
Motor sport singgah di samping Kesya, membuat gadis itu menghentikan langkah kakinya, dia melirik cowok itu sejenak.
"Katanya nggak mau nganter gue balik." Kesya memutar bola matanya malas, namun dia juga bahagia karena Fatur masih ingin menolongnya.
"Yang mau nganter lo balik siapa?" tanya balik Fatur di balik helm fullfecnya. "Terlalu kepedean lo."
"Terus ngapain lo singgah kalau nggak mau nganter gue balik?" dengus Kesya lagi.
"Gue mau ngambil jaket gue. Suasana malam dingin. Gue butuh jaket." Fatur melirik jaket nya yang masih melilit di pinggang ramping gadis itu, membuat Kesya melihat kebawa pinggangnya.
Tangannya bergerak memberikan jaket milik Fatur. "Nih." Kesya menyodorkan jaket milik Fatur dengan kasar.
"Lo beneran nggak mau nganter gue balik?" tanya Kesya sekali lagi, saat melihat Fatur menutup kaca helmnya.
"Karna gue kasihan sama lo, sekarang lo boleh naik," perintah Fatur seraya melirik ke jok belakang menyuruh gadis itu untuk naik.
Dengan cepat Kesya naik ke atas motor Fatur, akhirnya dia tidak perlu merasakan badan encok karna jalan kaki sampai rumah.
Fatur langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Kesya mencengkram erat jaket milik Fatur.
Andai saja Ardian yang membonceng nya, mungkin dengan senang hati dia akan memeluk cowok itu diatas motor. Namun ini bukan Ardian, melainkan kakak Ardian yang sedang membonceng dirinya.
Perjalanan yang di tempuh oleh mobil Boy tadi, kurang lebih satu jam. Namun berkendara dengan motor dengan kecepatan tinggi hanya memakan waktu kurang lebih 20 menitan.
Fatur tidak mengantar nya menuju rumah Nanda, melainkan cowok itu membawa nya pulang kerumah Ibnu dan juga Tari.
"Lo beneran bawa gue kesini?" Kesya syok, dia tidak percaya jika cowok itu benar-benar membawa nya pulang kerumah orang tuanya.
"Turun lo," perintah Fatur membuat Kesya langsung turun dari motor tinggi cowok itu.
Fatur melepaskan helm fullfecnya. Dapat Kesya lihat motor sport milik Ardian sudah berada garasi.
"Mau tetap tinggal lo di situ." Fatur berjalan menuju pintu utama, dengan cepat Kesya menyamai langkah Fatur.
__ADS_1
"Kok lo bawa gue kesini." Kesya menahan pergelangan tangan Fatur, sehingga langkah kaki cowok itu terhenti karna cekalan Kesya.
"Ini udah jam 2 malam, gue juga ngantuk. Emangnya lo yakin jam begini kakak nya Nanda bakalan bukain lo pintu rumahnya." Itu bukan pertanyaan dari Fatur, melainkan sebuah pernyataan untuk gadis itu membuat Kesya diam.
"Udah, gue mau masuk, gue ngantuk," kata Fatur, "sekarang lepasin tangan lo," lanjut nya membuat Kesya langsung melepaskan tangannya dari Fatur, tanpa sadar dia masih mencekal cowok itu.
Fatur kembali melangkah, dengan Kesya yang mengikuti nya dari belakang.
"Terus gue tidur dimana?" tanya Kesya masih setia berjalan di belakang Fatur, "gimana kalau nyokap sama bokap lo, berpikir yang nggak-nggak tentang gue. Karna gue datang tengah malam begini. Apa lagi gue nginap di sini. Lebih baik lo anterin gue pulang!" greget Kesya lama-lama.
Sejujurnya dari dulu Kesya ingin kerumah Ardian, mengenal kan diri dengan kedua orang tuanya. Namun semua itu sia-sia. Sekarang dia datang tengah malam begini, bukan bersama Ardian, melainkan bersama dengan Fatur.
Fatur tidak menggubris ucapan Kesya, dia membuka pintu utama. Dia bersisi tatap dengan Tari.
