ARDIAN

ARDIAN
Karna hati gue milih Nanda


__ADS_3

Ardian memasang 'kan Nanda helm, dengan wajah datar khas milik cowok itu, dia tidak peduli jika wajah gadis di depannya sudah memberenggut kesal karna dirinya.


"Mukanya jangan di tekuk kayak gitu, nanti gue comot," ancam Ardian seraya memasang helm fullfecnya.


"Apa sih!" kesal gadis itu seraya menjitak kepala Ardian di balik helm, Ardian hanya terkekeh karna tidak merasakan sakit, gadis itu yang merasa tangannya sakit karna menjitak helm milik nya.


"Ayok naik!"


Nanda memegang pundak Ardian, lalu kemudian dia naik keatas motor sport milik cowok itu.


"Lain kali, kalau pakai rok itu, yang panjangan dikit. Gue juga yang repot sebagai cowok lo, kalau udah kayak gini," cerocos Ardian membuka jaket kebanggaan nya itu untuk menutupi paha mulus milik gadis di belakangnya. "Ambil," lanjut Ardian memberikan jaket nya kepada gadis di belakangnya.


Nanda mengambil jaket milik Ardian, untuk menutupi paha nya diatas motor, "jadi lo nggak ikhlas, nih?" celetuk Nanda.


Ardian memutar kepala nya sedikit, sehingga dia bisa melihat wajah cantik milik gadis itu, "gue ikhlas lihat nya, tapi gue nggak ikhlas kalau orang lain yang lihat," jelas Ardian lalu mulai menyalakan mesin motor nya, sementara Nanda memutar bola matanya nya malas.


Motor Ardian sudah melaju pergi meninggalkan parkiran rumah sakit. Entah dia ingin kemana membawa gadis yang tengah ia bonceng.


"Ar," panggil Nanda, gadis itu meletakkan dagunnya di pundak Ardian, membuat mereka sangat dekat tanpa rasa canggung sama sekali.


"Apa?" tanya balik Ardian, matanya fokus menatap kedepan, sekali-kali dia tersenyum melihat tangan Nanda melingkar di perut nya itu.


"Nggak apa-apa, gue cuman manggil nama lo," balas Nanda dengan senyuman kecil yang terlihat jelas di kaca spion motor milik Ardian.


"Untung gue sayang, kalau nggak udah gue turunin lo di tengah jalan," canda Ardian, membuat Nanda menjaga jarak dari Ardian.


"Coba aja kalau berani, gue tinggal laporin lo sama tante Tari," balas Nanda tak ingin kalah, ia tahu jika dirinya melapor mengenai Ardian yang tidak berperilaku baik pada nya, maka Tari siap menceramahi Ardian dengan khidmat, membuat kuping cowok itu jadi panas.


Ardian hanya tertawa dengan ancaman gadis di belakang nya, "mentang-mentang di sayang sama mama lo."


Nanda hanya mengedikkan bahunya dengan wajah sombong.


Nanda masih tidak tahu, mau kemana Ardian membawa nya. Kata nya sih jalan-jalan di sore hari.


Nanda menikmati perjalanan nya bersama dengan Ardian, dengan angin sore menerpah wajah nya yang cantik ini.


Sekitar tiga puluh menit mengendarai motor dari rumah sakit, akhirnya motor milik Ardian singgah di mall terbesar di jakarta.


"Ngajakin gue jalan ke mall, berarti lo yang bayarin ya," ujar Nanda seraya turun dari motor, membuka helm yang ia kenakan.

__ADS_1


Ardian hanya mengangguk sebagai jawaban saja. Toh, dia banyak uang juga, membelanjakan Nanda bukan hal besar untuk nya.


Ardian menggandeng tangan Nanda masuk kedalam mall, mereka menjadi pusat perhatian saat menginjakkan kaki nya di mall ini.


Nanda dan Ardian sudah menjadi pusat perhatian jika mereka di tempat umum, mungkin karna mereka berdua cantik dan tampan, sehingga menarik perhatian orang-orang yang melihat mereka.


