
Frizal ingin menghampiri Ardian, namun Fatur mencekal tanganya. ‘’Biar gue yang nyuruh dia pergi,'' ucap Fatur, sehingga Frizal menghentikan langkah kakinya.
‘’Mendingan kalian pergi dari sini,'' usir Fatur dengan datar.
‘’Emangnya salah kalau saudara jengukin saudaranya yang sakit?'' tanya balik Nanda membuat Fatur menatap tajam gadis itu.
Ardian di apit oleh dua gadis cantik, Fatur bisa melihat wajah Nanda dan juga Salsa. Benar kata Arya, jika gadis yang di suka oleh Ardian begitu cantik.
Bahkan, kecantikannya maju satu langkah dari Salsa, namun begitu, Fatur tetap jatuh cinta pada sosok gadis bernama Salsa.
‘’Nggak usah ikut campur lo!'' nyolot Frizal kepada Nanda. Cowok itu selalu saja emosi.
''Nggak usah nyolot lo sama cewek!'' desis Ardian dengan suara dinginya, membuat Salsa terlonjak kaget dengan suara cowok itu.
‘’Suara kamu bikin kaget tau nggak,'' ucap Salsa, sehingga Ardian melirik gadis itu.
''Pergi at—''
Ucapan Frizal tercekat, karna pintu ruangan yang di tempati oleh Fatur di buka oleh dokter.
''Ada apa ini?''
Deg...
Nanda kenal dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara kakaknya. Gadis itu meremas ujung celananya, dia tidak bisa lari bersembunyi karna Boy pasti mengenali dirinya.
‘’Nggak ada apa-apa, dok,'' jawab Doni.
Boy mengangguk, lalu melihat punggung dua gadis yang berada di ruangan ini. Boy menaikkan alisnya sebelah, punggung gadis itu sungguh Boy kenal.
''Ara.''
Nanda tersenyum kecut, lalu mulai membalikkan tubuhnya, sehingga dia berhadapan dengan sang kakak.
Ardian mengerutkan keningnya, saat dokter yang menjadi langganan mereka mengenali Nanda. Jangan lupa, pria itu juga memanggil Nanda dengan sebutan Ara, sama seperti Gerald jika memanggil Nanda.
''Nan, kamu kenal sama dokter? Dia kenal kamu loh,'' ujar Salsa kepada Nanda.
''Hmmm...Saya kakaknya.''
Ucapan Boy sukses membuat Ardian terdiam, dia tidak menyangka jika gadis itu bersaudara dengan dokter langganan mereka.
Pantas saja Gerald akrab dengan Boy, tenyata dokter Boy adalah kakak dari Nanda.
''Nan....'' Salsa menyiku Nanda, gadis itu tidak pernah cerita jika dia punya kakak, dan merupakan seorang dokter di rumah sakit ini.
Boy melewati Nanda, dia berjalan menghampiri bansal milik Fatur.
''Infusnya kenapa di lepas?'' tanya Boy kepada Fatur.
Cowok itu tidak menjawab, lalu Boy memanggil perawat yang menemaninya.
''Iya, dok,'' ucap perawat itu.
''Ambil, kan saya aboket,'' perintah Boy dan dibalas anggukan kepala oleh perawat itu.
''Infusnya mau di pasang lagi, dok?'' tanya Arya, dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Boy.
‘’Berantem sama siapa?'' tanya Boy, seraya mengusap tangan Fatur bekas infus menggunakan kasa.
''Itu, dok.'' Tio langsung menunjuk kerahan Ardian, membuat Boy menggelengkan kepalanya melihat cowok itu.
Boy tentu saja tidak asing dengan Ardian.
Perawat datang membawa alat yang di suruh oleh Boy tadi.
''Saya takut di suntik.'' Seketika pergerakan tangan Boy tehenti.
Seluruh orang-orang di dalam ruangan menahan tawanya, mendengar ucapan polos dari Fatur, jika cowok itu takut untuk di suntik.
''Kenapa harus takut? Lebih sakit bekas tonjokan kamu sama Ardian, daripada suntikan ini,'' ucap Boy membuat Fatur bergedik ngeri melihat suntikan itu.
''Ketua geng itu tidak takut apa-apa,'' ucap Boy, dan dibalas anggukan setuju oleh anak VAGOS. ''Apa lagi takut sama suntikan,'' lanjutnya.
