
''Ish!'' Nanda memegang pundak Ardian, untuk segera naik ke motor cowok itu.
''Ar,'' panggil Nanda, setelah dia berhasil naik ke motor.
''Aaa,'' jawab cowok itu setengah malas, seraya memakai helm fullfecnya.
''Ini bukan motor lo'kan?'' tebak Nanda, meskipun dia baru satu kali menaiki motor milik Ardian. Namun dia bisa membedakan motor milik Ardian meskipun motornya hampir sama dengan motor kelima sahabatnya.
Ardian memutar tubuhnya sedikit, sehingga matanya dan Nanda bertemu. ''Kenapa lo bisa tahu?'' tanya Ardian, dibalik helm fullfecnya dia tersenyum.
''Nggak penting. Buruan jalan,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
Cowok itu langsung menyalakan mesin motornya, pergi meninggalkan rumah milik Gina.
Tanpa Nanda ketahui, sosok Gerald melihatnya berboncengan dengan Ardian.
''Kita nggak tahu, kapan seseorang jatuh cinta,'' gumam Gerald, dia tersenyum sangat tipis, dibalik helmnya itu.
Cowok itu memutar motornya untuk segera pulang. Padahal, niatnya ingin menemui Nanda, sebelum gadis itu keluar negeri untuk liburan.
__ADS_1
Melihat gadis yang dia cintai pergi dengan sahabatnya, membuat Gerald berusaha menahan, agar matanya tidak mengeluarkan bulir air mata.
Gerald fokus mengendarai motornya, air matanya tidak bisa dia tahan. Akhirnya air matanya lolos di pelupuk matanya.
''Gue cemburu, Ra.'' Air mata cowok itu turun membanjiri pipinya. ''Gue cinta sama lo, Ra. Gue sayang sama lu, Ra.''
Cowok itu mengendarai motornya begitu laju. Pikiranya di penuhi dengan nama Nanda, dia sangat terluka, padahal dia sudah mengatakan pada dirinya sendiri, jika dia akan mulai mengikhlaskan Nanda. Namun, melihat Nanda pergi bersama dengan sahabatnya, membuat Gerald tidak bisa mengatakan, jika dia baik-baik saja saat ini.
Cowok itu menancap motornya begitu laju, dia tidak peduli jika para pengendara lainya mengumpati dirinya.
Lampu merah dia terobos begitu saja.
Para pejalan kaki, yang melihat laju motor Gerald yang begitu kencang memilih untuk menepi.
''Gerald.''
Ardian menaikkan alisnya sebelah, tiba-tiba saja Nanda menyebut nama Gerald. Saat ini, mereka lagi singgah di salah satu butik, untuk Ardian membeli baju dan menggantinya di sana.
''Lo kenapa?'' tanya Ardian.
__ADS_1
Tiba-tiba saja nama Gerald terbesit dalam pikiranya, dia merasakan jika Gerald saat ini tidak baik-Baik saja.
''Nan,'' panggil Ardian, sehingga gadis itu langsung tersentak.
''Di sini nggak ada, Gerald,'' ucap Ardian.
''Lo masuk aja, gue tunggu lo di sini,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
Ardian langsung berlalu masuk, sementara Nanda duduk di kursi luar, yang sudah dia sediakan.
Entah mengapa dia punya firasat buruk mengenai Gerald, sahabatnya.
Nanda duduk di kursi, lalu dia mengeluarkan ponselnya untuk segera menghubungi Gerald.
Dua kali gadis itu menelfon Gerald, namun nomor Gerald tidak aktif sama sekali, membuat Nanda menjadi khawatir.
''Kok gue jadi khawatir gini.'' Nanda mulai khawatir, dia menunggu Ardian untuk segera keluar, agar cowok itu menghubungi sahabatnya, menanyai keberadaan Gerald saat ini.
Sudah berulang kali Nanda menelfon Gerald, namun cwok itu tidak mengangkatnya.
__ADS_1
''Semogah aja Gerald baik-Baik aja.'' Nanda mondar mandir di depan butik, menunggu Ardian keluar.