ARDIAN

ARDIAN
Kesekian kalinya


__ADS_3

Beberapa menit setelah kepala sekolah menyampaikan pidato panjang, akhirnya upacara di tutup dengan doa bersama dan pembubaran barisan.


Salsa langsung menarik tangan Nanda pergi dari lapangan.


''Kenapa, Sal?'' tanya Salsa, karna gadis itu membawanya kebelakang kelas yang sudah tidak terpakai.


''Aku mau bicara sama kamu.'' Salsa lebih dulu memperhatikan keseluruhan penjuru, memastikan tidak ada orang di sini kecuali dirinya.


Salsa mengeluarkan satu toples kue kacang dari tasnya, kue yang sama dilihat Nanda saat gadis cantik di depanya, membawakan kue Rafael saat mereka ke cafe Ethan.


''Aku mau minta tolong, kamu kasi ini sama El,'' pintah gadis itu membuat Nanda melotokan matanya.


''Gue?''Nanda menunjuk sendiri dirinya, membuat Salsa mengangguk tanpa beban.


''Aku minta tolong sama kamu,'' pintah gadis itu lagi.


''Kemarin kan, udah lo kasi kue yang sama ke Rafael. Kuenya pasti belum habis, Sal,'' papar Nanda kepada teman sebangkunya itu.


Salsa menggeleng kuat. ''Ini beda, Nan,'' tandas Salsa. ''Kue ini aku buat dengan penuh cinta.''


Salsa tersenyum seraya melihat toples kuenya yang tersusun kue kacang kesukaan Rafael.


''Jadi...kemarin yang lo buat nggak penuh cinta, gitu?''


Salsa kembali menggeleng. ''Kemarin, aku buat kue sama mamah, dengan resep baru. Pas aku coba hasilnya bagus dan enak,'' jujur gadis itu. ''Makanya, aku mau El coba.''


Nanda tersenyum kecil, ''gue nggak janji, kalau gue berhasil kasi nih kue sama Rafael,'' ucap Nanda.


''Ada namanya usaha,'' kata Salsa.


''Tenang aja, aku kasi kamu upah,'' lanjut Salsa memberikan satu toples kue yang sama kepada Rafael.


''Buat kamu.'' Salsa menyodorkan kue itu kepada Nanda.


''Makasih.''


''Kenapa bukan lo aja yang kasi ke Rafael, kenapa harus Nanda.''


Salsa dan Nanda langsung melihat keasal suara, rupanya yang datang adalah Ardian bersama dengan Rafael, Izam dan Leo.


Entahlah, mereka tidak sadar dengan langkah kaki ke empat cowok tampan itu.


Salsa dan Rafael saling bertatapan, tatapan tidak suka selalu Rafael lemparkan kepada Salsa.


Rafael juga tidak tau, mengapa Ardian mengajak mereka menghampiri Nanda dan Salsa, yang tidak sengaja dia lihat.

__ADS_1


''Hey, cewek permen karet,'' sapa Leo dengan senyumannya, yang mampu perempuan klepek-klepek padanya.


Nanda hanya tersenyum tipis.


''Kenapa mesti pake perantara, Sal. Kalau lo bisa secara langsung kasi nih anak cabe!'' cerocos Izam.


Rafael menatap Izam tidak suka. “Bilang aja kalau lo yang mau makan!”


Salsa langsung mengambil kue itu di tangan Nanda, lalu berjalan mendekati Rafael. Sungguh, wajah cantik Salsa tidak mampu menggoyahkan pertahanan yang selama ini Rafael bangun.


''Dimakan, ya,'' pintah Salsa, seraya menyodorkan kue itu untuk Rafael.


Mereka sudah tidak bisa menghitung, sudah berapa banyak kue toples yang di berikan Salsa untuk Rafael selama mereka SMA.


Rafael tidak pernah mencicipi kue buatan Salsa sama sekali, dia hanya menerimanya dan memberikan kue itu pada sahabatnya untuk di makan.


''Terima.'' Izam menyiku lengan Rafael, karna cowok itu tak kunjung mengangkat tanganya menerima kue dari Salsa.


Sementara Nanda dan Ardian saling bertatapan, Ardian menyungkirkan senyuman jenaka kepada Nanda. Saat mengingat kejadian saat di cafe milik Ethan, Nanda dan Gerald saling berpelukan.


Sekarang Ardian tau, jika Gerald dan Nanda mempunyai hubungan istimewa, yang keduanya tidak mengumbarnya.


