ARDIAN

ARDIAN
Sedihnya jangan terlalu larut


__ADS_3

Gina membuka pintu rumah, setelah dia mendapatkan kabar dari Boy, jika Nanda sudah mengetahui semuanya. Gina melihat mobil milik Boy memasuki pekarangan rumah, dengan wajah cemas Gina menunggu kedua anaknya turun dari mobil.


Boy melirik Nanda, karna gadis itu belum juga turun dari mobilnya, Boy melihat mata adiknya itu memerah, menahan tangis. Dia tahu, Nanda tidak mudah menagis, namun dalam situasi seperti ini, Boy mau lihat sebagaimana bisa Nanda mempertahankan air matanya agar tidak turun membasahi kedua pipinya itu.


Nanda melirik Boy. Lalu tangan Boy bergerak mengusap rambut Nanda. ‘’Nggak boleh cengeng, lo sendiri, kan yang bilang nggak suka cewek lemah, apa lagi sampe nangis,'' nasehat Boy.


Nanda tidak membalas ucapan Boy, namun berulang kali gadis itu menghembuskan nafas berat.


Dia melihat keluar jendela, mamanya Gina menunggu dirinya di depan pintu, Nanda bisa melihat wajah cemas milik Gina.


Apa yang mamanya harapkan dari dirinya? Apa Gina berpikir jika Nanda akan menangis setelah tahu hal ini?


''Nggak mau buat mama kepikiran, kan?'' tanya Boy, dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


''Yang harus lo kakuin, lo harus pura-pura Tegar di depan mama. Tunjuk in kalau kamu nggak serapuh yang mama pikirin,'' ucap Boy lagi.


''Bang....'' suara gadis itu menjadi bergetar.


Boy langsung membawa Nanda kedalam pelukanya, mengusap rambut adiknya itu. Namun Nanda tidak menitihkan air matanya, dia berusaha agar air matanya itu tidak jatuh di pipinya.


''Meskipun papa udah bahagia sama keluarga barunya, bukan berarti kita harus sedih dengan Kebahagian papa bersama pelakor itu. Kita harus buktiin sama papa, kalau hidup kita jauh lebih bahagia meskipun tanpa,'' nasehat Boy. Sehingga Nanda melepaskan pelukanya, menatap wajah kakaknya yang sudah lama mengetahui hal ini.


Apa yang di katakan Boy benar, dia tidak boleh bersedih diatas Kebahagian papanya.


''Kita boleh sedih, tapi jangan sampai kita larut dalam kesedihan itu,'' lanjut Boy dengan bijak.


Jujur saja, saat melihat Iksan menggandeng tangan wanita lain, gadis itu mulai memanas air matanya siap turun kala mengingat wajah milik mamanya di rumah. Namun itu semua terurung, karna Boy langsung datang menarik tanganya, di saat Raisa ingin menampar dirinya.


Gadis itu menghembuskan nafas berat, ucapan boy selalu dia simpan di dalam pikiranya.


Nanda, jangan sedih. Jangan lemah. Papa udah khianatin mama, seharusnya lo buat mama lo supaya nggak sedih


Nanda sibuk dengan pikiranya. Hingga gadis itu membuka pintu mobil, lalu dia turun membuat Gina menatap anaknya itu.


Mata Gina dan Nanda beradu, Gina menitihkan air matanya, rahasia sebesar ini sudah di ketahui Nanda dengan sendirinya, dan sialnya gadis itu melihatnya secara langsung.


Gina merentangkan tanganya, memberikan kode kepada Nanda, agar gadis itu masuk kedalam pelukanya.


Nanda langsung berlari, memeluk Gina begitu erat.


Boy tersenyum tipis melihat mama dan adiknya berpelukan.


''Papa yang bakalan menyesal, udah ninggalin wanita sebaik mama. Papa bakalan menyesal, karna memberikan luka begitu dalam untun anak-anaknya,'' gumam Boy, seraya mengusap air matanya.


Dia tidak boleh lemah, Nanda saja tidak menangis, hanya saja gadis itu memendamnya seorang diri. Suatu saat akan meledak.


