ARDIAN

ARDIAN
Patah hati Izam


__ADS_3

Boy menyruh cewek-cewek untuk diam dulu, terutama Puri yang sepertinya akan berdebat dengan Kesya, namun berhasil di tangani oleh Ethan, agar gadis itu tidak beradu mulut dengan Kesya, padahal mereka itu sangat dekat, namun tiba-tiba saja mereka bermusuhan, padahal mereka semua tahu jika Puri dan Kesya bagaikan lem yang akan terus melekat.


"Gue duluan ya, mau ajak Puri jalan-jalan dulu," pamit Ethan lalu pergi meninggalkan mereka. Dengan setia dia menarik tangan Puri untuk pergi.


"Asik pacaran aja lo, sekolah yang benar Sethan!" teriak Izam yang tidak di gubris oleh Ethan yang sudah berlalu pergi meninggalakan mereka semua.


"Iri mulu lo, Zam,'' celetuk Leo yang hanya dibalas kedipan bahu oleh Izam.


"Kalian pasti bertanya-tanya `kan, kenapa gue milih nih tempat," kata Boy menatap mereka satu persatu, dia bagaikan pemimpin untuk anak-anak remaja ini.


"Iya dong, kalau ada Puri sih, dia bakalan nyahut paling depan," kata Pute.


"Gue nggak penasaran tuh." Izam membuang muka, entah mengapa ada saja halangan untuk dirinya mendekati Greta.


Boy menatap Izam, "saya nggak nanya tuh sama kamu," balas Boy acuh.


Nanda menggelengkan kepalanya pelan, "sejak kapan bang Boy jadi aktif begini," timpal Nanda membuat Pute, Leo tertawa.


"Mungkin kak Boy nyambung-nyambung aja ngobrol sama kita," sahut Pute.


Boy memutar bola matanya malas, sementara Kesya menyesali telah ikut, andai saja dia tidak ikut, dia tidak akan membuang waktunya yang berharga ini.


"Gue milih pasar malam, karna Greta maunya ke pasar malam," kata Boy dengan raut wajah santai.


Namun tidak dengan Izam yang membulatkan matanya sempurna, dirinya tidak salah dengar `kan?


Sementara Rafael langsung mengangkat alisnya sebelah, jawaban dari pria dewasa itu sukses membuatnya sedikit bingung dan pensaran, apa mereka dekat? Itu yang di pikirkan oleh Rafael.

__ADS_1


Cika yang tadinya fokus membaca langsung menatap kedepan, matanya tidak menatap buku yang ia baca lagi, dia terkejut dengan apa yang Boy katakan barusan, dia pikir pria itu hanya bercanda saja dengan ucapanya saat di mobil, namun melihat raut wajah serius Boy membuat Cika mulai percaya hubungan dokter Boy dengan sosok pembuat onar itu.


Tapi mengapa harus Greta? Pertanyaan itu langsung menyerang tiba-tiba, sebagai bukti penasaranya.


Sementara Leo hanya tersenyum tipis, kali ini dia kasihan dengan sahabatnya Izam, karna lagi-lagi cintanya akan bertepuk sebelah tangan, dia pikir dengan mengubur cinta Greta pada Ardian, akan membuat Izam muda mendapatkan Greta, namun ternyata dugaanya sangat salah.


"Mereka beneran punya hubungan istimew," ucap Pute dengan suara pelan, yang hanya di dengarkan oleh Leo saja.


"Iya, gue sampai kasihan sama Izam," kata Leo seraya melirik Izam yang masih syok.


"Greta adalah calon istri saya, kedekatan saya dengan Greta hanya kalian saja yang tahu, jika sampai berita ini tersebar di sekolah kalian, saya tidak akan segan-segan mencari kalian," ancamnya pada mereka, seraya menatap mereka dengan tatapan serius, tidak ada raut wajah bercanda dari wajah pria itu, "saya dengan Greta akan menikah minggu ini, saya harap kalian merahasiakan hal ini sampai lulus," kata Boy lagi, "saya sengaja mengatakan hal ini, agar kalian tahu dan tidak macam-macam lagi dengan Greta, karna  kalian akan berurusan dengan saya."


