ARDIAN

ARDIAN
Pertengkaran hebat Raisa dan Gina


__ADS_3

Nanda pamit kepada Salsa dan Cika, gadis itu pulang duluan, menyuruh Boy menjemput dirinya di sekolah. Dia capek, terlihat dari raut wajahnya yang letih itu.


Nanda lngsung masuk kedalam mobil Boy.


‘’Kenapa bisa baju lo sampai basah kuyup?'' tanya Boy seraya menjalankan mobilnya untuk segera pulang.


Dia tahu baju adiknya itu basah kuyup, karna melihat Nanda membawa kantongan berisi pakaian yang basah.


''Nggak sengaja ketumpahan es jeruk,'' bohongnya kepada Boy.


''Kok bisa?'' tanya Boy masih kurang percaya dengan jawaban sang adik berikan.


''Kayak nggak pernah SMA aja. Lu kan tahu, bang. Kalau jam istirahat mereka ke kantin seperti anak ayam,'' ucap Nanda membuat Boy terkekeh dengan ucapan adiknya barusan.


Nanda menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya seraya memikirkan kejadian di kantin dan parkiran sekolah tadi.


Nanda tidak akan menceritakan hal ini pada Boy, jangan sampai kakanya itu akan marah besar kepada Kesya.


''Muka lo kenapa pucat begitu?' Boy baru memperhatikan wajah milik Nanda, wajah gadis itu nampak pucat, Boy baru memperhatikan wajah adiknya.


Nanda memutar bola matanya malas. ''Gue nyuruh lu jemput gue, karna gue sakit, bang,'' jelas gadis itu membuat menjadi khawatir.


Nanda itu sangat jarang sakit, terakhir dia sakit saat kelas 1 SMP. Bahkan, gadis itu mengatakan jika dia sakit, namun dia masih bicara dengan jelas pada Boy.


Gadis itu langsung turun dari mobil, di ikuti oleh Boy. Tentu saja pria itu khawatir, melihat kondisi adiknya itu, memang Nanda tidak berkeluh kesah, namun itu yang membuat mereka khawatir.


''Minum obat dulu, Ra,'' ucap Boy, seraya membuka pintu kamar Nanda, gadis itu tengah tengkurap diatas tempat tidur, seraya memainkan ponselnya.


''Makasih, bang,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.


Nanda langsung meminum obat yang di berikan oleh Boy untuknya. ''Gue yakin, lu sakit kepala kayak gini, karna mikirin papa, kan?'' tebak Boy.


Tebakan cowok itu emang benar, ini semua ada sangkut pautnya dengan Iksan, apa lagi mengenai Kesya yang merupakan saudaranya sendiri.


Huft...


Nanda menghembuskan nafas berat, melirik Boy lalu tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat.


''Gue bisa nahan tangis, Bang. Bukan berarti gue bisa nyingkirin masalah itu dari kepala gue,'' ucap Nanda membuat Boy langsung memeluk adiknya begitu erat.


‘’Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan di tahan.'' Boy mengusap rambut adiknya penuh kasih sayang. ‘’Gue nggak bakalan larang lu buat nggak nangis, Ra.''


Nanda menggeleng di dalam dekapan Boy, ''gue nggak mau lemah,'' balas gadis itu dengan tawa kecilnya.


‘’Biar papa tahu, kalau anak yang dia tinggalkan, nggak selemah yang dia pikirkan,'' ucap Nanda membuat Boy terdiam.


Boy melepaskan pelukanya, lalu memegang kedua pundak adiknya itu. ''Masih ada gue sama mama. Kita harus buktiin sama mama, kalau kita bisa hidup tanpa papa. Kita harus buktiin sama mama, kalau kita nggak selemah itu di tinggal papa,'' ucap Boy dengan yakin dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


''Iya,'' jawab gadis itu sekenanya, karna kondisinya saat ini sedikit lemah.


‘’Gimana? Masih sakit?'' tanya Boy mengenai kondisi adiknya itu. ''Jangan sampai kelamaan sakitnya, Ra. Nanti teman-teman lu bilang, kakaknya dokter kok adiknya dibiarin sakit.''


Nanda memutar bola matanya malas. ‘’Emang lu biarin gue? Ini lu perhatian sama gue bang,'' ucap Nanda membuat Boy hanya cengengesan saja.


