ARDIAN

ARDIAN
Bagaimana jika dia masih hidup?


__ADS_3

"Gimana kondisi Nanda, Ar? Mama denger dia udah keluar dari rumah sakit." Tari berjalan kearah Ardian, lalu duduk di samping putranya itu.


"Udah baikan," jawab Ardian, cowok itu masih setiap menyandarkan tubuh kekarnya di sofa, pikirannya saat ini kacau, memikirkan soal sahabatnya, Gerald.


Rasanya... Sangat cepat!


"Kamu nggak mau jengukin dia? Gimana kalau entar malam kita ke rumah Nanda," usul wanita itu dengan senyuman mengambang di wajahnya yang cantik.


"Biarin Nanda istirahat dulu, Ma," kata Ardian santai, "Ardian yang pacaran, mama yang mau ngapelin anak orang," lanjut Ardian seraya menggelengkan kepalanya.


"Nanda itu anak sahabat mama, Ar. Jadi wajar dong kalau mama care sama dia," belanya pada sang anak. "Pas mama tahu, kalau pacar kamu itu anak sahabat mama, kamu tahu nggak, mama langsung bahagia tau, Ar," ucap nya dengan nada suara yang kelewat bahagia.


"Pokoknya kamu beruntung pacaran sama Nanda. Mama nya sangat baik, apa lagi anaknya."


Tari terus-terusan mengobrol dengan Ardian, mengenai gadis bernama Nanda itu.


Ardian menghembuskan nafas berat. "Ma, Ardian rasa hidup Ardian sangat mulus. Mulai dari keluarga yang bahagia, Ardian di kelilingi orang-orang baik. Seperti sahabat Ardian, Nanda dan mama sama papa. Ardian rasa, selama Ardian hidup, hidup Ardian selalu berjalan mulus. Ardian pikir, mendapatkan Nanda bakalan sesulit yang Ardian pikir. Meski Ardian belum di katakan menang seutuhnya." Laki-laki itu mengingat Gerald.


Andai saja sahabatnya itu hidup, tidak akan mungkin dia mendapatkan Nanda dengan muda.


"Mama tahu 'kan, sahabat Ardian juga suka sama Nanda. Ardian yang rebut dia dari Gerald," lirih cowok itu. Dalam situasi seperti ini, dia memanfaatkan. "Mereka udah kenal sejak mereka kecil. Dan Ardian tiba-tiba masuk di antara mereka. Ardian merasa bersalah sama Gerald, Ma." Ardian merasa bersalah akan hal ini.


Ardian ingin sekali meminta maaf, dan menebus kesalahannya pada Gerald, andai saja cowok itu masih hidup.


Tari mengusap punggung anaknya, lalu menyuruh Ardian untuk tidur di pahanya sebagai bantal. Ardian menurut, untung saja mereka duduk di sofa panjang.


"Ini sepenuhnya bukan salah kamu, Ar," ucap Tari, agar anaknya itu tidak menyalakan dirinya sendiri. "Nanda yang udah nerima kamu. Gerald dan Nanda juga nggak pacaran, jadi kamu nggak rebut Nanda dari Gerald."


Tapi Ardian yang maksa, Ma.


Ardian hanya bisa membatin.

__ADS_1


Tari mengusap rambut hitam milik anaknya, sementara Ardian memejamkan matanya. Menikmati sentuhan kasih pada rambutnya.


"Apa mama yakin, kalau Ardian sama Nanda bakalan tetap bersama?" tanya Ardian tanpa membuka matanya.


Tari tersenyum, tangannya masih bergerak mengelus rambut Ardian. "Mama yakin, asal kalian berdua saling cinta."


Ardian membuka matanya, matanya yang di hiasi bulu mata lentik mendongak menatap sang mama,.


Ardian tersenyum kecut, hal itu di sadari oleh Tari. Sebagai orang tua yang peka, dia yakin anaknya sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa, Ar? Kamu nggak mau cerita sama Mama? Apa yang Mama katakan salah?" tanya Tari dan dibalas gelengan kepala oleh Ardian.


"Apa yang Mama bilang udah benar. Hubungan bakalan baik baik kalau mereka berdua saling cinta. Tapi bagaimana jika hanya satu orang yang mencintai pasangan nya, Ma? Cuman Ardian yang cinta sama Nanda. Apa hubungannya akan baik-baik saja?" Ardian hanya bisa melanjutkan dalam hati.


