ARDIAN

ARDIAN
Menggoda


__ADS_3

Bibi menutup pintu kamar Nanda, lalu wanita paru baya itu berjalan menuruni anak tangga, untuk segera menuju dapur.


Dia anak tangga, ia berpapasan dengan Boy.


"Gimana, Bi?" tanya Boy pada Bibi, "dia nggak macam-macam 'kan?" tanya Boy memastikan.


"Tuan Boy tenang aja, gadis yang pake jepitan rambut itu duduk sendiri. Nggak gabung sama non Nanda dan temanya yang lain," kata sang Bibi menyampaikan. Dia hanya menjalankan apa yang Boy suruh ia lihat dan sampai kan pada pria itu.


Boy mengangguk kecil, lalu sang Bibi kembali berlalu pergi meneruskan langkah kakinya yang sempat tertunda.


Ucapan sang Bibi tadi membuat Boy bernafas legah, setidaknya Kesya tidak berulah di sini.


Boy tadinya ingin ke kamar Nanda, namun dia mengurungkan niatnya saat mendapat pesan dari seseorang.


Senyuman di wajah pria itu terbit, Greta mengirim pesan padanya. Dengan gerakan cepat pria itu berputar arah.


Ia berjalan menuju pintu utama.


"Biar saya aja yang buka pintunya!" kata Boy cepat, saat melihat sang Bibi ingin membuka pintu.


"Baik." Bibi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Boy, lalu kemudian wanita baya itu kembali menuju dapur.


Pintu utama di buka oleh Boy, senyuman tercetak jelas di wajah Boy melihat Greta, gadis itu masih mengenakan seragam abu-abu nya.


"Masuk dulu, Gre." Pria itu mempersilahkan Greta untuk masuk.


Gadis itu mengangguk, lalu dia masuk kedalam rumah mewah tersebut.


"Mau minum apa? Biar saya buatin," kata Boy, setelah Greta mendudukkan tubuhnya diatas sofa empuk.


"Nggak usah," kata Greta.


Boy mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Teman-teman Nanda ada di sini?" tanya Greta. "Gue nggak sengaja lihat mobil salah satu temanya diluar," lanjutnya. Dia mengenal siapa pemilik mobil mewah itu, mobil milik gadis bernama Pute.


"Mereka lagi diatas, di kamar Nanda," jawab Boy, "kamu nggak mau ikutan gabung?"

__ADS_1


Dengan cepat Greta menggeleng, bagaiamana mau gabung jika mereka saja tidak akrab.


"Saya sama mereka nggak akrab, cuman satu sekolah doang," jawab Greta sekenanya dan dibalas anggukan kecil oleh Boy.


"Hmmm." Boy berdehem ke arah Greta. "Mau ngomong apa? Saya rasa ada yang ingin kamu katakan, sehingga datang kesini. Mana masih pake seragam SMA," celetuk Boy dengan senyuman kecilnya itu.


"Saya cuman mau bilang, kalau saya sudah resign di club tempat saya kerja," jelas Greta membuat pria di depannya semakin mengembangkan senyumnya.


Dia tidak menyangka jika Greta dengan cepatan kilat, melakukan apa yang ia katakan.


"Baguslah." Boy manggut-manggut. "Kamu kesini naik apa?" tanya Boy, karna ia tahu Greta tidak punya kendaraan pribadi.


"Naik ojek," jawabnya.


"Saya antar kamu pulang ya, sekalian kita jalan-jalan ke mall," ajak Boy dengan semangat empat lima pada Greta.


Senyuman dari Boy membuat Greta terpana, pria di depannya tidak habis-habisnya melemparkan senyuman padanya.


Selama ini, Greta tidak pernah mendapatkan senyuman tulus dari seorang pria. Ini pertama kali dalam hidup nya.


"Gre," panggil Boy, membuat Greta tersentak, ia menghayati wajah Boy yang di hiasi senyuman tulus.


Apa mungkin, karna dia tidak pernah dekat dengan namanya makhluk bernama perempuan? Kecuali dengan mama dan adiknya.