‘’Lu udah tahu, kan. Kalau salah satu teman lu itu, saudara lo,'' ucap Boy dengan malas.


''Dih, jangan bilang dia saudara gue. Saudara gue cuman satu, cuman Boy doang,'' ucap Nanda membuat Boy terkekeh.


‘’Kejam juga lu, Ra,'' ucap Boy seraya menggelengkan kepalanya kecil.


Sampai kapanpun, Kesya nggak bisa gue terima baik sebagai saudara gue. Sifat Kesya udah nentuin dia baik atau nggak. Benar kata Gerald, berulang kali dia ingetin gue biar nggak dekat sama Kesya, karna dia begitu licik. Ucapan cowok itu nggak meleset, gue baru tahu sikap Kesya kayak gimana.


Nanda hanya bisa membatin.


''Bukan kejam sih, masa iya kita mau saudaran sama anak pelakor,'' ucap Nanda dengan tawa kecilnya membuat Boy juga tertawa.


''Duh, Ra. Gue pikir lu bakalan nerima Kesya. Karna dia teman lu di sekolah, ternyata pikirkan gue salah. Ternyata lo nolak juga kehadiran dia. Meskipun dia masih satu papa dengan kita,'' lanjutnya membuat Nanda hanya mengedikkan kedua bahunya.


''Nggak lah. Sebenarnya gue bisa aja nerima Kesya sebagai saudara gue. Bahkan gue usahain biar gue terima dia. Tapi, lihat sikap dia ke gue kayak taik, gue urungkan niat gue buat nerima dia.”


Bahkan. Jambakan rambut dengan Kesya di parkiran sekolah membuat kepala Nanda sakit, di tambah lagi Kesya menyiram tubuhnya dengan es jeruk.


Hampir juga pipi mulusnya di tampar oleh Kesya, untung saja ada Greta yang datang tiba-tiba nolongin dia.


‘’Oiya, bang. Sih Greta itu orangnya baik,'' ucap Nanda. ''Dia cuman salah arah doang, karna masalah yang menimpa keluarga dia.''


Mengingat ucapan Pute, jika Greta itu bekerja di club malam untuk melayani para pria hidung belang. Namun, Nanda tidak percaya begitu saja, pekerjaan di club memang membahayakan, namun bisa jadi, kan kalau Greta bekerja di club bukan melayani pria hidung gelang, tapi dia bekerja sebagai pelayan club.


Boy mengangguk setuju dengan ucapan adiknya. ''Yah, apa yang lo omongin emang benar. Kalau dia itu gadis baik. Dan....'' Boy menggantung ucapanya membuat Nanda menjadi penasaran dengan kelanjutan ucapan kakaknya itu.


‘’Apa?'' tanya Nanda penasaran, dia bisa melihat senyuman tercetak di wajah milik Boy.


''Cantik.''


Nanda melototkan matanya, menatap Boy dengan tatapan tidak percaya. ''Jangan bilang lu suka sama dia?'' tanya Nanda dengan penuh selidik.


Boy hanya mengeruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus bicara apa. Tidak bisa juga dia mengelak, jika dia tertarik dengan gadis bernama Greta itu.


‘’Mau gimana lagi, Ra. Gue nggak bisa nyuruh hati gue buat nggak suka sama cewek itu,'' jelas Boy membuat Nanda mengalengkan kepalanya.


''Lu seriusan suka sama dia?'' tanya Nanda memastikan.


‘’Emang kenapa sih, Ra?'' tanya Boy, karna adiknya begitu tidak percaya jika dia menyukai sosok Greta.


''Umur lu udah nggak muda, bang. Nggak pantas lagi buat pacaran. Langsung nikah aja,'' jelas Nanda. ''Apa perlu gue ingetin umur lo? Umur lu udah 26 tahun, woi!''


Nanda menjadi greget dengan kakaknya sendiri, selama ini Boy tidak dekat dengan wanita manapun.


Sekalinya dia menyukai wanita, membuat Nanda menjadi Syok, karna Boy menyukai gadis yang merupakan satu angkatan dengan dia.


''Yang bilang gue mau pacaran siapa?'' nyolot Boy pada Nanda.