Bahkan, Gerald dan Nanda seperti orang tidak saling kenal di sekolah.


Nanda mengunayah permen karetnya, untuk menutupi kegugupannya saat ini. Dia tidak tau, mengapa Ardian begitu sangat menyeramkan, tampan dalam waktu bersamaan.


Rafael mengambil kue di tangan Salsa, dengan rasa malas kepada gadis itu.


Salsa tentunya tersenyum. Salsa saja tidak tau, jika selama ini, kue yang dia berikan kepada Rafael, hanya di terima saja oleh Rafael, namun cowok itu tidak pernah memakanya sama sekali.


Sekali lagi ku tegaskan, Rafael tidak pernah mencicipi kue buatan Salsa selama ini. Sahabat Rafael, tentu tidak memberitahukan ini kepada Salsa. Mereka tidak tega, menambah kesedihan di wajah gadis cantik itu.


''Lo hobi buat kue ya, Sal. Pas kelas Sepuluh aja, lo udah mulai rutin kasi kue ke anak cabe ini,'' ujar Izam, seraya melirik Rafael.


Leo tertawa seraya menggeleng.


‘’Bilang aja kalau lo suka,'' sindir balon Rafael. ''Supaya lo nggak usah keluarin duit buat makan!''


Izam cengengesan. ''Tau aja lo, Raf.''


''Kuenya enak, kan?'' tanya Salsa kepada Izam.


''Enak banget Sal,'' balas Izam seraya mengacungkan jempolnya kepada Salsa. ''Bahkan...Rafael masih mau kue yang kemarin, tapi udah habis, saking enaknya.''


Rafael menatap garang Izam, ucapan cowok itu sangat dusta. Selama ini, dia tidak mencicipi kue buatan Salsa meskipun itu hanya sekali saja.

__ADS_1


''Gue ng—''


''Diam aja lo cabe! Nggak usah malu sama Salsa!'' Izam langsung membekap mulut Rafael, jangan sampai cowok itu mengatakan yang sebenarnya.


''Nggak usah malu, Raf. Salsa aja nggak masalah, iyakan, Sal?'' Izam meminta persetujuan dari gadis cantik itu.


''Iya,'' jawab Salsa dengan bahagia. ''Aku nggak nyangka, kalau El sampai sesuka ini sama kue buatan aku,'' lanjut gadis itu membuat Leo tersenyum, dan Izam berusaha membekap mulut Rafael.


''Iya, Sal. Sering-sering aja kasi kue ke Rafael. Dia selalu makan banyak kok, dia emang gengsi kalau di depan kamu. Tapi....kalau kamu udha nggak ada, dia langsung maman tuh kue sampai habi,'' kata Izam, masih setiap membekap mulut Rafael.


''Iyakan, Lele?'' Izam meminta tanda setuju kepada Leo.


''Gue nggak ikutan,'' balas cowok itu santai membuat Izam menatapnya jengkel.


Rafael mengatur nafasnya, karna bekapan dari Izam ingin menbuatnya muntah.


‘’Tangan lo bau terasi!'' Tawa Leo meledak, membuat Salsa juga ikutan tertawa. Sementara Izam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


''Lo habis buat apa sih, Zam!'' Rafael ingin muntah saat ini, karna Izam membekap hidung dan mulutnya, membuatnya menikmati tangan Izam.


''El, kam—''


''Nggak usah dekat-dekat!'' bentak Rafael membuat Salsa terlonjak kaget.


''Lo kenapa sih selalu kasar sama Salsa!'' ujar Pute yang datang secara tiba-tiba bersama dengan ketiga sahabatnya. Mereka semua langsung melihat keasal suara.


Cika menarik tangan Salsa, agar menjauh dari Rafael.


Salah satu dari teman baru Nanda, bertatapan dengan Ardian. Mereka berdua saling bertatapan, tidak ada yang menyadari itu semua.


''Pengen banget gue makan lo!'' geram Cika kepada Rafael.


''Apa!'' tantang balik Rafael membuat Cika dan Rafael bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


Farel dan Cika saling memberikan tatapan tajam dengan jarak mereka yang sangat dekat.


Sahabat Cika dan Rafael ngeri melihat mereka berdua bertatapan.


''Udah, Ci.'' Salsa menarik tangan Cika untuk segera pergi.


***


Jangan lupa mampir di karya teman aku. Ceritanya seruh banget


TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

__ADS_1



__ADS_2