Dia menggoda Greta seakan-akan dia remaja SMA.


Greta hanya mengedikkan kedua bahunya acuh. Membuat Boy makin tertawa kecil.


Tidak ada yang lucu 'kan? Namun pria itu tertawa. Lucu aja baginya menggoda Greta, meskipun gadis itu tidak salting sama sekali.


"Jadi gimana?" tanya Boy lagi. "Kalau kamu mau, saya siap-siap dulu," kata Boy lagi.


"Dokter nggak ke rumah sakit? Mama dokter Boy 'kan di rawat di sana," kata Greta.


"Rencana entar malam saya kesana," jelas Boy.


"Gimana kalau kita ke rumah sakit saja," usul gadis itu. "Saya mau jenguk mama, sekalian jenguk mama dokter Boy," lanjut gadis itu membuat Boy nampak berpikir sejenak, lalu kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan Greta.

__ADS_1


"Saya keatas dulu ganti baju," pamit Boy, lalu melenggang pergi meninggalkan Greta di ruangan tamu.


Greta menatap punggung Boy yang makin menjauh, lalu gadis itu menghembus kan nafas berat.


"Gue nggak tahu, keputusan gue buat nikah muda sama dokter Boy udah tepat atau nggak. Yang jelas, niat gue buat bahagian mama sama Pai," menolog gadis itu dengan suara pelan.


Apapun akan dia lakukan, dia tidak sanggup melihat mama nya hidup susah. Apa lagi selama ini keluarga mereka hidup nya selalu terjamin, namun semenjak papa nya meninggal, dunianya jungkir balik seketika.


Tidak butuh waktu lama, Boy kembali menemui Greta. Pria itu mengenakan kaos oblong, lalu mengenakan celana jeans di padukan dengan sepatu sneakers, membuat nya seperti cowok SMA saja.


Kata Boy, nggak apa-apa umur tua, asal jangan muka yang tua. Kan nggak enak, kalau umur muda tapi muka tua!


Melihat penampilan Boy yang tidak formal seperti biasanya, membuat Greta meneguk salivanya susah payah.


Hampir setiap hari melihat dokter Boy di rumah sakit, membuat Greta selalu melihat penampilan Boy yang formal, khas seorang dokter.


Namun penampilan Boy kali ini, tidak ada formalnya sama sekali, membuat pria itu seperti remaja umur dua puluh tahunan.


Meski umur Boy sudah mau menginjakkan 27, namun wajahnya masih kelihatan muda. Tidak terlalu dewasa, mungkin karna keseringan senyum jadi pria itu awet muda kelihatannya.


"Hmmm, ada yang salah sama penampilan saya?" tanya Boy santai, seraya menaikkan alisnya sebelah. Melihat Greta yang menatap nya tanpa berkedip membuat Boy berpikir, jika penampilan nya saat ini ada yang beda.


Greta menggeleng, "nggak ada, cuman nggak formal seperti biasanya," kata Greta acuh, lalu ia berjalan lebih dulu keluar.


Boy senyum-senyum, seraya mengikuti langkah kaki Greta dari belakang.


"Jadi gimana, Gre?" tanya Boy.


"Apanya yang gimana, dok?" tanya balik Greta, tanpa melihat kebelakang.


Mereka sudah sampai di depan mobil Boy, pria itu membukakan Greta pintu mobil.


"Lain kali nggak usah di bukain dok, saya bisa sendiri," kata Greta pada pria itu.


"Udah kebiasaan bagi saya, buat bukain pintu mobil untuk Nanda dan mama saya. Kamu masuk deretan orang penting di hidup saya, jadi saya melakukan ini," kata Boy santai.


Greta tidak membalas ucapan Boy, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil, lalu di susul oleh dokter Boy.

__ADS_1


Boy langsung menjalankan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah, menuju rumah sakit.


Dia sudah memberitahukan pada Nanda, jika dia akan keluar sebentar. Dia tidak mengatakan, jika dia ingin ke rumah sakit bersama calon istrinya.


__ADS_2