ARDIAN

ARDIAN
Kesepian


__ADS_3

Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, akhirnya mereka semua sampai. Anak-anak ARIGEL pamit pulang, karna sudah pukul satu dini hari, mereka besok akan ke sekolah.


Ethan pamit dengan Puri dengan mengusap rambut gadis itu lembut, lalu dia naik ke atas motornya meninggalkan pekarangan rumah besar Gina, sembari menyusul para sahabat nya yang sudah berlalu pergi meninggalkan dirinya.


Ke empat gadis itu langsung membaringkan tubuh nya diatas tempat tidur, lalu tidak lama kemudian Nanda bangkit untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.


Untung saja tempat tidur Nanda luas, sehingga bisa menampung ke empat nya.


"Lo mau kemana, Ci?" tanya Puri setelah berganti baju tidur, dia melirik Cika yang turun dari tempat tidur membawa satu boneka yang berukuran sedang.


"Gue tidur di sofa aja, biar lo berempat sama Kesya tidur di situ," jawab gadis itu membawa langkah kaki nya menuju sofa panjang yang besar.


"Kayak yakin aja lo, kalau dia bakalan balik kesini lagi," celetuk Puri lalu menghempaskan tubuh nya di samping Pute, "palingan dia balik ke rumah nya. Aneh-aneh juga sih dia, mau nginep di sini. Udah tahu hubungan dia sama Kak Boy nggak baik."


"Mau gimana pun, Boy juga kakak nya Kesya kali, Ri," kata Pute tanpa membuka matanya, "udah ahk, gue mau tidur duluan." Tangan gadis itu begerak memeluk guling.


"Gue juga nih." Puri menguap, lalu mereka berdua mulai tidur, di susul oleh Nanda yang baru keluar dari kamar mandi.


"Cika, lo ngapain tidur di sofa?" tanya Nanda.


"Gue lebih baik tidur di sini, Nan. Entar muka gue bonyok di tendang sama sih Puri. Lo nggak tahu kalau dia tidur suka nendang orang," ucap Cika tanpa membuka matanya sama sekali, karna dia sudah mengantuk sekali.


Nanda hanya mengangguk samar, meski Cika tidak melihat nya sama sekali.


Gadis itu langsung menidurkan tubuh nya di samping Puri, yang sudah masuk kedalam mimpinya bersama dengan Pute.


Nanda mengambil ponselnya, guna menghubungi Kesya, apakah gadis itu pulang kerumah nya atau sebaliknya.


Drt...

__ADS_1


Melirik ponselnya yang bunyi, dia masih setia duduk di samping Fatur, posisi cowok itu sudah selesai makan, namun dia masih merokok.


"Kenapa nggak lo angkat?" tanya Fatur sembari menyembulkan asap rokok nya, "saudara lo yang nelfon," lanjut nya.


"Dia bukan saudara gue," ketus Kesya, itu adalah sebuah fakta yang tidak akan bisa ia ubah sampai kapan pun itu.


Fatur hanya mengedikkan bahunya acuh saja. Dia tahu jika gadis itu mempunyai hubungan dengan Nanda.


Apa lagi papa Iksan pernah muncul di televisi memberikan sebuah pengakuan, jika Kesya juga anaknya. Siapa coba yang tidak mengenal pak Iksan beserta keluarganya.


"Anterin gue balik," kata Kesya sembari memasukkan ponselnya kedalam tas.


Fatur menaikkan alisnya sebelah, "sejak kapan gue ngomong mau anterin lu balik?"


"Gue udah di tinggal, apa susah nya anterin gue balik. Cuman lo yang gue kenal di pasar malam ini," ketus Kesya.


"Anterin gue kerumah Nanda," kata Kesya lagi.


"Ok, kalau lo nggak mau anterin. Gue ikut kerumah lo aja," kata Kesya.


"Rumah lo sama gue searah. Biar gue anter lo kerumah lo aja," jelas Fatur.


