
Kedua orang tua Ardian telah pulang, sementara anak kesayangannya masih setia disini.
Boy melirik Ardian, cowok itu kembali duduk di kursinya. "Kenapa lo nggak balik?" tanya Boy, lalu dia ikutan duduk di samping Ardian.
"Mau jagain cewek gue," jawab Ardian tanpa melirik kearah Boy.
Entah mengapa, setiap ucapan Ardian begitu menyebalkan di telinga Boy. Apa mungkin karna cowok itu mempunyai hubungan spesial dengan adiknya. Atau dia cemburu, karna cowok di sampingnya adalah sosok yang di gilai oleh calon istrinya, Greta.
"Ada gue yang jagain," balas Boy lagi.
"Gue nggak minta persetujuan buat jagain cewek gues sendiri," balas Ardian lagi. Dia tahu, jika Boy secara tidak langsung menyuruhnya untuk pulang.
Boy tidak membalas ucapan Ardian lagi, karna setiap kata yang dia ucapkan, akan ada jawaban dari cowok itu.
"Eh, lo mau kemana?" tanya Boy, setelah beberapa menit mereka berdua di selimuti keheningan.
__ADS_1
"Kedalam, mau tidur. Sambil jagain cewek gue." Ardian langsung melenggang pergi meninggalkan Boy.
Boy lagi-lagi berdengus kesal, dia yakin Ardian sengaja menggunakan kata 'cewek gue'. Seperti ingin mengatakan bahwa dia mempunyai hak terhadap adiknya itu.
Boy langsung menyusul Ardian ke dalam. Dilihatnya, cowok itu tengah mengobrol dengan Nanda. Rupanya Nanda sudah bangun dari tidurnya.
"Mau makan? Biar gue suapin makanannya," kata Ardian. Dia tidak melepaskan tatapan matanya dari wajah pucat gadis itu.
"Gue nggak lapar," jawab Nanda.
Ardian menggeser kursi di dekat bansal gadis itu, lalu berucap. "Serius lo nggak mau di suap? Seharusnya lo bahagia bisa gue suapin. Banyak cewek diluar sana, ngantri mau gue suapin. Tapi gue nggak mau. Gue cuman mau nyuapin cewek gue sendiri." Ardian bicara panjang kali lebar, membuat Boy yang mendengar nya dngan jelas, memutar bola matanya malas.
Ardian dan Nanda kembali bertatapan. "Mau ya gue suap? Kalau lo nggak mau, gue bakalan paksa lo. Biar lo makan," jelas Ardian enteng membuat Nanda tersenyum tipis.
"Kalau gue mau makan, lo bakalan diam? Dan sejak kapan juga, cowok irit bicara kayak lo, jadi cerewet kayak gini?" Nanda menaikkan alisnya sebelah, membuat Ardian terdiam dengan ucapan Nanda barusan. "Jangan bilang karna gue."
__ADS_1
"Kalau gue bilang karna lo, emang ada masalah? Nggak ada 'kan?"
"Iya, tap--" Nanda menggantung ucapannya, karna Ardian langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir pucat miliknya.
"Jangan banyak omong sekarang. Lo harus makan, terus minum obat. Lepas itu lo tidur. Ini udah tengah malam," kata Ardian tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Nanda. Jari telunjuknya masih setia menempel di bibir pucat gadis itu.
Nanda tertegun, entah mengapa dia jatuh pada pesona cowok di depannya. Jujur saja, yang paling Nanda sukai dari Ardian adalah mata milik cowok itu yang tajam, membuat nya makin tampan.
Ardian mengambil bubur diatas nakas, siap untuk menyuapi Nanda.
"Buka mulutnya." Ardian memberikan intruksi pada gadis itu.
Sementara Nanda masih diam, dia masih menatap wajah Ardian tanpa berkedip. Apakah dia harus bersyukur, di saat seprti ini, ada sosok pacar yang menemaninya? Menghilangkan rasa sepi pada hatinya?
"Udah puas lihat muka tampan gue?"
__ADS_1
Jleb...