''Ok, saya mau.'' Akhirnya, Fatur mau di suntik untuk yang kedua kalinya, karna cowok itu melepaskan infusnya.
''Dok. Nggak di ambis dulu?'' Doni membuat semuanya mengerutkan kening, tidak tahu apa yang di maksud oleh Doni barusan.
‘’Maksudnya ambis?'' tanya Boy. Sudah beberapa tahun Boy menjadi dokter di sini, bar. Kali dia mendengar kata 'Nggak di Ambi' Ambis itu Apa.
‘’Emangnya lo pikir ini sekolah mau ambis kejar nilai? Ini tuh rumah sakit?'' Sosor Ical.
''Mungkin maksud kamu nggak di bius. Itu, kan?'' tanya Boy memastikan membuat Doni tertawa.
‘’Maksud saya itu, dok. Apa pasienya nggak di bius sebelum di suntik,'' ucap Doni.
‘’Dasar bodoh,'' decak Frizal.
''Ini bukan operasi, jadi tidak perlu ambis,'' ejek Boy membuat tawa mereka di dalam ruangan itu pecah, bahkan perawat itu memegang perutnya.
''Kak Fatur masih takut di suntik?'' pertanyaan itu, lolos dari mulut Salsa, dia tersenyum kearah Fatur.
Sementara Boy mulai menjalankan apa yang ingin dia lakukan, kembali memasang infus, yang di lepaskan oleh Fatur tadi.
''Nggak,'' jawabnya singkat, mereka dalam ruangan tidak protes, terutama para sahabat Fatur, tentu saja mereka tahu jika Fatur takut suntikan, namun dia mengatakan tidak kepada gadis yang dia cintai.
''Selesai.'' Akhirnya, Boy sudah selesai memasang infus kepada Fatur.
‘’Makasih, dok.''
''Sama-sama.''
Boy menghampiri Nanda, ''Lu kabur ya, Ra.'' Boy menyipitkan matanya kearah Nanda.
''Genting,'' jawab gadis itu.
''Mama di rumah sendiri?'' tanya Boy, meski dia tahu mamanya sendiri di rumah, karna Nanda ada di sini.
Boy takut jika Nanda berkeliaran di rumah sakit ini, Disini masih ada papanya bersama anak dan istri barunya.
Boy tidak mau tahu, jika adiknya mengetahui hal ini. Bagaiamana jika Nanda tahu, jika teman barunya itu adalah saudaranya sendiri.
Boy juga belum tahu, apakah adiiknya lebih tua dari Kesya, atau malah sebaliknya.
''Iya.''
‘’Gue yakin, lu kesini nggak bilang-bilang sama mama, kan, Ra?''
''Hm..'' Salsa berdehem, tanpa Nanda dan Boy ketahui. Jika mereka bedua menjadi bahan tontonan yang menarik di ruangan Fatur.
''Dok, kalau orang kabur dari rumah, sudah pasti nggak minta izin,'' ucap Salsa seraya tersenyum. ‘’Kalau minta izin, itu bukan kabur namanya,'' lanjutnya membuat Fatur malah tersenyum, melihat gadis itu.
Boy melirik jam tanganya. Jam menunjukkan pukul 12 malam. ''Jam 1 nanti gue udah pulang. Lu boleh nungguin gue di ruangan gue.''
''Gue mau jenguk teman gue,'' ucap Nanda.
Boy menarik tangan Nanda dengan Lembut, keluar dari ruangan Fatur.
Nanda mengikuti kakaknya itu.
‘’Kenapa sih?'' tanya Nanda.
''Cuman mau jenguk Kesya doang, bang. Nggak enak kalau seharian ini, gue nggak jengukin dia,'' dumel Nanda.
''Gue bakalan laporin lu sama mama. Udah berani keluar rumah tanpa pamit. Mama sendiiri di rumah, kalau sampai terjadi sesuatu dengan mama, memang kamu mau?''
Nanda langsung menggeleng.
‘’Didalam ruangan gue ada kamar, lo boleh tidur di dalam, boleh jungkir balik, boleh disko-diskoan, asal jangan bunuh diri.'' Boy langsung pergi meninggalkan adiknya itu di depan ruanganya. Karna ada banyak pasien yang ingin dia cek kondisinya, lalu pulang.