"Di rumah gue nggak ada siapa-siapa. Pembantu di rumah gue tinggal nya di belakang rumah," balasnya lagi.


"Lo nyusahin banget jadi cewek, kita itu nggak akrab ya. Kita baru ngomong malam ini." Fatur bangkit dari tempat duduk nya di ikuti oleh Kesya.


"Gue udah nemenin lo muter-muter pasar malam," kesal Kesya sembari mengikuti Fatur dari belakang.


Fatur berhenti berjalan, melihat Kesya sebentar, lalu berkata, "lo yang minta ikut!" desis Fatur lalu kembali melanjutkan langkah kaki nya itu dengan Kesya masih setia mengekorinya.

__ADS_1


"Anterin gue balik, atau gue telfon Ardian, suruh ngadu sama bokap lo, kalau lo ninggalin cewek di pasar malam," ancamnya pada Fatur.


"Lo pikir gue peduli?" balasnya acuh membuat Kesya membuang nafas kasar.


Dia berjalan cepat, melewati Fatur. Dia menyesal tidak ikut di mobil untuk pulang. Sekarang dia sedikit menyesal.


Mana jarak rumah nya ke sini lumayan jauh, sudah pasti tidak ada ojek online berkeliaran tengah malam begini.


Fatur melihat punggung Kesya yang semakin menjauh, lalu mengambil langkah berlawanan arah dengan Kesya.


Cowok itu berjalan menuju motornya dia simpan, lalu dia memberikan tiga lembar uang merah pada orang yang menjaga motor nya.


"Makasih, bang," kata cowok itu dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Fatur saja.


***


Boy masih setia terjaga di ruang tamu, sudah setengah jam mereka sampai, namun Kesya belum ada tanda-tanda untuk pulang.


Boy berdengus kesal, kenapa pula dia memikirkan gadis itu? Boy menghembuskan nafas berat, dia tidak munafik, ada sedikit rasa khawatir dia selipkan di hatinya untuk Kesya, biar gimana pun dia membenci Kesya, gadis itu tetap adiknya, masih satu darah dengannya dan juga Nanda, meski mereka berdua berbeda ibu.


Pria itu melirik pergelangan tangannya, sudah pukul satu malam lewat, namun Kesya belum juga kembali. "Awas aja lo," gumam Boy lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Apa dia balik kerumah nya?" gumam Boy, lalu pria itu bangun dari kursi sofa nya. Dia berjalan menuju kamar tidak menunggu kepulauan gadis itu lagi, karna dia yakin jika Kesya tidak akan kembali di rumah ini, gadis itu kembali di rumahnya.


Sementara di sisi lain, Kesya berjalan di pinggir jalan, dengan angin malam yang menerbangkan anak rambutnya yang tergerai indah, tubuh nya juga dingin, apa lagi dia mengenakan rok pendek.


Jika ia nekad berjalan kaki pulang, pagi dia akan sampai di rumah. Di tambah lagi jalan cukup sepi memberikan kesan horor untuk Kesya saat ini.


"Nggak ada yang peduli sama gue," gumam gadis itu, masih setia melangkah. Belum ada 100 meter dia berjalan kaki, kaki nya sudah sesakit ini. Bagaiamana jika dia berjalan sampai rumah nya? Sudah di pastikan tubuh nya akan remuk..

__ADS_1


Tanpa sadar, air mata Kesya turun di membasahi pipi nya, "mah, pah, nggak ada yang sayang sama Kesya. Cuman papa sama mama yang Kesya punya. Sahabat Kesya juga nggak serespek dulu. Kesya nggak punya apa-apa sekarang. Kesya gagal segalanya, Kesya juga gagal dapetin cinta Ardian." Gadis itu mengusap air matanya kasar.


Andai saja orang tuanya tidak keluar kota, dia tidak akan berjalan kaki. Siapa yang bisa Kesya hubungi? Dia tidak punya siapa-siapa.


__ADS_2