ARDIAN

ARDIAN
Mobil Baru Kesya


__ADS_3

''Mah!''


Boy langsung memeluk Gina, memeluk erat wanita paruh baya yang sudah melahirkanya ke dunia ini, dengan sekuat tenaga.


Boy menghapus air mata Gina. ''Mamah nggak boleh nangis,'' kata Boy mengusap air mata Gina.


''Mamah nggak pantas keluarin air mata, demi pria seperti papah,'' nasehat Boy lagi, dia membawa Gina duduk diatas sofa.


Gina mengusap air matanya, lalu menerbitkan senyuman kepada anaknya. ''Nggak, mamah nggak akan tangisi pria seperti papah mu itu,'' ujar Gina. Lidahnya mungkin berbohong, tapi hatinya tidak.


Dia ingin menangis mengenai rumah tangganya harus renggang seperti ini, karna kehadiran seorang wanita di masa lalunya.


''Mamah udah mau, kan?'' tanya Boy dan dibalas anggukan kepala Oleh Gina.


''Besok,'' jawab Gina dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.


''Mamah akan fokus untuk mengurus kamu dan Nanda,'' ucap Gina.


Mereka berdua saling berpelukan. ''Meski tanpa papah, mamah bisa bahagiain kalian berdua,'' lanjut Gina.


''Biarkan pria sia—''


Gina langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Boy. ''Jangan bicara seperti itu, bagaimanapun dia tetap papah mu, Boy,'' nasehat Gina.


‘’Mantan suami memang ada, tapi tidak ada namanya mantan papah dan mantan anak,'' lanjut Gina seraya tertawa kecil.


''Boy dan Nanda bakalan bahagiain mamah, kita akan buat papah menyesal dengan Kebahagian keluarga kita,'' kata Boy dengan yakin.


Dia akan membuat papahnya menyesal, karna meninggalkan mereka, demi cinta masa lalunya.


''Kamu tidak kembali kerumah sakit?'' tanya Gina dan dibalas gelengan kepala oleh Boy.


''Boy lagi tidak mood dengan kedatangan papah. Jangan sampai, Boy kerumah sakit dan lampiasin semuanya ke pasien yang akan melakukan operasi,'' jelas Boy membuat Gina menggelengkan kepalanya.


''Mamah kebelakang dulu, mau siram bunga-bunga Mamah,'' pamit Gina.


''Mah,'' panggil Boy, sehingga langkah kaki Gina terhenti.


''Jangan bilang sama Nanda masalah ini, aku nggak mau, kalau sampai adik aku menangis karna ulah papah,'' terang Boy kepada mamahnya.


Mereka akan menutupi masalah ini kepada Nanda.


''Iya,'' jawab Gina seraya tersenyum.


***


Bell pulang sekolah berbunyi, para murid-murid mulai membereskan buku mereka, lalu memasukkanya kedalam tas.


Mereka akan segera pulang, seperti anak ayam yang akan di tinggal oleh induknya.


Teman sekelasnya sudah keluar dari kelas dan hanya menyisahkan Nanda dan kelima temanya.

__ADS_1


''Pulang sama siapa, Nan?'' tanya Pute kepada Nanda yang sedang membereskan bukunya.


''Gue pulang sama supir,'' jawab Nanda.


''Nggak usah pulang dulu, Nan. Kita mau ke Mall dulu!'' ujar Puri dan dibalas anggukan kepala oleh yang lainya.


''Kesya.'' Dio masuk kedalam kelas.


Nanda dan temanya langsung melihat kearah pintu, rupanya yang datang adalah Gerald bersama dengan Nita dan Dio.


‘’Orang tua lo sampai sekarang belum datang,'' ujar Dio.


''Ini udah dua hari,'' lanjut Nita.


Kesya menatap malas kearah Dio dana Nita.


''Besok nyokap gue baru datang,'' ucap Kesya kepada Gerald. ''Kemarin dia baru pulang keluar kota, dia butuh istirahat.''


''Dengar tuh,'' timpal Puri.


Kesya menatap tajam Nita, ''caper lo,'' sinisnya kepada Nita lalu pergi bersama antek-anteknya.


''Nan,'' Salsa langsung menarik tangan Nanda, karna gadis itu masih diam.


Nanda tersentak kaget, melihat Salsa menariknya keluar kelas. Melewati Gerald, Nita dan Dio.


''Rald, emang lo yakin kalau mamahnya Kesya bakalan datang,'' ujar Dio kepada Gerald.


