
Nanda termenung menatap pemandangan malam di depan nya, dengan tatapan lurus ke depan.
Mama sakit kanker paru-paru.
Ucapan Boy masih terngiang-ngiang di dalam benak nya. Mama nya kena kanker paru-paru? Dan apa kata Gina waktu itu, jika ia baik-baik saja.
Nanda tidak menyangka, mama nya menyembunyikan hal besar ini pada nya. Apa karna dia masih belum paham masalah seperti ini, jadi mereka sepakat menyembunyikan nya. Ia berhak tahu, bagaiamana pun dia adalah seorang anak.
Nanda tahu, jika mama nya melakukan ini agar dirinya tidak sedih. Menyembunyikan hal besar ini pada nya, membuat Nanda sakit berkali-kali. Dia tidak tahu, jika mama nya sedang berjuang melawan penyakit kanker paru-paru nya.
"Ma... " Air mata kembali membasahi pipi nya, sudah satu jam ia di sini, dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk Ardian. Dia ingin sendiri menikmati angin malam diatas roftop, sembari meretapi nasib nya, mama nya sakit, papa nya menikah lagi dan Gerald juga sedang berjuang. Dua orang yang ia sayangi berjuang, semuanya bercampur aduk di dalam benar gadis itu.
Nanda mengusap air matanya kasar, "kenapa nyembunyiin sakit mama?" Nanda tertawa sumbang, namun mata nya terus-terusan mengeluarkan air mata.
Dia ingin berteriak kencang, mengapa takdir nya seperti ini? Mengapa orang yang ia sayangi harus merasakan sakit..
"Udah nangis nya?" Ardian datang dari arah belakang, Nanda tidak bergeming saat mendengar suara cowok itu.
Dia sudah melarang Ardian untuk menyusul nya di sini. Tanpa Nanda ketahui, jika Ardian sedari tadi di sini, gadis itu fokus menatap kedepan, tanpa menoleh ke belakang. Tentu saja Ardian tidak akan membiarkan Nanda sendirian malam-malam begini di landa masalah, apa lagi diatas roftop. Ardian tidak mau, hal yang tidak-tidak akan gadis itu lakukan.
Nanda membalikkan tubuh nya, menatap Ardian yang sangat tampan, ketampanan dan aura cowok itu mampu mengalihkan dunia nya. Entah mengapa Nanda merasa, jika Ardian hanya buruk di cover saja, sementara hati nya? Sangat lembut, itu yang Nanda rasakan.
Mereka berdua beradu tatapan, Ardian bisa melihat jelas mata gadis itu yang sembab, pipi nya masih basah bekas air mata, matanya masih memerah. Sisa-sisa air mata masih terlihat jelas di penglihatan Ardian. Dia tahu, gadis itu menangis satu jam di sini...
"Gue udah bilang, gue mau sendiri," kata Nanda dengan suara bergetar hebat, "tinggalin gue, Ar!" pintah nya lalu kembali membelakangi Ardian.
__ADS_1
Air matanya kembali jatuh, dia mengatakan pergi untuk Ardian. Padahal hati nya menyuruh Ardian untuk tetap di sini saja.
"Gue nggak akan ninggalin lo," balas Ardian, lalu cowok itu berjalan mendekati Nanda, berdiri tepat di samping nya, dengan angin malam menerpa rambut ke-dua nya. "Gue bakalan tetap di sini."
"Gue nggak tahu, kenapa cobaan datang terus menerus di hidup gue!" kata nya dengan terisak, air mata masih setia membanjiri kedua pipi nya. "Kemarin papa, terus Gerald. Sekarang mama! Gue nggak tahu, kenapa kesedihan datang terus-menerus di hidup gue, Ar!" tangis nya terdengar pilu. "Gue udah ikhlas kalau papa ninggalin gue demi keluarga barunya. Tapi gue nggak ikhlas kalau ma--"
Ardian langsung membawa Nanda dalam pelukan nya, membuat Nanda tidak meneruskan perkataan nya. Tenggorakan nya tercekat, tidak mampu meneruskan perkataan nya saat Ardian memeluk nya. Wangi parfum mahal Ardian langsung tercium di indra penciuman nya.
