
Hening...
Setelah Puri mengucapkan kata tersebut, tidak ada yang angkat suara. Bahkan Kesya hanya diam saja. Entah mengapa mereka merasa Kesya hanya diam saja, tidak membalas ucapan Puri.
"Ri,"tegur Pute, "nggak baik berprasangka buruk sama orang," bijak gadis itu.
"Gimana sih, Put. Kita udah tahu gimana jahatnya Kesya. Gue yakin dia nggak bakalan tinggal diam,'' jelas Puri lagi, "seharusnya dia bersyukur punya sodara kayak Nanda, seharusnya Nanda yang ngamuk saat papa nya nikah lagi, bukan malah sebaliknya," singgungnya kepada Kesya.
"Terserah lo mau ngomong apa," sahut Kesya bodoh amat pada Puri.
"Udah, nggak usah ribut." Pute menengahi antara Kesya dan Puri, meskipun yang banyak omong adalah Puri, hanya sekali saja Kesya membalasnya.
Di dalam mobil kembali hening, hingga mereka sampai di depan pagar rumah Nanda. Cika membunyikan klakson mobil lalu satpam dengan gerakan cepat membuka gerbang yang menjulang tinggi.
Ke empat gadis itu turun dari mobil, mereka berjalan menuju pintu utama, yang sudah di buka oleh pelayan di rumah Nanda.
"Silahkan masuk," kata bibi dengan ramah dan dibalas anggukan oleh gadis itu dengan ramah pula.
"Langsung ke kamar non Nanda saja, dia menunggu di dalam kamar," kata Bibi itu setelah menutup pintu utama.
"Baik, bi," kata Pute lalu mereka berjalan menuju kamar Nanda, melewati ruang tamu, disana ada Boy yang tengah menonton tv.
"Buatin mereka bertiga minum, bi," perintah Boy tanpa melihat kearah ke empat gadis itu, karna dia tengah serius menonton tv. Mereka terdiam, mereka berempat tapi Boy menyuruh Bibi buat minum untuk tiga orang saja.
"Hai, kak Boy," sapa Puri dengan sangat ramah, gadis itu mendapatkan bintang lima atas keramahanya pada Boy.
Boy membalas sapaan Puri dengan senyuman hangat, ''juga, Puri ya?" tanya Boy, karna dia tidak terlalu menghapal nama teman-teman aiknya.
"Iya, dong. Masa lupa sama Puri," balas gadis itu dengan cengiran.
__ADS_1
"Kalian bertiga mau lihat Nanda 'kan, kalian keatas aja," kata Boy lagi mentap Cika, Pute, Puri dengam ramah, lalu tatapan sinis untuk Kesya.
Pute tertawa kecil, "Kak Boy nggak lihat, kalau kita kesini berempat kak. Bukan bertiga," celutuk Pute membenarkan.
"Nggah usah di benerin kali, Ri, mungkin dia nya nggak kelihatan di mata kak Boy," sahut Puri membuat Boy tertawa kecil, meski otaknya menyuruh dirinya untuk mengusir Kesya dari sini. Namun dia tidak berani melakukan itu, karna ia dan Nanda sudah melakukan perjanjian sebelum teman-temanya kesini, termasuk berjanji untuk tidak mengusir Kesya.
"Yang di bilang Puri ada benarnya juga, mungkin satunya nggak telihat di mata gue, karna emang nggak sepenting itu," canda Boy, lebih tepatnya dia menyindir Kesya.
Entah mengapa Cika menjadi ksihan dengan Kesya, yang tidak di anggap oleh Boy. Padahal mereka masih saudara satu papa, meski berbeda ibu.
Ucapan Boy tentu saja membuat Kesya sakit hati, seharusnya Boy tidak mengatakan hal menyakitkan ini, karna bagaimanapun dirinya juga adik Boy. Kesya menarik nafasnya panjang, dia tidak boleh emosi.
Mereka pamit meninggalkan Boy, lalu berjlan menaiki anak tangga, mereka berempat akan ke kamar Nanda.
''Nanda, ini gue sama yang lain!" panggil Puri, setelah mereka tiba di depan pintu kamar Nanda.
"Buka aja, pintunya nggak gue kunci!" jawab Nanda dari dalam, lalu tangan Puri bergerak membuka handel pintu kamar Nanda.
