ARDIAN

ARDIAN
Rumah sakit


__ADS_3

Mereka memasuki rumah sakit, dan tentunya menjadi pusat perhatian, apalagi Ardian dan sahabatnya menggunakan jaket persatuan mereka, membuat keenam cowok itu gagah perkasah.


‘’Kayak seleb aja kita,'' gumam Izam seraya tertawa kecil.


‘’Dih,'' sungut Ethan.


Nanda dan Greta di kelilingi cowok tampan, membuat mereka menjadi irih dengan kedua gadis cantik itu.


Mereka berjalan menuju ruangan Kesya.


Drt...


Ponsel Nanda bergetar, gadis itu mengambil ponselnya didalam tasnya. ''Kalian jalan duluan, entar gue nyusul, habis angkat Telfon,'' ucap Nanda membuat ketujuhnya meninggalkan Nanda di koridor rumah sakit.


''Hal—''


Belum sempat Nanda meneruskan omongnya, Boy langsung memotong omongan Nanda.


''Dimana lo, Ra. Kata mama lo kerumah sakit,'' ucap Boy di seberang Telfon, dia berjalan di koridor rumah sakit dengan tergesa-gerah, jangan lupa matanya menelusuri sekitarnya, mencari keberadaan sang adik.


''Iya, gue lagi di rumah sakit,'' jawab Nanda.


‘’Bagian mana?'' tanya Boy dengan cepat, membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah, karna Boy nampak khawatir di seberang Telfon.


''Lo kenapa sih, bang?'' tanya Nanda penasaran.


''Nggak apa-apa, Ra. Lo tinggal jawab pertanyaan gue barusan,'' ucap Boy lagi bejalan cepat di koridor rumah sakit.


Nanda melihat sekelilingnya, ''gue lagi di dekat apotek,'' jawab gadis itu.


''Ok, tungguin gue disana. Jangan kemana-mana lo, Ra,'' ancam Boy.


''Iya-iya!'' balas gadis itu.


Tut...


Boy langsung mematikan ponselnya, lalu kembali mempercepat langkah kakinya.


''Eh, itu dokter Boy, kan?'' tunjuk Izam.


''Kalian? Teman-teman kalian nggak ada cidera lagi, kan?'' tanya Boy berpapasan dengan anak ARIGEL dan satu gadis yang wajahnya sangat jutek. Tentunya Boy mengenal gadis itu, Boy sudah biasa melihat wajah datar milik gadis itu, bahkan Boy hampir setiap hari melihat gadis itu di sini.


''Aman, dok,'' balas mereka.


''Ok, gue duluan,'' pamit Boy lalu melenggang pergi, dia tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan anak ARIGEL.


‘’Dokter boy kayaknya buru-buru deh,'' tebak Izam.


''Udah tau malah nanya,'' decak Ethan.


Mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju ruangan Kesya. Dengan iringan perdebatan Izam dan Ethan, membuat Greta yang mempunyai banyak masalah tambah pusing, dengan suara mereka itu.


‘’Bisa diam nggak sih kalian!''


Ethan dan Izam berhenti berdebat.


‘’Ngeri.''


Nanda yang melihat Boy langsung melambaikan tanganya kepada Boy. ''Ra.‘’Boy langsung memeluk adiknya, membuat Nanda heran.


Nanda membalas pelukan Boy. ''Lo kenapa sih. Bang?'' tanya Nanda sehingga kakak beradik itu melepaskan pelukanya satu sama lain.


''Nggak apa-apa,'' balas Boy.


''Kamu ngapain kesini, Ra. Ini udah malam, kasihan mama sendiri dirumah,'' ucap Boy.


''Mama yang nyuruh gue ksini,'' jawab gadis itu membuat Boy mengembuskan nafas berat.


Sementara Gina dirumahnya tidak tenang, dia memikirkan Nanda. Bagaiamana jika Nanda dan Iksan bertemu di rumah sakit.

__ADS_1


Karna khawatir, Gina langsung mnelfon Boy.


Drt...


Ponsel Boy berdering, membuat cowok itu langsung mengangkat telfonya.


''Halo, Ma,'' sapa Boy.


''Boy, mana Ara?'' tanya Gina di seberang Telfon dengan raut wajah khawatir, jangan lupa suaranya yang cemas memikirkan Nanda.


''Ara udah sama Boy, Ma,'' jawab Boy membuat Gina bernafas legah dengan jawaban Boy.


