
Rumah sakit...
Boy, pria berusia 26 tahun itu berjalan di koridor rumah sakit, seraya membawa paper bag yang berisi kue.
Ya, pria itu baru ingat, jika waktu menjemput Nanda di rumah Ardian, adiknya membawa dua paper bag, dia menyuruh Nanda menyimpan paper bag yang satunya di dalam mobil.
Dan baru pagi tadi pria itu lihat, paper bag berisi kue itu, akan dia berikan kepada sosok gadis yang semalam yang sukses tiba-tiba muncul dalam pikiran Boy.
Boy sudah mencicipi kue buatan Nanda itu, rasanya sangat enak, sehingga Boy yakin jika Greta akan menyukai kue itu.
Boy, dia berjalan menuju ruangan mama Greta di rawat, dia tidak berjalan menuju ruanganya.
''Greta!'' panggil Boy, sehingga pergerakan tangan Greta yang ingin membuka ruangan mamanya terhenti.
Dia melihat sosok dokter tampan itu menghampiri dirinya, di tanganya ada paper bag.
''Kenapa?'' tanya Greta kepada Boy.
‘’Buat kamu.'' Boy menyodorkan paper bag itu.
Greta menatap paper bag itu, belum mengambilnya.
''Ini ada kue, buatan adik saya,'' lanjut Boy.
Greta belum mengambil paper bag itu. Membuat Boy menjadi greget dengan gadis itu.
''Kamu tenang saja, saya tidak punya maksud apa-apa memberikan kue ini untuk kamu. Adik saya menyuruh saya untuk memberikan kue ini untuk kamu.'' Dan pada akhirnya, Boy membawa nama Nanda, padahal Nanda tidak tahu mengenai kue ini untuk siapa.
‘’Terimakasih.'' Greta langsung mengambil paper bag itu.
''Sama-sama.''
''Kalau Begitu saya duluan,'' Boy pamit kepada Greta. Lalu pria itu melenggang pergi.
Greta langsung membuka pintu ruangan mamanya, sudah hampir setahun ini mamanya belum juga sadarkan diri dari komanya.
Greta khawatir, jika uang pengobatan mamanya akan habis seiring berjalanya waktu.
Greta melatahkan paper bag itu diatas nakas, lalu dia membuka isinya. Didalam ada tiga toples mungil kue. Ada rasa coklat, kacang dan keju.
Greta mengeluarkan semua isi paper bag itu, lalu membuka toples berisi kue coklat, yang membuat Greta ngiler sendiri.
Greta tersenyum tipis, seraya memakan kue itu. Dia tidak menyangka jika Nanda akan memberikanya kue, padahal mereka pernah berantem di kantin.
Greta juga baru tahu, jika Boy adalah saudara Nanda.
Di saat Naya, Yuni dan Vani tidak peduli padanya, sosok Nanda hadir memberikan celah sedikit dalam hatinya, jika tidak semuanya orang menghindar.
Greta sudah mendapatkan caci maki dari ketiga sahabatnya melalui pesan wa, Greta sudah paham, mengapa ketiga sahabatnya itu menghindari dirinya, karna mereka bertiga sudah tahu, jika videonya yang viral itu, berciuman dengan seseorang adalah sosok Arya, sosok cowok yang Yuni sukai.
Greta berciuman dengan Arya bukan karna suka, karna sebuah uang, bibirnya tidak gratis di cium oleh Arya, melainkan di bayar. Bahkan, cowok itu membayar lebih di luar perjanjian mereka.
Hanya saja saat itu, Greta mengatakan tidak cukup dengan uang bayaran yang di berikan Arya, karna ciuman panas ini namanya menjadi trending topik di sekolah maupun di luar sekolah.
Pagi ini Greta sudah kembali ke sekolah, mengenai kasusnya yang viral ini, seseorang sudah menanganinya yang bahkan Greta tidak tahu, siapa yang mengaku jadi keluarganya menghadap pada kepala sekolah.
Greta sempat terkejut, saat kepala sekolah megatakan jika dia bisa mulai ke sekolah.
Nanti , Greta akan mengucapkan Terimaksih kepada Nanda, mengenai kue yang dia berikan padanya, dia titipkan pada Boy.