''Satu lagi, Ra. Jangan keluar-keluar dari dalam sana. Apa lagi sampai keruangan Kesya.'' Boy menatap adiknya lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Nanda menghembuskan nafasnya berat, lalu berjalan masuk kedalam ruangan Boy.
‘’Semakin nyebelin,'' decak gadis itu.
Dia masuk kedalam kamar milik Boy, membaringkan tubuhnya, lalu perlahan-lahan, dia mulai memejamkan matanya untuk segera tidur, karna malam semakin larut.
Namun matanya tiba-tiba terbuka, dia langsung mengambil ponselnya didalam saku celananya, lalu mulai mengirimkan pesan kepada Tari, jika Ardian baik-baik saja.
Karna Nanda bisa mengetahui Nanda suara khawatir milik Tari, saat dia mencari anaknya itu.
Setelah mengirimkan Tari pesan, gadis itu langsung menutup matanya kembali. Karna saat kerumah sakit tadi, dia sudah mengantuk berat.
Dia akan tidur di ruangan Boy selama satu jam, pria itu akan datang membangunkan dirinya, jika sudah ingin pulang.
Tok...Tok...Tok
Ruangan Boy di ketuk, membuat Nanda menghembuskan nafas berat, baru saja dia menutup matanya untuk tidur, suara ketukan pintu membuatnya harus kembali membuka matanya.
Gadis itu bangun dari tempat tidur sederhana milik Boy, lalu berjalan menuju pintu untuk membukakan Boy pintu.
Nanda mulai membuka handel pintu.
''Katanya pulang Jam…Sa..tu.'' Bahkan, akhir ucapan gadis itu terbata-bata, karna dia pikir yang mengetuk pintu adalah kakanya, tenyata dia salah, yang mengetuk pintu adalah Ardian.
__ADS_1
‘’Gimana bisa lo tahu, kalau gue di sini?'' tanya Nanda kepada Ardian.
''Sebagai langganan rumah sakit sini, tentu aja gue tahu ruangan para dokter, apa lagi ruangan dokter Boy.'' Ardian menjawab dengan enteng.
''Boy nggak ada,'' ucap Nanda.
‘’Emangnya gue cari kakak lu?'' tanya balik Ardian, seraya menaikkan alisnya sebelah, membuat cowok itu semakin tampan.
Sampai-sampai, Nanda membandingkan antara Gerald sahabat kecil dan cowok yang berada di hadapanya ini.
''Terus, lo cari siapa?'' tanya balik gadis itu.
‘’Gue cari adiknya dokter, Boy.''
Nanda menaikkan alisnya sebelah. ‘’Maksud lo gue?'' Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.
Ardian langsung masuk kedalam ruangan Boy, tanpa permisi.
''Hei, yang nyuruh lo masuk siapa?'' decak Nanda.
‘’Gue sendiri.''
Nanda menghembuskan nafas berat, melihat ada Ardian di sini. Dia takut jika kakaknya salah paham mengenai Ardian yang ada di sini.
‘’Mending lu keluar deh, jangan sampai Abang gue datang,'' pintah Nanda kepada Ardian.
Cowok itu malah asik menatap Nanda, membuat gadis itu menjadi gelagapan.
‘’Ngapain lo cari gue?'' Pertanyaan itu langsung di lontarkan Ardian, membuat Nanda memutar bola matanya malas.
''Mama lo nyariin lu.'' Nanda membalasnya dengan wajah songong. Wajah yang membuat Ardian jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis itu.
Sejak malam itu, dia mulai megatakan jika dia mulai tertarik dengan Nanda. Bahkan, dia tidak tahu, apakah gadis itu mengetahuinya atau tidak.
''Apa urusannya sama lo?'' tanya balik Ardian.
‘’Karna mama lo nelfon gue, dia nyariin lu. Gue sebagai perempuan baik hati, jadi ibah sama mama lo itu, karna lo nggak pulang-pulang,'' terang Nanda, membuat Ardian menyungkirkan senyuman miringnya.
''Gue kira lo yang khawatir sama gue.''
Ucapan santai dari Ardian mampu membuat Nanda terdiam, ‘’kepedean lo.''
''Siapa tau aja. Kita nggak tahu, kapan perasaan itu datang tiba-tiba. Kayak gue sama lo,'' kata Ardian.
‘’Gue sama lo apa?'' tanya Nanda.