Mereka berdua menaiki lift, menuju lantai dua. Nanda di sambut dengan aksesoris perempuan, baju, dres dan make up semuanya lengkap di lantai dua ini, membuat mata perempuan akan di manjakan, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya lengkap di lantai dua ini, khusus perempuan.


Nanda melangkah menuju etalase sepatu, melihat model yang ia sukai, harga nya lumayan mahal, namun akan murah bukan jika ada uang.


Mata Nanda tertuju pada sepatu berwarna pink dusty, model nya sangat sederhana namun elegan, dia suka.


"Ambil aja, biar gue yang bayar," ucap Ardian dari belakang, membuat Nanda membalikkan tubuh nya, melihat Ardian memegang kartu black card milik nya dengan sudut bibir nya terangkat berbentuk senyum.


Nanda tertawa melihat wajah sombong Ardian, dia akui jika Ardian jauh lebih Sultan dari nya.


"Mentang-mentang bawa kartu black card," ejek Nanda yang hanya di balas acuh oleh Ardian.


Ardian memanggil pegawai tersebut, untuk di bungkus kan sepatu yang Nanda sukai.


Ardian mulai membayar sepatu Nanda, dengan kartu sultan milik nya itu.


Nanda mulia memilih dres cantik, di bantu oleh Ardian, cowok itu asal memilih sesuatu membuat Nanda kesal melihat Ardian. Pasalnya, dia yang akan memakai pakaian itu, bukan Ardian, tapi cowok itu memilih baju asal.


Belanjanya di bawa oleh satpam, lalu Ardian mulai memesan taxi untuk membawa belanjaan Nanda menuju rumah.


"Nggak apa-apa, 'kan, gue balik pake taxi?" tanya Nanda saat Ardian membukakan nya pintu taxi. Tadinya, hanya barang saja yang Ardian ingin masukkan taxi, namun melihat Nanda sudah kecapean membuat cowok itu mengizinkan Nanda pulang naik taxi. Dia tidak mau, jika Nanda sampai kenapa-napa di jalan, karna kecapean berkeliling di mall.


"Nggak masalah," balas Ardian membuat Nanda mengangguk, lalu gadis itu mulai masuk kedalam taxi.


"Hati-hati bawa pacar saya," peringat Ardian pada supir taxi itu, seraya memberikan uang merah satu lembar.


Supir taxi tersebut hanya mengangguk mengiyakan saja, dia juga takut menatap Ardian lama-lama.


Ardian kembali melihat Nanda, "kalau udah sampai, kabarin gue," peringat Ardian.


"Iya, Ar," balas gadis itu, lalu Nanda mulai menyuruh supir taxi itu untuk pergi, meninggalkan Ardian yang masih menatap mobil taxi yang membawa Nanda.


Setelah taxi tersebut sudah menghilang, barulah Ardian membalikkan tubuh nya untuk menuju parkiran, namun langkah kaki nya harus terhenti. Karna saat membalikkan tubuh nya ada Kesya di sini, entah sejak kapan gadis itu ada di sini.

__ADS_1


Ardian mengabaikan tatapan Kesya, ia memilih jalan yang tidak di hadang Kesya, namun dengan cepat Kesya kembali menghadang jalan Ardian, membuat keduanya beradu tatapan.


Ardian menaikkan alisnya sebelah, menatap Kesya yang menatap nya dengan tatapan senduh seperti dulu. "Kenapa?" tanya Ardian pada gadis itu.


Gadis yang tidak pantang menyerah, untuk mendapatkan diri nya. Bahkan di saat dia tahu, jika ia dan Nanda sudah pacaran, namun gadis itu tidak segan-segan menganggu dirinya.


"Aku mau kamu ninggalin Nanda," jelas Kesya dengan suara pelan, tersirat kesedihan di nada bicara gadis itu. "Aku nggak suka lihat kamu sama Nanda. Aku cemburu, Ar. Kamu tahu, 'kan, selama ini aku ngejar kamu. Aku berusaha buat dapetin kamu. Tapi kamu malah milih Nanda. Aku jauh lebih baik dari dia, Ar!" Mata Kesya berkaca-kaca.