Dan ada satu hal yang Greta tunggu, yaitu Kesya. Kemarin, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri lalu mencernah situasi kemarin, dia menebak jika mamanya Kesya adalah selingkuhan papanya Nanda.
Greta tersenyum penuh kemenangan, dia akan membalas perbuatan Kesya padanya. ''Gue bakalan balas lo, Sya.''
***
Salsa dan Cika pulang subuh, karna mereka akan ke sekolah, mereka tidak membawa perlengkapan sekolahnya sehingga keduanya pulang cepat.
Nanda sudah siap untuk ke sekolah, dia menarik nafasnya panjang. Agar dia konsentrasi menerima pelajaran di sekolahnya nanti.
Dia tidak akan konsentrasi, jika pikiranya terus-terusan di hantui nama Iksan, sosok papa yang sudah membohongi dirinya.
Bahkan, gadis itu membuang kartunya agar papanya tidak bisa menghubungi dirinya.
Pak Budi sudah kembali ke Jakarta, sehingga supir itu yang akan mengantar Nanda ke sekolah kembali.
Pak Budi membukakan Nanda pintu mobil, lalu gadis itu masuk kedalam. Berulang kali Nanda menghembuskan nafas berat, mengenai masalah ini.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya membiarkan angin pagi menyapa wajahnya.
Gadis itu mengunyah permen karet, bahkan permen itu tidak bisa mengalihkan pikiranya mengenai masalah keluarganya yang ini.
Dia sulit untuk menrima ini semua, namun dia hanya pura-pura tegar saja.
Lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, Nanda masih setia memejamkan matanya di dalam mobil, dengan mulutnya setia mengunyah permen karet kesukaanya.
‘’Mau nebeng sama gue nggak? Daripada lo telat.''
Suara yang Nanda kenali memasuki gendang telinganya, gadis itu membuka matanya lalu melirik kearah kirinya.
Dia melihat sosok cowok yang menggunakan seragam SMA sama denganya, hanya saja bajunya itu di tutupi oleh Jaket bertuliskan nama ARIGEL.
Cowok itu membuka kaca helm fullfecnya, sehingga mereka berdua adu tatapan.
''Kalau lo mau, buruan naik,'' lanjut Ardian, karna gadis itu masih tidak membalas ucapanya.
‘’Yaudah, kalau lu ng—''
''Ok, gue mau.'' Nanda langsung turun dari mobilnya, membuat pak Budi memanggil nama gadis itu.
''Non Nanda, jangn pergi sama orang yang nggak non kenal. Entar mamanya marah,'' panggil pak Budi, melihat anak majikannya itu sudah turun dari mobil.
''Saya bukan orang lain, pak. Mamanya Nanda udah kenal saya,'' balas Ardian membuat pak Budi menjadi diam.
Nanda langsung naik keatas motor Ardian, dia tidak ingin tambah pusing di dalam mobil, memikirkan masalah ini, yang tidak ada ujungnya, akan membuat dirinya semakin pusing karna lampu merah.
‘’Kurang aja lo!'' Nanda langsung menggeplak helm milik Ardian, saat cowok itu tiba-tiba menjalankan motornya, menyelip banyak motor.
‘’Santai aja, nggak usah norak!'' balas Ardian membuat Nanda tidak membalas ucapan cowok itu.
Baru kali ini Nanda melihat Ardian berangkat sekolah tidak bersama dengan para sahabatnya, cowok itu melajukan motornya membuatnya harus memegang erat jaket cowok itu.
Nanda tidak tahu, harus menyesal naik motor bersama dengan Ardian atau tidak. Karna cwok itu bawa motor, seperti ingin mengajaknya mata, sehingga pikiran Nanda tentang yang lain langsung hilang, terutama pikiran yang memikirkan papanya.
Nanda sudah tidak tahu, bagaimana bentuk rambutnya sekarang, di terbangkan oleh angin. Rambutnya sudah pasti tidak serapi saat dia naik mobil.
''Astagah!'' pekik Nanda saat Ardian langsung membelokkan motornya masuk gerbang, cowok itu tidak memikirkan dirinya di belakang.
Banyak pasang mata yang melihat Nanda boncengan dengan Ardian, baru kali ini juga mereka melihat Ardian mau berboncengan dengan cewek.