''Kalau gue jodoh sama Greta, langsung gue nikahin. Tanpa pacaran,'' jelas Boy membuat Nanda langsung mendorong tubuh Boy, hingga pria itu jatuh dibawa lantai.


‘’Pedofil lu, bang!''


Boy mengusap bokongnya yang sakit, karna jatuh dibawa lantai. Nanda refleks mendorong Boy karna saking terkejutnya dia dengan ucapan pria itu barusan.


‘’Emangnya salah kalau gue suka sama Greta?'' Boy bertanya serius, seraya melangkahkan kakinya menuju kursi sofa, sementara Nanda masih setia duduk diatas tempat tidurnya.


Boy tidak ingin duduk berdekatan dengan gadis itu. Takut-takut jika Nanda kembali mendorongnya karna syok mendengar dia menyukai Greta.


‘’Nggak tahu, deh. Kayak nggak cocok aja. Lu pantasnya jadi bapaknya Greta,'' ejek Nanda membuat Boy bedengus kearah adiknya itu.


''Durhaka lu, Ra!''

__ADS_1


Nanda hanya mengedikkan kedua bahunya, seraya berpikir, apakah boy benar-benar menyukai Greta atau hanya perasaan sekilat petir saja?


''Ra...'' panggil Boy.


''Aaaa,‘' balas Nanda dengan malas kepada saudaranya itu.


‘’Gue serius, yang gue omongin barusan. Itu semua serius, kalau gue jodoh sama Greta, gua bakalan nikahin dia, tanpa pacaran,'' jelas Boy.


Nanda menatap lekat kedua mata kakanya itu, dia bisa melihat keseriusan Boy mengucapkan kata barusan.


''Lu nggak suka ya sama Greta, karna dia....'' Boy tidak ingin meneruskan ucapanyan,


Nanda menghembuskan nafas berat. ''Bukan suka atau nggak nya, bang.'' Nanda setuju saja jika Boy menyukai Greta, apa lagi Nanda tahu jika sebenarnya Greta itu baik.


''Terus apa?'' tanya Boy.


''Lu yakin mama mau nunggu?''


Ucapan Nanda sukses membuat Boy diam seribu bahasa.


''Tiga tahun yang lalu, mama nyuruh lu buat nikah. Dia pengen punya cucu, biar kalau gue sama lo pergi dengan kegiatan masing-masing, masih ada yang nemenin dia dirumah,'' jelas Nanda.


Tiga tahun yang lalu, Gina memang menyuruhnya untuk menikah. Apa lagi umur Boy sekarang sudah terbilang mapan untuk segera menikah.


‘’Terus yang kedua, apa Greta mau sama pria yang umurnya beda jauh sama dia?'' jelas Nanda kepada Boy.


''Lu emang tampan, pasti Greta mau-mau aja. Tapi... Greta juga suka sama cowok lain.''


''Lah, kan gue bilang kalau jodoh. Kalau nggak cari yang lain lagi,'' jelas Boy. ‘’Masa iya dia nggak mau sama pria mapan kayak gue? Pekerjaan Ok, gue bukan beban keluarga, gue tampan.''


Nanda memutar bola matanya jengah,‘’tapi cowok yang dia suka juga nggak ada obat.''


‘’Maksud lu?''


‘’Greta, dari dulu suka sama Ardian,'' jelas Nanda membuat Boy hampir saja tersedak dengan air liurnya sendiri.


‘‘Tipe tuh anak diatas rata-rata juga,'' gumam Boy membuat Nanda terkekeh.


''Lu kenal sama Ardian, kan?'' tanya Nanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh pria itu.


‘’Kenal. Wajar aja sih kalau Greta suka sama dia. Anak itu emang tampan dan menyeramkan dalam waktu bersamaan.''


Nanda hanya tersenyum tipis, bagaiamana jika Boy tahu? Jika Greta pernah melabrak nya di kantin mengenai sosok cowok yang dia sukai.


Nanda masih ingat jelas, saat Nanda mengucapkan kata I Love you untuk cowok itu, di situlah Greta murkah dan melabrak dirinya di kantin.


Semua itu karna permainan yang mereka buat.


Dan yang kedua, dia kembali berantem dengan Kesya masih seputaran Ardian. Karna dia boncengan dengan ardian ke sekolah.


