
Salsa tengah berdiri di balkon kamar miliknya. Tatapan matanya yang sayu tertuju pada rumah di depanya. Lebih tepatnya lagi balkon kamar milik Rafael. Salsa sangat yakin, jika Rafael tengah berada di rumahnya. Terlihat dari kamar cowok itu yang terang. Salsa sangat berharap Rafael datang padanya untuk mengucapkan kata perpisahan saja.
Huft....
Salsa menghembuskan nafas lelah, sudah pukul 12 malam, dia belum mengantuk sama sekali. Katakan jika dia sedang menunggu seseorang di seberang sana, memunculkan wajahnya. Salsa merindukan Rafael.
Gadis itu memegang pagar pembatas balkon kamarnya, air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya mendobrak untuk segera di keluarkan. Dadanya tiba-tiba sesak memikirkan perasaanya yang selalu seperti ini. "Aku kangen, El," gumam gadis itu, seraya mengusap air matanya, "kamu kenapa nggak pernah peduli sama aku sih, El. Sampai aku ingin pergi saja, kamu tetap tidak peduli. Apa aku harus untuk selamanya baru kamu bisa peduli?"
Salsa tersenyum getir, baru saja dia merasakan kebahagian membuat cake bersama dengan Tari, namun kebahagian itu tidak berlangsung lama. Apa dia tidak pantas untuk bahagia?
Salsa mendongakkan matanya, menatap langit malam yang semakin gelap. Sudah tengah malam begini rasa kantuk tidak menyerangnya sama sekali.
"Non Acca nggak istirahat? Besok pagi non Acca akan ke bandara, orang suruhan orang tua non Acca besok pagi kesini." Bibi memberikan perhatian pada Salsa. Dia tahu kenapa gadis itu tidak bisa tidur.
Salsa tidak tahu, sejak kapab bibi berada di dalam kamarnya ini. Salsa tidak berniat melihat sang bibi, namun dia mendengar seksama perhatian itu untuknya. "Aku belum ngantuk, bi" jelas Salsa tanpa melihat kearah sang bibi. Dirinya tengah fokus menatap balkon kamar Rafael, berharap cowok itu muncul di sana.
"Tap--"
"Lebih baik bibi tidur, udah tengah malam, nggak baik buat kesehatan bibi. Bibi lupa, beberapa hari lalu bibi masuk rumah sakit. Dokternya bilang, bibi nggak boleh begadang lagi." Salsa mengingatkan seraya tersenyum hangat pada bibi.
Mau tidak mau, bibi mengangguk, setelahnya bibi meninggalkan Salsa. Dia tidak mau, jika dia sakit majikanya ikut repot.
Setelah kepergian bibi, Salsa kembali menghadap kedepan.
Deg....
Dari sini, Salsa melihat kemunculan Rafael di balkon kamarn, sehingga mereka berdua saling bertatapan. Ahk, Salsa harus berterimakasih kepada arsitek rumahnya, karna kamar miliknya berhadapan dengan balkon kamar milik Rafael.
Salsa melambaikan tangan kepada Rafael, di sertai dengan senyuman yang melekat di wajahnya itu. "El," panggil Salsa, suaranya itu tentu saja di dengar oleh cowok di sebelah.
Berbeda dengan Rafael, dia terkejut melihat Salsa masih berada di balkon kamarnya, dia pikir gadis itu sudah tidur, sehingga dia berjalan menuju balkonn kamarnya. Ternyata dugaanya salah besar, buktinya gadis itu masih berkeliaran di jam begini.
Senyuman yang Salsa berikan membuat Rafael tersenyum kecut, dia tidak melihat kekecewaan di wajah gadis itu, meski dia pergi begitu saja. Dia sangat gengsi menunggu Salsa hingga sadar sehingga dia memutuskan untuk pulang saja. Padahal niatnya menemui Salsa ingin bertanya soal kepindahan gadis itu. Namun lagi-lagi terhalang gengsi.
__ADS_1
Rafael merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel bergambar apel di gigit itu, tangan kekarnya mulai mengetik.
Ting...
Ponsel milik Salsa bergetar di atas tempat tidurnya, matanya langsung menatap kedepan. Menatap sosok cowok yang sedang menatapnya juga, dia yakin pesan itu dari Rafael, karna dia memberikan notifikasi khusus untuk pesan Rafael.
