ARDIAN

ARDIAN
Prasangka buruk


__ADS_3

Tok... Tok... Tok


Suara ketukan pintu membuat Nanda berdengus kesal. Dia merasa baru saja tidur, namun sosok sang kakak mengetuk pintunya tidak sabaran.


Semalam dia tidur pukul empat subuh dan sekarang dia di bangunkan jam 6 pagi.


"Ara!" panggil Boy, di sertai dengan ketukan beruntun dari luar.


"Iya! Gue udah bangun!"


Nanda bangun dari tempat tidurnya, berjalan gontai menuju pintu kamar.


Ceklek.


Nanda membuka pintu kamar, gadis itu menaikkan alisnya sebelah melihat Boy begitu rapih, pagi-pagi begini. Setahu Nanda, Boy hari ini libur.


Gadis itu lalu menggeleng, dia baru ingat jika pagi ini mereka akan menjenguk sang mama. Karena semalam, Gina menyuruh anaknya untuk pulang, dengan alasan ada sesuatu yang mengharuskan anaknya untuk pulang.


"Malah bengong," dumel Boy.


"Gue mandi dulu." Nanda langsung menutup kembali pintu kamarnya.


"Buruan, Ra! Mama nungguin kita!"


"Iya-iya, bang! Gue cuman mandi bentar!"


Boy menghembuskan nafas berat, lalu kemudian pria itu berjalan menuruni anak tangga, seraya menunggu kedatangan Nanda.


Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya Nanda muncul juga, dengan styles santai namun begitu cocok untuknya. Apapun yang diapakai, akan terlihat mewah.


Dia hanya mengenakan rok jens dibawah lutut serta baju kaos kucing berwarna putih, dengan tas selempang kecil dia pakai. Jangan lupa dia mengenakan sepatu vantela membuatnya semakin cantik dengan styles-nya saat ini.


Bahkan, Boy dibuat takjub.


"Cantik banget sih adek gue," celetuk Boy membuat Nanda tertawa kecil.


"Ya iyalah. 'Kan keturunan mama, Gina," bangganya membuat Boy ikutan tertawa.


"Lo juga ganteng, bang. 'Kan lo keturunan papa yang ganteng," goda Nanda membuat Boy langsung tersenyum kecut.

__ADS_1


"Hati gue sensitif, Ra. Kalau bahas-nya papa," kesalnya.


Nanda langsung menggandeng tangan Boy, berjalan keluar rumah untuk segera kerumah sakit.


Kakak beradik sudah masuk kedalam mobil, Boy langsung melajukan mobilnya kerumah sakit.


Hari ini, Nanda tidak ke sekolah, Boy sudah menelfon kepala sekolah untuk minta izin.


Tidak butuh waktu lama, Nanda dan Boy sudah sampai di rumah sakit. Nanda lebih dulu membuka pintu mobil.


Deg...


Nanda mematung, entah mengapa setiap kemunculan cowok di hadapannya sukses membuat Nanda senam jantung.


"Ardian, lo ngapain di sini?" Nanda lebih dulu bertanya sebelum menutup pintu mobil.


Ardian belum menjawab pertanyaan Nanda, cowok itu sibuk mengamati penampilan Nanda yang sederhana. Namun mampu membuat darahnya berdesir melihat gadis itu. Satu kata dalam benak Ardian. 'Nanda sangat cantik pagi ini.'


"Ra, gue masuk duluan. Jangan lama ngobrolnya, mama lagi nungguin di dalam," peringat Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


Sebelum pergi, Boy lebih dulu menatap Ardian. Sementara Ardian yang di tatap Boy hanya abai saja.


"Gue kesini karna kangen," kata Ardian dengan wajah datar-nya mengatakan jika dia merindukan gadis di depannya.


Nanda menghembuskan nafas berat, dia sengaja menonaktifkan ponsel miliknya, agar tidak ada yang mengganggu dirinya. "Gue nggak mau di ganggu sama notif yang masuk ke hp gue."


Sudut bibir Ardian terangkat, dia senyum dengan senyuman tipis, nyaris tak terlihat. "Lo nggak lupa 'kan, kalau kita ini pacaran. Meskipun pacaran kita di landasi dengan sesuatu. Gue harap lo nggak lupa, jangan buat gue khawatir." Ardian masih mempertahankan wajah datarnya.