Nanda dan yang lainya juga baru tahu, jika selama ini Kesya menyukai Ardian.


Pertanyaan mereka semua sudah terjawab kan, di saat Kesya melabrak Nanda. Mereka semua langsung tahu, mengapa Kesya dan Greta bermusuhan satu sama lain. Ternyata mereka suka sama cowok yang sama.


Boy pergi meninggalkan Nanda, dia harus kembali kerumah sakit. Dia hanya meminta izin di kepala rumah sakit untuk pergi sebentar.


Boy langsung melajukan mobilnya untuk segera kerumah sakit, ada banyak tanggung jawab yang harus dia selesaikan.


Nanda keluar dari kamarnya, berjalan menuruni anak tangga untuk segera ke dapur menyegarkan tenggerokanya yang kering.


Saat Nanda membuka kulkas, bersaman itu pula suara bel ruma bunyi.


‘’Bentar!'' teriak gadis itu dari dapur.


‘’Ngapain lagi tuh anak balik,'' gumam Nanda, dia menebak jika yang datang adalah Boy. Dia berpikir Boy kembali karna melupakan sesuatu.


Nanda lebuh dulu minum, sebelum membuka pintu.


Gadis itu berjalan menuju pintu, ingin membukakan Boy pintu.


‘’Lupa apa.....'' Ucapan gadis itu tercekat di tenggerokanya, bagaiamana tidak, saat dia membuka pintu sosok yang dia pikir Boy yang datang, ternyata dugaannya salah.


Deg...


Jantung milik Nanda berdetak hebat, melihat ada sosok pria yang berhasil membuatnya menciptakan rasa benci itu pada dirinya.


Bukan hanya Nanda yang terkejut, bahkan pria itu juga terkejut, saat anak perempuannya membukakan dirinya pintu. Padahal, dia sengaja datang jam begini dan membawa Raisa, karna dia tahu Nanda belum pulang sekolah, karna Kesya juga belum balik.


Namun ternyata, pikiranya salah!


Yang datang adalah sosok pria yang sudah memghancurkan hatinya. Dia datang tidak sendiri, dia bersama wanita lain, wanita yang sudah merebut papapany dari mamanya itu.


Mata Nanda bertatapan dengan mata milik wanita, yang merupakan istri kedua papanya itu. Raisa menatap sinis kearah Nanda, tangan wanita itu begelenyut mesrah didepan Nanda.


Mulut Iksan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Seakan-akan ingin megatakan, jika Iksan sudah menjadi miliknya sepenuhnya, dan dialah pemanahnya, karna Iksan telah berani meninggalkan istirnya itu.


''Siapa, Ra.'' Gina datang dari pintu dapur.


Deg...


Jantung wanita itu berdetak kencang, saat matanya bertemu dengan mata milik Iksan, ini yang kedua kalinya Iksan datang kerumahnya.


Kali ini berbeda, karna dia datang bersama dengan wanita lain. Bukan wanita lain, lebih tepatnya dia datang bersama istri keduanya itu.


Nanda melihat, Raisa semakin mengeratkan tanganya kepada Iksan, kala Gina melihat mereka berdua.


Tidak sia-sia Raisa datang kesini, karna niatnya ingin bertemu dengan Gina saja, namun dia bertemu dua sekaligus, anak dan istri yang di tinggalkan demi dirinya.


‘’Baguslah, ternyata istri yang di tinggalkan dan anaknya ada di sini!'' ucap Raisa dengan nada sinis begitu penuh penekanan.


Nanda mengepalkan tanganya, saat Raisa mengatakan hal barusan, dia yakin mamanya menjadi sedih mendengarkan ini.


Hati Gina terenyah, dia ingin membantah, namun dia juga tidak bisa, karna apa yang di katakan wanit itu adalah sebuah fakta.


Jika dirinya adalah seorang istri yang di tinggalkan demi wanita lain.


‘’Lebih baik lo pergi dari sini, pelakor seperti lo nggak pantas nginjakin rumah mama gue. Bisa-bisa rumah mama bakalan sialan karna kedatangan lo di sini!''


Raisa menatap tajam Nanda, sementara Nanda membalas tatapan tajam milik Raisa. Nanda tidak memikirkan lagi, jiwa wanita di hadapnya adalah orang tua.


