ARDIAN

ARDIAN
Belajar


__ADS_3

Banyak sekali hal yang di pertanyakan Tari kepada Nanda, mulai dari dimana dia mengenal hingga dia menyuruh Nanda untuk menjadi kekasih anaknya itu.


Nanda melirik jam di pergelangan tanganya, sudah pukul lima sore. Siap-siap ponselnya akan berdering oleh panggilan Gina, karna jam begini Nanda belum juga pulan.


Padahal gadis itu mengatakan keluar sebentar, dia kerumah Ardian naik taxi,saat Nanda pulang sekolah, pak Budi minya izin untuk cuti selama satu minggu, karna istrinya di kampung sedang melahirkan.


Tentu saja Gina memberikanya izin, apa lagi Gina tau jika saat seperti itu, istri membutuhkan sosok seorang suami.


Tari mengemas kue buatanya bersama dengan Nanda.


Drt...


Ponsel milik Nanda berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Nanda yakin, jika panggilan itu berasal dari mamahnya, Gina.


''Tan. Saya angkat Telfon dulu,'' pamit Nanda kepada Tari, dan dibalas anggukan kepala oleh wanita itu.


''Halo, Mah,'' sapa Nanda, setelah mengangkat Telfon dari Gina.


‘’Kenapa belum pulang?'' tanya Gina seraya menyiram bunganya, padahal ini sudah sangat sore sekali.


Tapi wanita itu, masih sibuk dengan tanaman bunganya.


‘’Bentar lagi, Mah,'' balas Nanda. ‘’Nanda lagi buat kue,'' lanjutannya membuat selang di tangan Gina jatuh.


''Kamu nggak salah buat kue?'' tanya Gina sedikit terkejut di seberang Telfon, seraya berjalan menuju kursi kayu yang berada di taman bunganya.

__ADS_1


Dia membiarkan selang air itu dibawah tanah.


Nanda tertawa kecil.


''Nggak kok, Mah,'' balas Nanda. ''Nanti Ara bawain mamah kue.''


Gina mengangguk di sebarang Telfon, ‘’Yaudah, mamah penasaran cobain kue buatan kamu,'' balas Gina.


''Kamu buat kue dimana, Ra?'' tanya Gina lagi, dengan matanya memandang kedepan, melihat bunga-bunganya sudah bermekaran semenjak dia pindah ke Jakarta.


''Nanti Ara ceritain, ya, Mah. Ara juga udah nggak lama pulanganya,'' ujar Nanda lagi.


''Hati-hati, jangan lupa kuenya di bawa. Mamah mau coba. Jangan sampai pulang larut malam,'' peringat Gina.


Tut...


Gina dan Nanda mengakirir telfonya. Padahal, Gina ingin menyuruh Nanda pulang karna sudah sore begini anaknya itu belum pulang.


Namun mendengar ucapan Nanda yang mengatakan sedang buat kue, membuat Gina mengurungkan niatnya, karna anaknya melakukan hal positif.


Nanda kembali masuk kedalam dapur, dia sudah melihat kue yang mereka buat berdua sudah tersusun rapih didalam toples cantik.


‘’Coba dulu,'' ucap Tari, menyodorkan kue coklat kepada Nanda.


Nanda mencoba kue coklat itu, rasanya sangat enak, bahkan tidak enek saat du makan.

__ADS_1


''Enak, Tan. Ternyata tante pintar banget buat kuenya,'' puji Nanda membuat Tari tersenyum gembira.


‘’Terimaksih,'' ucap Tari. ''Kue mamahnya Ardian emang enak. Kalau kamu mau makan kue setiap hari dan mau belajar, kamu tinggal kerumah tante saja,'' ucap Tari dengan riang, membuat Nanda mengangguk.


Tante Tari sebaik ini, kenapa Ardian malah kayak preman?


Tari memasukkan empat kue toples kedalam paper bag, ada rasa kacang, coklat dan juga rasa keju.


Nanda sangat suka rasa coklat, sehingga Tari memasukkan dua toples kue coklat kedalam paper bag.


''Kamu ini mirip banget sama sahabat tante,'' ucap Tari membuat Nanda tertawa kecil.


''Masa sih, tan?''


''Tante serius,'' balas Tari.


‘’Namanya Gi—''


''Mah...makan malam udah jadi belum?'' panggil Ibnu dari lantai atas.


Tari tertawa, biasnya jika jam begini makan malam sudah terhidang diatas meja, dan wangi masakannya tercium hingga ke rumah tetangga, namun istrinya sedang asik mengobrol dengan Nanda.


''Baru mau buat,'' balas Tari.


__ADS_1


__ADS_2