''Kamu kok nggak nangis?'' tanya Gina karna dia ingin mengusap air mata anaknya, namun air mata itu tidak adai


''Apa yang mama harapin? Mama mau Ara nangis?'' tanya gadis itu berusaha tegar, padahal hatinya menjerit.


''Ra....''


''Mama aja kuat, masa Ara nggak kuat?''


Nanda melepaskan pelukanya, tersenyum seperti biasa kepada mamanya. ''Kalau mama kuat, Ara juga harus kuat. Karna mama jauh lebih sakit menerima ini semua,'' ucap gadis itu dengan bijak, membuat Gina langsung memeluk kembali anaknya.


''Kenapa nggak nangis, mama tahu kamu lagi nahan air mata kamu,'' ucap Gina seraya menitihkan air mata, dia tahu anaknya itu ingin menangis, namun dia tidak mau melakukan hal itu, takut jika dirinya akan semakin sedih.


Nanda tidak membalas ucapan mamanya lagi, takut jika dia tiba-tiba menjadi melow karna ucapan Gina.


Boy menarik kedua tangan wanita itu, untuk segera masuk kedalam rumah.


Nanda dan Gina duduk di kursi sofa, Gina mengusap rambut anaknya itu. ''Mama tahu, kamu lagi capek,'' ucap Gina.


''Ma, jangan larut sama kesedihan mama. Ara yakin, papa bakalan dapat balasan setimpal, atas apa yang dia lakuin sama mama,'' ucap Nanda, seraya mengepalkan tanganya dengan kuat.


Bayangan itu trus saja menghantui pikiranya, melihat Iksan bergandengan tangan dengan wanita lain, yang merupakan mama Kesya. Nanda tidak tahu, apakah Kesya itu anak tiri papanya atau...


Memikirkan hal itu membuat Nanda menjadi semakin sakit hati, atas apa yang papanya lakukan.


Nanda masih ingat jelas ucapan Iksan, jika dia sibuk kerja di luar kota, ternyata itu semua sebuah kebohongan belaka yang papanya ciptakan.


‘’Kita harus buktiin, kalau kita bisa bahagia tanpa papa,'' sahut Boy, seraya membawa minuman untuk mama dan adiknya.

__ADS_1


''Soal duit, kita nggak perlu khawatir,'' kata Boy seraya tersenyum penuh arti. ‘’Karna mama jauh lebih kaya ketimbang papa,'' lanjutnya dengan senyuman sinisnya.


Papanya benar-benar buta, dia menyia-nyiakan sebuah berlian, demi berlian kw fersi Raisa.


Boy akui, jika istri kedua papanya itu, jauh lebih muda dari mamanya, namun soal kecantikan boleh di aduh, meskipun umur Gina sudah tidak muda lagi, namun kecantikannya tidak akan luntur, karna Gina cantik natural, cantik luar dan dalam.


***


Malam haripun tiba, Cika malam ini akan bermalam di rumah Salsa, karna kedua orang tuanya sedang keluar negeri pagi tadi, bisnis mereka di sana mengalami kesulitan kecil, sehingga pagi tadi dia pergi.


‘’Nanda udah ngangkat?'' tanya Salsa, sedari tadi dia menelfon Nanda, namun gadis itu tidak mengangkatnya sama sekali.


''Nggak,'' jawab Cika.


Cika dan Salsa membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur empuk milik Salsa.


''Gue nggak nyangka, kalau mereka satu ayah,'' ucap Cika, mereka berdua sama-sama menatap langit-langit kamar, seraya mereview kejadian tadi siang.


''Aku juga. Kenapa kayak kebetulan gini, ya. Apa papa Nanda udah lama selingkuh, tapi dia nggak tahu?'' tebak Salsa. ''Secara Kesya dan Nanda umurnya hampir sama. Nggak mungkin juga kalau Kesya anak tirinya om Iksan, kita bisa lihat sendiri, kan gimana khawatirnya om Iksan saat Kesya masuk rumah sakit.''


''Gue nggak bisa bayangin jadi mamanya Nanda. Pasti sakit banget nerima ini semua, suaminya selingkuh. Gue juga nggak nyangka, kalau orang sebaik om Iksan bakalan khianat in istrinya,'' kata Cika seraya memikirkan perasaan mamanya Nanda.


