
Izam, Ethan dan Rafael langsung melirik kearah Leo yang tengah menyesap rokoknya dengan sangat santai.
"Gue nggak yakin banget\, kalau lo berantem sama nyokap sama bokap lo sampai air wajah lo berubah drastis\," jelas Leo seraya menyembulkan asap rokoknya itu\, "lo `kan orangnya bodoh amat\, kalau lo berantem sama nyokap sama bokap lo\, nggak ada Rafael yang se-sensi ini. Udah pasti penyebabnya karna Salsa\, jujur sama kita\, lo mikirin Salsa sampai segininya karna lo mulai suka `kan\," tebak Leo.
Ethan dan Izam langsung melirik kearah Rafael.
"Jangan sampai lo nyesel, Raf, kalau lo ngelak lagi sama perasaan lo itu," kata Izam. "Jangan bohongin diri lo sendiri, Raf. Lo bisa bohongi kita soal perasaan lo ke Salsa, tapi apa lo tega sama perasaan lo sendiri?"
"Kali ini gue setuju sama, Izam. Tumben-tumbenan pikiran lo berguna kali ini." Tangan Ethan bergerak mengusap rambut milik Izam dengan dramatis, "tingkatkan lagi, Zam. Biar otak lo tetap cemerlang. Biar tetap di anggap sahabat sama Rafael," godanya membuat Izam langsung menghempaskan tangan Ethan yang berada di kepalanya.
"Otak gue emang encer kalau soal perasaan!" cetus Izam.
Izam kembali menatap Rafael, "mendingan lo susul Salsa deh, Raf. Keburu pesawat nya berangkat." Izam melirik jam di pergelangan tanganya, " siang ini Salsa berangkat `kan," tanya Izam lagi dan dibalas anggukan malas oleh Rafael.
"Perasaan gue tetap sama, gue mikirin Salsa bukan berarti gue udah mulai suka sama dia. Tapi ini kar--"
"Karna lo merasa bersalah sama dia?" potong Leo yang sudah tahu arah pembicaraan Rafael, cowok itu terdiam.
"Hobi banget sih bohongin diri sendiri." Ethan sampai gemas dengan Rafael.
"Ch, udah gu--"
"Ngapain kalian di sini!'' suara milik Dio memasuki gendang telinga ke empat cowok itu.
"Bngsat!" Rafael geram, setiap dia bicara pasti ada saja yang memotong ucapanya, Rafael tidak suka akan hal itu.
Ke empat cowok itu langsung melirik kearah Dio yang berjalan menghampirinya beserta kedua anggota osis lainya, yaitu Nita dan Lika. Rafael menatap tajam ketiga osis itu, sungguh kedatangan mereka mengusik Rafael, dia makin sensi hari ini dan ingin sekali dia memaki seseorang.
__ADS_1
Ethan dan Izam memutar bola matanya malas, mereka sudah yakin jika anggota osis akan menemui mereka di sini. Sementara pembawaan Leotetap santai, lalu tanpa sengaja pandangan Leo dan Nita bertemu, dengan cepat Nita melihat kearah lain.
Entah mengapa Leo merasakan hal aneh, semenjak pembicaraanya dengan Nita tadi.
"Kurang kerjaan banget sih kalian, sampai ngintilin kita di sini," seloroh Izam yang tidak suka dengan kehadiran mereka.
"Kayak jalangkung aja," timpal Ethan dan dibalas anggukan setuju oleh Izam.
"Apa lo!" sungut Rafael kepada ketiga osis itu dengan wajah garang.
Dio menarik nafasnya panjang, mungkin pekerjaan ini makin susah jika dia yang turun tangan mengurus mereka, karna selama ini mereka hanya mendengar dengan satu osis, yaitu Gerald. Sementara Gerald sudah tidak ada di sini, jadi siapa yang akan mereka dengarkan?
Apa lagi anggota osis sudah tahu jika anak ARIGEL tidak suka dngan osis, mereka membenci osis sama seperti geng Kesya yang mengibarkan bendera perang untuk anak osis lainya.
"Balik ke kelas, ini masih jam pelajaran," perintah Dio dengan tegas, namun terdengar biasa aja di telinga cowok itu.
"Kalau mau caper bukan di sini tempatnta. Di depan guru lo caper," tambah Ethan juga.
