ARDIAN

ARDIAN
Menemani Nanda


__ADS_3

Ketiga gadis itu sudah berada di dalam kamar Nanda, lebih dulu Nanda memgambil cemilan di dapur dan juga minuman, agar mereka bisa mengobrol seraya mengunyah makanan.


Nanda menutup pintu kamarnya, seraya meletakan toples berisi kue yang dia bawa dari rumah Ardian.


Nanda yakin, jika sahabatnya akan menyukai kur buatanya itu, collab bareng dengan Tari. Susu kotak sebanyak 6 Nanda letakkan diatas meja.


‘’Kayaknya enak, nih,'' ucap Salsa, membuka toples berisi kue itu, kue kacang itu sangat menggoda menurut Salsa.


Gadis itu, kan emang suka bikin kue, dia sering membuat kue kacang untuk Rafael, meski cowok itu belum pernah coba kue buatanya.


''Wah, kuenya enak banget, Nan. Rasa kacangnya nggak bikin enek,'' puji Salsa, seraya mengunyah kue kacang itu.


''Ini buatan gue sama mamanya Ardian.''


Uhuk....


Salsa langsung tersedak kue tersebut, saat Nanda mengatakan jika kue ini buatnya bersama dengan mamanya Ardian.


''Serius lo?'' tanya Cika memastikan, tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba Nanda mengatakan hal tersebut, apa lagi mereka tahunya Nanda dekat dengan Gerald, namun mengapa gadis itu menyebut nama Ardian.


Salsa menunggu jawaban dari Nanda, atas pertanyaan yang di lemparkan Cika untuk gadis itu.


Nanda tidak ingin menyembunyikan apapun kepada mereka, dia tidak ingin hidupnya semakin repot.


''Gue serius,'' jawab Nanda. Mereka saat ini duduk diatas tempat tidur Nanda, dengan posisi mereka bertiga melingkar, dengan kue toples di hadapan mereka, beserta susu kotak, yang sudah di letakkan Salsa di tengah-tengah mereka.


''Udah dua kali gue kerumahnya, Ardian buat makan malam. Nyokapnya undang gue,'' jawab gadis itu dengan jujur.


Dalam satu tarikan nafas, Nanda mulai menceritakan awal mengapa dia sampai di rumah Ardian saat itu, hanya karna ingin menghampiri cowok itu karna menculik Dika, dan ujung-ujungnya Tari mengajaknya makan malam, hingga mereka berdua buat kue bareng.


Cika dan Salsa hanya manggut-manggut, atas jawaban yang di berikan gadis itu.


''Kapan-kapan ajak aku juga kerumah Ardian, dong,'' ucap Salsa. ''Aku mau banget buat kue bareng sama nyokapnya. Kuenya enak banget, bahkan kue buatan aku kalah,'' lanjut gadis itu dengan puppy eyesnya kepada Nanda, agar Nanda mengajaknya untuk buat kue bareng dengan Tari.


''Aku mau belajar buat kue sama nyokapnya Ardian. Terutama buat kue kacang. Aku yakin, jika aku buat kue kacang bareng nyokapnya Ardian, aku yakin Rafael bakalan makin suka sama kue buatan aku,'' kata Salsa lagi.


‘’Nanti gue bakalan kabarin, nyokapnya Ardian pasti suka. Karna gue lihat, dia suka banget buat kue,'' ucap Nanda.


Cika meminum susu kotaknya, lalu melirik Cika. ''Lo mau banget collab sama nyokapnya Ardian?'' tanya Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa, jika dia menginginkan hal itu.


''Bisa, caranya gampang,'' lanjut Cika.


‘’Caranya gimana?'' tanya Salsa membuat Cika tersenyum penuh arti.


''Lo tau, kan kalau Fatur sama Ardian saudara?'' tanya Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.


Dia baru tahu hal ini, waktu Ardian mengunjungi Fatur di rumah sakit, dan cowok itu mengatakan jika dia dan Fatur itu saudara.


''Iya, kenapa?'' tanya Salsa.


Nanda yang sudah tahu maksud Cika, hanya tersenyum tipis saja. Setidaknya kehadiran kedua teman barunya itu bisa mengalihkan sedikit pikiranya mengenai papanya.


