ARDIAN

ARDIAN
Gue pergi duluan (Gerald)


__ADS_3

Orang-orang berkerumun, melihat sosok anak muda, kecelakaan dan tubuhnya di lumuri oleh darah begitu banyak.


Tubunya sudah di lumuri darah, bukan hanya tubuhnya yang di lumuri darah, tapi juga wajahnya di lumuri darah, sehingga orang-orang tidak mengenal lekuk wajah cowok itu.


Raga, papinya Gerald langsung menangis di dekat tubuh anaknya itu, orang-orang tidak ada yang berani melihatnya begitu dekat, karna takut.


Hingga mobil ambulance datang, turun dan mengangkat tubuh Gerald masuk kedalam mobil ambulance untuk segera membawa Gerald kerumah sakit.


''Bapak yang sabar. Ikhlaskan anak bapak. Sang pencipta lebih dulu memanggilnya. Orang baik memang Allah ambil lebih dulu pak.''


Raga menangis, aspal dihadapnya di lumuri darah milik sang anak.


''Anak saya masih hidup!'' ucap Raga yakin, meski dengan mata kepalanya dia melihat anaknya sudah tidak bergeming lagi.


Orang-orang di sana berpendapat jika Gerald sudah tidak ada. Raga naik keatas mobil ambulance, dia yakin anaknya masih hidup, meski kemungkinannya hanya kecil.


Alat-alat di dalam mobil ambulance, langsung melekat pada tubuh Gerald.


Raga menggenggam tangan anaknya, ''papi yakin, kamu kuat, nak. Mami kamu akan menderita kalau kamu pergi.'' Air mata Raga turun.


''Pasien sangat kritis!'' ucap perawat dari belakang, membuat supir ambulance langsung melajukan mobilnya untuk segera kerumah sakit.


''Hanya kemungkinan kecil, anak bapak akan selamat,'' ucap perawat itu kepada Raga.


Perawat tersebut langsung memasang oksigen, meski dia tahu oksigen saja tidak akan mampu membuat cowok itu kembali. Namun dia tetap memasangnya, berharap ada keajaiban dari sang pencipta.


Ucapan Perawat tersebut membuat air mata Raga semakin luruh, dadahnya begitu sakit mengetahui jika keadaannya anaknya sangat kritis.


Istirinya akan menangis dan mengamuk jika tahu hal ini.


''Anak papi, kamu harus bertahan ya, nak. Kamu nggak mau lihat'kan mami sama papi tersiksa kalau kamu pergi? Papi mohon, bertahan.'' Raga mencium tangan Gerald yang sudah berlumuran darah.


''Ada cinta, cita-cita, yang harus kamu kejar nak. Ada mami kamu yang membutuhkan kamu, nak. Ada papi, semua akan hampa kalau kamu pergi.'' Raga mendongakkan kepalanya, memohon kepada sang pencipta agar anaknya selamat.


Dia yakin, anaknya akan selamat meskipun rasa sakit itu menggerogoti tubuh milik Gerald anaknya.


Hujan turun membasahi bumi, darah milik Gerald yang berserahkan di aspal, hilang karna derasnya hujan membasahi bumi malam ini.


Gue udah nggak kuat. Gerald sayang sama papi dan mami. Jaga diri kalian. Nanda Raisa Arabela, maaf kalau kepergian aku bakalan buat kamu kembali menangis. Gue sayang sama kamu, Ara. Gue pergi duluan.


🦋


Sekitar 15 menit, Ardian keluar, cowok itu menggunakan kaos oblong yang sangat pas untuk tubuhnya, harganya juga sangat pas untuk golongan orang kaya seperti Ardian.

__ADS_1


''Lo kenapa sih?'' tanya Ardian, cowok itu memperhatikan Nanda mondar-mandir.


''Gue minta tolong sama lo, hubungi teman lo. Tanyain ke mereka, apa Gerald ada sama mereka,'' ucap Nanda.


Ardian heran dengan gadis itu, namun tak urung cowok itu mengambil ponselnya untuk menghubungi Rafael.


Drt...


Rafael yang sedang bermain kartu bersama Izam, Ethan dan juga Leo. Cowok itu melirik ponselnya yang berdering.


''Siapa?'' tanya Leo.


''Ardian,'' jawab Rafael.


‘’Angkat aja dulu, siapa tahu penting,'' ucap Ethan dan dibalas anggukan kepala oleh Rafael.


''Halo,'' sapa Rafael.


''Gerald ada sama kalian?'' tanya Ardian.