‘’Jagain adik kamu, Boy,'' peringat Gina.


''Iya, Ma.''


Panggilan di akhiri.


‘’Ada apa sih?'' hanya Nanda, dia yakin ad yang tidak beres.


''Nggak apa-apa,'' jawab Boy.


Nanda berdengus kesal, dia yakin ada sesuatu yang di mereka sembunyikan darinya.


''Lo mau jenguk teman lo?'' tanya Boy.


''Iya,'' jawab gadis itu.


Boy langsung menggandeng tangan Nanda.


''Kok lu tau jalan menuju kamar Kesya,'' tanya Nanda.


''Lo lupa, Ra. Kalau gue dokter di sini, bukan hal asing lagi kalau gue yang tanganin pasien,‘' sombongnya membuat Nanda memutar bola matanya malas.


PLAK…


Nanda dan Boy langsung langsung menghentikan langkah kakinya, saat m dengar suara tamparan yang begitu keras.


''Jangan langsung main tangan dong, Tan,'' dengus Izam, dia tidak terima Greta menerima tamparan dari wanita dihadapnya.


Mereka bisa menebak, jika wanita itu adalah orang tuanya Kesya.


''Gara-gara kamu! Anak saya sampai masuk rumah sakit!'' Marah Raisa, urat-urat wajahnya terlihat jelas ketika wanita itu marah.


Wajahnya merah padam. Sementara Greta masih mempertahankan wajah datarnya, ''Dan beraninya kamu munculin wajah kamu di depan saya! Setelah kamu membuat anak saya terluka!'' Raisa menunjuk wajah Greta dengan jari telunjuknya dengan penuh emosi.


‘’Saya nggak akan kesini kalau saja mereka nggak paksa saya untuk kesini!'' balas Greta dengan tatapan datar.


''Kamu...'' Raisa siap ingin menampar Greta kembali, dan gadis itu hanya pasrah saja. Entah mengapa dia pasrah, mungkin karna dia sudah lelah seharian ini.


Gerald langsung menahan tangan Raisa, sehingga wanita yang tersulut emosi itu tidak menampar pipih Greta kembali.


''Ini rumah sakit, jangan menciptakan masalah,'' ucap Gerald dengan dingin, membuat Raisa menghempaskan tanganya yang di pegang oleh Gerald, karna cowok itu berhasil menbuatnya tidak kembali menampar pipih milik Greta.


Ke empat sahabat Kesya keluar dari ruangan Kesya, dia langsung membawa Raisa menuju kursi, saat mereka mendengar suara kegaduhan dari luar.


‘’Tante tenang in diri tante dulu, ya,'' ucap Puri, seraya mengusap punggung milik Raisa.


''Ini yang kalian mau lihat dari gue? Maksa gue buat kesini.'' Greta menatap ARIGEL satu persatu dengan tatapan emosi.


''Kalau iya emang kenapa?'' sinis Rafael kepada Greta.


''Kak El, jangan mancing keributan. Ini rumah sakit.'' Suara lembut milik Salsa langsung menyapa gendang telinga Rafael.


''Mau kemana?'' Izam mencekal pergelangan tangan Greta.


‘’Biarin dia pergi. Dia bakalan kembali. Kalau nggak, dia bakalan pulang jalan kaki,'' ucap Ardian, lalu Izam melepaskan tangan Greta.


Ardian yakin gadis itu akan kembali, karna Greta tidak membawa ponsel juga tas.

__ADS_1


''Bang,''panggil Nanda.


Sementara Boy masih setia bersedekap dada, Boy tidak menyangka jika papanya mengkhianati pernikahan mereka hanya karna wanita seperti Raisa.


‘’Kenapa?'' tanya Boy seraya melirik adiknya itu.


‘’Ngeri juga ya. Mamanya Kesya,‘’ ucap Nanda membuat Boy terkekeh.


Bagaiamana jika Nanda tahu, jika wanita itu adalah istri kedua papa mereka. Boy belum tahu pasti, apakah pasien yang dia periksa itu adalah anak kandung Iksan bersama Raisa atau bukan.


''Gue yakin, siapapun yang menjadi suami wanita itu, hidupnya nggak bakalan tenang. Karna dapat istri modelan iblis,'' ucap Boy membuat Nanda menggeleng.


‘’Nggak baik ngomong gitu,'' ucap Nanda.


‘’Emang kenyataanya begitu,'' jelas Boy.