Banyak bisikan yang Nanda dengar, mengenai dirinya yang berangkat bareng Ardian ke sekolah. Andai saja mereka tahu, jika dirinya sudah lebih dari boncengan bersama Ardian, maksudnya dia sudah mengenal keluarga cowok itu, dan sudah makan malam bareng kelurga Ardian.
Kesya mengepalkan tanganya, saat dia keluar dari mobil bersama dengan ketiga sahabatnya, hal pertama yang dia lihat adalah Ardian dan Nanda, dia melihat dengan jelas Nanda turun dari motor Ardian.
‘’Kurang ajar!'' Andai saja kepalanya tidak sakit, sudah di pastikan Kesya akan melabrak Nanda.
Dia bersiang dengan Greta untuk mendapatkan Ardian, dengan caranya yang tidak di ketahui banyak orang, bahkan sahabatnya tidak tahu, jika selama ini dia menyukai Ardian, dan sering memberikan perhatian kepada Ardian, dia adalah sosok gadis yang sering memberikan Ardian minuman.
''Lo mau kemana?'' Pute mencekal tangan Kesya, karna gadis itu ingin pergi.
__ADS_1
''Lepasin, Put!'' sentak Kesya, dia emosi dengan Nanda lalu dia lampiaskan juga kepada Pute, karna gadis itu mencekal tanganya.
Pute langsung melepaskan tangan Kesya, membiarkan gadis itu menghampiri Nanda dan juga Ardian.
‘’Kesya mana?'' tanya Puri.
Pute langsung menarik tangan Puri untuk menyusul Kesya, jangan sampai gadis itu kembali masuk rumah sakit, karna luka yang seharusnya dia diamkan harus kembali aktif.
‘’Nanda!''
Suara Kesya langsung menyapa gendang telinga keduanya, Nanda menaikkan alisnya sebelah melihat tatapan marah Kesya padanya.
Gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam, ‘'lo mau rebut semuanya, Hah!'' cecar Kesya kepada Nanda.
''Maksud lo?'' tanya Nanda dengan suara santainya kepada Kesya.
''Lo udah rebut dua sahabat gue, Cika sama Salsa. Dan sekarang lo mau rebut orang yang gue suka!'' Kesya menunjuk wajah Nanda dengan wajah merah padam.
‘’Mau lo apa Hah! Gue udah nyesel masukin lo di pertemanan gue, Nan!'' marah Kesya kepada Nanda.
''Nggak usah nunjuk-nunjuk.'' Ardian menatap jari telunjuk Kesya dengan tajam.
Gadis itu menurunkan jari telunjuknya yang menunjuk Nanda, lalu dia menatap Ardian. ''Biar orang semuanya tahu, kalau selama ini gue suka sama lo, Ar! Gue udah capek mendam perasaan gue ke lo!'' Gadis itu berucap dengan menggebu-gebu kepada Ardian.
Kesya salah besar, dia pikir hanya Greta sainganya mendpatakan Ardian, bahkan gadis itu selalu menggunakan berbagai cara untuk menyaingi Greta.
Dia tidak menyangka, jika Nanda lah yang maju diantara mereka berdua. Kesya tidka pernah berpikir jika Nanda dan Ardian akan sedekat ini.
Bahkan, Kesya saja tidak pernah berboncengan dengan Ardian, namun melihat Ardian membonceng Nanda ke sekolah, membuat Kesya yakin, jika cowok yang dia sukai itu juga menyukai Nanda.
‘’Yang pertama, Gue nggak pernah rebut sahabat lo,'' jelas Nanda dengan santai, tanpa ada raut emosi seperti Kesya.
''Terus yang kedua, gue nggak pernah mau rebut orang yang lo suka. Gue juga nggak tahu orang yang lo suka itu dia,'' ucap Nanda melirik kearah Ardian. ''Oiya, dia juga yang nawarin gue naik motor bareng,'' lanjut Nanda dengan senyuman sinis kearah Kesya.
Banyak pasang mata menatap kedua gadis itu yang beradu mulut karna Ardian.
Kesya mengepalkan tanganya. Seolah-olah ucapan Nanda barusan menjatuhkan dirinya.
Drt...
Ponsel milik Ardian bergetar, cowoknya itu merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.
Dilihatnya nama Rafael terterah di layar ponselnya, cowok itu langsung mengangkatnya.
‘’Hmm...'' suara Ardian menyapa gendang telinga milik Ardian di ujung Telfon.