Dia tidak ingin melihat wajah sang mama kecewa, jika dia mengatakan mereka pacaran karna gadis itu 'kesepian'


"Kamu juga bilang, kalau proses kamu buat dapetin Nanda itu mulus. Nggak butuh perjuangan lebih, seperti orang-orang yang memperjuangkan seseorang sebelum mendapatkan nya." Ada jeda di ucapan wanita itu. "Kamu belum bisa mengatakan perjuangan kamu mulus, Ar. Karna ini baru permulaan. Kamu nggak tahu, ujian apa yang akan kamu dapatkan kedepan, buat mempertahankan Nanda. Seseorang bisa di katakan menang seutuhnya, jika ia menikahi wanita yang ia cintai."


Ucapan Tari membuat Ardian meneguk salivanya susah payah, entah mengapa Ardian merasakan, hidup nya kedepan tidak akan semulus dengan apa yang barusan ia katakan.


Apa hidupnya dalam keluarga berjalan mulus, tapi tidak dengan hubungan percintaannya kelak?


Ya, Ardian harus siap akan hal itu. Karna bagaimana pun, hubungan mereka di landasi atas sesuatu, bukan di landasi cinta.


Nanda bisa saja meninggalkannya, atau gadis itu di rebut laki-laki lain.


Ardian menepis kan pikirannya itu. Siapa yang akan merebut Nanda darinya? Apaka Gerald? Sangat tidak mungkin, karna cowok itu sudah tidak ada.


Apa lagi Ardian tahu, Nanda bukan tipikal gadis yang mudah jatuh cinta.


Tapi bagaimana, jika Gerald masih hidup?

__ADS_1


Tiba-tiba saja jantung Ardian berdetak kencang. Tiba-tiba saja pikirannya terlintas hal tersebut.


"Ar, kamu kenapa?" tanya Tari, karna tiba-tiba saja Ardian menggelengkan kepalanya.


"Ardian nggak apa-apa, Ma," bohong nya, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Tari.


Ardian kembali memejamkan matanya, hatinya ingin berteriak kencang. Bisakah Ardian egois? Sementara dia pemeran utamanya? Bisakah dia berkata, jika apa yang terlintas di benaknya semoga tidak terjadi.


Pikiran cowok itu melambung tinggi, entah mengapa dia berpikir yang tidak-tidak.


"Maafin gue, Rald," gumam Ardian dengan suara kecil. "Gue bukan sahabat yang baik buat lo. Gue janji, gue bakalan jagain sahabat lo, Nanda. Maafin keegoisan gue sebagai sahabat."


Air mata Ardian turun di pelupuk matanya, dengan cepat cowok itu mengusap air matanya. Dia merindukan Gerald, hany dia saja yang tahu akan hal ini, sahabatnya belum tahu tentang kebenaran mengenai kondisi Gerald.


Tari tahu, anaknya sedang banyak masalah. Namun dia tidak menuntut Ardian untuk bercerita. Karna dia menghargai privasi anaknya.


Ardian menghembuskan nafas beratnya, antara percaya dan tidak percaya, jika Gerald sudah tidak ada.


Ardian hanya menahan diri, agar tidak melampiaskan semuanya dengan cara mabuk-mabukan. Dia kehilangan sahabatnya yang terbaik.


Bagaiamana hari-hari mereka kedepan tanpa Gerald? Bukan hanya dia yang akan terpuruk. Ada ke empat sahabatnya dan juga satu orang gadis.


Ardian bangkit dari sofa, mencium punggung tangan Tari dengan kecepatan kilat.


"Kamu mau kemana, Ar?" tanya Tari.


"Ardian keluar bentar, Ma." Ardian menyambar kunci motornya lalu berlalu pergi meninggalkan Tari.


"Hati-hati, Ar!"


"Iya, Ma!"

__ADS_1


Ardian menyalakan motornya, lalu cowok itu meninggalkan pekarangan rumah. Matanya fokus menatap jalan di sertai dengan pikiran yang sulit untuk di Terima.


Bagaiamana jika dia masih hidup?


__ADS_2