''Kok aku jadi takut nikah, ya,'' Salsa bergedik ngeri sendiri.


Cika memutar bola matanya malas, saat mendengar ucapan Salsa barusan.


''Takut nikah, tapi nggak takut sama Rafael,'' desis Cika membuat Salsa cengengesan dengan apa yang di katakan oleh sepupunya barusan.


‘’Namanya juga cinta,'' balas Salsa.


''Seratus persen, orang yang nggak cinta balik sama lo, kemungkinan besar kalau nikah nantinya, dia bakalan selingkuh. Kita bisa ambil contoh papanya Nanda,'' jelas Cika.


Gadis itu bisa bicara panjang kali lebar, jika hanya berdua dengan Salsa.


''Ihk, aku sih yakin. Kalau Rafael jadi suami aku, dia nggak akan kayak gitu. Kamu nggak lihat, dia anti banget sama cewek, apa lagi mau sampai selingkuh,'' kata Salsa, untuk membantah ucapan Cika barusan.


Cika tidak membalas ucapan Salsa lagi, kalau orang bucin memang susah untuk di nasehat in.


''Ci, gimana kalau kita langsung kerumahnya Nanda? Aku yakin, dia pasti butuh teman ngobrol, buat hilang in stresnya. Apa lagi dia cuman temenan sama kita,'' saran Salsa, membuat Cika nampak berpikir sejenak, lalu kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Cika.


Cika mengambil kunci mobilnya, lalu masuk kedalam mobil untuk segera kerumah Nanda. Mobil Cika langsung melenggang pergi, sehingga Rafael yang baru memasuki gerbang rumahnya, melirik mobil Cika.


Dia bisa melihat di dalamnya ada Salsa, entah mau kemana gadis itu.


Rafael menggelengkan kepalanya, sejak kapan dia peduli dengan Salsa?


Rafael membuka helmnya, berjalan masuk kedalam rumah, sudha beberapa hari ini Lita dan Bram keluar kota.


Rafael sengaja pulang kerumahnya, karna cowok itu malas di markas melihat perdebatan antara Izam dan Ethan, mengenai Nanda dan Kesya adalah saudara.


Huft...


Cowok itu menghembuskan nafas berat, membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, cowok itu melirik kearah jendela kamarnya, lalu berjalan menuju balkon kamarnya.


Cowok itu menyungkirkan senyuman tipisnya, melihat kearah balkon kamar milik Salsa, andai saja gadis itu tidak pergi, mungkin dia akan di suguhkan wajah milik gadis itu.


''Ngomong-ngomong, mereka mau kemana?'' menolog Rafael, melihat Salsa dan Cika sedang pergi bersama.


''Apa mungkin kerumah, Nanda?'' gumamnya, lalu cowok itu menggelengkan kepalanya. Mengapa dia menjadi kepo seperti ini?


Dia sudah seperti Izam dan Ethan, kepo dengan hal ini. Namun dia juga penasaran dengan kisah, mengapa Nanda dan Kesya bersaudara, sudah pasti jika papanya mempunyai dua istri.


Rafael kembali membaringkan tubuhnya, setelah dia menutup jendela kamarnya yang terbuka.


Mungkin karna kecapean, cowok itu langsung tidur.


***


Tring...


Cika membunyikan bel rumah milik Nanda, untung saja Cika pernah jemput Nanda, sehingga dia sudah melihat rumah gadis itu.


Ceklek.

__ADS_1


Seorang wanita cantik membukakan Cika dan Salsa pintu, mereka bisa menebak jika wanita itu adalah mamanya Nanda.


Gina tersenyum kepada kedua gadis cantik itu.


''Malam, Tan. Apa Nanda nya ada?'' tanya Salsa dengan sopan.


''Ada di dalam. Yuk, masuk dulu,'' ajak Gina dan dibalas anggukan kepala oleh kedua gadis itu.


Mereka berdua masuk kedalam rumah Nanda, ini pertama kalinya mereka berkunjung kerumah Nanda. Cika pernah menjemput Nanda saat mereka mengikuti anak ARIGEL, hanya saja dia menjemput Nanda di depan gerbang.


Salsa meneguk salivanya susah payah, rumah milik Nanda begitu mewah, diluarnya memang nampak biasa, namun didalamnya begitu mewah.


