
Boy dan bebarapa perawat berjalan cepat menuju UGD, saat seorang dokter mengatakan jika mereka kedatangan pasien dengan bersimbah darah, jangan lupa juga dia menggunakan seragam sekolah SMA Pelita, membuat Boy menjadi khawatir, takut-takut jika itu adalah adiknya.
Apa lagi sedari tadi dia menelfon Nanda, namun gadis itu tidak mengangkatnya, membuat tingkat kekhawatiran Boy semakin tinggi.
''Nama pasien yang pake seragam SMA itu siapa?'' tanya Boy kepada perawat yang baru mendorong pasien masuk kedalam ugd.
''Namanya Kesya,'' jawab perawat itu, membuat Boy bernafas legah.
Dia dan dua perawat lainya masuk ke dalam ugd, dengan cepat mereka memakai APD mereka masing-masing, untuk segera menangani gadis yang masih menggunakan seragam SMA itu.
Mereka melakukan operasi kecil, karna pecah beling ada yang tinggal di kepala gadis itu. Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Boy dan perawat usai.
Boy langsung menyuruh perawat tersebut, untuk membawa Kesya menuju ruangan rawat inap, kamar vvip yang sudah di siapakan.
Boy melepaskan APD dan juga handscunnya, lalu pria itu mencuci tanganya hingga bersih,
Boy masih berpikir mengenai gadis itu, mengapa bisa terjadi kecelakaan seperti ini, tapi saat Boy tahu faktanya cowok itu menggeleng pelan.
Dia pikir hanya cowok saja yang suka berantem, ternyata cewek juga ternyata.
‘’Dokter Boy,'' panggil perawat itu seraya menghampiri Boy.
‘’Pasien yang baru tadi demam dok,'' ucap perawat itu.
''Suhu badanya berapa?'' tanya Boy seraya berjalan menuju ruangan Kesya, di ikuti oleh perawat tadi.
''38, dok,'' jawabnya.
Boy memutar handel pintu ruangan Kesya, dia melangkah masuk. Dan hal yang membuatnya terkejut adalah sosok pria yang sedang mengusap rambut pasien yang dia tangani tadi.
Boy mengepalkan tanganya, sehingga urat-urat tanganya terlihat .
‘’Biarkan dokter memeriksa anak bapak dan ibu dulu.'' Perawat memberitahukan kepada orang tua Kesya.
Deg
Saat membalikkan tubuhnya, Iksan melihat anak sulungnya menatapnya dengan tatapan lekat.
Raisa melihat Boy dan suaminya itu saling berpandangan, membuat Raisa menebak jika mereka itu saling kenal.
Atau jangan-jangan...
Boy menyuruh perawat itu untuk keluar lebih dulu.
''Boy...'' panggil Iksan, membuat Raisa terkejut, tenyata dokter yang menangani anaknya adalah anak pertama suaminya itu.
''Mas,'' panggil Raisa, sehingga Boy langsung melihat kearah Raisa.
Urat-urat tanganya terlihat jelas, rahangnya semakin tegas saat melihat Raisa. Dia sangat yakin, jika wanita itu adalah istri kedua papahnya.
''Dasar jal*ng!'' sinis Boy kearah Raisa, membuat Raisa menatap marah Boy.
''Apa maksud kamu, Hah!'' murkah wanita itu.
''Lo emang j*lang! Dasar pelakor!'' sinis Boy.
Raisa siap ingin menampar Boy, namun Boy langsung menahan tangan Raisa, Boy menatap nyalang wanita dihadapnya.
''Nggak suka lo dibilang j*l*ng pelakor!'' bentak Boy.
‘’Boy, lepaskan Raisa. Bagaimanapun dia adalah mamah kamu juga,'' perintah Iksan sehingga Boy semakin menggerakkan giginya, saat Iksan mengatakan hal menjijikkan itu.
''Mama Boy cuman satu, mama Gina! Boy nggak sudi punya mama j*l*ng seperti dia!'' hardik Boy, melepaskan tangan Raisa dengan kasar.
Wanita itu merintih kesakitan, cekalan tangan Boy menbuatnya terluka. Boy tersenyum sinis kearah mereka bedua.