Ardian memutar bola matanya malas, rupanya Nanda tidak menangkap dengan apa yang ingin dia katakan.
''Kayak perasaan suka gue ke lo.''
Deg...
Ini yang kedua kalinya Nanda mendengar cowok itu mengucapkan kata suka. Tadi pagi dan tengah malam begini.
''Ngawur aja lo.'' Nanda berkata dengan senyuman mengejek.
''Gue serius, gue beneran suka sama lo.''
Jleb....
Nanda merasa ada yang beda dengan Ardian, rasanya Nanda menjadi dejavu.
Maksudnya, cowok itu menembaknya?
Ardian melirik Nanda, sehingga keduanya saling beradu pandang. Nanda bisa melihat, tatapan mata serius terpancar dari kedua bola mata cowok itu.
''Nanda Raisa Arabela, I Love you.''
Deg...
Nanda tidak bisa dengan situasi seperti ini.
Kedua kaki gadis itu menjadi lemas, dia tidak menyangka jika Ardian akan mengucapkan kata keramat ini padanya.
''Gue mau jadi pacar lo.''
''Hah!'' Nanda langsung melototkan matanya. Saat Ardian mengucapkan kata 'Gue mau jadi pacar lo'
''Sejak kapan gue nembak lo?'' desis Nanda, tadinya dia ingin pingsan. Namun mendengar ucapan Ardian barusan, membuat Nanda paham, jika cowok itu hanya bercanda padanya.
Ardian tertawa kecil.
‘’Kebalik, ya?'' tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
''Lo mau nggak jadi pacar gue,'' ucap Ardian dengan nada serius, cowok itu masih setia duduk di kursi milik Boy, sementara Nanda berada di depan pintu.
''Ma...maksud lo?''
''Nggak usah pura-pura nggak tahu. Lu udah tahu maksud gue, karna lu gugup di tembak sama cowok tampan, jadinya lo salting,'' ejek Ardian membuat Nanda langsung menatap horor cowok itu.
‘’Mending lo keluar!'' geram gadis itu.
Dia merasa di permainkan oleh cowok itu, dan sialnya dia malah masuk kedalam permainan itu.
''Ok, gue bakalan pergi.'' Ardian berdiri dari kursi yang dia duduki, lalu mendekati Nanda membuat gadis itu mundur, seketika Ardian menutup pintu membuat Nanda melototkan matanya.
Jangan sampai Ardian berbuat macam-macam padanya, diruangan saudaranya sendiri.
''Lo mau ngapain?'' tanya Nanda melihat Ardian menyungkirkan senyuman miringnya membuat Nanda bergedik ngeri dengan senyuman miring cowok itu.
''Jadi pacar gue, atau....'' Ardian menjedah ucapanya. ‘’Atau gue bakalan tetap di sini berduan sama lo, sampai saudara lo datang.''
Nanda mendorong tubuh Ardian, sehingga cowok itu mundur beberapa langkah.
Gadis itu bersedekap dadah kearah Ardian, ''lo pikir gue bakalan takut sama ancaman lo itu?'' Kini Nanda yang tersenyum remeh kearah Ardian.
‘’Ancaman lo itu, nggak ada apa-apanya buat gue,'' lanjutnya menatap Ardian dengan tatapan remeh.
‘’Sebelum lo macam-macam sama gue, Abang gue bakalan operasi tubuh lo tanpa obat ambis,'' ucap Nanda.
‘’Bius,'' ucap Ardian membenarkan ucapan gadis itu.
''Yayayay, mendingan lo pergi, sebelum gue tendang lu keluar,'' ucap Nanda.
Ardian tidak menjawab, dia malah kembali melangkah mendekati Nanda. ''Jadi pacar gue, atau lo akan menyesal nolak gue,'' desis Ardian kepada Nanda.
‘’Emangnya lo siapa yang harus gue sesali? Akrab aja nggak,'' ejek Nanda, membuat tangan milik Ardian tekepal.
''Awas aja lo!''
Ardian langsung pergi meninggalkan Nanda, dengan wajah merah padam, membuat Nanda tertawa kecil melihat wajah cowok itu barusan.
Sementara Ardian berjalan di koridor rumah sakit, seraya mengacak rambutnya.
''Hilang sudah harga diri gue di depan Nanda,'' decak cowok itu.