''Lo tinggal dekat aja sama Fatur, lo, kan tahu. Dari zaman purba Fatur suka sama lo. Dengan lo dekat sama Fatur, nyokapnya Ardian pasti makin semangat ngajarin lo buat bikin kue.''


Sudah Nanda duga, jika Cika akan mengatakan hal ini. Mungkin gadis itu ingin mendekatkan sepupunya dengan Fatur, agar Salsa melupakan Rafael. Meski hal itu tidak bisa, bagaimanapun mereka menyuruh Salsa untuk melupakan Rafael, gadis itu tidak akan pernah mau melupakan Rafael, karna memang tidak bisa untuk di lupakan.


''Kalau cuman itu caranya, aku mau-mau aja. Asal bisa collab bareng nyokapnya Ardian buat kue. Lumayan ilmunya bisa aku terapkan,'' ucap Salsa membuat Cika tersenyum penuh arti.


Dia akan mengatur mengenai kedekatan Fatur dan Salsa, agar gadis itu tidak berharap lagi dengan Rafael.


Mereka bertiga kembali mengobrol, seraya memakan kue yang sedari tadi Salsa puji rasa kue itu yang sangat enak.


Mereka tidak mau membahas mengenai masalah di rumah sakit tadi, masalah yang mengenai keluarga mereka. Karna mereka takut jika Nanda akan semakin sakit.


****


Rumah sakit....


Kondisi Kesya tidak terlalu buruk, hanya saja jahitan di kepalanya yang belum kering menbuat gadis itu pingsan saat Nanda tidak sengaja mendorongnya dekat tembok.


Saat ini Puri dan Pute berada di rumah sakit, menjaga Kesya.


Raisa dan suaminya juga ada, sedari tadi Iksan hanya memijit pelipisnya, dia tidak tahu bagaimana kondisi Nanda saat ini, saat melihat dirinya menggandeng tangan wanita lain, bukan tangan Gina.

__ADS_1


Dan satu lagi, anaknya sudah tahu jika dirinya bukan di luar kota, dia berada di Jakarta, bukan di liat kota.


Kebohongannya terbongkar satu persatu, Iksan tidak sanggup melihat kebencian di mata anak gadisnya itu.


Iksan mengusap wajahnya kasar, itu semua tidak luput dari penglihatan Raisa, sementara Kesya sibuk mengobrol dengan kedua sahabatnya.


''Cika sama Salsa nggak datang?'' tanya Kesya kepada Pute dan Puri.


Kedua gadis itu menggeleng, sebagai jawabanya, karna memang Cika dan Salsa tidak ada.


‘’Cuman tadi siang mereka di sini,'' ucap Pute.


Kesya tidak membalas ucapan Pute lagi, rasanya ada yang beda dengan persahabatan mereka kali ini. Biasanya Cika dan Salsa selalu ada untuknya, waktu pertama dia masuk rumah sakit karna Greta, mereka semua ada di sini.


Namun sekarang? Sebaliknya.


''Ini semua karna Nanda.'' Puri mengepalkan tanganya, mengingat wajah Nanda, dia yakin Cika dan Salsa berubah karna Nanda.


‘’Mungkin aja mereka berhalangan kesini,'' ucap Pute, agar Kesya tidak memikirkan hal ini.


''Kalau mereka berhalangan buat datang, setidaknya mereka kasi kabar, biasanya, kan gitu,'' ucap Kesya membuat Puri mengangguk setuju dengan ucapan Kesya barusan.


''Udha gue bilang, kalau kita udah salah besar, masukin Nanda di sircel kita. Kalian nggak lihat, persahabatan kita terpecah belah karna Nanda,'' ucap Puri, membuat ruangan ber AC ini tiba-tiba panas.


Kesya mengepalkan tanganya, dia menunggu sampai besok, jika Cika dan Salsa tidak datang, dia tidak akan menganggap kedua gadis itu sebagai sahabatnya lagi, mereka akan menjadi orang asing.


''Nggak usah di pikirin, mendingan lo istirahat dulu,'' ucap Pute, agar Kesya tidak memikirkan hal ini.


Pute pamit kepada kedua sahabatnya, gadis itu keluar dari ruangan Kesya, guna menghubungi kedua sahabatnya, mengapa mereka tidak datang menjenguk Kesya malam ini.


