
Nanda tidak tahu, Ardian ingin mengajaknya kemana. Tapi kata cowok itu, jika Rafael sudah ada di sana. Atraksi apa yang akan mereka lihat di pasar malam ini.
Banyaknya pengunjung pasar malam, menatap Ardian dan Nanda dengan tatapan kagum.
Bagaimana tidak, jika cowok tampan dan gadis cantik berjalan beriringan di tengah-tengah ramainya pasar malam, mereka berdua tampil serasi malam ini.
Nanda juga mencari-cari keberadaan teman-temanya, namun dia tidak menemuinya di sini.
Ardian tidak menggandeng tangan Nanda, tidak seperti Ethan yang menggandeng tangan Puri sampai di wahana yang mereka naiki.
Nanda melihat orang-orang antri untuk naik ke wahana yang mereka inginkan, tentu saja sangat ramai.
Namun, ada perkumpulan laki-laki dan perempuan, jauh lebih ramai ketimbang perkumpulan orang-orang yang ingin naik ke wahana yang mereka inginkan.
"Ar, ini tempat apa sih?" tanya Nanda saat melihat para wanita dan perempuan bersorak riah.
Lalu Nanda melihat Rafael menghampiri nya.
Ardian melirik Nanda. "Tong setan," jawab Ardian santai.
Tong Setan, tong stand atau roda gila, adalah wahana pasar malammalam, yang mana sang joki mengitari tembok vertikal yang terbuat dari papan kayu. Atraksi ini tentu memiliki resiko tinggi hingga kematian.
Permainan tong setan sendiri, adalah permainan wahana sepeda motor yang berputar-putar di pinggir medium yang berbentuk seperti tong raksasa.
Nanda terdiam mendengar jawaban Ardian. Sebelumnya, Nanda tidak pernah melihat atraksi itu secara langsung.
Dia hanya pernah mendengar nya dari orang-orang, dan kadang lewat di instagram atau media sosial lainya.
Itu adalah atraksi yang menyeramkan.
Ardian dan Rafael berbincang-bincang, yang tidak bisa Nanda dengarkan karna suara kedua cowok itu pelan.
"Lo yakin?" tanya Rafael, hanya itu saja yang Nanda dengar dari mulut Rafael.
Nanda penasaran, apa yang dilakukan akan di lakukan dua cowok itu.
"Muka gue kelihatan bercanda?" tanya balik Ardian.
"Ok, gue tanya sama yang di sana dulu. Gue telfon yang lain juga, buat kesini." Rafael langsung melangkah pergi meninggalkan mereka.
Lalu Ardian mendekat kearah Nanda.
__ADS_1
"Lo udah nonton kayak gini sebelumnya?" tanya Ardian dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
"Serem tahu," kata Nanda bergedik ngeri membuat Ardian tersenyum tipis.
"Lo mau buat apa? Gue nggak sengaja denger Rafael tadi?" tanya Nanda penasaran.
"Nanti lo lihat." Ardian menarik tangan Nanda menuju kursi yang sudah di sediakan untuk mereka.
Tentu saja mereka tahu, siapa cowok itu. Siapa yang tidak mengenai ARIGEL yang di ketuai oleh Ardian?
Seluruh tatapan cowok-cewek menatap kearah Nanda dan Ardian, mereka di berikan tempat spesial di sini membuat Nanda tidak enak.
Ardian mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya, lalu ia mengeluarkan korek api.
"Lo mau ngerokok di sini? Lo nggak lihat gue?" Nanda memutar bola matanya malas, melihat Ardian mulai ingin membakar rokoknya.
Namun niatnya langsung di hentikan, karna teguran dari Nanda. Boy dan papa nya bukanlah perokok, jadi jika Nanda mencium asap rokok mungkin dia akan batuk-batuk.
"Gue kesana ngerokok dulu. Kalau ada apa-apa langsung telfon gue," kata Ardian menunjuk kearah Rafael yang tengah berbincang-bincang dengan seseorang sembari merokok..
Nanda mengangguk mengiyakan ucapan Ardian, lalu cowok itu pergi meninggalkan Nanda.