‘’Buruan ke kelas,'' ujar Rafael di ujung Telfon.
‘’Kanapa?'' tanya Ardian seraya menaikkan alisnya sebelah.
‘’Kesini aja, Ar. Ada hal penting yang mau kita omongin,'' ucap Rafael lagi.
''Ok, tunggu gue di sana.''
Tut...
Panggilan berakhir.
''Nan, gue ke kelas duluan,'' pamit Ardian kepada Nanda.
''Ok,'' balas gadis itu.
Terlebih dahulu Ardian menatap Kesya, memberikan tatapan tajam pada gadis itu.
Ardian langsung pergi meninggalkan Nanda di parkiran, sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan gadis itu, apa lagi ada Kesya.
Namun karna mendapatkan Telfon dari Rafael, sehingga Ardian langsung pergi.
''Cika sama Salsa mana, Nan?'' tanya Pute. Karna kurang srek saja jika dia tidak menyapa Nanda.
‘’Kayaknya belum sampai deh,'' jawab gadis itu dan dibalas anggukan kepala oleh Pute.
''Dasar murahan!'' cecar Kesya kepada Nanda, sehingga gadis itu langsung menatap Kesya dengan tatapan nyalang.
''Yang murahan itu elo sama nyokap lo itu!''
Ucapan Nanda sukses membuat mereka berbisik-bisik, mereka bertanya-tanya, mengapa Nanda mengatai Kesya itu murahan, bukan hanya Kesya, bahkan gadis itu membawa orang tua Kesya.
''Maksud lo apa Hah!'' Kesya tidak terima Nanda mengatai nyokapnya murahan.
Kesya menjambak rambut Nanda dengan keras, gadis itu tidak tinggal diam, dia juga menjambak rambut milik Kesya.
''Dasar perebut lo!'' raung Kesya masih setia menjambak rambut milik nanda.
Nanda tidak tinggal diam, dia ikut menjambak rambut Kesya.
''Kata perebut pantas buat lo sama nyokap lo itu!'' raung Nanda menarik keras rambut Kesya. Gadis itu menyalurkan apa yang dia pendam dengan menarik rambut Kesya, gadis itu duluan, jadi tidak ada salahnya jika dia membela diri.
''Kesya!'' Pute berusaha memisahkan Kesya dari Nanda, karna kondisi gadis itu belum membaik.
Apa Kesya mau masuk rumah sakit yang ketiga kalinya?
Pute langsung menarik tangan Kesya, agar gadis itu menjauh dari Nanda, apa lagi Pute bisa melihat kemarahan di mata milik gadis itu kepada Kesya.
Kesya tentu meringis karna jambakan dari Nanda, wajah Kesya kembali pucat. Bagaimana tidak, jika dia belum sembuh total atas apa yang Greta lakukan padanya, sekarang dia saling menjambak dengan Nanda.
‘’Kurang ajar lo!'' Puri langsung mendorong tubuh Nanda. Serangan tiba-tiba dari Puri membuat gadis itu tidak mengimbangi tubuhnya. Untung saja seseorang dengan cepat menangkap tubuh Nanda, sehingga gadis itu tidak jatuh.
Nanda dan Gerald saling bertatapan. ''Kamu nggak apa-apa, Ra?'' tanya Gerald dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
Gerald menatap Kesya dan Puri secara bergantian, untung saja dia datang tepat waktu. Jika tidak, maka Nanda akan jatuh ke bawa.
‘’Nggak puas lo cari masalah,'' jelas Gerald dengan dingin kepada Kesya.
‘’Nggak usah ikut campur lo!'' desis Kesya seraya menahan sakit di kepalanya.
''Kita ke uks, Sya. Muka lo pucat banget.'' Pute langsung membawa Kesya menuju uks.
Gadis itu benar-benar keras kepala, Raisa dan Iksan menyuruhnya untuk tinggal di rumah, tidak ke sekolah untuk hari ini. Namun dia tetap kekeh ingin ke sekolah, dan ini hasil yang dia dapatkan pagi ini.
''Ck! Dasar osis caper!'' hina Puri kepada Gerald, lalu pergi dari parkiran sekolah, setelah gadis itu menatap tajam Nanda.
Kesya sudah masuk kedalam uks, di temani dengan Puri dan Pute.
