ARDIAN

ARDIAN
Fakta


__ADS_3

Deg...


Deg...


Deg..


Ucapan Ibnu sukses membuat kelima sahabat Ardian saling menatap satu sama lain. Mereka tentu saja tidak salah dengar dengan apa yang di katakan oleh Ibnu barusan.


Dia mengatakan jika Ardian dan Fatur adik kakak.


Ucapan Ibnu, sukses membuat pergerakan tangan Ardian terhenti, dia berdiri lalu menatap papanya dengan penuh tanda tanya.


Dari belakang, muncul anak-anak VAGOS membantu Fatur untuk berdiri, wajahnya yang memar membuat cowok itu semakin berantakan.


Gerald, Rafael, Izam, Ethan dan Leo menatap Arya. Tentu saja mereka terkejut, dia tidak menyangka jika cowok satu sekolah dengan mereka itu adalah anak VAGOS.


Arya dan temanya yang lain, sudah membawa Fatur kerumah sakit.


''Bawa Fatur kerumah sakit,'' perintah Ibnu kepada Arya.


Di gudang, tinggal Ardian dan kelima sahabatnya, serta kedua orang tuanya.


‘’Maksud papa apa? Kenapa papa malah nolongin orang yang udah bekap mama di sini. Papa nggak lihat, dia udah ngikat mama di kursi ini!'' Marah Ardian seraya menunjuk kursi yang dimana tempat Tari tadi di ikat oleh Fatur.


Ardian tidak bisa menahan nada suaranya, jelas saja dia marah, seseorang memperlakukan mamanya seperti tadi.


''Mama nggak apa-apa, Ar,'' ucap Tari, namun tidak di gubris oleh Ardian, karna anaknya itu fokus kepada Ibnu.


Andai saja papanya tidak datang, sudah di pastikan Ardian akan membuat Fatur tidak sadarkan diri. Banyak hal yang Ardian ingin lampiaskan pada Fatur atas segala kesalahan cowok itu pada Rafael.


Ibnu menghembuskan nafas berat.


''Sudahi permusuhan mu dengan Fatur, Ardian. Bagaimanapun dia adalah saudara kamu, kakak kamu, saudara yang masih satu ayah dengan kamu, meski beda mama,'' jelas Ibnu membuat Ardian mengepalkan tanganya.


Dia pikir dirinya salah dengar, ternyata dia salah besar, ucapan Ibnu kembali dia ulangi.


Sementara kelima sahabatnya masih tidak percaya, Tari mengusap air matanya.


''Kamu harus terima, Ar. Jika Fatur adalah kakak kamu, nak,'' sahut Tari.


''Mama adalah istri kedua papa kamu,'' lanjutnya membuat tangan Ardian semakin terkepal hebat.


Ardian tidak menyangka, di balik keluarganya yang harmonis, ada sebuah rahasia besar yang mereka sembunyikan.


Ardian, sepertinya dia tidak bisa menrima ini, jika kenyataannya dia dan Fatur adalah saudara.


Ardian dengan penuh amarah dan kekecewaan pergi meninggalkan meraka, kelima sahabatnya menyusul Ardian untuk segera pergi.


Mereka saja bukan di posisi Ardian merasa terpukul, saat mengetahui kenyataan ini. Anak ARIGEL bermusuhan dengan anak VAGOS.


Ardian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat mereka harus mengejar laju motor milik Ardian dengan susah payah. Karna lari motor Ardian tidak ada yang bisa menandinginya.


''Anjr! Kita kehilangan jejak!'' cecar Izam dan Leo hampir bersmaan.


''****!'' umpat Rafael karna mereka berlima kehilangan jejak Ardian.


Kelimanya singgah di pinggir jalan, percuma saja mereka mengejar Ardian, mereka sudah kehilangan jejak cowok itu.


Mereka membuka helmnya, menatap jalan lurus kedepan, sudah tidak ada lagi Ardian yang mereka lihat.


''Kira-kira sih Ardian kemana?'' tanya Izam kepada sahabatnya.


''Mungkin club,'' jawab Leo dan Gerald secara bersaman, membuat Ethan mengangguk setuju dengan ucapan kedua sahabatnya tadi.


''Untuk saat ini, kita jangan ganggu Ardian dulu. Biarin dia nenangin dirinya dulu,'' saran Gerald kepada sahabatnya.


''Ardian butuh waktu sendiri, untuk nerima kenyataan ini. Kalau dia dengan Fatur itu saudara,'' lanjut Gerald membuat Izam mengangguk setuju dengan ucapan Gerald.


‘’Gimana kalau Ardian lakuin hal aneh-aneh,'' ucap Ethan bergedik ngeri, membuangkan Ardian akan bunuh diri.