"Nggak usah di terusin," ucap Ardian membuat gadis itu terisak dalam dekapan nya. Dia menangis seperti anak kecil, lalu dia membalas pelukan Ardian tak kalah erat nya.
Nyaman!
Itu yang Nanda rasakan. Seakan-akan masalah nya terangkat saat Ardian memeluk nya, memberikan kelegahan di dalam hati nya.
Nanda jadi ingat, saat ia kacau saat mengetahui papa nya menikah lagi, ada Gerald datang menenangkan diri nya dan memberi nya pelukan yang sangat nyaman. Pelukan penuh kasih sayang itu di rasakan Nanda saat mereka masih kecil.
Nanda berkata jujur, pelukan Ardian membuat nya sangat nyaman. Rasa nyaman yang berbeda saat Boy dan Gerald memeluk nya.
"Gue benci takdir gue, Ar!" ucap nanda pelan dalam pelukan Ardian. "Gue benci banget."
"Jangan nyalahin takdir lo. Kalau lo nyalahin takdir lo, berarti lo nyalahin kehadiran gue juga di sini. Karna gue di sini karna itu takdir lo."
Ucapan Ardian membuat Nanda semakin mengeratkan pelukan nya.
"Gue belum pernah punya masalah berat dalam hidup gue. Jadi gue nggak tahu rasanya punya masalah berat itu seperti apa," kata Ardian sembari mengusap rambut gadis itu. Apa yang ia katakan memang benar, jika takdir nya begitu mulus, mulai dari keluarga yang ceria dan juga lengkap, tidak seperti gadis di dalam pelukan nya. "Semuanya bakalan terlewati kalau lo lawan semua masalah lo itu," lanjut nya.
__ADS_1
Ardian membiarkan Nanda memeluk erat tubuh nya. Jantung nya tidak bekerja seperti biasa, karna saat ini jantung cowok itu berdetak tidak karuan saat memeluk Nanda, ini adalah sentuhan yang sangat dekat ia lakukan untuk lawan jenis, untuk pertama kalinya, membuat jantung nya berdegup kencang, Ardian jadi khawatir jika Nanda mendengar detak jantung nya yang menggila malam ini.
Ardian nyaman, Ardian legah saat dia memeluk Nanda, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukan nya. Setidaknya, dia menjalankan tugasnya sebagai pacar yang baik, yaitu tidak membiarkan Nanda kesepian dalam keadaan terpuruk, seperti sekarang ini.
Mereka sibuk berpelukan, dengan awan gelap yang menjadi saksi mereka yang sangat dekat malam ini.
"Gue cinta sama lo. Gue serius.".
Deg...
Itu adalah ucapan Ardian di tengah-tengah pelukan mereka, dia berujar begitu santai namun efek nya yang tidak bisa sesantai saat ia berkata.
Nanda menatap wajah Ardian yang masih setia ia peluk. Lalu cowok itu membalas tatapan Nanda.
" Gue.. "
"Gue nggak minta jawaban, perasaan lo ke gue sekarang. Gue tahu tempat," ujar Ardian lagi, memotong ucapan Nanda yang tadi.
Nanda tersenyum tipis, lalu ia melepaskan pelukan nya.
"Makasih," kata Nanda dengan senyuman tulus, meski mata nya masih memerah karna air mata. "Makasih udah kasi gue kenyamanan," lanjut nya membuat Ardian menatap gadis itu dalam-dalam
Ardian lalu memegang dagu gadis itu, hingga mata indah itu kembali beradu malam ini. Nanda melihat jelas mata indah milik Ardian, cowok itu masih setia memegang dagu nya pelan..
"Udah tugas gue buat lo nyaman. Biar lo nggak kesepian," ucap Ardian pelan.
__ADS_1
Deg...