
Rafael membuka pintu utama rumahnya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah kedua orang tuanya.
Bram dan Lita menatap Rafael dengan lekat, anaknya itu masuk kedalam rumah, tatapan kedua orang tuanya tidak lepas dari dirinya.
''Rafael,'' panggil Lita, membuat langkah kaki Rafael terhenti.
''Sini,'' lanjut Lita, sehingga Rafael langsung menghampiri kedua orang tuanya di ruangan keluarga tersebut.
Rafael menatap Lita dan Bram secara bergantian, kedua orang tuanya duduk di sofa mewah rumah mereka.
''Kamu tau, kenapa mamah sama papah nyuruh kamu pulang malam ini di rumah?'' tanya Lita.
Rafael tersenyum getir, kedua orang tuanya memang tidak terlalu peduli padanya. Mau dia pulang kerumah atau tidak, orang tuanya mana peduli.
Malam ini Rafael patut mempertanyakan, mengapa Bram dan Lita menyuruhnya pulang malam ini.
Rafael menggeleng malas, atas pertanyaan yang di berikan Lita padanya. Sementara Bram sibuk dengan ponselnya.
Lalu Bram pergi meninggalkan anak dan istirnya di ruangan kelurga, karna dia menerima panggilan Telfon dari rekan kerjanya.
''Kamu duduk dulu, Rafael,'' perintah Lita.
''Langsung intinya aja saja.''
''Mamah sama papah akan keluar kota,'' jelas Lita. ''Satu bulan mamah dan papah keluar kota.''
''Mamah mau, kamu tinggal rumah ini, selama papah dan mamah keluar kota,'' lanjut Lita membuat Rafael tahu, mengapa orang tuanya memanggil dirinya malam ini.
__ADS_1
''Rumah nggak baik dibiarkan kosong jika terlalu lama. Jadi...Mamah harap, kamu tinggal di rumah, jangan di markas kamu lagi.''
''Kamu boleh tinggal di markas kamu lagi, setelah mamah sama papah kamu sudah kembali ke sini,'' lanjut Lita.
Rafael tersenyum getir, sudah jelas bukan, mengapa kedua orang tuanya memanggil dirinya kesini.
''Ok.'' Singkat cowok itu, lalu ingin melenggang pergi, namun dia kembali di hentikan oleh Lita.
''Rafael,'' panggil Lita.
Rafael membalikkan tubuhnya, ''ada lagi?'' tanya Rafael kepada Lita.
Lita hanya diam, membuat Rafael kembali melanjutkan langkah kakinya.
''Kamu tidak bertanya, kapan mamah dah papah pergi?''
''Rafael mau?'' tanya Bram, setelah menerima Telfon dari rekan kerjanya.
Lita mengangguk mengiyakan ucapan suaminya itu. ''Dia mau,'' jawab Lita.
Rafael masuk kedalam kamarnya, kamar yang sangat jarang dia tempati. Karna dia memang jarang pulang kerumahnya dan tinggal.
Sementara Salsa, setia berdiri di balkon kamarnya. Dia menunggu Rafael keluar dari kamarnya menuju balkon kamar.
Balkon kamarnya, dengan balkon kamar Rafael berhadapan, membuat Salsa sangat berharap Rafael muncul di depanya.
'''Ayok, El,'' gumam Salsa, berharap Rafael berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Rafael merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, seraya menatap langit-langit kamarnya malam ini.
Rafael tersenyum sinis, dia sudha tau. Mengapa Bram dan Lita menyuruhnya untuk pulang.
''Apa gue emang anak yang nggak di harapkan?'' gumam cowok itu, seraya menggeleng kecil.
Rafael bangun dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju balkon kamarnya.
Deg
Jantung Salsa berdetak kencang, melihat Rafael memejamkan matanya di balkon kamar, menikmati angin malam yang menerpah wajahnya.
Rafael membuka matanya, balkon kamarnya dengan balkon kamar milik Salsa memang saling berhadapan.
Dia bisa melihat dengan jelas kecantikan Salsa dari balkon kamarnya, namun tetap saja. Perasaan untuk Salsa tidak ada di hati Rafael.
Mereka berdua saling bertatapan, dengan Rafael menatap Salsa dengan tidak suka.
Salsa tersenyum manis kearah Rafael, seraya melambaikan tanganya pada cowok itu.
''El, gimana kue buatan aku!'' tanya gadis itu, berteriak dari sebelah balkon kamar miliknya.
Rafael tidak menjawab, cowok itu hanya abai lalu berjalan masuk kedalam kamarnya, menutup gorden kamar lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Salsa hanya tersenyum tipis, lagi-lagi Rafael menolak dirinya.
''El, kapan kamu bisa suka sama aku?''
__ADS_1
''Perasaan aku ke kamu gimana, El?'' menolognya.