Ardian menarik nafasnya lebih dulu. "Nanda, lihat gue," perintah Ardian dengan raut wajah yang masih sama. Dengan cepat, Nanda lansung menatap manik mata Ardian, suara cowok itu mampu membuatnya ciut. "Gue nggak nuntut lo buat berkabar setiap waktu, karna gue tahu, kita pacaran cuman gue yang cinta sama lo. Sementara lo nggak sama sekali. Gue cuman minta, jangan buat gue khawatir dengan lo hilang kabar. Seenggaknya lo wa gue, kalau lo baik-baik aja."


Wajah Ardian begitu serius, sorot matanya menunjukkan jika ucapannya barusan sangat serius, sementara Nanda masih tidak bergeming dengan ucapan Ardian. Dia sangat mencerna ucapan Ardian barusan.


Ardian mengalihkan pandangannya, dari Nanda. "Ok, gue minta maaf, kalau menurut lo ucapan gue barusan buat lo risih."


Tanpa menunggu balasan dari Nanda, Ardian langsung berjalan menuju motornya, memakai helm fullfecnya dengan jaket ARIGEL menutupi punggung kokohnya.


Ardian langsung pergi meninggalkan 'kan Nanda, sementara gadis itu masih mematung melihat kepergian Ardian.


Drt...

__ADS_1


Suara deringan ponsel Nanda, membuat gadis itu tersentak dengan lamunanya. Dia melihat nama yang tertera di layar ponsel, yaitu Boy.


Dengan cepat, Nanda berjalan meninggalkan parkiran, dia tahu Boy sudah kesal menunggunya saat ini.


Nanda berjalan cepat di koridor rumah sakit, namun langkah kaki yang cepat itu perlahan-lahan melambat saat melihat Raga papinya Gerald nampak sibuk mengurus sesuatu.


Nanda bisa melihat raut wajah lelah menghiasi wajah papi Gerald. Dengan cepat, Nanda melangkahkan kakinya untuk menghampiri Raga yang nampak sibuk dengan dokter Ivan.


"Om, Raga," panggil Nanda, sehingga pria itu langsung membalikkan tubuhnya, dia melihat sahabat anaknya ada di sini.


"Hai, Ara," sapa dokter Ivan dengan ramah, dia menyapa Nanda dengan sebutan Ara. Sama seperti Boy, dia mendengar Boy saat mengobrol dengan Nanda. Apa lagi Ivan dan Boy akrab.


Nanda membalas senyuman dokter Ivan. "Iya, dok," balasnya tak kala ramah.


"Yasudah, saya tinggal dulu, ya," pamit Ivan kepada Raga dan Nanda. Tidak mungkin dia meneruskan obrolanya dengan Raga, sementara ada Nanda di sini.


"Om," panggil Nanda. "Ara lihat, om lagi sibuk. Om sibuk apa? Apa ada kaitannya dengan kondisi Gerald, Om?" tanya Nanda dengan raut wajah khawatir, membuat Raga diam sejenak lalu kemudian pria menggeleng lalu tersenyum.


"Om cuman ngobrol dengan dokter Ivan. Menanyakan kondisi Gerald," bohongnya, namun membuat Nanda percaya saja.


"Apa kata dokter Ivan, Om?" tanya Nanda lagi, berharap ada kabar baik mengenai kondisi Gerald.


"Nggak ada perubahan sama sekali. Kondisinya tetap sama," jawab Raga membuat Nanda terdiam.


"Aku pamit dulu ya, om. Aku mau jenguk mama. Habis itu, Aku bakalan jenguk Gerald," jelasnya dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya.


"Om lupa kasi tahu ini ke kamu," kata Raga dengan serius.


Nanda berpikir sejenak, apa yang tidak dia ketahui?


"Apa om?" tanya Nanda menuntut jawaban.


Raga lebih dulu menarik napasnya panjang, sebelum melanjutkan ucapanya. Dapat Nanda lihat, raut wajah Raga semakin tidak terbaca.


Nanda menggigit bibirnya, saking takutnya mendengar apa yang akan Raga katakan.


"Om," panggil Nanda lagi.


"Kata dokter, Gerald tidak bisa di temui siapapun lagi. Baik orang tua Gerald maupun para sahabatnya. Karna kondisi Gerald makin buruk. Jadi dokter melarang siapapun menjenguk Gerald dari sekarang," bohongnya.

__ADS_1


Deg...


Jantung Nanda berdetak lebih kencang.


__ADS_2