
Rumah sakit....
Hampir jam 12 malam, Ibnu belum juga meninggalkan rumah sakit. Didalam ruangan Fatur, hanya Ibnu saja dan Fatur, kelima sahabat Fatur ke kantin rumah sakit untuk makan.
Kondisi Fatur baik-baik saja, wajahnya saja yang lebam karna mendapatkan pukulan satu sama lain dari Ardian.
''Buat apa Papa masih di sini?'' Fatur memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah milik Ibnu.
‘’Sampai kapan kamu mau benci sama papa kandung kamu sendiri?'' Ibnu balik bertanya kepada anaknya itu.
''Sampai papa ninggalin anak dan istri papa itu. Karna dia, papa sama mama pisah,'' ucap Fatur dengan dingin, membuat Ibnu menghembuskan nafas berat.
''Kalau papa meninggalkan anak dan istri papa, apa mama kamu akan kembali? Tidak, kan. Karna mama kamu dan kita sudah beda alam Fatur,'' jelas Ibnu pada anknya itu.
''Mama stres karna papa ninggalin mama.'' Fatur menatap tajam Ibnu.
''Seharusnya kamu kasihan sama papa, Fatur. Mama kamu mengkhianati papa, saat kamu masih dalam kandungan mama kamu, dia selingkuh dengan pria lain, saat papa di luar kota dan berjuang untuk perusahaan papa. Hingga perusahaan papa bisa sesukses ini,'' ucap Ibnu lagi.
''Mama Fatur nggak mungkin setia. Sebelum mama meninggal, mama selalu menyebut nama papa sama nama istri baru papa itu. Sudah pasti, mama meninggal karna papa menikah lagi,'' desis Fatur.
Ibnu mendekati Fatur. ‘’Asal kamu tahu, Fatur. Sampai sekarang papa masih sayang dengan mama kamu, nak.'' Lirih Ibnu, air matanya menetes, namun dengan cepat dia mengusap air matanya.
Fatur bisa melihat kedua bola mata Ibnu memerah. ''Mama mu adalah cinta pertama papa. Mama mu adalah wanita yang buat papa harus bekerja keras demi menuruti seluruh keinginanya. Bahkan, papa rela saat itu tidak membeli apapun demi mama kamu, Fatur. Begitu cintanya papa dengan mama kamu.'' Ibnu mengusap air matanya.
‘’Entah setan apa yang merasuki mama mu saat itu, dia tega bermain dibelakang papa. Dengan pria lebih kaya, padahal saat itu papa sedang berjuang untuk mama kamu dan kamu.'' Mengingat hal itu, membuat hati Ibnu teriris.
''Saat itu papa keluar kota, mama mu bermain dengan pria sangat kaya. Papa yang tahu saat itu menjadi marah, sedih, hancur dan gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik.''
''Papa memberikan mama kamu kesempatan untuk meninggalkan pria itu. Tapi dia tidak mau, dia pergi dengan pria lain, sementara di rumah ada papa. Mama kamu selingkuh saat kamu masih dalam kandungannya.''
‘’Hingga saat itu, papa sudah tidak tahan lagi dengan sikap Livia. Papa memutuskan menceraikan mama kamu setelah kamu lahir.''
‘’Setelah kamu lahir, Livia tidak mengizinkan papa untuk bertemu dengan kamu. Papa lebih dulu stres daripada mama kamu Fatur. Papa stres dan ingin mengakhiri hidup papa, hingga suatu saat, papa bertemu dengan Tari, dia sedang menjual bunga, dia berhasil menghentikan papa agar tidak terjun dibawa derasnya sungai saat itu.''
Ibnu menangis jika kembali mengingat hal itu.
‘’Beberapa bulan, papa bisa meluapkan mama kamu, meski cinta dan kenangan itu masih ada. Papa melihat mama kamu dan Pria itu bahagia dan menikah. Hingga akhirnya papa memutuskan untuk menikahi Tari. Meski tanpa cinta saat itu, karna hati papa masih untuk mama kamu, nak. Tapi seiring berjalanya waktu, papa mulai mencintai Tari, meski cinta di dalam hati papa masih ada untuk mama kamu.''
‘’Papa harap, setelah papa cerita mengenai kebenaran ini, kamu akan paham dan mengerti.''
''Papa pulang dulu.'' Ibnu pamit pergi meninggalkan Fatur, membuat Fatur mengepalkan tanganya, hingga sprei bansal dia cengkeram begitu kuat.
Fatur menitihkan air matanya, dia bisa melihat papahnya bicara begitu menghayat hati, Fatur bisa melihat, jika papanya tidak mengarang cerita tadi.