''Seumur hidup, ini pertama kalinya gue gila sama cewek. Nanda Raisa Arabela, awas aja lo.''
Nanda tidur di dalam mobil, sementara Boy sibuk menyetir mobilnya untuk pulang kerumah. Mereka pulang pukul tiga dini hari, hampir subuh.
Ada banyak pasien yang tiba-tiba masuk rumah sakit, apa lagi dokter banyak yang pulang lebih dulu, sehingga Boy yang menghandel semuanya.
Maafin gue, Ra.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik Boy memasuki pekarangan rumah, pria itu langsung memasukkan mobilnya kedalam garasi.
Membuka pintu untuk Nanda, melihat adiknya itu tidur nyenyak, membuat Boy tidak tega membangunkan adiknya kedua kalinya.
Lebih dulu Boy berjalan menuju pintu utama, dia mengambil kunci di dalam saku bajunya, lalu membuka pintu rumah, dia membawa kunci cadangan tentunya, karna dia pulang tidak menentu.
Kadang cepat kadang sebaliknya, bahkan Boy biasa tidak pulang kerumah, karna sibuk di rumah sakit.
Setelah pintu utama dia buka, dia kembali berjalan menuju mobilnya, untuk meggendong adiknya.
“Badanya aja kecil nih anak, tapi kenapa berat banget,” gumam Boy, menggendong Nanda untuk masuk kedalam rumah.
“Kebanyakan dosa sama abangnya, jadinya gini,” menolog Boy.
Boy menaiki anak tangga satu persatu, mamanya belum tentu bangun, karna masih gelap begini.
Boy membuka pintu kamar Nanda menggunakan kakinya, lalu dia berjalan masuk dan membaringkan adiknya diatas tempat tidur.
“Capek juga,” gumam Boy, setelah berhasil membaringkan adiknya itu.
Cup…
Sebelum keluar dari kamar Nanda. Boy lebih dulu mencium pipi milik adiknya lalu menutup pintu kamarnya.
Sebelum tidur, pria itu membersihkan tubuhnya lebih dulu, karna dia dari rumah sakit, tentu saja segala jenis penyakit ada di rumah sakit.
Setelah membersihkan tubuhnya kurang lebuh 10 menit, pria itu langsung membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya, memikirkan mengenai keluarganya saat ini.
Selama Kesya di rumah sakit, Boy tidak akan tenang. Pastinya Nanda akan kesana menjenguk Kesya bersama temanya, tentu saja itu tidak baik, bagaiamana jika Nanda ketemu dengan Iksan itu?
Membayangkan itu saja, membuat Boy mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
''Papa....Kenapa sih harus selingkuh,'' gumam Boy. Menghembuskan nafas berat. Dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini begitu lama pada adiknya, cepat atau lambat, Nanda akan mengetahui hal ini.
Sibuk dengan pikiranya, akhirnya pria itu tidur dengan pikiran yang berkecamuk dan tubuh yang lelah.
🦋
Ardian membunyikan mesin motornya, dia pikiri dengan kehadirannya menjenguk Fatur, menjadi langkah yang baik untuk dirinya.
Karna bagaimanapun. Fatur adalah saudaranya, kakanya.
Ardian melajukan motornya menuju markas, sampainya di markas, dia melihat motor para sahabatnya masih ada.
Itu berarti mereka semua berada di dalam.
Ceklek.
Ardian membuka pintu, dia melihat Gerald, Rafael dan Leo, tidur dibawa lantai, beralaskan karpet.
Sementara Izam dan Ethan tidur dikamar atas.
Ardian menutup pintu kembali, lalu ikut berbaring dengan ketiga sahabatnya yang tertidur pulas.
Ardian sudah tidak bisa tidur, pikiranya di penuhi dengan Fatur, dia sudah baik dengan cowok itu, dengan menerima segalanya.
Namun apa yang dia dapat? Fatur malah mengusir dirinya, dan membenci dirinya.
Ardian yang tidak ingin ambil pusing, langsung pergi dari ruangan Fatur saat itu, Salsa saat itu juga mengikuti Ardian keluar, tidak mungkin juga dia tetap di sana.
Mengingat obrolannya dengan Nanda tadi, membuat Ardian mengerutuki gadis songong itu. Nanda menolak dirinya mentah-mentah, padahal ada dua gadis yang mengincar dirinya, tentunya itu teman Nanda sendiri, hanya Ardian yang tahu.
