
Perlahan-lahan, Salsa mulai membuka kelopak matanya, saat indra penciumanya mencium minyak kayu putih. Orang pertama yang Salsa lihat adalah sosok pembantu yang bekerja di rumahnya ini.
"Syukurlah, non Acca udah bangun," kata sang Bibi dengan raut wajah terlihat legah, karna melihat Salsa sudah bangun dari pingsanya.
"Aku kenapa, Bi?" tanya Salsa seraya memegang kepalanya yang sedikit pusing itu. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya.
"Non Acca tadi pingsan," kata Bibi membuat Salsa memperbaiki posisinya.
"Aku pingsan?"
"Iya, untung aja Rafael datang manggil bibi," jelasnya membuat Salsa meneguk salivanya susah payah.
Salsa pikir, dia sedang berhalusinasi saja.
"El mana, bi?" tanya Salsa melihat sekelilingnya tidak ada Rafael. ''Jadi aku nggak mimpi kalau El ada di sini."
Bibi tersenyum samar menengar ucapan Salsa yang terakhir, " non Acca nggak mimpi. Rafael memang ada di sini. Sekarang dia berada dibawa. Katanya kalau Non Acca udah bangun, bibi di suruh manggil dia," jelas bibi membuat Salsa masih tidak percaya situasi ini.
Apa Rafael peduli padanya? Apa Rafael mulai membalas perasaanya yang sudah lama bertepuk tangan.
"Non Acca mau bibi manggil dia kesini?" goda sang bibi membuat pipi Salsa merona bak kepiting rebus saja. Sang bibi gemas melihat tingkah Salsa seperti ini.
Jujur saja bibi sempat terkejut melihat kedatangan Rafael di rumah ini. Meski rumah Salsa bertetanggan dengan Rafael, namun hal ini pertama kalinya sang bibi melihat anak itu bermain kesini. Seingatnya terakhir kali Rafael menginjakkan rumah saat umur mereka
Karna dia yang menjaga Salsa sejak kecil, jadi dia tahu bagaimana perasaan anak itu pada sosok sahabatanya.
"Bi, aku kayam mimpi, El ada di sini. Bibi tahu `kan gimana aku ke Rafael?" aduhnya pada sang bibi.
"Ini bukan mimpi," terang sang bibi seraya mengusap kepala Salsa dengan lembut. "Jadi gimana, mau bibi manggil dia kesini?" tanya bibi lagi.
__ADS_1
Salsa diam sejenak, sebelum mengangguk mengiyakan ucapan sang bibi. Bibi langsung pergi meninggalkan kamar Salsa. Sepeninggalnya sang bibi, gadis itu memegang dadahnya. Jantungnya di dalam sedang tidak baik-baik saja.
Rafael belum ada di sini, namundia sudah mulai gugup. Salsa melihat pintu kamarnya menunggu sosok cowok yang membuatnya harus bertekuk lutut.
Tak...Tak...Tak.
Derap langkah semakin jelas berjalan kearah kamarnya, membuatnya semakin tidak berkutik. Debar jantungnya semakin terdengar jelas di indra pendengaranya itu. Salsa terus-terusan menatap pintu kamarnya menunggu sang pelaku yang membuat jantungnya ingin copot.
Yang berdiri di depan pintu kamar Salsa, bukan laki-laki yang sedari tadi dia tunggu. Melainkan bibi yang ada di sana berdiri dengan raut wajah yang sangat sulit di artikan.
''Bi," panggil Salsa dengan suara hampir tercekat, peerasaanya mulai tidak enak.
Sang bibi langsung menghampiri Salsa lalu memeluk gadis itu. Salsa yang mendapatkan pelukan mendadak jadi semakin cemas.
"Kenapa, bi?" tanya Salsa.
"Rafael sudah tidak ada dibawa sana. Padahal, bibi dengar jelas Rafael bilang sampaikana padanya saat non Acca bangun. Tapi saat bibi kebawa dia sudah tidak ada di ruangan tamu," jelasnya dengan suara menahan tangis.
"Aku nggak apa-apa, bi. Aku aja yang terlalu berharap dengan, El. Mungkin aja ada kepentingan lain yang Rafael ingin sampaikan. Sampai dia harus menerobos masuk kedalam kamar aku." Seharusnya Salsa tidak berharap selebih ini.