Cika berulang kali berdecak kagum, rumahnya memang mewah dan besar, namun rumah Nanda jauh lebih dari itu.


‘’Duduk dulu, tante panggilkan Ara dulu,'' ucap Gina.


''Ara?'' gumam Cika dan Salsa hampir bersamaan.


''Tante manggil anak tante dengan sebutan Ara. Nama kecilnya Nanda,'' ucap Gina membuat kedua gadis itu mengangguk paham dengan ucapan Gina barusan.


''Rumah Nanda mewah banget,'' kagum Salsa.


Cika hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan gadis itu.


''Nanda lebih diatas dari Kesya,'' ucap Cika. Penampilan gadis itu memang sederhana, tidak terlalu menampakkan jika dirinya hidup bergelimang harta.


Tidak seperti Kesya, gadis itu suka pamer, apa lagi jika soal barang-barang.


''Setuju.''


Tok...Tok...Tok


Gina mengetuk pintu kamar Nanda, sehingga Nanda yang sedang menatap langit-langit kamarnya langsung menoleh kearah pintu.


''Ra, teman kamu ada di luar,'' panggil Gina, sehingga Nanda langsung menyeritkan alisnya, bangun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar.


Ceklek.


Nanda membuka pintu kamarnya.


‘’Teman-teman kamu ada diluar,'' ucap Gina. ‘’Buruan kebawa, dia nungguin kamu,'' lanjutnya.


Nanda ingin bertanya, teman Siapanya yang datang malam-malam begini, namun percuma saja dia bertanya kepada Gina, karna Gina saja tidak tahu teman-temanya siapa saja, yang Gina tahu hanya Gerald dan Ardian. Yah, tentu saja Gina mengenal Ardian, cowok yang mengajak anak gadisnya makan malam di rumahnya, undangan dari kedua orang tua Ardian.


Nanda menuruni anak tangga, dia melihat dibawah sana ada Cika dan Salsa.


''Nanda,'' panggil Salsa.


Gadis itu langsung memeluk Nanda, bagaimanapun Nanda merupakan teman sebangkunya didalam kelas.


''Telfon aku sama Cika kok nggak di angkat-angkat sih,'' ucap Salsa.


Nanda tersenyum tipis, lalu membalas ucapan Cika. ‘’Ponsel gue mode senyap, jadinya gue nggak dengar Telfon dari kalian.'' Apa yang Nanda ucapkan memang benar, jika ponselnya dalam keadaan mode senyap, dia tidak ingin terusik dengan bunyi ponselnya.


''Hmmm. Iya-iya. Kita boleh nggak nginap di rumah kamu?'' tanya Salsa membuat Cika langsung menyiku lengan Salsa.


‘’Ngomong langsung inti ya lu, Sal,'' ucap Cika.


Salsa tidak menggubris ucapan Cika.


''Boleh, gue malah senang kalau kalian mau tinggal di sini,'' ucap Nanda, setidaknya ada Cika dan Salsa, agar dia meluapkan sebentar masalah ini.


''Hmmm.''


Mereka bertiga langsung melirik ke asal suara, rupanya yang berdehem adalah Boy. Sosok dokter yang sudah mereka kenal, jika dokter itu adalah kaka dari Nanda.


‘’Kalian berdua nggak jenguk teman kalian?'' tanya Boy kepada Cika dan Salsa.


''Udah ada Puri dan Pute yang jagain. Lagian, di rumah sakit, kan nggak boleh banya yang nginap,'' ucap Salsa dengan tersenyum kikuk.


‘’Teman kalian, kan berada di ruangan vvip, jadi beda lagi ceritanya,'' kata Boy.


''Lagi malas aja kesana.'' Kini Cika angkat suara, dia tahu jika sosok pria itu tidak mau, jika adiknya salah memilih teman, apa lagi Boy tahu jika dia dan Salsa sahabat Cika.

__ADS_1


Boy langsung pergi, berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, dia baru pulang dari rumah sakit. Setelah mengantar Nanda pulang tadi, dia tidak tinggal lama di rumah, karna tiba-tiba saja pimpinan rumah sakit menyuruhnya kerumah sakit.


__ADS_2