Ardian menghembuskan nafas berat, lalu kemudian memejamkan matanya, berusaha agar dia bisa tidur malam ini.
Dia sudah memberitahukan kepada Tari, jika dirinya baik-baik saja, dirinya memilih untuk tinggal di markas dulu, tidak pulang kerumah.
Rasanya, Ardian seperti mimpi saja, bersaudara dengan musuhnya sendiri, dan sialnya menolak dirinya sebagai saudara.
Tapi setidaknya, Ardian sudah punya niat baik, dan di tolak mentah-mentah oleh Fatur.
Pagi haripun tiba, Ethan turun dari lantai atas, untuk membangunkan para sahabatnya untuk berangkat ke sekolah pagi ini.
''Eh, sejak kapan Ardian balik?'' gumam Ethan, melihat Ardian juga ikutan dibawa lantai beralaskan karpet bersama dengan ketiga sahabatnya.
''Bangun woy! Sekolah!'' Ethan membangun sahabatnya menggunakan suara kerasnya, namun tidak mampu membuat keempatnya bergeming dari tidurnya.
''Mereka pada tidur jam berapa sih, susah buka matanya,'' decak Ethan.
Ethan bergedik ngeri, melihat Rafael tidur masih dengan wajah judesnya.
''Di suruh jaga rumah, malah keluyuran di markas,'' ucap Ethan seraya tertawa kecil.
Dia mengambil ponselnya di saki celananya, lalu mulai memotret sahabatnya masih tertidur pulas.
''Mereka udah bangun?'' tanya Izam, membuat Ethan memutar bola matanya malas.
''Udah lihat dibawah masih aja nanya,'' omel cowok itu dan dibalas acuh oleh Izam.
''Lo tunggu di sini, gue bakalan bangunin mereka.'' Izam pergi meninggalkan Ethan, cowok itu berjalan menuju kamar mandi, guna mengambil satu timbal air.
Ethan melihat Izam datang membawa satu timbah air, membuat kedua cowok itu menahan tawa.
''Bangun woy! Sekolah! Katanya mau jadi orang sukses masih aja tidur jam segini!'' Izam menjentikkan air ke wajah sahabatnya, membuat mereka semua langsung bangun.
''Sejak kapan markas bocor?'' Leo, masih dengan setengah sadar.
Sementara Rafael menatap Ethan dan Izam dengan horor, sementara Gerald mengusap wajahnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuhi wajahnya.
''Kurang kerjaan lo berdua!'' gerundel Rafael membuat Ethan tertawa sementara Izam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Ardian berusaha menahan emosi, dia baru tidur beberapa jam yang lalu, namun Izam datang menjentikkan air ke wajah mereka, membuat Ardian bangun cepat.
Ethan menyenggol lengan Izam, dia bisa melihat Ardian yang menahan emosi.
''Gue pulang duluan.''
Ardian pamit meninggalkan para sahabatnya, dia akan kembali tidur di rumahnya. Ya, pagi ini dia tidak akan ke sekolah dalam keadaan mengantuk seperti ini.
Ardian menjalankan motornya, untuk segera pulang. Cowok itu berusaha menjernihkan matanya, karna ingin tertutup saat dia menjalankan motornya.
''Sial!'' Ardian melajukan motornya, jika dia lelet, bisa-bisa dia akan tidur dengan membawa motor tanpa sadar.
Sekitar 15 menit, akhirnya cowok itu sampai di rumahnya. Dia masuk kedalam rumah berjalan menaiki anak tangga.
''Ardian.''
Suara Tari memasuki gendang telinga milik Ardian, sehingga cowok itu membalikkan tubuhnya menatap mamanya.
''Ardian ngantuk, Ma. Nanti aja ngobrolnya.'' Ardian tersenyum tipis, lalu kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk segera ke kamar.
Ardian mengunci kamarnya, lalu mulai membaringkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya yang menggantung karna ulah sahabatnya.
Akhirnya, Tari dan Ibnu hanya sarapan berdua, karna Ardian sedang ingin tidur. Tapi setidaknya Tari bernafas legah, karna anaknya baik-baik saja.
Tari dan Ibnu tidak tahu, jika semalam anaknya kerumah sakit menemui Fatur. Namun respon Fatur padanya membuat Ardian tidak ingin mengulang hal tadi.