Sementara Kesya memilih duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar Nanda, dia tidak ikut nimbrung diatas tempat tidur bersama mereka. Nanda menutup laptopnya karna teman-temanya langsung memeluk dirinya.
"Kangen banget gue sama lo, Nan," kata Pute dengan memeluk Nanda erat, meski mereka baru kenal, mereka merasakan kenyamanan berteman dengan Nanda.
"Bener kata Puri, kita kangen sama lo. Kita selalu nungguin lo di klas tapi lo malah nggak ke sekolah. Ternyata lo sakit, tapi kenapa nggak bilang sih, Nan. Kalau lo sakit, biar kita jengukin lo. Lo nya juga hilang kabar, kayak udah di telan bumi, susah banget buat di hubungin," cerocos Puri panjang kali lebar.
"Bukanya nanya kabar, kalian malah ngomel kayak kereta api," kataCika seraya menggelengkan kepalanya, ''gimana keadaan lo?" tanya Cika pad Nanda.
"Gue udah membaik, makasih udah perhatian sama gue," ucap Nanda tulus di sertai senyuman hangat di wajahnya, lalu manik matanya bertemu dengan mata Kesya yang memilih duduk di sofa.
Kesya langsung memalingkan wajahnya, tidak ingin bertatapan dengan Nanda.Jujur saja, Nanda masih terkejut gadis itu ada di sini, padahal mereka semua tahu jika Kesya mengibarkan bendera perang padanya.
__ADS_1
Nanda masih mengingat ucapan Iksan, mengatakan jika bukan hanya Boy saja kakaknya, Kesya juga kakanya, walau hanya berbeda sedikit saja, tetap saja Kesya yang mendapatkan gelar kakak.
"Salsa udah ke jepang," kata Puri lesuh, mereka sudah melepaskan pelukanya pada Nanda.
Nanda langsung tertegun, ia lupa jika saat ini Salsa sudah tidak ada, gadis itu sudah di negara orang, mengikuti kedua orang tuanya.
"Kita tinggal berempat, karna Salsa udah ninggalin kita di sini," lanjut Puri.
"Berempat?" Nanda menaikkan alisnya sebelah.
"Iya, Nan. Kita tinggal berempat, karna Salsa udah nggak ada," balas Puri lagi.
"Kita masih berlima, Kesya msih ada. Kesya nggak ninggalin kalian dengan mudahnya," kata Nanda membuat Pute tersenyum mengejek kearah Puri. Sementara Puri memutar bola matanya malas kearah Pute.
Sementara Kesya yang di sebut namanya menatap Nanda, sehingga mereka berdua beradu pandang, dapat Kesya lihat manik mata Nanda begitu lembut menatapnya tanpa dendam, mungkin karna gadis itu berpikir dewasa, ketimbang dirinya egois. Tunggu, sejak kapan Kesya mengakui dirinya egois?
Tatapan mata Nanda mampu membuat Kesya campur aduk.
Kesya tengah bergulat dengan isi kepalanya saat ini, di dalam kepalanya menngatakan, jika seharusnya Nanda yang marah padanya dan menabur kebencian, bukan malah sebaliknya, karna yang jelas salah adalah mama nya dan kehadiran dirinya di kehidupan ini.
Pute sudah mengajak Kesya untuk gabung dengan mereka di sini, namun gadis itu menolaknya dan memilih duduk di kursi sofa.
Bibi datang membawa teh kotak Blackcurrant, lalu dia letakkan diatas tempat tidur atas perintah Puri dan jangan lupa cemilan yang mereka sukai.
"Makasih, bi," kata Nanda pada bibi tersebut.
Sang bibi mengangguk lalu tersenyum, "sama-sama non, udah kewajiban saya," kata sang bibi lalu melenggang pergi dari kamar gadis itu meninggalakan bersama para sahabatnya.
Pute turun dari tempat tidur, menghampiri Kesya, lalu ia berikan teh kotak dan juga cemilan. Dia mengambil posisi di dekat Kesya. "Are you alright?" tanya Pute karna Kesya hanya diam-diam saja.
__ADS_1
Kesya mengangguk sebagai jawaban, "gue nggak apa-apa."