Cika dan Salsa saling bertatapan di dalam mobil, saat melihat parkiran sekolah nampak ramai.
Kedua gadis itu langsung turun dari mobil, guna melihat ada apa di parkiran sekolah.
''Nan,'' panggil Salsa menghampiri Nanda dan Gerald.
Cika menatap Gerald, cowok itu nampak perhatian dengan Nanda.
Jangan cemburu, Cika. Mereka berdua udah kenal sejak kecil, Nanda lebih dulu kenal Gerald ketimbang lo
Cika berperan dengan pikiranya, sampai saat ini dia tidak tahu, perasaanya pada Gerald itu hanya sebuah kekaguman atau cinta.
‘’Rambut kenapa bisa berantakn kayak gini, Nan?'' tanya Salsa, seraya merapikan rambut milik Nanda.
Nanda tersenyum tipis melihat Salsa merapikan rambutnya, ''kayak gini, kan cantik,'' puji Salsa, setelah berhasil merapikan rambut milik Nanda.
__ADS_1
‘’Makasih,'' ucap Nanda.
''Sama-sama.''
‘’Rambut lo emang kenapa bisa berantakan kayak tadi?'' tanya Cika, setelah beberapa menit diam, karna dia sibuk memperhatikan Gerald.
''Gue berantem sama, Kesya,'' jawab Nanda.
''Hah?'' Cika dan Salsa bersamaan termangu dengan ucapan Nanda barusan.
‘’Masalah apa lagi sih tuh anak,'' decak Cika.
''Dia ngira gue rebut Ardian dari dia,'' jawab Nanda dengan santai.
Salsa, Cika dan Gerald bersaman menaikkan alisnya sebelah.
‘’Maksudnya?'' tanya Gerald tidak paham.
''Gue berangkat bareng Ardian ke sekolah.''
Deg...
Mendengar pernyataan Nanda barusan membuat hati Gerald terenyah, dia tidak menyangka jika Nanda dan sahabatnya bisa sedekat itu.
Apa lagi Gerald tahu, Ardian anti dengan cewek, apa lagi sampai mau boncengan sama cewek. Namun mendengar ucapan Nanda tadi, membuat Gerald yakin, jika dirinya dan Ardian mencintai gadis yang sama.
Cika bisa melihat raut wajah Gerald berubah, dia tahu cowok itu cenburu, mendengar Nanda berangkat ke sekolah dengan Ardian.
‘’Cuman itu doang?'' tanya Salsa.
''Kesya juga bilangin gue udah rebut kalian bedua,'' jelas Nanda.
''Dih, sikap Kesya yang buat kita kayak gini. Andai aja dia mau sadar dengan apa yang dia lakukan, mungkin gue sama Salsa nggak ilfil berteman sama Kesya,'' jelas Cika.
‘’Berteman sama orang dengan sikap seperti Kesya, bakalan buat kita ketularan. Bisa aja kemarin nyebar aib Greta, kedepanya kita nggak akan bakalan tahu, apa yang akan Kesya lakuin,'' lanjut Cika.
''Apa lagi sikap Kesya yang egois,'' kata Salsa. ''Apapun bakalan dia lakuin demi sebuah kemenangan,'' lanjut Salsa dan dibalas anggukan setuju oleh Cika.
''Tapi lo nggak apa-apa, kan?'' tanya Cika.
''Nggak apa-apa. Cuman kepala gue sedikit pusing,'' terang Nanda.
Gerald lebih dulu pamit kepada ketiga gadis itu, karna Ardian sudah menelfon dirinya untuk ke kelas sekarang juga.
‘’Sekarang Kesya dimana, Nan?'' tanya Salsa, saat ini ketiga gadis itu berjalan di koridor sekolah untuk ke kelas.
''Uks,'' jawab Nanda.
Ketiga gadis itu masuk kedalam kelas.
''Aku mau jenguk Kesya di uks dulu,'' ucap Salsa.
''Kamu nggak mau ikutan, Ci?'' Tanya Salsa.
‘’Nggak, lu aja yang pergi. Gue lagi mager,'' jawab Cika seraya mengeluarkan bukunya dari dalam tas miliknya.