Rasa sakit menguasi diri gadis itu, karna mereka datang berdua dengan mesrah, padahal dia tahu di rumah ini ada mamanya.


‘’Kenapa?'' tanya Nanda kepada Raisa, dengan alis yang terangkat sebelah, membuat Raisa ingin meledak saat ini juga.

__ADS_1


Melihat Raisa membuat Nanda melihat Kesya, ternyata sikap anak dan mama itu tidak jauh beda. Melihat tatapan benci Raisa sangat mirip dengan tatapan Kesya padanya.


''Ada yang salah dengan omongan gue barusan? Tapi gue rasa nggak ada yang salah deh,'' ejek gadis itu dengan senyumana membuat Raisa seperti sedang terbakar.


Mungkin papa lihat gue setegar ini. Tapi papa nggak tahu, batin Ara tersiksa. Pa. Ara pengen teriak, nangis, untuk meluapkan semua yang ada dalam hati dan pikiran Ara.


‘’Beraninya kau—''


‘’Kamu harus ingat dengan janjimu,'' peringat Iksan dengan tegas kepada Raisa.


Membuat wanita itu menarik nafasnya panjang.


''Kamu tidak lihat, Mas. Dia begitu kurang ajar sama aku. Padahal dia anak kecil, nggak punya sopan santun. Apa istri kamu yang pertama tidak mengajarnya sopan santun?''


‘’Lebih kalian pergi dari sini!'' bentak Nanda kepada Iksan dan Raisa.


‘’Dan lo....'' Nanda menunjuk wajah Raisa dengan jari telunjuknya. ''Nggak pantas buat di harga in. Emangnya harga perebut suami orang itu harga berapa?''


Nanda menurunkan jari telunjuknya, karna melihat tatapan Iksan padnaya, seakan-akan menyuruhnya untuk menurunkan jarinya itu. Hatinya semakin terluka, dia tahu papanya membela istirnya itu.


''Lo itu murah, nggak bisa di harga in. Nggak ada harganya juga seorang pelakor!'' Nanda menekan setiap perkataanya, lalu membalikkan tubuhnya untuk menghampiri mamanya.


Namun Raisa mencekal tangan Nanda, membalikkan tubuh gadis itu dan...


PLAK...


''Raisa!'' Iksan langsung menarik tangan Raisa menjauh dari Nanda.


Sebuah tamparan keras mengenai pipi milik Nanda, membuat Gina menutup mulutnya tidak percaya melihat anaknya di tampar, dirinya saja tidak pernah membentak anaknya sampai main tangan seperti itu.


Namun ini, Gina melihat anaknya di tampar di depan mata kepalanya sendiri dengan keras. Nanda masih setia memegang pipinya yang perih, karna tamparan yang di buat oleh Raisa untuknya. Iksan menarik tangan Raisa agar menjauh dari Nanda. Dia juga terkejut saat Raisa menampar pipih milik Nanda.


Dengan penuh amarah, Gina mendekati Raisa.


PLAK...


''Gina!''


Bahkan, Gina menampar Raisa lebih kuat, dia menumpahkan rasa sakitnya kepada wanita itu, karna telah menampar anaknya.


''Kamu bisa menghina saya dan mengambil dia. Tapi jangan pernah kamu menyentuh anak saya! Saya yang membesarkan dia, saya tidak pernah menyakiti anak saya apa lagi sampai menamparnya. Dan kamu, berani menampar anak saya! Kamu pikir saya akan diam!'' marah Gina.


Ini pertama kalinya Iksan melihat Gina begitu marah, dia tidak pernah melihat wanita itu marah. Jadi wajar saja jika dia terkejut melihat sisi lain wanita itu.


Raisa memegang pipinya yang memerah, rasanya sangat sakit.


''Beraninya kamu nampar saya!''


Raisa langsung menjambak rambut milik Gina. Wanita dua anak itu tidak tinggal diam, dia menjambak rambut Raisa begitu kasar, sehingga wanita itu meringis.


Raisa merintih kesakitan, sementara Iksan menarik tangan Raisa agar melapaskan rambut Gina, begitupun dengan Nanda.


''Sudah Raisa!'' bentak Iksan, namun istirnya Raisa tidak melepaskan jambakan ya dari Gina.