Drt….


Ponsel milik Cika bergetar, ternyata yang menelfon dirinya adalah Pute.


Gadis itu mengambil ponselnya.


''Siapa?'' tanya Salsa.


''Pute,'' jawab gadis itu, seraya menekan ikon berwarna hijau untuk mengangkat Telfon dari sahabatnya.


Gadis itu berada di koridor rumah sakit, menelfon Cika. Dia ingin bertanya kepada gadis itu, mengapa dia tidak menjenguk Kesya malam ini.


''Halo,'' sapa balik Cika.


''Lo sama Salsa kenapa nggak kerumah sakit? Kesya nayariin kalian,'' lanjut Pute.


Cika sengaja mengspeker ponselnya, agar Salsa mendengar apa yang di katakan oleh Pute di seberang Telfon.


''Bilang aja, besok. Kalau malam ini kita lagi sibuk,'' bisik Salsa kepada Cika, agar gadis itu mengatakan apa yang barusan dia bisikan.


Malam ini mereka ingin menemani Nanda dulu, karna dia tahu kondisi gadis itu seperti apa sekarang, meski Nanda tidak menampakkanya.


''Malam ini gue sama Salsa nggak bisa kerumah sakit, ada urusan mendadak,'' bohongnya pada Pute.


Mereka ingin jujur kepada Pute, jika dia lagi di rumah Nanda, menemani gadis itu. Hanya saja, niatnya Cika dia urungkan, takut jika di sana ada Puri, yang akan semakin memperkeruh suasana.


Pute itu orangnya netral, tidak seperti Puri atau Kesya.


''Oh. Ok.''


Tut...


Panggilan berakhir, membuat Nanda langsung melirik Cika.


“Kalian kenapa nggak jengukin, Kesya?'' tanya Nanda dengan nada suara santainya.


''Kita bagi-bagi. Pute sama Puri jagain Kesya, aku sama Cika nemenin kamu,'' ucap Salsa membuat Nanda menjadi diam dengan ucapan gadis itu.


''Kita tahu kok, kamu punya masalah yang susah kamu jelasin, gimana sakitnya. Tapi aku sama Cika salut sama kamu, Nan. Kamu masih berdiri tegak,'' puji Salsa dengan senyuman melekat di wajah gadis itu.


‘’Kita bakalan menjadi teman, meskipun nanti Kesya sama Puri udah nggak mau nerima kamu lagi,'' lanjut Salsa. ''Bukan berarti aku sama Cika nggak mau berteman sama kamu. Aku temena sama kamu, sama Kesya juga.''


''Kita tulus kok berteman sama kamu. Meskipun, kita baru kenal. Tapi aku sama Cika udah yakin, kalau kamu itu teman yang baik.''

__ADS_1


Salsa langsung memeluk Nanda, membuat gadis itu terharu. Dia pikir dia akan sendiri tanpa teman, ternyata dugaannya salah.


Cika ikutan berpelukan, dia tahu bagaimana sakitnya melihat orang tua kita selingkuh dengan orang lain.


Cika dan Salsa tidak tahu, apakah Nanda dan Kesya akan menerima satu sama lain, jika mereka berdua bersaudara.


Namun Cika yakin kepada dirinya, jika Kesya tidak akan mudah menerima hal ini, bagaimana jika Kesya egois?


Bagaiamana jika gadis itu mengatakan, jika papanya hanya untuk dirinya saja dan mamanya.


Salsa menguap, gadis itu sudah mengantuk jam begini.


''Tidur, yuk. Aku udah ngantuk,'' ucap gadis itu dengan mata sayup, yang hampir tertutup.


Cika dan Salsa mengambil posisi untuk segara tidur, namun Nanda pamit kepada kedua temanya, jika dia mau ke dapur untuk minum dulu.


Nanda membuka kulkas, mengambil air mineral, lalu gadis itu menutup kulkas, dia sempat terkejut karna melihat ada Boy saat dirinya menutup kulkas.


Nanda tidak mendengar derap langkah kaki Boy, namun tiba-tiba saja kakaknya itu ada di sini.


Nanda meneguk air mineral nya, dengan Boy menatap lekat adiknya itu.


‘’Kenapa?'' tanya Nanda, setelah dia berhasil meneguk air minerlanya.


