ARDIAN

ARDIAN
Apa-apaan ini


__ADS_3

Sebenarnya Nanda ingin sekali kerumah sakit menjenguk Gerald, namun dia tidak tega meninggalkan mamanya di rumah. Memang ada Boy, tetap saja dia tidak tega meninggalkan Gina dalam keadaan sakit begini.


''Gue tebak, lo pasti kepengen banget kerumah sakit.'' Boy datang ikut bergabung menonton tv bersama adiknya.


Nanda melirik Boy dengan tatapan malas.


''Ra,'' panggil Boy.


''Hmmm,'' balas gadis itu hanya dengan deheman saja, karna dia sibuk nonton tv.


''Ardian suka lo tuh,'' kata Boy.


‘’Tapi gue nggak.''


''Lu yakin nggak suka sama dia?'' tanya Boy lagi sehingga Nanda menatap Boy dengan datar.


''Apanya yang harus gue sukain sama tuh anak?'' Bukanya menjawab, Nanda malah balik bertanya lagi.


‘’Respon orang tuanya yang baik ke lo,'' balas Boy lagi membuat Nanda diam sejenak, lalu kemudian dia membalas ucapan Boy lagi.


''Kalau ngomongin orang tuanya, emang orang tua Ardian baik ke gue. Tapi bukan berarti gue harus suka Ardian juga,'' kata Nanda dengan menekan setiap perkataanya.


‘’Terus, ngapain lu buat drama di depan nyokap sama bokapnya Ardian, kalau kalian berdua pacaran. Yang mereka tahu, kalian berdua itu pacaran.''


Nanda menepuk jidatnya, dia lupa akan hal ini. Makan malam waktu itu, membuat Nanda harus pura-pura jadi pacar Ardian, karna permintaan cowok itu untuk menyenangkan hati sang mama.


Nanda tidak menggubris ucapan Boy lagi, keduanya asik menonton tv.


''Aduh, Ra. Lu nonton apaaan sih! Jadi dari tadi gue nonton kartun!'' sungut Boy seraya merampas remote tv dari tangan gadis itu.


''Apa-apaan sih lu bang. Gue asik nonton lo malah datang gangguin. Lebih baik lu nonton di kamar lo,'' balas Nanda seraya berusaha merampas remote tv itu.


‘’Lebih baik lo nonton berita, biar berfaedah, Ra. Film kartun nggak cocok buat lu. Lu udah gede, jadi tontonananya harus bijak!'' Boy berusaha menghindar agar Nanda tidak merebut remote tv itu dari tanganya.


Nanda berdengus kesal, membiarkan Boy mengganti siaran tv nya.

__ADS_1


‘’Lebih baik lu nonton....Berita....'' Boy tiba-tiba menjadi gagap bicara, saat mengganti siaran tv dia melihat wajah papanya beserta anak dan istrinya itu di layar tv.


Nanda menaikkan alisnya sebelah, melihat raut wajah Boy yang tiba-tiba berubah, Nanda mengikuti arah pandang kakaknya itu sehingga dia melihat wajah tidak asing di layar tv.


''Berita apa ini!'' Boy siap ingin mengganti saluran tv nya, namun Nanda langsung mencegahnya.


''Gue mau nonton, gue penasaran papa dalam rangka apa munculin mukanya di depan tv bersama keluarga barunya itu,'' ucap Nanda agar Boy tidak mengganti saluran tv nya itu.


Boy akhirnya mendengar apa yang Nanda katakan, jika tidak gadis itu akan marah besar padanya.


Boy mengepalkan tanganya, saat melihat berita di depanya. Dimana papanya memperkenalkan Raisa sebagai istri sah nya. Dia juga memperkenalkan Kesya sebagai anak gadisnya.


Dia memberikan klarifikasi di depan kamera, jika Raisa bukanlah seorang pelakor. Karna mereka berdua menikah atas persetujuan dari Gina dan anak-anaknya, karna rumah tangga mereka berdua sudah tidak harmonis lagi.


Banyak hap dusta yang di katakan Iksan di depan kamera, membuat Boy menjadi geram sendiri lalu dia mengganti saluran tv nya.