''Nggak ada, dari pulang sekolah, cuman gue sama Leo, Ethan dan Izam di sini. Gerald nggak pernah muncul,'' balas Rafael.


Ardian melirik Nanda, terpancar wajah khawatir di raut wajah gadis.


''Ok, gue tutup telfonya!''


''Gimana?'' tanya Nanda, setelah Ardian memutuskan sambungan telfonya dengan temanya.


''Gerald nggak pernah sama mereka, semenjak pulang sekolah. Emang kenapa sih? Gue penasaran juga.'' Lama-lama Ardian menjadi kesal dengan Nanda.


‘’Gimanapun Gerald sahabat gue, bukan cuman lo yang sahabatan sama Gerald. Meskipun gue suka sama cewek yang dia sukai, tetap aja Gerald sahabat gue.'' Jelas Ardian panjang kali lebar kepada Nanda.


Nanda menghembuskan nafas berat. ''Gue nggak tahu, tiba-tiba gue mikirin sahabat gue. Gue rasa ada hal buruk yang menimpa Gerald sekarang. Mungkin dia sahabat gue sejak kecil, jadi gue bisa rasain ini semua,'' balas Nanda membuat Ardian terdiam.


Begitu kuatnya hubungan persahabatan mereka?


''Gerald nggak akan ken—''


Drt...


Ponsel milik Nanda bergetar, gadis itu mengembuskan nafas legah, saat melihat nama yang terterah di layar ponselnya, cowok yang membuatnya khawatir seperti ini.


‘’Gue angkat dulu, dari Gerald,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.

__ADS_1


''Halo, Rald. Kamu kemana aja sih!'' Kesal Nanda. ''Aku khawatir tau nggak.''


Nanda terdiam, saat mendengar isakan tangis dari ujung Telfon.


''Ra.''


Nanda kenal suara ini, suara ini adalah suara milik maminya Gerald.


''Tante, tante kenapa nangis? Gerald nya mana, Tan?'' tanya Nanda, suara isakan tangis dari seberang semakin jelas, membuat jantung gadis itu berdetak kencang.


Bahkan, jantungnya lebih cepat berdetak ketimbang saat dia melihat papahnya bergandengan tangan dengan wanita lain.


''Tante,'' panggil Nanda, karna maminya Gerald belum juga menjawab pertanyaanya,wanita itu masih trus terisak.


''Speker,'' ucap Ardian yang merasa ada yang tidak beres.


Nanda akhirnya meng-speker telfonya, Ardian mendengar jelas suara tangisan itu.


''Tante, dengerin Ara, ya, Tan. Tante kenapa? Gerald nya mana, Tan?''


''Ra....Gerald kecelakaan. Sekarang tante di rumah sakit Medika.''


Deg....


Ponsel milik Nanda langsung jatuh begitu saja. Ardian juga sama terkejutnya, Nanda lunglai, hampir saja dia terjatuh, untung saja Ardian gercep menangkap tubuh gadis itu.


‘’Gerald, sahabat gue.'' Air matanya langsung luruh begitu saja.


‘’Kita kerumah sakit sekarang.'' Ardian mengambil ponsel gadis itu yang terjatuh, lalu dia menggandeng tangan Nanda menuju motornya.


Terlebih dahulu, Ardian menelfon para sahabatnya, menberitahukan berita ini, jika Gerald sedang kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit Medika.k


🦋


Raga, papinya Gerald mengusap rambut milik istrinya yang sedari tadi menangis, istrinya itu menyandarkan kepalanya di pundak milik Raga.


''Kita berdoa, sayang. Semogah anak kita bisa segera sadar.'' Raga mengusap air matanya, dia melihat dengan jelas tubuh milik anaknya di lumuri dengan darah.


Tidak ada yang berani mengangkat anaknya saat itu, karna di penuhi dengan darah segar, bahkan wajah Gerald berlumuran darah segar.


Hingga mobil ambulance datang, Raga mengangkat tubuh anaknya masuk kedalam mobil ambulance.


Bahkan orang-orang di sana mengatakan, jika anaknya itu sudah tidak ada lagi. Namun Raga tetap membawa anaknya kerumah sakit.

__ADS_1


Dia yakin, anaknya kuat, Gerald tidak lemah. Dia yakin, anaknya masih hidup.


''Aku nggak bisa bayangin, kalau Gerald ninggalin kita, Pi. Papi tahu sendiri, Gerald anak satu-satunya kita!''


__ADS_2