ARDIAN

ARDIAN
Nita


__ADS_3

Gerald membalikkan tubuhnya, menatap gadis itu menghampirinya.


‘’Kenapa?'' tanya Gerald, seraya menaikkan alisnya sebelah kearah gadis itu, membuat cowok itu semakin tampan, Nita tentu saja menjadi gugup.


Memperhatikan wajah Gerald dari jarak sedekat ini, membuat hatinya menjadi dejavu.


''Gue boleh minta tolong nggak?'' tanya Nita.


''Minta tolong apa?'' tanya cowok itu dingin. ‘’Buruan ngomongnya, gue buru-bur ke ruangan kepala sekolah,'' lanjut Gerald seraya melirik jam di pergelangan tanganya.


‘’Pulang sekolah nanti, gue boleh nebeng sama lo nggak? Soalnya, motor gue lagi rusak, tadi pagi gue bawa ke bengkel,'' ungkap gadis itu membuat Gerald diam sejenak.


''Please,'' lanjut gadis itu dengan memohon kepada Gerald.


''Ok.''


Gerald langsung pergi meninggalkan Nita, karna dia buru-buru ke ruangan kepala sekolah, namun gadis sekretaris osis itu memanggil dirinya.


Nita tersenyum kemenangan melihat punggung Gerald, yang semakin menjauh. Setidaknya, rencananya untuk pulang bareng Gerald bukan hanya sebatas rencana saja.


Nita sudah tidak sabar lagi, menunggu bell pulang sekolah berbunyi, karna dia akan pulang bersama dengan Gerald.


''Nita. Tugas dari Gerald belum selesai. Ngapain lo berdiri di situ!'' panggil Dio, karna yang menghandel semuanya di dalam adalah Dio. Sementara Nita ada di luar.

__ADS_1


''Ok, bentar.''


Nita langsung berjalan menuju ruangan osis, dengan senyuman masih melekat di wajahnya itu.


Bahkan, Dio sampai begedik ngeri melihat gadis itu, senyum-senyum sendiri bak orang gila.


‘’Kesambet apa lo?'' tanya Dio yang hanya di abaikan oleh Nita saja.


Mereka mengarahkan kepada anggota osis lainya, apa saja yang akan mereka mulai lakukan minggu depan, untuk persiapan pentas seni di sekolah ini.


Tok...Tok...Tok


Gerald mulai mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.


Gerald langsung membuka pintu ruangan kepala sekolah, lalu cowok itu berjalan masuk.


''Ada apa Gerald?'' tanya kepala sekolah. ‘’Duduk dulu,'' lanjutnya, lalu cowok itu duduk didepan kepala sekolah.


Cowok itu menyodorkan sebuah amplop di depan meja. ''Ini bu, surat mengenai pentas seni yang akan di adakan di sekolah,'' ucap Gerald dan dibalas anggukan kepala oleh ibu Arma.


''Baiklah.'' Kepala sekolah mengambil amplop itu. Lalu Gerald pamit undur diri, karna banyak yang ingin dia urus.


****

__ADS_1


Kantin...


Kesya sedari tadi diam, pikiranya di penuhi dengan nama Salsa dan juga Cika. Sementara Puri sedang memesan makanan untuk Pute dan juga Kesya.


''Nggak usah di pikirin,'' ucap Pute, karna sedari tadi dia melihat Kesya sibuk dengan pikiranya.


Huft...


''Put, menurut lo gue salah?'' tanya Kesya.


''Hmm....'' Pute berdehem, seraya meminum es jeruk yang dia minum.


''Kalau salah sih, lu emang salah, Sya,'' ucap Pute. ‘’Tapi, lo tenang aja, gue nggak bakalan ninggalin lo, kok. Karna manusia itu tempatnya khilaf,'' lanjut Pute.


Pute menghentikan obrolannya dengan Kesya, saat Puri datang membawa makanan untuk mereka.


Puri mulai meletakkan makanan yang mereka pesan diatas meja, lalu ketiganya makan dengan khidmat.


Sekali-kali Kesya menghembuskan nafas berat, karna makan bertiga membuatnya ada yang kurang.


''Lo kenapa, Sya? Apa lo mikirin mereka? Nggak usah di pikiran, Sya. Teman kayak mereka nggak pantas buat di pikirin,'' ucap Puri, sementara Kesya tidak membalas ucapan Puri.


Padahal, Kesya harap sahabatnya itu datang menghampirnya di sini, dan meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2