
Ardian memasukkan ponsel nya kedalam saku celananya, setelah ia mengirimkan pesan kepada Nanda.
Cowok itu berjalan di Koridor sekolah dengan mata tajam nya fokus ke depan.
Anak kelas sebelah tengah belajar olahraga di lapangan, sehingga mereka melihat sosok Ardian berjalan di Koridor sekolah dengan tatapan matanya yang tajam.
Wajah cowok itu memar, para cewek-cewek tahu itu, apa lagi mereka melihat langsung bagaiamana brutal nya seorang Ardian menghajar lawannya, membuat nya makin di takuti di sekolah ini.
Meski wajah cowok itu memar, namun tidak mengurangi kadar ketampanan nya sama sekali. Malahan, cowok itu makin maco dengan luka di wajahnya yang tampan.
Orang ganteng mah beda, mau gimana pun tetap tampan.
"Ardian makin tampan aja!" kata salah satu murid yang tengah menatap Ardian penuh kagum, bersama teman-temanya yang lain.
Kelas lain tidak melihat nya, kelas mereka yang beruntung, karna kelas mereka tengah olahraga basket.
"Luka di wajahnya, buat dia makin tampan," timpal salah satu lagi dari mereka.
"Dia paling tampan di sekolah ini!"
"Anak-anak ARIGEL semuanya tampan-tampan!"
"Pak! Anak-anak cewek nggak fokus main basket. Mata mereka jelalatan lihat cowok tampan!" lapor salah satu cowok yang sedari tadi memperhatikan anak-anak cewek. Mereka semua fokus dengan sosok Ardian yang berjalan bak raja.
Anak-anak cewek memekik, karna di laporkan.
"Mau bapak kasi eror nilai kalian?!" pak Reno guru olahraga melotot mengancam murid perempuan nya, membuat mereka langsung fokus kembali.
Pak Reno menggeleng tak habis pikir, mengapa para perempuan suka cowok badboy? Kenapa tidak suka sama cowok god boy saja? Perempuan memang sulit di mengerti.
Leo, Rafael, Izam dan Ethan menunggu Ardian di parkiran sekolah, seraya membawa sling bag milik Ardian.
Mereka sudah melihat Ardian berjalan kearah mereka, dengan wajah nya yang makin datar dari biasanya, membuat mereka bergedik ngeri.
__ADS_1
"Cowok ganteng mah beda, biar muka memar, tetap aja gantengnya kelihatan. Bahkan makin ganteng," gumam Izam membuat Ethan tersenyum tipis. Karna apa yang di katakan Izam memang benar.
Ardian, cowok itu tampan dan menyeramkan dalam waktu bersamaan.
"Tas lo, Ar." Leo memberikan sling bag milik cowok itu, yang berisi buku kecil, pulpen dan kartu ATM..
"Lo baik-baik aja 'kan, Ar?" tanya Ethan.
"Emang lo pikir fisik Ardian, kayak fisik lo?" Izam menyiku perut Ethan.
"Basah-basih, Zam. Namanya sahabat," balas Ethan tak ingin kalah.
Ardian langsung mengambil tas nya, lalu memakainya. "Gue pulang duluan." Ardian memasang helm fullfecnya.
"Kalau lo butuh apa-apa, tinggal hubungin kita," ujar Rafael dan dibalas anggukan setuju oleh para sahabatnya.
Ardian hanya mengangguk kecil saja, di balik helm nya.
Motor Ardian sudah melaju pergi meninggalkan parkiran sekolah, meninggalkan empat sahabat nya.
"Masalah Ardian sama tuh anak baru apa sih?" Ethan bertanya entah pada siapa, saking penasaran nya dengan akar masalah Ardian.
Ini adalah masalah pribadi Ardian, sahabat nya tahu akan hal itu. Tapi, masalah apa yang Ardian punya?
"Kalau mau cari tahu, tanya aja sama Veer," usul Izam menggebu-gebu.
"Nggak usah cari tahu, entar Ardian ngomong sendiri. Kalau mood nya udah baik," kata Leo bijak dan dibalas anggukan oleh para sahabat nya.