Pletak...


Izam langsung menjitak jidat Ethan. ''Pikiran lo sama Ardian itu nggak sama Sethan. Emangnya lo, habis putus sama Vani, mogok makan, jarang ngomong,'' cetus Izam. ''Sampai-sampai lo mau bunuh diri di pohon tomat,'' lanjutnya membuat Leo tartawa kecil dengan apa yang di katakan Izam barusan.


‘’Enak aja lo, yah. Gue cuman mogok makan sama ngomong. Gue nggak punya niatan mau bunuh diri!'' sewot Ethan membuat Izam memutar bola matanya malas.


‘’Gue udah bilang, perempuan itu menyusahkan,'' ucap Rafael seraya memasang helmnya siap untuk pergi. ''Gue mau ke markas, kalian gimana? Mau balik atau apa,'' lanjutnya kepada sahabatnya.


‘’Markas aja deh,'' ucap Leo. ‘’Sambil nungguin Ardian balik.''


''Gue juga,'' ucap Ethan dan Izam bersmaan.


''Kalau lo, Rald?'' tanya Leo kepada Gerald yang masih diam. Cowok itu nampak berpikir.


Sebenarnya, Gerald ingin sekali kerumah Nanda, apa lagi hari ini adalah hari Valentine. Cuman, dia tidak enak saja, kalau temanya pada kumpul dia pergi.


‘’Gue juga ikut,'' ucap Gerald, setelah berpikir panjang.


''Ok.''


Mereka berlima memutar motornya untuk kembali ke markas, seraya menunggu Ardian pulang.

__ADS_1


🦋


Jam menunjukkan pukul 11 malam, Tari masih mondar-mandir di depan pintu, ponselnya dia genggam erat.


Sampai sekarang, Ardian belum pulang, padahal dari siang cowok itu pergi. Tari tentunya khawatir. Apa lagi ponsel milik Ardian tidak aktif.


Tari juga sudah menghubungi sahabat Ardian, menanyakan apakah ada Ardian dengan meraka apa tidak.


Namun jawaban mereka tidak, membuat Tari di landa kecemasan.


''Ar, kamu dimana, nak,'' lirih Tari, seraya duduk di kursi sofa.


Ibnu juga belum pulang dari rumah sakit, sehingga Tari seorang diri di rumah. Tari tadi ingin ikut dengan Iksan menjenguk Fatur, namun Ibnu mencegahnya, dengan alasan suaminya menyuruh dirinya untuk istiraht di rumah.


Tari kembali menghubungi nomor Ardian, namun tetap sama, nomor anaknya tidak aktif sedari siang.


Tari langsung mengingat Nanda, dia mencoba menelfon gadis itu, siapa tau saja Ardian ada bersmanya, meski hanya kemungkinan kecil.


Drt...


Nanda yang siap-siap ingin tidur langsung di kagetkan dengan deringan ponselnya, dia mengambil ponselnya diatas nakas.


Nomor yang tidak dia ketahui menelfonya.


''Halo, ini siapa?'' tanya Nanda.


''Nanda, ini tante. Mamanya Ardian,'' balas Tari di ujung Telfon membuat Nanda berpikir, untuk apa mamanya Ardian menelfonya tengah malam begini?


''Kalau boleh tahu ada apa, Tan?'' tanya Nanda, seraya bangun dari tempat tidurnya.


''Apa kamu sedang bersama Ardian?'' tanya Tari.


Dari ujung Telfon, Nanda bisa mengetahui, mamanya Ardian sedang tidak baik-baik saja.


''Nggak Tan. Ardian kerumah cuman tadi pagi bawain Nanda coklat. Lepas itu dia langsung prgi, Nanda nggak tahu lagi Ardian kemana setelah pulang dari sini,'' jawab Nanda membuat Tari menghela nafas.


‘’Emangnya kenapa, Tan?'' tanya Nanda.


''Ardian sedari siang belum pulang, tante hubungi nomor dia juga nggak aktif. Ada sedikit masalah di keluarga kami, makanya Ardian pergi entah kemana sampai sekarang belum pulang. Tante khawatir sama dia,'' balas Tari dengan cemas membuat Nanda langsung terdiam.


Setelah berbincang-bincang dengan Tari di ujung Telfon, akhirnya panggilan berakhir. Nanda langsung kembali berjalan di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dengan memikirkan Ardian


‘’Kemana preman itu?'' menolognya dengan matanya sibuk menatap langit-langit kamarnya.


Tadinya dia mengantuk, namun mendengar kabar Ardian belum pulang kerumahnya, membuat mamanya khawatir, membuat Nanda tidak bisa tidur.