"Fatur," panggil Tari dengan senyuman.
Fatur melangkah masuk, dia yakin jika mama tiri nya itu menunggu nya sampai pulang. Apa wanita itu tidak lelah menunggu jam dua begini?
Fatur melangkah masuk, namun dia merasa ada yang kurang, dia berbalik dan tidak menemukan Kesya di sana.
"Fatur, kamu ngomong sama siapa?" tanya Tari, belum sempat Fatur menjawab dia melihat gadis yang mengenakan rok mini muncul di depan pintu, entah dimna gadis itu menyembunyikan diri nya tadi.
Tari menatap Kesya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu dia tersenyum tulus pada gadis itu. Tentunya dia kenal dengan gadis itu, anak dari Iksan dan juga Raisa.
Fatur langsung pergi menuju kamarnya, meninggalkan Kesya yang masih mematung.
"Ayok masuk, nggak baik di situ." Tari mempersilahkan Kesya untuk masuk membuat gadis itu melangkah masuk, tak lupa dia menyalim tangan Tari.
Kesya berpikir, jika mama nya Ardian saat ini berpikir jika dia adalah gadis nakal. Yang datang tengah malam begini bersama Fatur, di tambah lagi pakaian nya yang sangat seksi.
"Tante anter kamu di kamar tamu."
Kesya mengangguk, lalu mengikuti Tari dari belakang. Kesan pertama yang sangat baik dari mama nya Ardian.
__ADS_1
***
Nanda membuka matanya dengan terkejut, dia sampai ketiduran menunggu Kesya. Di liriknya jam diatas nakas menunjukkan pukul 5 subuh. Dia melirik kiri kanan nya, Kesya tidak ada.
"Apa Kesya pulang kerumah nya?" gumam gadis itu dengan suara khas bangun tidur. Dia mengecek ponsel nya, melihat pesan WA yang dia kirim untuk Kesya, gadis itu hanya melihat pesan nya tanpa berniat membalas nya.
Nanda menghembuskan nafas berat, mendadak dia khawatir dengan Kesya.
Nanda menyimpan ponsel nya diatas nakas, namun kemudian ada pesan masuk.
Ting...
Nanda penasaran siapa yang mengirim kan nya pesan jam begini. Tanganya begerak mengambil ponselnya, rupanya pesan dari...
"Subuh banget bangun nya."
Itu adalah pesan yang di kirim oleh Ardian. Tangan gadis itu begerak membalas pesan cowok yang semalam membuat pipi dan telinga mya memanas.
Ting...
Ardian membuka balasan WA dari Nanda, senyum subuh-subuh terbit di wajahnya membaca pesan dari sang pacar.
"Gue kebangun, ini mau lanjut tidur lagi."
Tadinya Nanda ingin menyimpan ponselnya lalu tidur kembali, namun pesan dari Ardian kembali dia baca.
Dia membaca pesan dari Ardian yang ingin menjemput nya untuk ke sekolah pagi ini. Tadinya dia ingin mengambil libur selama seminggu, dia sudah mengatakan hal ini pada Boy, dan pria itu hanya mengangguk setuju saja.
Namun Nanda kembali berpikir, sampai kapan dia akan larut dengan semua ini? Hingga dia malas ke sekolah dan memutuskan untuk libur selama seminggu.
Akhirnya Nanda mengiyakan permintaan Ardian untuk menjemput nya.
Mulai hari ini, dia tidak boleh terpuruk dengan kondisi Gerald. Meski dia tidak bisa menemui Gerald, dia harus semangat dan mendoakan Geral dari sini.
__ADS_1
Nanda yakin, jika Gerald tahu dia mengurung diri untuk tidak ke sekolah, maka cowok itu akan menasehati nya. Dan Nanda tidak mau membuat Gerald sedih meskipun cowok itu tidak melihat nya sama sekali.
Nanda bertekad, dia akan memulai kembali, dan berjalan mengikuti alur hidup nya. Dia yakin, ada hikmah dibalik masalah yang menimpa nya ini.