__ADS_1
‘’Gue belum bisa nerima kehadiran, Ardian. Sebagai adik gue,'' ringis cowok itu, sudah lama dia mengetahui jika dia dan Ardian saudara.
Hingga saat ini, Fatur belum bisa menerima semuanya. Dia tidak bisa menrima, jika Ardian adalah adiknya.
Cowok itu menghembuskan nafas berat, hingga pintu ruanganya di buka oleh Arya.
''Loh, papa papa lo mana, Tur?'' tanya Arya, saat mereka ke kantin tadi, papanya Fatur masih ada di sini.
''Balik,'' jawab cowok itu singkat.
Frizal, Arya, Ical, Doni dan Tio mengangguk kecil dengan jawaban yang Fatur berikan tadi.
''Gue mau pulang ke markas.'' Fatur mencabut selam infus yang berada di tanganya, membuatnya meringis.
‘’Jangan dulu, Bos. Dokter belum kasi izin untuk pulang,'' ucap Ical.
‘’Besok pagi kita pulang, Tur,'' potong Arya.
''Gue malas di sini,'' ucap cwok itu dengan lesuh.
''Nggak bakalan malas, kalau kita ada di sini,'' ucap Doni dan mereka mengangguk mengiyakan ucapan Doni.
Entahlah, Ardian pulang dari mana. Yang jelas cowok itu singgah di rumah sakit, entah ingin menjenguk siapa.
Ardian melepaskan helmnya, lalu menyimpannya diatas motor. Lepas itu, dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit.
Ardian bersembunyi di balik dinding rumah sakit, saat melihat Ibnu berjalan dari arah berlawanan, Ardian bisa menebak jika papanya baru ingin pulang kerumah sakit.
Setelah Ibnu melewati Ardian, tanpa ketahuan, Ardian kembali melanjutkan langkah kakinya, setelah punggung Ibnu sudah menghilang.
Dia mencari ruangan Fatur, Ardian berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Fatur.
''Ada yang bisa kamu bantu, kak?'' tanya bagian resepsionis itu kepada Ardian.
‘’Pasien atas nama Fatur, ruangan mana?'' tanya Ardian dengan dingin.
''Nama lengkapnya siapa kak, ada bebarapa nama pasien atas nama Fatur,'' ucap resepsionis itu, membuat Ardian nampak berpikir.
''Saya tidak tahu nama lengkapnya, yang saya tahu umurnya 20 tahun. Sekitar jam 1 siang tadi, dia di larikan kerumah sakit ini, kar—''
''Kalau Fatur yang itu. Ruanganya di ruangan melati. Kamar vvip nomor 12,'' potong resepsionis itu.
Ardian langsung melenggang pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada bagian resepsionis itu.
__ADS_1
Bagian resepsionis itu menggelengkan kepalanya, melihat punggung Ardian yang sudah pergi menjauh.
Ardian langsung mencari ruangan melati, kamar vvip nomor 12. Langkah kaki cowok itu tehenti, saat melihat kamar itu sudah berada di depanya.
Ardian ingin masuk, namun suara seseorang langsung menghentikan pergerakan tanganya untuk membuka handel pintu kamar.
''Ardian. Kamu ngapain di sini?''
Ardian membalikkan tubuhnya, melihat Salsa berada di belakangnya.
''Kamu di sini, berarti Rafael juga ada,'' ucap gadis itu dan dibalas gelengan kepala oleh Ardian.
Salsa takut melihat wajah Ardian yang nampak lebih menyeramkan dari sebelum-sebelumnya.
Ting...
Ponsel Salsa bergetar, dia melihat pesan rupanya dari Nanda.
“Sal, kalau lo lihat Ardian, kabarin gue yah.”
Salsa yang membaca pesan Nanda lalu menatap Ardian.
Tangan gadis itu mengetik pesan.
“Maksud kamu, Ardian anak ARIGEL?”
Ting...
“Iya.”
Salsa kembali menatap Ardian.
“Ini aku lihat Ardian di rumah sakit. Aku lagi berhadapan sama.”
Nanda yang membaca pesan dari Salsa dengan cepat membalas pesan gadis itu.
“Kamu serius? Gue minta tolong, lu tahan dia. Jangan sampai kemana-mana. Gue kesana sekarang.”
Ting…
“Ok, buruan. Ardian pasti nggak mau nunggu lama.”
Nanda langsung memakai cardigan rajut nya, gadis itu menepuk jidatnya, bagaimana bisa dia minta izin dengan mamanya, sementara Gina sudah tidur, karna sudah tengah malam begini.
__ADS_1
Ok, gadis itu pergi tanpa memberitahukan Gina. Dia akan pulang, sebelum pagi datang.