ARDIAN

ARDIAN
panik


__ADS_3

Ardian tengah duduk di sofa panjang, memainkan ponselnya sembari menunggu Nanda keluar dari kamar mandi. Sudah 20 menit gadis itu di kamar mandi, namun belum ada tanda-tanda dia akan kelaur.


Ardian menatap pintu kamar mandi di depannya, menunggu pintu kamar mandi itu terbuka.


Ardian berdengus pelan, lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi.


Cowok itu memandangi pintu kamar mandi di depannya, lalu kemudian tangannya mengetuk pintu kamar mandi. "Nan, lo baik-baik aja?" tanya Ardian.


Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Ardian kembali bersuara, "nyahut kalau gue panggil, Nan. Jangan sampai pintu kamar mandi gue dobrak. Jangan buat gue khawatir!"


Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Ardian menjadi khawatir. Cowok itu siap ingin mendobrak pintu kamar mandi.


Brak...


Ardian mendobrak pintu kamar mandi. Raut wajah Ardian langsung pucat saat melihat gadis yang dia sukai berada dibawa lantai, untung saja Nanda masih mengenakan pakainya.


Dengan gerakan cepat, Ardian langsung membawa Nanda dalam gendongnya, membawa gadis itu keluar dengan rasa khawatir yang menjalar di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"SIAPIN MOBIL!" teriak Ardian seraya menuruni anak tangga, Nanda dalam gendongnya.


Suara menggelegar Ardian membuat pekerjaan di dalam rumah terpekik kaget. Dia melihat sosok Ardian menggendong Nanda dalam pelukanya. Mereka semua panik, terutama Boy.


Boy dengan langkah cepat mengambil kunci mobilnya, di ikuti oleh Ardian.


Cowok itu langsung membawa Nanda masuk kedalam mobil, menidurkan kepala Nanda di pahanya, dengan Boy yang mengemudi mobil.


Boy langsung melajukan mobilnya, wajah kedua pria itu pucat pasih. Ardian terus-terusan menggengam tangan Nanda.


"Pakein minyak telon dulu." Boy dengan rasa khawatirmemberikan Ardian minyak telon. Pria itu melihat dengan jelas wajah pucat milik adiknya.


"Nanda pingsan di dalam kamar mandi." Ardian langsung memotong ucapan Boy, tanpa mengalihkan tatapan khawatirnya dari gadis itu.


Tidak butuh waktu lama, mobil milik Boy sudah tiba di rumah sakit. Dengan sigap perawat mendorong brankar milik Nanda masuk kedalam UGD.


"Lakuin yang terbaik buat adek gue, Van," ucap Boy, Ivan temannya yang akan menangani adiknya.

__ADS_1


"Pasti, Boy." Lepas itu Ivan masuk bersama perawat lainya.


Boy mengusap wajahnya kasar, kedua orang yang dia sayangi menginjakkan rumah sakit, dengan kondisi jauh dari kata baik.


Ardian tengah menelfon kedua orang tuanya, memberikan kabar jika Nanda tengah masuk rumah sakit.


Kedua pria tampan itu menunggu dengan perasaan gusar.


"Gue mau ke kantin, ada yang mau lo pesan?" tanya Boy kepada Ardian, cowok itu sedari tadi menunduk dengan wajah cemas.


Boy ingin ke kantin rumah sakit untuk membeli coffe lebih dulu, menghilangkan sedikit penatnya.


"Nggak ada," jawab Ardian dengan suara rendah, karna dia memang tidak membutuhkan apa-apa.


"Dokter Boy," sapa seorang wanita cantik yang mengenakan jas putih.


"Dokter nungguin siapa?" tanya Sasa lagi. Dia adalah rekan Boy yang bekerja di rumah sakit ini juga. Dokter cantik itu ingin pulang, melihat Boy ada di sini membuat wanita itu berjalan menuju ruang UGD.

__ADS_1


"Adik saya," jawab Boy, "baik dokter Sasa, saya pergi dulu," pamit pria itu lalu melenggang pergi meninggalkan dokter cantik itu.


Sasa menghembuskan nafasnya pelan, lalu menatap sosok cowok yang mengenakan jaket hitam. Merasa sedang di tatap, membuat Ardian melirik lalu menatap tajam dokter Sasa, membuat dokter itu tersentak kaget dengan tatapan tajam milik cowok itu.


__ADS_2