Berkat ucapan Ardian pagi tadi, mampu membuat otak gadis itu menjadi de Javu.


Tidak bisa tidur malam ini, membuat kembali mengambil ponselnya, dia melihat Instagram Ardian.


Ting...


Ponsel miliknya bergetar, menandakan adanya pesan masuk.


“Ra, aku nggak bisa kasi kamu coklat secara langsung tadi. Coklat nya aku titip sama mama kamu. Happy Valentine cantik❤️.”


Nanda tersenyum melihat pesan yang dikirimkan Gerald padanya, cowok yang selalu dingin dengan siapapun, namun sikapnya yang dingin itu akan berubah jika bersama dengan Nanda.


Tangan lentiknya bergerak membalas pesan dari Gerald.


Ting...


“Nggak apa-apa, yang penting coklat nya ada heheh.”


Gerald tentu tersenyum membaca pesan dari Nanda, membuat Rafael yang melihat Gerald menaikkan alisnya sebelah.


Sahabatnya yang dingin itu, senyum-senyum sendiri. Sampai sekarang Rafael sebagai sahabatnya saja tidak tahu, siapa gadis yang sudah mencairkan sosok Gerald.


''Di landa cinta juga lo, Rald,'' ejek Rafael seraya membakar rokoknya.


Di ruangan tengah tempat mereka nongkorng, hanya tersisa Gerald, Rafael dan Leo. Sementara Ethan dan Izam berada di lantai atas, mereka tidur, mengantuk menunggu kepulangan Ardian yang belum juga datang hingga saat ini.


Gerald melirik Rafael, cowok itu tidak bermain ponsel. Sedari tadi dia menyesap rokoknya, belum beberapa detik habis, dia kembali membakar rokoknya.


Sehingga asap rokoknya memenuhi tempat ini, Gerald yang sudah terbiasa dengan asap rokok para sahabatnya.


''Nggak juga,'' jawab Gerald dengan santai, di sertai dengan senyuman tipisnya.


''Perempuan itu meribetkan, Rald. Mereka bisa jadi kelemahan sekaligus sebagai penyemangat hidup. Perempuan banyak buat para laki-laki menjadi lemah,'' ujar Rafael, seraya menyembulkan asap rokonya.


''Cintai seadanya, jangan berlebihan. Karna mencintai seseorang secara berlebihan, bakalan buat lo tersiksa sendiri,'' bijaknya membuat Gerald diam sejenak, apa yang di katakan Rafael emang ada benarnya.


Tapi apakah Nanda tidak akan membalas cintanya kelak?


Huft


Gerald menghembuskan nafas berat.


''Dia cinta masa kecil gue.'' Ini pertama kalinya Gerald bercerita.


Sehingga Leo langsung menatap kearah Gerald, cowok itu langsung keluar dari game, Seperinya Gerald akan mulai bercerita mengenai gadis yang berhasil memikat hatinya, tentu saja para sahabatnya penasaran dengan gadis yang sudah berhasil menaklukan hati dingin milik Gerald.

__ADS_1


Gerald menyandarkan tubuhnya di kursi. ''Sampai sekarang, gue sama dia nggak jadian. Gue sama dia cuman dekat. Mau dibilang pacaran nggak juga...Hubungan gue sama dia itu sebatas sahabat masa kecil yang dekat, tanpa hubungan pacaran.''


Leo terdiam, seraya meneguk salivanya susah payah. Ternyata Gerald jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, dan mereka juga nggak pacaran sama sekali.


Gadis itu secantik apa? Sampai-sampi gantung perasaan Gerald seperti ini.


Rafael tersenyum tipis, seraya mematikan puntung rokoknya. ‘’Cinta emang segila itu, Rald.'' Rafael menepuk pundak Gerald.


Gerald mengangguk kecil.


''Bdw, sahabat masa kecil lo itu, sekaligus cinta lo itu, namanya siapa?'' tanya Leo penasaran, mereka penasaran nama gadis itu.


''Kalau lo nggak bisa jawab, nggak usah. Gue nggak mak—''


''Nanda Raisa Arabela.''


Deg...


Leo dan Rafael saling berpandangan, nama itu nama gadis baru itu, kan?


''Rald...Maksud lo Nanda yang suka permen karet itu?'' tanya Leo memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Gerald membuat Rafael langsung terdiam.


Sial! Nanda udah berhasil memikat hati Gerald. Bukan hanya Gerald. Dia juga berhasil memikat Ardian. Gue tahu, Ardian suka sama Nanda. Bagaiamana jika mereka berdua bersaing mendapatkan Nanda?


Rafael mengusap wajahnya kasar, saat mengetahui nama gadis yang di sukai oleh Gerald.