Salsa tahu jika Cika malas bertemu dengan Kesya untuk saat ini, apa lagi saat tahu gadis itu berbuat ulah lagi. Belum cukup masalah yang dia buat. Dia kembali berbuat masalah dengan Nanda.
''Yaudah, aku jenguk Kesya di uks dulu,'' pamit Salsa dan dibalas anggukan kepala oleh kedua gadis itu.
Salsa berjalan menuju uks seorang diri, karna Cika tidak ingin ikutan dengan dia.
''Salsa,'' panggil seseorang, sehingga Salsa membalikkan tubuhnya melihat kearah belakang, ada Arya yang memanggil dirinya.
''Iya, kenapa?'' tanya Salsa kepada Arya.
''Gue boleh minta nomor lo?'' tanya Arya membuat Salsa berpikir sejenak, lalu kemudian gadis itu mengangguk saja.
Arya mengeluarkan ponselnya, lalu memberikanya kepada Salsa, agar gadis itu mengetik nomor ponselnya.
''Udah aku simpan nomornya,'' ucap Salsa menyerahkan ponselnya kepada Arya.
''Aku duluan,'' pamit gadis itu, lalu pergi meninggalkan Arya di koridor.
Arya tersenyum, karna berhasil mendapatkan nomor Telfon Salsa. ''Nggak sesulit yang gue bayangin,'' gumam Arya.
Cowok itu langsung mengirimkan nomor ponsel Salsa pada Fatur, karna dia meminta nomor Salsa karna ini sebuah perintah dari Fatur.
Setelah berhasil mengirimkan nomor Salsa kepada Fatur, cowok itu langsung pergi dari koridor.
Salsa langsung masuk kedalam uks, dia melihat Kesya sedang tidur diatas bansal, sementara Pute duduk di samping Kesya.
''Put,'' panggil Salsa.
''Eh, Sal. Kok sendiri, Cika mana?'' tanya Pute.
''Mmmm, dia lagi ngerjain tugas,'' bohong Salsa.
''Gimana kondisi, Kesya?'' tanya Salsa.
‘’Kesya sempat pingsan tadi, tapi dia udah sadar kok. Dia lagi tidur,'' jawab Pute. ''Lo udah tahu, kan kalau Kesya sama Nanda berantem?''
''Iya,‘’ jawab Salsa.
‘’Puri mana?'' tanya Salsa karna tidak melihat adanya Puri di sini.
''Lagi beli makanan buat, Kesya,'' jawab Pute.
Bersamaan dengan itu, Pute datang membawa makanan untuk Kesya.
''Masih ingat lo kesini.'' Suara milik Puri langsung terdengar jelas di telinga Salsa.
Salsa hanya tersenyum tipis saja, tidak membalas ucapan Puri.
Kesya mulai membuka matanya, dan melihat ada Salsa di sini, namun dia tidak melihat Cika.
‘’Cika mana?'' tanya Kesya dengan suara lemahnya, karna kepalanya masih sakit.
''Di kel—''
‘’Nggak usah nyari dia, Sya. Dia udah terbawa pengaruhnya sih Nanda,'' kata Puri.
''Nggak boleh kayak gitu lah, Ri,‘’ tegur Pute dengan sopan kepada sahabatnya itu.
‘’Emang kenyataan kok. Dia udah tahu Kesya lagi di uks. Tapi dia nggak datang. Itu namanya sahabat?''
Baiklah, Pute tidak membals ucapan Puri lagi. Karna dia tahu gadis itu.
‘’Gimana keadaan kamu, Sya?'' tanya Salsa.
'Udah mendingan,'' jawab Kesya.
''Kalian nggak bilang, kan sama nyokap sama bokap gue, kalau gue di uks?'' tanya Kesya kepada Puri dan Pute.
Kedua gadis itu mengangguk serentak dengan ucapan Kesya, jika dia tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
Kesya mulai makan, makanan yang di bawa oleh Puri dari kantin tadi.
Bell jam masuk bunyi, sehingga Salsa dan Pute balik ke kelas duluan, Puri yang menjaga Kesya di uks. Karna kondisi gadis itu belum fix untuk ikut pelajaran pagi ini.
__ADS_1
Ucapan Nanda masih terngiang-ngiang di kepala gadis itu, Kesya belum tahu saja, jika dirinya dan Nanda itu saudara, Puri dan Pute berpikir jika Kesya sudah tahu hal ini.