Setelah kepergian Ardian, dia duduk seorang diri. Banyak perempuan dan laki-laki di sini, bahkan tempat ini jauh lebih ramai ketimbang wahana lainnya.
"Gue boleh duduk di sini?"
Nanda yang tadinya asik memainkan ponselnya melirik keasal suara, sosok cowok jangkung dengan kulit sawo matang, alis yang lumayan tebal dan rambut yang sedikit panjang.
Nanda mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu. Lagian, Ardian belum juga balik. Dia tidak enak jika memcegah cowok itu duduk di kursi ini.
Akhrinya cowok itu duduk di samping Nanda, kursi yang di gunakan Ardian untuk duduk tadinya.
"Kenalin, nama gue Veer." Cowok itu menjulurkan tangannya kearah Nanda, untuk berkenalan pastinya dengan cewek cantik itu.
Nanda diam sebentar, lalu menyambut ukuran tangan cowok itu.
"Gue Nanda." Nanda langsung melepaskan tangannya, setelah mereka berkenalan, karna cowok itu menatap nya intens.
Seakan-akan mengamati lekuk wajahnya saat ini.
Cowok bernama Veer sudah tahu sebelumnya, jika gadis yang akan dia ajak berkenalan adalah Nanda.
__ADS_1
Dalam jarak dekat, dia bisa melihat wajah gadis itu dengan intens. Pantas saja seseorang itu menyuruhnya untuk memisahkan mereka berdua.
"Nanda!" panggil Puri dan Pute.
Tiga gadis cantik menghampiri Nanda, membuat Veer melihat ketiga gadis itu. Styles mereka terlalu berlebihan menurut Veer hanya untuk ke pasar malam.
Tapi namanya orang kaya, selera fashion mereka dengan orang bawa 'kan emang beda.
Ketiga gadis itu duduk di kursi yang baru saja di bawakan oleh seseorang. Sementara Izam, Ethan dan Leo menyusul Rafael dan juga Ardian.
"Gue pamit duluan," pamit cowok itu pada Nanda, dan dibalas anggukan kecil saja.
Veer langsung pergi meninggalkan ke empat gadis itu, padahal dia masih ingin bercengkrama dengan Nanda, namun terurung karna kedatangan gadis-gadis itu.
"Dia siapa, Nan?" tanya Pute dengan penasaran.
"Dia lumayan ganteng," timpal Puri dengan cekikikan.
"Kalau dilihat sama Ardian, habis lo." Cika sengaja menakut-nakuti gadis itu membuat Puri dan Pute tertawa.
"Gue juga nggak kenal sama dia. Dia cuman numpang duduk di sini," jujurnya membuat mereka mengangguk kecil.
"Para cowok ngapain sih ngajakin kita kesini," celetuk Puri.
"Mau nonton atraksi lah, ini tempat berlangsung nya atraksi motor. Nama gaulnya tong setan," jelas Cika membuat Puri dan Pute saling bertatapan.
Mereka berdua tidak melihat tempat berlangsung nya atraksi itu, karna banyak orang berkerumun disana, menunggu dengan tidak sabaran atraksi yang menguji adrenalin itu.
"Serem bangettt." Pute dan Puri bersamaan mengucapkan kata itu sembari bergedik ngeri.
"Biasa aja kali," kata Cika.
"Lo sama kita beda, Ci. Lo kayak ke laki-lakian, udah pasti lo suka kayak ginian. Sementara kita cewek feminim," jelas Puri membuat Nanda hanya menggeleng pelan.
"Kesya mana? Kalian nggak ngajakin dia kesini?" tanya Nanda membuat Puri hanya acuh saja.
"Nggk penting," kata Puri.
"Dari tadi gue telfon, tapi nomornya nggak aktif sama sekali," kata Pute, karna sedari tadi dia menelfon Kesya nomor gadis itu tidak aktif sama sekali.
"Nggak usah di cariin, buat gaduh aja kalau dia ada di sini." Puri berkata dengan enteng.
__ADS_1
"Hmm," Nanda berdeham membuat ketiga gadis itu menatapnya. "Biar gimana pun, Kesya adalah saudara gue, dia kakak gue."