''Dasar pendusta!'' cecar Boy berapi-api melihat klarifikasi yang penuh kebohongan dan kepalsuan yang Iksan katakan.


‘’Hubungan mama sama papa kalian memang nggak harmonis, jadi wajar saja jika dia menikah tanpa sepengetahuan mama.''


Nanda dan Boy langusng membalikkan tubuhnya ke belakng, dia tidak tahu sejak kapan ada Gina di belakang mereka, itu berarti Gina menonton berita ini?


Gina tersenyum kepada anak-anaknya, dia tahu apa yang sedang anaknya pikirkan saat ini.


''Ma....'' Nanda dan Boy hanya berucap pelan, dia tidak tahu jika ada sang mama di belakng mereka.


''Mama nggak apa-apa, jangan pikirin mama. Mama bahagia kalau kalian bahagia. Kebahagian mama adalah kalian. Bukan papa kalian lagi,'' ucap Gina seraya tersenyum kearah anak-anaknya.


Nanda dan Boy berdiri dari sofa yang mereka duduki, lalu memeluk Gina dengan erat.


''Ara sayang mama, jangan sedih ya. Papa yang akan menyesal karna menyia-nyiakan wanita secanti mama, sebaik mama, sesabar mama. Bukan kita yang kehilangan papa. Tapi papa yang telah kehilangan kita,'' ucap Nanda bijak seraya mengeratkan pelukanya dengan Gina.


Gina tidak membals ucapan anaknya, dia hanya tersenyum saja. Seraya mengusap kedua rambut anaknya.


‘’Jangan pernah pertemuin boy sama papa dan kelurga barunya itu di rumah sakit. Kalau nggak. Boy akan menyuntik mati mereka bertiga,'' greget Boy membuat Nanda melototkan matanya sementara Gina langsung refleks mencubit perut anaknya itu.

__ADS_1


''Klau ngomong suka asal,'' ucap Gina.


‘’Terserah mama aja deh, kalau nggak percaya. Yang jelas, Boy nggak mau kalau di pertemukan mereka di rumah sakit. Karna nyawa mereka bakalan di tangan sang pencipta sama di tangan Boy,'' kata Boy lagi.


''Boy....Sejahat apapun papa kamu, dia tetap papa kamu,'' ucap Gina membuat Nanda tertawa kecil.


‘’Gue udah nggak terlalu serius sama masalah ini,'' ucap Nanda membuat boy dan Gina langsung melirik gadis itu.


''Maksud lu apa?'' tanya boy seraya menaikkan alisnya sebelah.


‘’Karna sekarang gue mau fokus ke mama.''


Boy melihat mamanya, dia baru sadar jika tadi di tangan Gina terpasang infus, tapi mengapa sekarang tidak ada.


''Mama kenapa Lepasin infusnya? Bahaya tahu,'' tegur Boy menbuat Nanda baru ngeh juga.


Mereka berdua langsung membawa Gina menuju kamarnya.


''Mama udah sehat, nggak perlu begituan lagi,'' ucap Gina saat kedua anaknya menggandeng tanganya menuju kamarnya.


''Mama. Yang dokter itu siapa. Mama atau bang Boy?'' cerocos gadis itu.


''Nah, yang dibilang Ara emang betul. Yang dokter di rumah ini Boy atau mama? Boy tahu jelas kondisi orang sehat, sama orang-orang yang pura sehat. Dokter nggak bisa di tipu, Ma. Dengan kata udah sehat. Boy kuliah kedokteran bertahun-tahun, masa gitu aja Boy nggak tahu,'' jelas Boy panjang kali lebar dan dibalas anggukan setuju oleh Nanda.


Gina memilih untuk diam, karna apa yang di katakan anaknya memang benar, jika Boy tidak akan bisa dia bohongi.


Nanda menyuru Gina untuk baring, sementara Boy sedang memgambil cairan infus baru dan bahan lainya.


Badan Gina masih panas, namun wanita itu mengatakan jika dia baik-baik saja.


''Jangan lepasin infusnya lagi, Ma. Tanpa Boy suruh. Ini perintah seorang dokter terhadap pasienya,'' ucap Boy seraya mencari vena milik Gina.


''Iya-iya.''


‘’Dengerin tuh kata dokter Boy,'' ucap Nanda dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2