''Lo yakin kalau mereka berdua tulus berteman?'' tanya Boy, lebih tepatnya sebuah pernyataan untuk adiknya itu.


Boy mengambil botol minuman itu, dari tangan Nanda, lalu dia mulai meneguknya.


''Lo ragu?'' tanya balik Nanda, dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.


‘’Secara, mereka udah lama temenan sama Kesya,'' ucap Boy, dengan malas menyebut nama Kesya. Menurutnya, Kesya itu anak haram dari hubungan gelap antara papa dan Raisa itu. ''Masa iya mereka lebih memilih temenan sama lo, kalian, kan baru seminggu kenal,'' lanjutnya seraya menutup botol air mineral itu.


Nanda melirik kearah tangga, takut-takut jika salah satu temanya tiba-tiba muncul. ''Gue yakin mereka tulus berteman sama gue,'' jelas Nanda. ''Ya...kalaupun nanti mereka bakalan milih Kesya, gue nggak apa-apa. Masih ada Gerald, sahabat gue.'' Nanda menyebut nama Gerald dengan senyuman melekat di wajahnya.


Dia mengenal Gerald sebagai sahabat baiknya sedari kecil.


Nanda yakin. Jika Cika dan Salsa tidak akan menjauhinya, dia bisa melihat ketulusan di mata gadis itu berteman dengan dirinya.


''Gerald, ya?'' goda Boy, membuat Nanda memutar bola matanya malas kearah Boy.


‘’Nggak usah mikirin yang enggak-nggak. Gue sama Gerald sampai kapanpun bakalan tetap jadi sahabat,'' songong ya kepada Boy.


''Gerald gue udah anggap seperti kakak gue sendiri,'' ucap Nanda seraya tersenyum manis kearah Boy.


Boy mengacak rambut adiknya dengan gemas, ‘’pokoknya harus fokus kuliah dulu, kalau pendidikan lo baik, cowok yang bakalan ngantri buat dapetin lu,'' nasehat Boy membuat Nanda tertawa kecil.


‘’Lagi berproses aja, udah banyak yang deketin,'' bangganya membuat Boy memutar bola matanya jengah.


Kecantikan adiknya memang hampir sempurna, tergantung keturunan juga sih, apa lagi mama mereka juga cantik, jadi wajar saja jika Nanda cantik.


''Gue keatas dulu, udah ngantuk,‘’ pamit Nanda kepada Boy.


''Oiya bang...''


''Apa?'' tanya Boy pensaran, karna Nanda menghentikan langkah kakinya, memanggil diirnya sehingga dia membalikkan tubuhnya menatap adiknya Itu.


‘’Jangan lupa cari cewek, umur lo udah nggak muda lagi. Nggak usah pacaran, langsung nikah aja. Umur lo udah mapan buat nikah, apa lagi pekerjaan lo itu menjanjikan,'' ejek Nanda, namun tersirat keseriusan di setiap kata yang dia keluarkan barusan.


Boy berdengus kesal kearah Nanda, namun gadis itu hanya terkekeh geli, lalu benar-benar pergi meninggalkan Boy di dapur.


Boy tersenyum kecut, saat Nanda sudah benar-benar pergi, umurnya memang sudah tidak muda lagi, sudah malam untuk menikah, apa lagi dia sudah punya pekerjaan yang menjanjikan.


‘’Tinggal cari calon pengantinya,'' gumam Boy dengan terkekeh geli, dia tidak bisa membayangkan, jika dia benar-benar menikah pasti Gina akan sangat bahagia.


Apa lagi umurnya sudah 26 tahun, Gina hampir setiap hari menanyakan apakah dia sudah mempunyai calon istri atau bagaiamana.


Karna Gina ingin sekali melihat Boy menikah, apa lagi usia anak sulungnya itu sudah tidak muda lagi.


Boy menggelengkan kepalanya, tiba-tiba saja wajah Greta terbayang-bayang di pikiranya, entah mengapa wajah judes gadis itu langsung masuk kedalam relung ingatannya.


Gadis itu matre, namun begitu menarik di mata Boy.


''Sialan! Jangan sampai gue beneran suka sama teman sekolah adik gue sendiri,'' decak Boy.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya kuat, guna menghilangkan wajah Greta.


__ADS_2