"Mendingan lo pada pergi deh!" usir Izam mengibaskan tanganya mengusir ketiga anak osis itu. "Jangan sampai mood Rafael makin hancur, karna kehadiran kalian di sini. Kalian nggak mau `kan sampai anak osis di hina-hina sama Rafael," ancam Izam. Padahal dalam hatinya ingin melihat aksi mulut Rafael mencaci maki anak osis, karna mulut Rafael lebih pedas dari merica bubuk.
Rafael hanya bisa berdengus kali ini, dia ingin memaki anak osis namun mulutnya seketika malas.
"Eh, Raf, lo mau kemana woy?!" teriak Izam melihat sahabat cabenya itu main pergi aja. Padahal mereka belum beradu mulut.
"Mau kemana lo, Raf? Balik ke kelas, kalau nggak gue kasi surat orang tua lo?!" ancam Dio membuat langkah kaki Rafael terhenti, ancaman dari Dio seperti ancaman yang tidak berguna untuk Rafael.
Rafael membalikkan tubuhnya, menatap Dio dengan tatapan mengerikan, lalu kemudian cowok itu tersenyum miring membuat siapapun yang melihatnya bergedik ngeri.
__ADS_1
"Lo pikir gue takut, sama ancaman osis SAMPAH yang modal CAPER?" sindir Rafael membuat dara Dio seketika mendidih. Tak lupa pula Rafael menekan kata caper dan sampah.
Dio tidak suka organisasi yang dia sayangi di hina oleh Rafael, tangan Dio terkepal hebat, dia tahu tanpa Gerald osis tidak akan maju, tanpa pemimpin seperti Grald.
Lika geram dengan Rafael, tentu saja ini penghinaan bagi anggot osis lainya. Sementara Izm dan Ethan tersenyum puas, Nita dan Leo hanya menyimak saja.
"Mulut lo di sekolahin nggak sih!" sindir Lika, dia muak melihat murid seperti anak ARIGEL, yang lebih paranya lagi mereka senang menghina osis, mentang-mentang mereka di takuti dan berkuasa di sekolah ini. "Jangan karna lo orang kaya, masalah bolos lo anggap sepeleh. Lo udah ngehina osis sampah, dan lo ngata-ngatain anggota osis itu caper. Yang sebenarnya SAMPAH itu MULUT sama KELAKUAN lo itu!" Entah keberanian dari mana yang Lika dapatkan.
Mungkin karna dia murid pindahan, dia berani bcara seberani ini, gadis itu adalah murid pindahan, di sekolah lamanya dulu dia menyandang gelar ketua osis, pindah di sekolah ini posisinya sebagai anggota osis, nggak mungkin `kan dia menjabat ketua osis?
Lika tahu sedikit tentang anak ARIGEL dari Dio. Mungkin karna Lika belum sepenuhnya tahu jadi dia bisa seberani ini.
"WOW!" mulut Ethan dan Izam terbuka, dia tidak percaya gadis itu berani mengatai mulut dan tingkah laku Rafael sampah, jangan lupa gadis itu menekan setiap perkataanya."Murid baru yang nggak tahu apa-apa."
Leo tersenyum penuh arti melihat Lika, itu semua tidak luput dari penglihatan Nita, lalu kemudia gadis itu menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan dengan pelan, dari ekor matanya Leo bisa melihat Nita menghembuskan nafas berat.
"Menarik," gumam Leo , yang entah di tujukan untuk siapa.
Sementara Dio tersenyum puas, dia tidak salah menerima gadis itu gabung di osis, jiwa pemimpin memang melekat pada diri Lika.
Rafael dan Lika bertatapan tajam, ucapan gadis yang Rafael tidak tahu namanya itu, sukses membuat dirinya bungkam, namun bukan Rafael namanya jika dia kalah dalam beradu argumen.
Rafael memiringkan kepalanya, lalu tersenyum smirk, membuat mereka makin takut, jujur saja Lika takut pada tatapan dan senyuman cowok itu, namun dia tidak bisa tinggal diam.
"Lo," tunjuk Rafael pada Lika, "lo cuman sampah dari sekolah lo, yang di buang kesini. Jadi, yang sebenarnya SAMPAH gue atau LO.''
Deg.....
__ADS_1