Karna rasanya sangat sakit. Bahkan hal ini lebih sakit ketimbang saat dia tahu kedua orang tuanya ingin menetap di negara orang. Sehingga dia ikutan terseret dan harus pindah sekolah juga.
***
Saat ini Boy mengantar Greta pulang. Tidak baik bukan jika calon istrinya pulang tengah malam begini. Keduanya diam didalam mobil. Boy melirik Greta, gadis itu tengah memikirkan sesuatu.
" Kalau ada masalah, bilang sama saya. Karna sekarang kamu bukan orang asing lagi," ujar Boy dengan tatapan fokus kedepan.
"Kita masih menjadi orang asing. Kita belum menjalin hubungan pernikahan," jelas Greta membuat Boy tertawa.
__ADS_1
''Tidak lama lagi `kan," goda pria itu yang hanya di acuhkan oleh Greta saja.
'Jadi katakan, apa masalahmu. Saya akan membantu kamu dengan senang hati," cakap pria itu dengan serius.
Greta melirik Boy, lalu lemudian pria itu membalas tatapan Greta dengan senyuman tulus.
"Saya cuman khawatir, kondisi mama nggak membaik saat kita akan menikah." Rasanya Greta ingin menghilang saja, dia merasa tidak pantas membahas soal ini.
Dia merasa sedang bermain-main, namun keadaan ini serius, bukan sekedar main-main. Dia merasa masih kecil, merasa belum pantas membahas hal dewasa. Situasi seperti ini membuat dirinya menjadi dejavu.
Demi uang, Greta harus mengorbankan masa mudanya, meski dia masih duduk di bangku SMA. Tidak masalah jika dia menikah dengan status masih pelajar. Toh habis nikah Greta masih tetap sekolah, Boy yang akan mengurus hal itu.
Greta melakukan ini demi ibunya, dia tidak tahu bagaimana kondisi mamanya saat tahu, mereka sudah tidak sekaya dulu. Greta khawatir, mamanya makin drop saat tahu ini. Apa lagi kondisi mama nya kembali memburuk, saat tahu suaminya sudah tidak ada sejak mereka kecelakaan.
Boy akan menjamin hidupnya dan keluarganya jika mereka menikah. Boy akan memberikan rumah untuk mama nya tinggali nanti bersama sang adik. Sehingga adiknya tidak perlu tinggal di rumah kontrakan mereka yang sangat kecil itu.
"Yang terpenting kita menikah dulu, saat kondisi mama saya sudah membaik. Lepas itu, saya akan memindahkan mama kamu kerumah sakit luar negeri. Dokter di senior di sana akan mengurus mama kamu dengan baik. Kamutenang saja, saya yang akan mengurus semuanya," ungkap Boy dengan sangat serius.
Itu adalah salah satu janji Boy kepada Greta, jika mereka berdua menikah.
Maka penawaran inilah yang membuat Greta mau-mau saja menikah dengan Boy, pria yang sudah mapan. Pria itu akan menjamin hidupnya bersama keluarganya kelak.
Tidak butuh waktu lama, Boy sudah sampai di rumah kontrakan Greta yang sederhana, sangat jauh dari kata mewah.
"Makasih sudah mau mengantar saya pulang," ucap Greta dengan senyuman tipisnya, "titip salam buat Nanda juga, semogah cepat sembuh."
"Iya, habis ini langsung istirahat, nggak usah begadang lagi," papar nya dengan lugas, " saya sudah mengirimkan uang jajan untuk adik kamu Pai di rekening kamu. Dan juga uang jajan untuk kamu di sekolah."
Greta hanya mengangguk seraya berterimakasih, lalu tangan gadis itu bergerak membuka pintu mobil, namun tanganya langsung di cekat oleh Boy. "Kenapa?" tanya Greta seraya menaikkan alisnya sebelah.
__ADS_1
Mata mereka berdua beradu dengan intens, Greta bisa melihat rautwajah Boy yang tampan. Meski usia pria sudah mapan, namun wajahnya masih bisa memerankan murid kelas 3 SMA.
"Jangan lupa tinggalkan pekerjaan mu di club, mulai besok. Saya tunggu kabar dari kamu."