__ADS_1
''Apa jangan-jangan dia anak hasil hubungan haram kalian berdua?''
''Boy!'' bentak Iksan.
Boy tertawa sinis, sudah dia duga jika papanya sudah lama berselingkuh, dan bangkainya baru tercium beberapa bulan yang lalu.
‘’Dia anak papa, sama seperti kamu dan Nanda. Itu berarti dia adik kamu juga!'' terang Iksan membuat Boy tertawa sinis.
''Apa kata papa tadi? Dia adik boy?'' Ledek cowok itu seraya menujuk Kesya yang masih terbaring lemah diatas brankar.
''Perlu papa ketahui, adik boy cuman satu. Yaitu Nanda Raisa Arabela. Boy nggak punya adik haram!'' lanjutnya membuat Raisa semakin tersalut emosi dengan ucapan Boy barusan.
‘’Pergi kamu dari sini! Kamu akan mencelakai anak saya!'' marah Raisa, dia takut jika Boy akan memberikan obat yang salah untuk Kesya.
Boy kembali tertawa. ''Ouh, tanpa lu suruh gue bakalan pergi. Gue nggak sudih obatin anak hasil hubungan haram kalian!'' sinisnya kepada Raisa dan Iksan.
''Oh iya, satu lagi. Andai aja gue tau itu anak kalian bedua.'' Boy menunjuk wajah Raisa dan Iksan. ‘’Nggak bakalan gue TOLONGIN, gue bakalan biarin dia kekurangan darah,'' ucap Boy.
''Tapi Sepertinya Tuhan baik, gue tahu ini anak kalian, setelah operasi selesa.''
Iksan tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia bungkam melihat Boy bicara seperti ini menbuat hatinya sakit.
''Boy gagal jadi anak yang berbakti, karna papa sendiri.'' Lepas itu, Boy langsung pergi dari ruangan Kesya.
Tanganya Raisa terkepal hebat, dia tidak menyangka jika anak sulung suaminya itu, mempunyai mulut yang seperti tidak di ajarkan beretika saja.
Huft
Boy membuang nafas berat, mengingat kejadi tadi membuatnya sakit hati, bagaimana jika Nanda tahu rahasia ini di rumah sakit?
Untung saja Raisa dan Iksan sedang keluar, sehingga Boy mengizinkan Nanda untuk melihat kondisi Kesya. Padahal gadis itu baru-baru menjenguk Kesya saat mereka pulang sekolah.
Boy tidak tahu, Haruska dia mengatakan ini atau tidak. Apalagi dia melihat, jika adiknya itu berteman dekat dengan Kesya, selama dia pindah di sini.
🦋
''Nan,'' panggil Salsa.
Anak ARIGEL sedang mencari tempat merokok, sehingga di dalam ruangan Kesya hanya ada mereka berenam.
‘’Kenapa sih lo datang sama sih Greta!'' kesal puri kepada Nanda.
Nanda tidak membalas ucapan Puri.
''Anak ARIGEL mana?'' tanya Puri kepada Nanda.
''Katanya sih cari tempat buat ngerokok.'' Bukan Nanda yang menjawab, melainkan Pute.
''Eh, lo mau kemana?'' tanya Pute, seraya mencekal pergelangan tangan gadis itu.
‘’Biarin aja dia pergi.'' Cika menyuruh Pute untuk melepaskan tangan Puri.
Nanda pernah berpikir, jika mereka berdua bersaudara, karna nama mereka yang hampir sama, beda satu huruf saja. Ternyata mereka hanya sahabat saja.
Puri melenggang pergi meninggalkan mereka didalam ruangan Kesya, Kesya belum juga sadar karna masih dalam pengaruh obat bius.
Demamnya Kesya sudah turun.
''Ges, aku susul Puri dulu. Jangan sampai dia berantem sama Izam.'' Salsa pamit kepada sahabatnya, lalu melenggang pergi untuk menghampiri Puri.
Gawat jika Izam yang cerewet, ketemu dengan Puri yang bisa bicara sepanjang kereta api, tanpa jedah.
Puri mempercepat langkah kakinya, saat dia melihat segerombolan cowok di bawa pohon sedang merokok.