Salsa mengambil ponselnya diatas kasur, lalu kembali berjalan ke balkon kamar, dia penasaran, pesan apa yang di kirimkan Rafael padanya. Salsa menatap Rafael lagi, lalu tanganya mulai membuka pesan dari Rafael.
"Kenapa belum tidur lo?"
Itu adadah isi pesan dari Rafael, Salsa meneguk salivanya, rasanya ia tidak percaya jika Rafael akan menanyakan hal ini, tentu saja ini suatu hal langkah. Salsa tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Dia tidak akan menghapus pesan ini sampai kapanpu.
Mungkin bagi Rafael itu hanya pesan nggak jelas, namun tidak bagi Salsa. Tangan lentiknya bergerak membalas pesan Rafael.
Ting....
"Aku belum ngantuk."
Salsa melihat Rafael, cowok itu tdak membalas pesanya lagi. Lalu Salsa kembali mengetik.
***
Sinar matahari pagi menerobos masuk kedalam jendela kamar yang di tenpati oleh Nanda. Dengan terpaksa Nanda membuka matanyakarna silau.
"Gue pikir, lo bakalan bangun siang."
Suara datar itu membuat Nanda terlonjak kaget. Pasalnya dia baru bangun, langsung di suguhkan suara datar milik Ardian.
"Lo dari tadi bangun?" Tanya Nanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh cowok yang tengah duduk di sampingnya.
Mendengar jawaban Ardian membuat Nanda malu, itu berarti Ardian melihatnya tidur?" Nanda tidak bisa membayangkan bagaimana modelnya tidur tadi, apa dia membuka mulutnya lalu mengerluarkan suara aneh? Memikirkan itu saja sudah membuat Nanda malu saja.
"Lo tetap cantik meskipun dalam keadaan tidur." Seakan-akan tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu membuat Ardian langsung angkat bicara.
__ADS_1
"Gue nggak butuh pujian," ojar Nanda. "Gue tau cara tidur gue pasti udah buat lo ketawanggak jelas."
"Pacar gue tetap cantik, dalam keadaan apapun."
Jleb....
Ucapan Ardian sukses membuat Nanda tidak berkutik sama sekali.
"Sekarang lo sarapan," ucap Ardian mengambil mangkuk berisi bubur.
Nanda memanyunkan bibirnya, lagi-lagi dia harus makan bubur rumah sakit, yang sama sekali tidak ia sukai. Melihat raut wajah Nanda yang comel hhhhhh, membuat Ardian langsung mengusap rambutgadis itu. Tindakan Ardian lagi-lagi membuat jantungnya tidak aman sama sekali.
"Gue tahu, lo nggak suka makan bubur. Tapi bubur ini lo harus coba, ini buatan nyokap gue, khusus buat lo," ucapnya membuat Nanda langsung menatap Ardian.
"Mama lo ada di sini? Mna?" tanyanya karna tidak melihat siapapun di dalam kamar ini, hanya dia saja dan Ardian.
"Cuman tadi malam mama kesini, lo nggak lihat karna semalam lo istirahat," jelasnya. "Kalau bubur ini kiriman dari mama dibawa sama supir."
Nanda akhirnya mau sarapan bubur pagi ini, sepertinya buatan bubur Tari akan membuat dirinya nagih. Apa lagi Nanda tahu jika nyokapnya Ardian sudah pro soal dapur.
"Sini, biar gue makan sendiri.' Nanda meminta mangkuk berisi bubur dari tangan Ardian, namun cowok itu menggeleng kuat, tanda menolak.
"Biar gue suapin," putus Ardian.
"Biar gue aja." Nanda tidak mau jika Ardian kembali menyuapinya untuk kedua kalinya.
"Nggak usah banyak protes, tinggal nurut aja," dumel Ardian lagi.
"Tapi gue bisa makan sendiri, Ar."
Ardian tidak menggubris ucapan Nanda, dia mulai mencuapi Nanda bubur, dan bodohnya lagi bibirnya terbuka untuk menerima suapan tersebut.
Nanda baru sadar, jika Boy tidak ada di sini.
__ADS_1
"Abang gue mana?" tanya Nanda masih setia memakan bubur buatan Tari, benar kata Ardian jika bubur ini beda dari bubur rumah sakit, rasanya sangat enak, sehingga orang yang tidak menyukai bubur akan suka jika buburnya seenak ini.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN. MAKASIHHHH