Nita dan Dio mengikuti Gerald keluar kelas.


Nanda dan kelima temanya sudah berada di parkiran sekolah.


Cika hari ini tidak bawa mobil, karna Kesya yang mengabari mereka jika dia yang akan membawa mobil.


''Cieeeee! Mobil baruuuu!!'' heboh Puri melihat mobil baru yang di bawa oleh Kesya ke sekolah.


Kesya keluar dari mobilnya dengan senyuman mengambang.


''Hadiah dari nyokap atau bokap lo?'' tanya Pute melihat Kesya kembali mengganti mobil.


Mobil yang dia bawa sekarang mobil brio, dengan desain yang mewah.


''Bokap gue,'' jawab Kesya.


''Keren lo, Sya!'' sembur Puri lagi.


''Mobil kamu keren, Sya. Modifnya juga karen banget,'' puji Salsa dengan mata berbinar, melihat mobil Kesya sudah di modif begitu mewah.


''Mantap, Sya. Bisa dipake healing.'' Cika memberikan jempol kepada Kesya.


''Modifnya keren, Sya. Gue aja sampai suka,'' kini Nanda yang angkat bicara membuat Kesya hanya tersenyum mendapat tanggapan dari para sahabatnya.

__ADS_1


''Ikut sama kita, Nan. Entar pulangnya barengan,'' ucap Kesya dan dibalas anggukan kepala lainya.


''Iya, Nan. Kita jalan-jalan ke Mall, pake mobil baru nih anak sultan!'' tawa Puri kembali.


''Masa kita pergi, lo nggak. Kan, nggak asik. Gimanapun, lo udah bagian dari kita,'' ucap Pute.


''Iya, Nan. Kamu pergi, ya. Kita pulangnya nggak sampai malam kok,'' mohon Salsa kepada Nanda.


''Iyakan, Ci?'' lanjut Salsa meminta persetujuan dari Cika, gadis itu sedang asik membaca bukunya.


Cika mendongakkan kepalanya. ''Kalau lo nggak ada urusan, lo ikut aja,'' ucap Cika lalu kembali membaca.


Meski di parkiran, gadis itu selalu membaca buku, entah buku apa saja yang dibaca oleh Cika.


''Kalian pergi aja, kapan-kapan aja gue ikut. Gue harus kerumah sakit. Ada sepupu gue di sana,'' balasnya, kepada teman-temanya.


Mereka berlima hanya mengangguk, mereka tidak bisa memaksa Nanda karna gadis itu ingin ke rumah sakit menjenguk sepupunya, padahal yang ingin dia jenguk adalah Dika.


Kelima temannya sudah pergi, barulah Nanda pergi dari parkiran. Karna di depan pagar sekolah, sudah ada pak Budi yang sedang menunggu dirinya.


Langkah kaki Nanda tehenti, karna dari belakang seseroang tengah mencekal tanganya.


Nanda membalikkan badanya dan langsung di suguhkan wajah tampan milik Ardian, cowok yang menggunakan tindik itu tersenyum jenaka kearah Nanda.


Nanda jadi gugup, namun dia berusaha menetralkan detak jantungnya saat ini. Cowok di hadapanya memang tampan dan menyeramkan dalam waktu bersamaan.


Dia mempunyai pesona sendiri, yang tidak di miliki oleh cowok yang pernah Nanda temui sebelumnya.


''Lo gugup?'' tanya Ardian santai, namun bibirnya tersenyum jenaka membuat wajah cowok itu tampan dan menyeramkan dalam waktu bersamaan.


Nanda tidak menjawab, jujur saja dia tidak membawa permen karet saat ini, karna semalam Boy menggeledah tasnya dan mengeluarkan semua permen karetnya, tanpa dia ketahui.


Dia baru tau, saat belajar didalam kelas, dia suntuk dan ingin mengunyah permen karet, namun didalam tasnya tidak ada sama sekali.


Membuat gadis itu menjadi sadar, jika permen karetnya sudah di ambil oleh Boy.


''Izam,'' panggil Ardian.


Nanda langsung melirik Keseblah kiri, cowok yang pernah memberikan tumpangan padanya datang membawa permen karet.


Izam memberikan permen karet itu kepada Ardian, membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah, dengan jantungnya masih bertalu-talu.


“Sejak kapan preman ini suka permen karet?”


****


Jangan lupa mampir di karya teman aku


Antara Benci Dan Rindu


__ADS_1


__ADS_2