
Seluruh pasang mata di kelas saat ini, tertuju pada sosok gadis yang baru saja masuk kedalam kelas, dengan tatapan tajamnya dia masuk kedalam kelas.
Dia melewati ke empat sahabatnya, dia memilih duduk di paling pojok. Dia sudah tidak ingin duduk bersama dengan mereka.
‘’Biarin aja, dia yang milih duduk di sana,'' ucap Puri dengan santai, karna Pute dan Salsa melihat kearah Kesya, memilih duduk seorang diri di kursi paling pojok.
''Gue sependapat dengan lo,'' timpal Cika yang sependapat dengan Puri barusan.
Puri dan Kesya duduk bersama, mungkin hari ini dan seterusnya gadis itu akan duduk sendiri , karna Kesya mulai pindah tempat.
‘’Kasihan tahu,'' kata Salsa seraya mengerucutkan bibirnya.
‘’Nggak usah di kasihani, dia aja nggak berperikemanusiaan sama manusia. Mau di manusiakan tapi nggak memanusiakan manusia,'' sindir Puri, dia sengaja menaikkan volume suaranya, agar Kesya mendengarnya, dan benar saja gadis itu mendengarnya dengan begitu jelas, dengan apa yang barusan Puri katakan.
Puri dan Kesya saling bertatapan tajam, tatapan Puri tidak memberikan tatapan persahabatan lagi. Tatapan yang mereka berikan satu sama lain dulu, kini berubah menjadi tatapan benci.
Kesya tidak ingin membalas ucapan Puri, dia sedang capek saat ini. Terlebih lagi saat mengingat ucapan tanpa hati anak ARIGEL untuk dirinya, membuat Kesya ingin mengamuk saja.
Guru yang mengajar pagi ini telah masuk, kelas berubah menjadi hening karna guru sudah masuk.
Guru itu lalu mulai menjelskan pelajaran yang dia bawakan di kelas ini, semuanya fokus mendengarkan kecuali Kesya yang sedari tadi hanya diam saja seraya mengepalkan tanganya dengan penuh rasa sakit, dia capek juga begini!
Namun dia tidak akan berhenti, sebelum dia memberikan pelajaran untuk Nanda dan juga Greta. Dua nama itu, adalah nama yang paling Kesya benci, terutama Nanda.
Bel istirahat bunyi, sehingga guru itu mengakhiri mata pelajarannya pagi ini, lalu dia melangkah pergi dari kelas.
Murid-murid di dalam kelas berhamburan keluar, mereka akan segera menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
Di dalam kelas, tinggallah Salsa, Cika, Pute dan juga Puri. Kesya juga berada di dalam kelas, gadis itu tidak keluar dari krelas.
‘’Kantin yuk,'' ajak Puri kepada ketiga sahabatnya.
''Yuk.'' Cika berdiri dari kursinya, siap untuk ke kantin.
''Kalian berdua nggak mau ikut?'' tanya Cika, karna Pute dan Salsa tidak beranjak dari kursinya.
__ADS_1
''Nggak,'' jawab kedua gadis itu kompak.
''Gue mau tidur di kelas aja, gue ngantuk,'' kata Pute seraya membaringkan kepalanya diatas meja.
''Kalau gue mau main ponsel di dalam kelas aja. Siapa tahu aja El mau balas pesan gue. Seperti waktu malam itu.'' Salsa mengingat, dimana Rafael mengirimkanya pesan, meski dia tahu cowok itu kerasukan arwah setan karna tanganya mau mengetik pesan singkat untuknya.
Cika dan Puri meninggalkan Salsa dan juga Pute, mereka berdua ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong saat ini.
Melihat Pute yang tertidur, membuat Salsa menghampiri Kesya yang duduk seorang diri saja.
''Kesya,'' panggil Salsa dengan suara pelan, gadis itu menggeser kursi, duduk di dekat Kesya.
Salsa meneguk salivanya susah payah, karna Kesya menatapnya dengan tajam, untung saja tatapan itu tidak berangsur lama.
‘’Ngapain lo kesini?''
Salsa menggenggam tangan Kesya, membuat gadis itu tersentak kaget, rasanya dia ingin menangis namun dia menahannya. Dia tahu, diantara para mantan sahabatnya, hanya Salsa yang polos dan mau menerima.
Dulu Puri seperti itu padanya, namun kata-katanya untuk Gerald saat itu, membuat Puri sakit hati dan membenci Kesya.
''Kamu jangan merasa sendiri, ada aku di sini. Kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal panggil aku,'' ucap Salsa, tanpa berniat Kesya balas ucapan gadis itu.
***
Kantin saat ini nampak ramai, anak ARIGEL yang kurang Gerald saja, mereka duduk di kursi paling pojok, kantin begitu riuh dengan suara murid-murid yang memesan makanan.
Sementara diantara anak ARIGEL, yang memesan makanan adalah Ethan dan juga Leo.