''Ohiya, Ra. Teman lo yang di tampar itu, nggak asing. Dia setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia kerumah sakit ini.''


Nanda melirik Boy. ‘’Seriusan?''


''Iya. Ra. Gue serius.''


''Kurang lebih satu tahun ini, dia setiap pagi kesini jenguk orang tuanya yang koma,'' jelas Boy lagi membuat Nanda terdiam sejenak.


Jadi ini alasan Greta tidak membalas ucapan mereka tadi.


''Kalau nggak salah namanya Greta,'' ujar Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


''Iya, namanya emang Greta,'' ucap Nanda membuat Boy mengangguk, itu berarti dia tidak salah.


‘’Kronologinya gimana, sih?'' tanya Nanda penasaran.


‘’Satu tahun yang lalu, kedua orang tua Greta kecelakaan. Saat itu kedua orang tuanya di larikan kerumah sakit, papanya tidak bisa di selamatkan karna sudah kekurangan darah saat perjalanan menuju rumah sakit,'' jelas Boy, dengan seksama Nanda mendengar cerita dari Boy.


''Mamanya Greta masih bisa di selamatkan, tapi dia koma. Sampai sekarang, mamanya masih koma, tidak ada perubahan,'' ucap Boy. ''Sekitar 6 bulan yang lalu, pihak kepolisian datang kerumah sakit ini, dia menemui Greta dan menghentikan penyelidikan ini karna mereka sudah menemui alasan, mengapa kedua orang tue Greta kecelakaan. Polisi bilang karna kelalaian orang tua Greta bawa mobil, karna saat itu papanya dalam kondisi mengantuk membawa mobil,'' lanjutnya.


‘’Tapi Greta nggak terima, katanya sih ini pemalsuan. Greta yakin, ada dalang di balik kecelakaan yang terjadi kepada orang tuanya. Dia sampai jatuh miskin, mobil, rumah dan seluruh asetnya di sita oleh orang-orang yang mempunyai sangkutan dengan papanya yang meninggal.'' Boy menjelaskan dengan seksama.


Membuat Nanda terus-teruskan berpikir mengenai Greta, itu berarti Greta hanya tinggal berdua di rumahnya?


''Cara pengobatan orang tue Greta gimana? Emangnya gratis? Secara, kan dia udah koma lumayan lama,'' ucap Nanda dan dibalas gelengan kepala oleh Boy.


''Dia selalu bayar pengobatan orang tuanya, gue juga nggak tahu dia kerja apa. Secara dia cuman anak SMA seumuran lo,'' kata Boy.


Boy tentu jelas tahu ini, sebagai dokter yang menangani orang tua Greta.


''Tapi, Ra,'' Boy menggantung ucapanya seraya tersenyum tipis, membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah, melihat tingkah saudaranya itu.


''Tapi, apa?'' tanya Nanda.


Sehingga Boy langsung melirik Nanda, mereka berdua saling berpandangan, dengan senyuman melekat di wajahnya.


''Dia lucu tau nggak, lebih lucu dari lo, Ra. Wajah datarnya bikin gue gemes sama dia,'' ucap Boy seraya tertawa kecil, membuat Nanda langsung melototkan matanya.


''Lo suka anak kecil?'' tanya Nanda menbuat Boy langsung menjitak kening Nanda.


''Dia bukan anak kecil lagi, Ra. Dia udah remaja,'' beber Boy.


‘’Tapi sama aja, dia tetap anak kecil di mata orang yang udah tua,'' ejek Nanda membuat Boy memasang raut wajah jengkel.


''Jadi maksudi gue ini udah tua, gitu?'' Sosor Boy.


Nanda angkat tangan. ''Bukan gue yang bilang, tapi lo sendiri yang ngomong,'' tawanya membuat Boy memutar bola matanya malas.


Greta membasuhi wajahnya, jujur saja tamparan yang diberikan Raisa membuat pipinya memerah, dan menciptakan rasa nyeri di pipinya.


Untung saja dia tidak mendapatkan tamparan kedua, jika dia mendapatkan sudah di pastikan dia akan semakin kesakitan. Untung saja Gerald bisa menahan tangan Raisa tadi, sehingga dia tidak mendapatkan tamparan kedua.


Ini saja, rasanya sudah sakit. Tamparan yang diberikan Raisa tidak main-main. Greta tersenyum sinis.

__ADS_1


Lalu gadis itu keluar dari bilik toilet, namun tanganya langsung di tarik oleh seseorang.


Gerald!


__ADS_2