarah pada Puri, lalu tatapan mereka langsung menatap Nanda.
Mereka melihat Nanda dan menatap gadis itu sinis, karna cowok yang sedang melakukan atraksi sudah mempunyai gebetan yang sangat cantik.
"Ri," tegur Ethan.
Puri mengibaskan rambutnya, membuat Ethan memejamkan matanya. Karna rambut gadis itu menerpa wajahnya yang tampan ini.
"Gue sengaja teriak, biar cewek gatel itu nggak teriak-teriak kek orang gila. Biar dia tahu, kalau cowok yang lagi lakuin atraksi berbahaya itu, udah punya pawang," jelas Puri membuat Ethan manggut-manggut.
Nanda mengigit bibirnya, rasanya dia ingin pingsan melihat motor Ardian berputar di tong setan, tanpa rasa takut sama sekalid wajah cowok itu.
Nanda sampai berpikir, apakah cowok itu punya nyawa cadangan? Hingga dia mau melakukan atraksi gila ini.
Ingin sekali Nanda beteriak menyuruh cowok itu untuk berhenti saja, namun wajah tenang cowok itu mengendarai motor sangat tenang, membuat Nanda menghembuskan nafas berat. Ardian benar-benar cowok yang tidak takut.
"Ganteng banget!"
"Wah gila! Dia keren banget!"
"Ya ampun, kok ada cowok setampan oppa-oppa Korea!"
"Ganteng banget cowoknya Nanda!"
Itu adalah teriakan para cewek-cewek, bahkan penonton kali ini lebih ramai ketimbang malam-malam lainya, membuat Adit tentunya sangat senang, karna dia mendapatkan penghasilan tiga kali lipat dari malam biasanya.
Itu semua berkat cowok bernama Ardian.
Ardian melemparkan senyuman pada Nanda, masih sempat-sempatnya cowok itu. Motor yang ia kenakan masih mengelilingi tong besar ini. Jika meleset sedikit, bisa di pastikan Ardian akan jatuh dibawa sana.
Entah sejak kapan Boy dan Greta juga ikutan nonton. Oiya, Boy melihat stori Puri di ig, mereka berdua memang sudah saling follow, lebih tepatnya Puri duluan lalu dia dm pria itu untuk mengikuti nya balik wkwk.
__ADS_1
Sehingga Boy melihat stori Puri, jadinya dia mengajak Greta kesini.
Boy masih setia menatap Ardian. Perlu dia akui, jika tingkat keberanian cowok itu diatas rata-rata.
Lalu Boy melirik Greta, tatapan mata gadis itu fokus pada Ardian. Meski Greta sudah mengatakan pada Boy, jika dia sudah mengubur rasa cintanya pada cowok itu. Namun tetap saja, rasa itu masih ada, meski sudah tidak seperti dulu. Karna dia berusaha mengurangi rasa cinta itu, karna tidak mungkin Jika dia langsung melupakan nya begitu saja. Jika Greta di tanya, apakah perasaan itu masih ada untuk Ardian, maka Greta akan menjawabnya 'iya' jika dia masih mempunyai perasaan untuk cowok itu.
"Dia hebat ya," celetuk Boy membuat Greta melirik nya. "Tapi saya jauh lebih hebat. Bisa menyembuhkan orang sakit," lanjutnya di selingin dengan canda.
Greta hanya tersenyum tipis, dia tidak tahu apa yang ingin dia balaskan dengan ucapan Boy barusan.
Mereka berdua saling diam, hingga Boy kembali angkat suara, "saya nggak peduli, jika kamu masih menyukai dia. Rasa suka itu nggak bisa hilang begitu saja, kalau sudah terlanjur menyukai orang itu. Tapi saya yakin, jika kamu sudah menikah dengan saya, maka nama ARDIAN bakalan hilang di gantikan dengan nama BOY." Pria itu menekan nama nya dan juga nama Ardian.
"Iya." Hanya kata itu saja yang Greta ucapkan. Tidak masalah bagi Boy, lagian dia juga paham fase remaja seperti Greta.
Perlahan-lahan gadis itu akan mencintai nya sepenuhnya, tanpa melibatkan orang lain di dalamnya.
Untung saja Ardian tidak suka balik pada Greta. Jika itu terjadi, sudah pasti dirinya tidak akan mendapatkan Greta dan gadis itu mau di ajak menikah.
Untuk kali ini, Boy harus mengucapkan terimakasih kepada cowok itu, karna secara tidak langsung dia membukakan dirinya jodoh, meski Greta masih duduk di bangku SMA, tidak masalah bagi pria itu.
Jangan lupa, sambutan menggemah untuk cowok tersebut.
"Lo keren banget, Ar. Sampai cewek-cewek pada histeris." Izam merangkul pundak Ardian dengan bangga. Bukan dia yang bermain namun dia yang merasa keren.
Maklum, namanya Izam wkkw.
"Ini nih, yang namanya, bukan dia yang main, tapi dia yang merasa keren," celetuk Ethan membuat Izam tertawa kecil.
"Iri aja lo."
"Debat mulu," kata Leo.
Adit datang menghampiri kelima cowok tampan itu.
__ADS_1
"Makasih atas kunjungan nya. Karna lo yang main, para penonton jauh lebih banyak dan mereka nyawer jauh lebih banyak," kata Adit dengan senyuman.
"Sama-sama," kata Izam mewakili para sahabat nya, sementara Ardian hanya mengangguk kecil saja.
Adit mengeluarkan sesuatu dari jaketnya, namun Leo yang peka langsung angkat bicara, "nggak usah, Dit. Ardian lakuin karna suka," kata Leo membuat pergerakan tangan Adit terhenti.
Adit mengangguk kecil, dia lupa jika anak-anak di depan nya kalangan atas, tidak membutuhkan uang receh dari nya.
Padahal Adit ingin memberikan uang sebesar lima ratus ribu.
"Kita cabut," ajak Ardian dan di ikuti oleh para sahabat nya.
"Gue sama yang lain cabut," pamit Leo dan dibalas anggukan kepala oleh Adit.
Lalu kelima cowok itu berjalan keluar.
Ardian tersenyum, melihat Nanda tengah menunggu nya. Namun senyuman itu langsung luntur saat ia melihat Boy juga, bukan hanya Boy, tapi ada Greta juga.
"Napa lo?" tanya Boy, karna melihat wajah Ardian yang tadinya senyum, berubah datar.
"Ganggu pemandangan," ucap Ardian santai membuat Boy memutar bola matanya malas.
"Lain kali nggak usah ikut-ikutan kayak gini," kata Nanda.
"Nggak usah khawatir, gue yakin sama diri gue sendiri," kata Ardian memasang senyum tertampan yang ia miliki.
"Nggak usah khawatir, Ra. Ardian punya nyawa cadangan," timpal Boy santai.
Ardian menatap Boy, lalu tatapan cowok itu beralih pada Greta, yang sedari tadi menatap nya, Ardian tahu akan hal itu. "Selamat buat lo, sama dokter Boy," kata Ardian pada Greta, lalu berjalan mendekati Nanda. "Gue sama Nanda duluan."
Ardian menggandeng tangan Nanda pergi, membuat Boy menarik tangan Greta juga untuk pergi.
"Ardian lupa ngajak kita atau apa sih?" gerutu Izam, karna cowok itu main pergi saja.
__ADS_1
Izam juga berusaha memasang sikap baik-baik saja, bahkan cowok itu tidak pernah melirik Greta sama sekali.
Rasanya kurang ajar aja, jika dia menatap calon istri orang lain, apa lagi calon istri dokter Boy.