''Awkhhhhh!!!!'' Raisa merintih kesakitan, rasanya rambutnya ingin pindah semuanya karna tarikan Gina begitu keras, bahkan Raisa kewalahan dengan wanita itu. Apa lagi rambut Raisa begitu panjang.


''Gina lepaskan! Raisa kesakitan!''


''Tidak akan, dia sudah menampar anak aku!''


‘’Ma!'


PLAK....


Nanda menegang, jambakan keduanya langsung terlepas saat Iksan menampar wajah milik Gina.


Iksan melihat telapak tanganya yang secara refleks menampar Gina.


Air mata Gina turun begitu deras, dia masih setia memegang pipinya. Jika ini tamparan dari Raisa dia akan menerimanya, namun ini tamparan dari suami yang sangat dia cintai.


Air mata Nanda mengenang di pelupuk matanya, dia menatap mamanya memegang kedua wajahnya mamanya itu. Mereka berdua telah di tampar begitu sadis.


Raisa yang menampar Nanda, sementara Iksan menampar Gina.


Raisa tersenyum puas, tidak apa-apa jika rambutnya sudah banyak yang rontok dan sakit karna Gina. Setidaknya dia puas melihat Iksan menmapar Gina.


Raisa akan menunggu, Gina mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan agama, mereka akan berpisah dan dirinya lah menjadi istri satu-satunya Iksan.


''Gina....A...aku tidak sengaja.'' Bahkan, Iksan menjadi gelagapan.Ini pertama kalinya dia menampar Gina.


Nanda mengusap air matanya, menatap Iksan dengan tatapan penuh kebencian. Melihat mamanya di tampar membuat hati gadis itu semakin sakit.


Sekarang sudah jelas, jika papanya lebih mementingkan wanita itu.


‘’Pergi kalian dari sini! PERGI!'' teriak Nanda dengan isakan tangisnya. Tamparan Iksan kepada mamanya membuat Nanda menjadi histeris menangis memeluk Gina.


''Ara, papa tidak sengaja nak,'' Iksan membelah dirinya, sementara Gina terduduk di lantai membuat Nanda langsung memeluk mamanya itu dengan erat.


Hati Iksan sakit melihat ini,tanganya sudah berhasi menampar wanita yang sudah memberikanya dua anak.


BRAK....


Mereka langsung terlonjak kaget, tiba-tiba Boy datang menendang pintu, dia melihat mobil Iksan berada di rumahnya, sehingga pria itu lebih dulu memeriksa cctv.


Yang membuat pria itu murkah, dia melihat kedua perempuan yang dia sayangi di tampar. Boy melirik Nanda dan Gina menangis dibawa lantai, membuat pria itu semakin gelap mata, dia mengepalkan tanganya, menatap Raisa dan Iksan dengan amarah.


Raisa dan Iksan menjadi takut, melihat mata Boy memerah penuh dengan amarah.


''BERANINYA KALIAN BERDUA MENAMPAR DUA PEREMPUAN YANG GUE SAYANG! DENGAN TANGAN KOTOR KALIAN BERDUA!'' Suara milik Boy menggemah didalam rumah Gina.


‘’Sudah, Boy. Biarkan mereka bahagia!'' Gina memeluk anaknya dari belakang, dia takut jika anaknya itu semakin emosi dan akan melukai Raisa dan Iksan di sini.


''PERGI KALIAN DARI SINI!'' Usir Boy.


Iksan tidak ingin pergi, karna dia ingin minta maaf kepada Gina dan Nanda, atas apa yang Raisa lakukan dan dirinya.


''Kita pergi, Mas!'' Raisa langsung menarik tangan Iksan untuk segara pergi dari sini. Dia juga takut jika Boy akan berbuat hal yang diluar logika.


Tentu saja dia bisa melakukan hal itu, karna Raisa bisa melihat aura Boy begitu mencekam.


Nanda menitihkan air matanya, melihat kepergian papa dan Raisa. Mata Nanda dan Iksan bertemu, Nanda tidak melepaskan tatapannya begitupun dengan Iksan.


''Maafkan papa, Ra!”


Gue benci sama papa! Gue benci hiksss! Papa yang selama ini gue sayang, sekarang gue benci!

__ADS_1


__ADS_2