Rafael tahu, jika Ardian juga menyukai Nanda. Meski Ardian mengatakan tidak, namun Rafael bisa melihat melalui tatapan mata sahabatnya itu dengan Nanda, wajar saja jika Ardian menyukai Nanda, gadis itu emang menarik, diantara gadis-gadis yang mereka lihat sebelumnya.


Bahkan, Rafael pernah jatuh pada pesona Nanda. Jadi wajar saja, jika kedua sahabtnya mencintai gadis yang sama.


Hanya saja, Gerald lebih dulu mengenal Nanda, karna mereka sahabat masa kecil.


Bahkan, Leo tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Bukan hanya Rafael yang peka dengan Ardian, bahkan Leo juga tahu, jika Ardian menyukai Nanda.


''Pilihan lo nggak pernah salah, Rald. Cantik,'' puji Leo dengan tawa kecilnya.


Leo kembali sibuk bermain game, kali ini dia tidak mabar dengan Pute. Dia mabar dengan gadis lain, Rafael dan Gerald bisa tahu, jika Leo lagi mabar dengan gadis yang berbeda lagi.


Terdengar jelas, saat gadis itu on mice, suaranya beda, yang pastinya bukan suara Pute.


''Sebenarnya lo itu modus sama cewek, tujuannya apa sih, Le. Lo ngegantung perasaan mereka kayak jemuran. Pute juga lo gantung macam tiang bendera,'' cibir Rafael, membuat Leo tertawa kecil dengan ejekan sahabatnya itu.


''Mana mabar sama cewek lain lagi,'' timpal Gerald seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


‘’Gue mabar sama cewek lain, kalau gue bosan mabar sama Pute,'' jelas Leo membuat Rafael memutar bola matanya malas.


‘’Karna saat ini bosan mabar sama Pute, makanya gue pilih mabar sama cewek lain,'' lanjut Rafael, membuat Rafael melemparkan Leo bantal.


''Sok ganteng lo!'' desis Rafael.


''Bukan sok ganteng, Raf. Tapi emang ganteng, sayangkan, kalau gantengnya nggak di manfaatin,'' ucap cowok itu tanpa beban samaa sekali.


Rafael mencoba menelfon Ardian, namun nomor cowok itu belum juga aktif.


‘’Gue khawatir sama Ardian,'' gumam Rafael.


''Nggak nyangka juga sih, kalau Fatur sama Ardian itu adik kakak,'' decak Rafael.


Tentu saja Ardian tidak bisa menerima hal ini, Fatur adalah cowok yang paling dia benci diantara anak VAGOS. Namun sialnya lagi, Fatur adalah saudaranya, kakaknya.


''Gue juga nggak nyangka, tapi pas pertama kali gue lihat Fatur, kek ada mirip-miripnya,'' timpal Leo.


''Mereka masih satu ayah, wajah tampan milik Fatur dan Ardian, turunan dari om Ibnu. Gue juga nggak nyangka, kalau Om Ibnu punya istri dua. Di tambah lagi, tante Tari istri kedua,'' lanjut Leo.


‘’Apa jangan-jangan....''


''Mau lo bilang tante Tari pelakor?'' tebak Rafael membuat Leo cengengesan kearah cowok itu.


‘’Nggak mungkin, lah. Mana ada pelakor macam malaikat.''


Mereka semua langsung melihat kearah tangga, rupanya yang menyahut adalah Izam.


Cowok itu mengusap air matanya, sepertinya dia sudah bangun, atau terpaksa bangun. Namun mereka tidak melihat Ethan, mungkin saja cowok itu masih tidur.


''Ardian belum pulang?'' tanya Izam, seraya menuruni anak tangga.


Ketiga sahabatnya kompak menggelengkan kepala, sebagai jawaban untuk Izam.


''Kita nggak susul, Ardian?'' tanya Izam, seraya ikut bergabung dengan sahabatnya.


''Cuci muka dulu lo, Zam. Lo nggak lihat, iler di pipi lo,'' ucap Rafael dengan jijik, membuat Izam menghentikan kakinya.


''Kayak nggak pernah ileran aja lo kalau tidur,'' balas Izam, yang hanya dibalas acuh oleh Rafael.


Leo tertawa. ''Lo udah tidur lama, jadinya ketinggalan berita Hot,'' ucap Leo, membuat Izam menaikkan alisnya sebelah.


‘’Berita hot apa?'' tanya cowot itu dengan penasran.


''KEPO!'' ucapa Leo dan Rafael bersamaan, membuat Izam menyesal bergabung dengan Sahabatnya.


Izam kembali meninggalkan sahabatnya, dia ingin kembali meneruskan tidurnya, bergabung dengan Rafael merupakan langkah yang salah.

__ADS_1


__ADS_2