Mereka meninggalkan parkiran sekolah. Jujur saja, mereka ingin ikut bolos bersama Ardian, namun cowok itu menyuruh mereka tetap di sekolah.
Deruman motor sport milik Ardian masuk ke pekarangan rumah. Tari yang sangat hapal suara motor milik Ardian, mengerutkan kening nya bingung. Lalu wanita itu melirik jam di pergelangan tangan nya. Baru pukul 11 siang, anaknya sudah pulang.
Tari meninggalkan dapur, dia ingin melihat Ardian dan bertanya, mengapa anaknya itu cepat pulang. Padahal Ardian sudah berjanji padanya, akan serius sekolah.
__ADS_1
"Ya ampun! Kamu berantem sama siapa, Ar?!"
Suara panik itu adalah suara milik Tari, saat melihat anaknya berjalan masuk kedalam rumah. Dia melihat wajah tampan anaknya babak belur, meski tidak terlalu parah, tetap saja Tari panik.
Dia sudah sering melihat wajah tampan itu memar. Namun satu bulan belakangan ini, dia tidak pernah melihat wajah anak nya itu di penuhi luka tonjokan, namun hari ini Tari melihat nya lagi.
"Berantem sama siapa lagi, Ar?" tanya Tari masih setia membolak-balikkan pipi Ardian ke kanan dan kiri. "Kamu berantem sama kak Fatur lagi? Kalau papa kamu tahu, kalian berdua bakalan dimarahin," lanjut Tari.
"Bukan sama Fat--"
Tari memberikan polotan untuk anak nya, membuat Ardian tahu apa kesalahannya.
"Ardian nggak berantem sama kak Fatur," jelas Ardian. Jika bersama Tari, dia harus memberi embel-embel 'kak' di belakang nama 'Fatur' karna Tari yang menyuruh nya. Itu adalah sebuah perintah yang wajib Ardian laksanakan.
"Terus kamu berantem sama siapa, nak?" tanya Tari lagi, dia menggandeng tangan Ardian menuju kursi sofa. "Tunggu di sini, mama ambil kotak obat dulu," lanjut nya lalu berjalan mengambil kotak p3k.
"Nggak usah, Ma. Lukanya udah di obatin sama Nanda," kata Ardian sehingga Tari mengurungkan niatnya itu.
Mendengar nama Nanda, membuat hati Tari bahagia. Itu berarti, Nanda perhatian dengan anak nya.
Tari duduk di samping Ardian, meneliti wajah Ardian, "berantem sama siapa? Kalau bukan berantem sama kak Fatur, kamu berantem sama siapa? Setahu mama ya, Ar. Kamu cuman punya musuh abadi itu Fatur. Papa udah buat kalian damai. Jadi kamu berantem sama siapa?" tanya Tari.
Wanita itu memberikan pertanyaan beruntun pada sang anak. Dia sampai meringis melihat wajah Ardian. Namun Ardian nampak santai saja, tidak ada raut kesakitan di wajah anak nya.
Apa Ardian mati rasa? Itu yang di pikirkan Tari. Maksudnya, kenapa anak nya itu tidak menampakkan rasa sakit nya itu. Mungkin karna dia sudah terbiasa kali ya.
Ardian menghembuskan nafas berat, jika mengingat mengapa dia menghajar Veer, membuat nya makin geram. Dia masih penasaran, siapa yang menyuruh cowok itu pindah ke sekolah nya, dan menyuruh nya menghacurkan hubungan nya dengan Nanda.
"Tangan Ardian cuman gatal, Ma," bohong nya membuat Tari bingung. "Tangan Ardian gatal mau nonjok orang," lanjut nya dengan santai membuat Tari melotot 'kan matanya.
Wanita itu langsung menjewer telinga sang anak. "Kalau tangan kamu gatal mau hajar orang, mendingan kamu tinju samsak aja, Ar. Gunanya samsak di beliin papa apa?" kesal Tari melihat watak anak nya itu. "Benar kata Nanda, kamu mau jadi tukang pukul."
Ardian terdiam. "Nanda ngomong kayak gitu, Ma?" tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.
__ADS_1