''Lo udah nyamperin, Nanda?'' tanya Rafael kepada sahabatnya itu.
''Dia nggak ke sekolah. Mungkin dia lagi di rumah sakit,'' balas Ardian membuat Rafael mengangguk kecil saja.
‘’Gue baru sadar, kalau lo beneran suka sama tuh Nanda. Padahal dia anak baru di sekolah ini. Tapi dia udah buat lo bertekuk lutut,'' celetuk Rafael membuat Ardian menghembuskan nafas berat.
‘’Gue nggak tahu, apa gue bisa relain Nanda sama Gerald, kalau Gerald udah bangun,'' ucap cowok itu membuat Rafael menepuk pundak Ardian.
__ADS_1
''Jodoh udah di tangan Tuhan. Kalau emang Nanda udah jodoh lo, Gerald bukan penghalang. Kalau dia benar-benar jodoh lo,'' nasehat Rafael.
''Kalau jodoh gue Greta, gimana?''
Rafael dan Ardian sontak melihat kearah Izam, benar saja cowok itu sedang menatap Greta dari sini, karna gadis itu sedang memakan makananya seorang diri.
Mereka juga sudah tahu, jika Greta dan gengnya sudah tidak berteman lagi. Mereka mengasingkan diri, sehingga mereka selalu melihat Greta kemana-mana hanya sendiri, tidak seperti dulu.
''Lu itu sebenarnya suka beneran sama Greta atau apa sih!'' dengus Rafael, cowok itu masih ragu jika Izam menyukai Greta, gadis yang tentunya jauh dari kata baik, itu semua terlintas di benak orang-orang yang mengenal Greta di sekolah ini maupun di luar.
Apa lagi pas video durasi 30 detik itu, berhasil mengguncang SMA ini, namun Izam tetap saja menaruh hatinya untuk Greta, bahkan cowok itu tidak segan-segan marah jika ada yang mengatai-ngatai Greta gadis murahan, Izam bahkan sampai berterimakasih dengan sahabatnya Gerald, karna berkat Gerald vidoe milik Greta di hapus permanen.
''Gue beneran suka sama dia, Raf. Seburuk apapun Greta di mata orang lain, dia tetap terbaik di mata gue. Ini yang namanya ketulusan,'' balas Izam dengan bijak. Karna apa yang dia katakan barusan memanglah sebuah fakta, jika dia benar-benar mencintai Greta apa adanya.
‘’Meskipun dia pernah ciuman sama, Arya.'' Rafael memberikan pernyataan kepada Izam.
''Iya, Raf. Dari pertama gue sekolah di sini, gue udah jatuh cinta sama Greta.'' Izam terus menjawab pertanyaan Rafael, tanpa mengalihkan pandangnya dari Greta yang sedang menikmati makananya, meskipun dia hanya seorang diri saja.
''Tembak aja,'' Sosor Ardian membuat Izam langsung melirik Ardian.
Dengan wajah lesuh, Izam membalas ucapan Ardian. ''Mulut gue udah berbusa nembak dia mulu, tapi malah di tolak, lo kan tahu, dia sukanya sama lo.''
''Tapi lo tahu, kalau gue sukanya sama, Nanda,'' jelas Ardian dengan santai membuat Izam bernafas berat.
''Kira-kira siapa yang bakalan dapat cintanya, Greta....'' Izam melirik kearah meja Greta, dia melihat gadis itu sedang beradu mulut dengan seseorang, siapa lagi kalau bukan mantan temanya.
‘’Mendingan lu nyamperin, siapa tahu aja Greta butuh lo,'' ucap Rafael. ''Siapa tahu aja dia bisa buka hatinya buat lo.''
Izam melirik Rafael, lalu menempelkan telapak tanganya di jidat cowok itu. ''Lo nggak salah makan'kan, Raf? Tumben-tumbenan lo ngomong nggak pakai cabe,'' ucap Izam membuat Rafael memutar bola matanya malas, sementara Ardian hanya tersenyum tipis saja.
Dia tahu, jika Izam tulus menyukai Greta. Bahkan, Ardian pernah mengatakan hal ini pada Greta untuk menerima Izam saja, karna cowok baik yang mau menerima apa adanya itu sudah langkah.
Izam beranjak dari kursinya, sebelum Rafael kembali angkat bicara. Jangan lupa, cowok itu minta doa kepada Rafael dan Ardian, Semogah saja dia berhasil memepet Greta dengan caranya sendiri.
Leo dan Ethan datang bawa makanan, lalu kedua cowok itu duduk di kursi.
__ADS_1
''Loh, sih Izam mana?'' tanya Ethan, karna tidak melihat ada Izam di sini.
''Tuh.'' Ardian dan Rafael bersamaan menunjuk Izam menggunakan dagunya, sehingga mereka berempat langusng melihat kearah yang di tunjuk Ardian, dia melihat Izam sedang menghampiri Greta.