Ardian bersedekap dadah kearah Kesya, sudut bibir nya terangkat berbentuk senyum membuat Kesya makin menangis, dia tahu senyuman yang di berikan Ardian adalah senyuman nengejek untuk nya.


"Bukan Nanda yang harus ninggalin gue. Tapi lo yang harus ninggalin gue," bisik Ardian di telinga gadis di depan nya.


Ardian menjaga jarak dari kesya, saat dia membisikkan kata-kata tersebut, dia menegakkan tubuh nya, membuat makin macho.


"Kenapa?" tanya Kesya, matanya masih setia mengeluarkan cairan putih dari mata cantik nya itu.


Ardian tertegun melihat Kesya menangis, dia bisa melihat mata Nanda yang menangis. Dia melihat mata Kesya seperti mata milik Nanda, dan sialnya Ardian membayangkan jika mata yang menangis di depan nya adalah mata milik Nanda.


Sekian lama nya mengenal Kesya sebagai perempuan yang terobsesi dengan nya, membuat Ardian baru sadar, jika Kesya mempunyai mata yang mirip dengan Nanda, mata indah turunan dari Iksan.


"Kenapa aku harus kalah sama orang yang baru, Ar! Kenapa? Aku udah berjuang dapetin kamu. Tapi aku kalah sama orang baru!" tangisan Kesya tertahan, dia tidak mau jika orang-orang berpikir macam-macam tentang nya.


"Apa kamu lupa, aku yang selalu ada buat kamu. Aku yang selalu lihat kamu dari jauh. Apa kamu baik atau tidak. Semuanya aku lakuin dari jauh, karna aku nggak mau kamu risih kalau aku terang-terangan merhatiin kamu. Kenapa harus orang baru, Ar? Aku selalu ada buat kamu, dan lakuin semua yang kamu mau!" Kesya berkata-kata dengan menggebu-gebu, dia sudah tidak tahan dengan gejolak cemburu di dalam hati nya, melihat Ardian dan Nanda makin dekat.


"Gue nggak minta buat lo lakuin semua itu!" balas Ardian dengan mata menajam, "gue selalu kasi lo penolakan, karna sampai kapan pun, gue nggak akan cinta sama lo, Sya! Bukan karna gue benci sama lo, tapi karena gue nggak cinta sama lo!" balas Ardian tak kalah tegas nya, "cinta nggak bisa di paksa, Sya. Gue udah jatuh cinta sama Nanda. Bukan sama lo."


Kesya mengusap air mata nya dengan kasar, menatap Ardian yang menatap nya sangat tajam.


"Gue kalah sama orang ba--"


"Bukan soal orang baru nya, Sya. Tapi ini soal perasaan. Gue nggak pernah kasi lo harapan. Gue selalu nolak lo!" jelas Ardian lagi, karna Kesya mengatakan jika dirinya kalah dengan orang baru, padahal Ardian tidak pernah memberikan gadis di depannya harapan secuil apapun.


"Kenapa harus Nanda?!" Kesya masih tidak terima.


Ardian mendekati Kesya, membuat gadis itu gelagapan. "Karna hati gue milih Nanda."


Jleb...


Lepas mengatakan hal itu, Ardian langsung pergi meninggalkan Kesya, membuat gadis itu semakin menangis.

__ADS_1


"Jahat!" isak nya dengan penuh keputus asaan.


Ardian dengan cepat memakai helm fullfecnya, bertemu dengan Kesya sukses membuat nya pusing. Jika boleh di banding kan antara Kesya dan Greta, maka Ardian akan memilih Greta. Karna ada banyak alasan untuk menolak Greta, sementara menolak Kesya dia hanya punya satu alasan, yaitu karna dia tidak mencintai gadis tersebut, karna cinta nya sudah jatuh kepada gadis bernama Nanda Raisa Arabella.


__ADS_2