Bell istirahat berbunyi, sehingga para murid-murid dalam kelas berbondong-bondong keluar kelas untuk menuju kantin.
Mengenai Greta, gadis itu belum ke sekolah, mengenai videonya yang Viral saat itu, membuat gadis itu di jauhi para sahabatnya.
Tapi syukur, video tersebut sudah di hapus, berkat Gerald.
Kesya sampai marah, saat tahu video mengenai Greta sudah hilang semuanya, Kesya tidak tahu, dan orang itu juga tidak memberitahukan pada Greta, siapa yang menyuruh mereka untuk menghapus video itu.
Kesya hari ini sudah keluar dari rumah sakit, namun Raisa belum mengizinkannya untuk sekolah. Sehingga Puri duduk sendirian.
''Kantin, yuk,'' ajak Pute kepada sahabatnya.
''Yuk,'' jawab Salsa dengan semangat empat lima, karna di kantin nanti dia akan bertemu dengan Rafael.
''Kuy,‘‘ timpal Cika.
''Gue nggak ikut,'' ucap Puri dengan malas, sehingga Nanda dan Salsa melirik gadis itu.
Banyak sekali yang berubah dari Puri, semenjak dia beranggapan jika Nanda Dan Salsa membelah Greta.
''Ri, kamu masih marah sama aku?'' tanya Salsa dengan lembut kepada sahabatnya itu.
‘’Menurut lo?'' tanya balik Puri dengan malas.
''Udah-udah.'' Pute melerai, jangan sampai Puri kembali kepanasan.
‘’Jadi lo nggak mau ke kantin?'' tanya Pute dan dibalas dengan singkat oleh gadis itu.
Akhirnya, mereka berempat ke kantin, hanya Puri saja tinggal di kelas, karna dia tidak ingin ke kantin.
‘’Sorry, ya. Gue bawa makananya kedalam kelas, biar Puri juga ikutan makan. Kalian makan di sini aja, gue cuman nggak enak ninggalin Puri sendirian,'' ujar Pute, saat mereka sudah berada di dalam kantin sekolah.
''Ok.''
Akhirnya Pute memesan makan, lalu dia bawa masuk kedalam kelas.
Salsa mengerucutkan bibirnya, rasanya hambar karna ketiga sahabtanya tidak ikutan bergabung.
‘’Nggak usah di pikirin,'' ucap Cika dengan gaya masa bodohnya.
''Gue juga nggak enak, Ci,'' balas Salsa dengan lesuh.
''Mereka yang egois.'' Maksud Cika adalah Kesya dan Puri.
Yang membuat Cika gedek dengan Puri, dia sudah tahu jika Kesya yang menyebarkan video Greta, namun tetap saja dia memihak Kesya seratus persen tidak bersalah.
Greta tidak akan melukai Kesya dengan vas bunga, jika gadis itu tidak memviralkan video milik Greta.
Sementara Nanda hanya diam, dia merasa tidak enak, karna telah masuk ke sircel mereka, dan tentunya juga Puri mulai tidak suka denganya.
Sahabat lamanya saja dia judes begitu, apa lagi dengan dirinya ini.
Pesanan makanan mereka sudah datang. Mereka bertiga langsung menyantap makananya.
''Pulang sekolah nanti, kita ngemall yuk,'' ajak Salsa membuat Nanda berpikir dulu.
''Ayolah, Nan.''
''Ikut aja, Na,'' ucap Cika.
‘’Yaudha gue ikut,'' final Nanda.
''Gimana dengan Pute dan Puri?'' tanya Nanda.
''Puri tentunya nggak ikut,‘’ jawab Cika dengan santai. ''Pute juga nggak bakalan ikut, kalau Puri nggak ikutan,'' lanjutnya, membuat Nanda mengangguk paham dengan Cika.
Mereka kembali melanjutkan makanya, sekali-kali Nanda melirik meja anak ARIGEL paling pojok, karna penghuninya belum juga datang.
Kantin menjadi riuh, saat anak ARIGEL memasuki kantin, mereka sudah paham mengapa mereka semua bersorak gembira, karna seluruh anggota ARIGEL begitu tampan dan tentunya kaya-kaya.
Anak ARIGEL langsung duduk di tempatnya, membuat Nanda bisa melihat jika mereka kekurang personil.
__ADS_1
“Ardian mana?”