
''Lo nunggu gue bukain lo pintu?'' Ardian mengangkat alisnya sebelah menatap Nanda.
Karna gadis itu belum juga masuk kedalam mobil.
Nanda langsung masuk kedalam mobil mewah milik Ardian. Ardian langsung pergi mengantar Nanda untuk segera pulang.
Sementara Tari tersenyum kearah mobil Ardian yang sudah hilang dari pandangan matanya.
‘’Semogah ini langkah yang baik,'' gumam Tari, lalu masuk kedalam rumah.
‘’Gue minta lo bebasin, Dika.'' Nanda angkat bicara, mobil milik Ardian berhenti karna lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
''Apa untungnya buat, lo?'' tanya balik Ardian, tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.
Nanda melirik Ardian. ''Seharusnya gue yang ngomong kaya gitu sama lo. Apa untungnya lo nyulik Dika!'' desis Nanda.
''Tentu saja untungnya banyak,'' balas Ardian tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.
''Kalau sampai Dika semakin parah, gue nggak bakalan maafin lo!'' ancam Nanda, membuat Ardian meliriknya lalu cowok itu menyungkirkan senyuman jenakanya.
‘’Emangnya lo siapa? Emangnya maaf dari lo berharga buat gue?''
Jleb...
Nanda seperti di rendahkan serendah-rendahnya seperti tanah, membuat gadis cantik itu ingin mencakar wajah milik Ardian.
__ADS_1
''Lo bawa kabur anak orang yang belum sembuh!'' ucap Nanda lagi.
Ardian mulai menjalankan mobilnya, karna lampu lalu lintas sudah berubah.
''Gue nggak peduli. Gue cuman tunggu dia mati,'' balas Ardian dengan santai membuat Nanda melotokan matanya.
''Nyawa orang kayak lo anggap sampah tau nggak!'' cecar Nanda.
‘’Preman kayak lo emang nggak punya hati!'' lanjutnya.
''Mau gue preman atau nggak, bukan urusan lo!'' jelas Ardian membuat Nanda mengepalkan tanganya.
''Turunin gue!'' perintah Nanda kepada Ardian, agar cowok itu menurunkan dirinya.
''Lo serius?'' tanya Ardian dengan melirik Nanda dengan alis terangkat satu.
''Gue serius! Gue nggak mau satu mobil sama preman kayak lo! Nggak punya hati banget! cukup pisang aja punya jantung tapi nggak punya hati. Apa lo emang kayak pisang, punga jantung tapi nggak punya hati!'' beber Nanda membuat Ardian menyungkirkan senyuman tipisnya.
''Ok,'' ucap Ardian.
Ardian menepikan mobilnya, Nanda mengambil paper bag di kursi belakang lalu turun dari mobil Ardian.
Nanda menutup kencang pintu mobil Ardian, membuat cowok itu menahan tawa.
''Dasar preman!'' teriak Nanda saat mobil ardian sudah menjauh pergi meninggalkannya di jalan.
__ADS_1
Nanda menelusuri jalan raya, dengan menentang paper bag pemberian Tari.
Nanda menepuk jidatnya, ponsel dan dompetnya ketinggalan di mobil milik Ardian.
‘’Gue nggak bisa naik taxi kalau gini,'' decak Nanda.
Drt....
Ardian ingin terus ke markas, namun bunyi ponsel di tempat Nanda duduk tadi berbunyi, Ardian baru sadar jika gadis itu lupa mengambil dompet dan ponselnya, dia hanya mengambil paper bag berisi kue'
Ardian dengan iseng-iseng memgambil ponsel Nanda, lalu melihat nama yang terterah di layar ponselnya.
''Gerald,'' gumam Ardian melihat nama sih penelpon.
Ardian menyimpan ponsel Nanda kembali, lalu memutar mobilnya untuk mengambil gadis itu lagi. Jika dia tidak memgambilnya, maka Nanda akan jalan kaki sampai rumahnya.
Karna dompetnya berisi uang tertinggal di mobilnya.
Sementara Gerald yang sudah tiga puluh menit menunggu Nanda di rumahnya menjadi khawatir, karna gadis itu belum juga pulang.
Gina yang melihat kekhawatiran di wajah Gerald langsung menghampiri anak itu.
''Ara udah angkat?'' tanya Gina dan dibalas gelengan kepala oleh Gerald.
''Apa perlu Gerald susul, Ara?'' tanyanya kepada Gina.
__ADS_1