Mereka semua semakin di buat terkejut dengan ucapan Boy barusan, mereka pikir Boy dan Greta deket hanya untuk pacaran saja, lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh Boy.


Rahang Izam terjatuh, kata menikah sungguh membuat hatinya tersayat, apa lagi ini Gret. Rafael dan Leo menahan nafas, meski mereka belum dekat dengan Boy, namun mereka cukup terkejut jika Boy menikah dengan Greta, apa lagi gadis itu masih sekolah.


Nanda hanya diam saja, karna dia sudah tahu dari Boy, saat pria itu pulang dari rumah sakit, meski ia sedikit tidak rela, karna ia tidak bisa membantah kemaun mamanya, karna ia menginginkan Boy untuk segera menikah.


Hanya saja, calon istrinya masih duduk di bangku SMA, pernikahan mereka akan di rahasiakan, jangan  sampai pihak sekolah tahu.


"Kak Boy beneran,'' gumam Pute yang masih tidak percaya.


Boy menatap Izam, cowok itu belum berkedip sama sekali.


Boy menarik nafasnya lebih dulu, sebelum melanjutkan ucapanya,  ia menatap Izam lebih dulu, "saya tahu, kalau kamu menyukai Greta sejak dulu, saya tidak melarang perasaan kamu itu, karna perasaan manusia tidak bisa di kontrol untuk tidak menyukai seseorang," ada jeda di ucapan Boy, "tapi mulai sekarang, saya  minta kubur perasaan mu itu, karna tidak lama lagi saya akan menikah dengan Greta."


Izam menahan nafasnya, bahkan untuk bernafas pun dia berat, seperti pasokan oksigen di sekitarnya itu lenyap. Saat video Greta tersebar, ia masih tetap mencintai gadis itu. Tapi untuk hal ini, apakah rasa cintanya akan benar-benar pergi.

__ADS_1


Mereka semua melirik Izm, bahkan wajah cowok itu pucat, Rafael yang selalu berkata pedas pada Izam ksihan pada cowok itu, ia tahu betapa lelahnya cowok itu menunggu balasan cinta Greata.


Izam menghembuskan nafas berat, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun saat ini.


"Masih banyak cewek diluar sana yang lebih dari gue. Gue yakin, suatu saat lo bakalan nemuin gadis yang mencintai lo balik." Greta yang sedari tadi diam menyimak, akhirnya angkat suara.


Sebenarnya Greta ingin memotong ucapan Boy tadi, karna dia mengatakan hal besar ini pada anak ARIGEL juga,namun mendengar alasan Boy yang masuk akal, membuat Greta setuju-setuju saja, dia yakin tidak ada yang akan berani mengatakan hal ini pada pihak sekolah, karna mereka akan berurusan dengan Boy.


Izam balas menatap Greta dengan tatapan hampa, pertama kalinya dia melihat Greta tersenyum tulus padanya. Dia tahu, jika senyuman tulus itu adalah senyuman selamat tinggal rasa yang pernah ada.


Izam tersenyum kecil pada Greta dan Boy, "andai saya tahu, Greta calon istri dokter Boy, udah dari tadi saya pindah kursi, nggak pake ribut sama dokter Boy." Izam tertawa kecil, tawa  yang mereka tahu jika tawa bernada menahan tangis. ''Selamat ya," Izam cengengesan kearah Boy dan Greta, padahal matanya memerah.


Izam berdiri dari kursinya, "gue pamit ke toilet dulu."


"Zam, lo nggak terus pulang `kan?" tanya Rafael membuat Izam menggeleng.


"Nggak lah, lo pikir gue bakalan pulang dengan full gas karna patah hati?'' kata Izam. "Lo tenang aja, gue nggak akan kayak gitu, makasih udah perhatian Rafael cabe," lanjutnya dengan cengegesan lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Tersisa hanya mereka bertujuh saja di tempat mereka, karna Izam, Ethan dan Puri sudah berlalu pergi.


Kesya yang mendengar dengan seksama, sedari tadi mengepalkan tanganya, giginya menggerutu.


BRAK....


Yang menggebrak meja adalah Kesya membuat mereka semua terkejut, gadis itu  menatap Boy dan Greta bergantian.


"BULSHIT LO PADA!"

__ADS_1


__ADS_2