Benar-benar tidak bisa lepas dari rokok.
__ADS_1
''Ngapain kalian datang kesini bawa Greta!''
Kelima cowok tampan itu langsung melihat keasal suara, rupanya yang datang adalah Puri, salah satu sahabat Kesya.
Puri menatap wajah anak ARIGEL satu persatu, tetap saja, wajah mereka masih sama. Yaitu wajah tampan, hanya saja mereka kurang satu, setelah Puri amati wajah mereka, tenyata Gerald tidak ikut bergabung dengan mereka merokok di sini.
Kemana cowok dingin itu?
''Cih! Perempuan memang makhluk menyusahkan!'' geram Rafael, asik merokok tapi Puri langsung datang.
Cowok itu pergi meninggalkan sahabatnya, dia tidak mau jika mulutnya yang pedas akan menyiram Puri.
Rafael tidak mood untuk mengoceh, cowok itu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit.
Rafael berjalan di koridor rumah sakit, namun langkah kakinya langsung terhenti saat melihat Salsa.
Gadis itu sibuk dengan ponselnya, berbicara dengan seseorang di ujung Telfon, hingga gadis itu tidak sadar,jika dirinya berpapasan dengan Rafael, dia langsung melewati cowok itu tanpa melihat siapa cowok yang dia lewati, karna dia sibuk bicara dengan orang di telfonya.
Ada rasa yang aneh Rafael rasakan, saat gadis itu melewatinya tanpa sengaja. Rafael melanjutkan langkah kakinya, mengapa pula dia memikirkan Salsa?
Jika boleh, Rafael meminta gadis itu tidak pernah meliriknya lagi.
Rafael menghentikan langkah kakinya, dia penasaran dengan punggung Salsa yang melewatinya tadi, dia ingin memastikan jika gadis itu adalah Salsa, dan tidak sengaja gadis itu melewatinya karna sibuk dengan ponselnya.
Rafael langsung membalikkan tubuhnya, guna melihat Salsa yang tadinya melewati dirinya itu karna sibuk dengan ponselnya.
Deg...
Mereka berdua saling berpandangan!
🦋
Dan di sinilah Gerald dan Greta, mereka berdua berada di kantin rumah sakit. Greta duduk di kursi, menunggu Gerald. Karna cowok itu sedang mengambil es batu dan kain bersih.
‘’Makasih, pak.'' Gerald mengucapkan kata Terimaksih, karna pemilik kantin tersebut memberikanya baskom berisi es batu dan handuk kecil.
''Sama-sama.''
Gerald lngsung menghampiri Greta, gadis itu menopang dagu diatas meja, dapat Gerald dengar hembusan nafas berat keluar dari mulut gadis itu.
''Es batu buat meredahkan rasa nyeri di pipi lo itu.'' Gerald meletakkan baskom berisi es batu, yang sudah mencair.
Greta melirik benda itu sejenak, lalu kembali menghiraukan Gerald.
''Gue ambilin itu buat lo pake,'' ucap Gerald lagi dengan dingin.
Gerald seperti ini, karna dia kasihan kepada gadis itu. Sampai-sampai Gerald yang merasa ngilu saat tamparan keras mengenai pipih putih milik Greta.
Bisa dilihat, pipih gadis itu masih memerah bekas tamparan dari mama Kesya.
''Gue nggak perlu di kasihani.'' Greta berbicara datar, tanpa melirik kearah Gerald.
''Terserah lo aja.'' Gerald berdiri dari kursi yang dia duduki, untuk segera pergi dari sini.
Namun ucapan Greta, menghentikan langkah kakinya. ''Gue mau lo nyuruh Kesya hapus video gue,'' ucap Greta, sehingga keduanya beradu pandang.
Gerald dengan wajah dinginya, sementara Greta dengan wajah datarnya. ''Tanpa lo minta.'' Singkat Gerald lalu pergi meninggalkan Greta seorang diri.
Greta melirik kain putih dan air es tersebut. Tanganya bergerak mengompres pipi miliknya sendiri.
Jangan sampai saat dia pusing, Pai banyak bertanya padanya, karna pipihnya yang memerah, seperti udang rebus, bukan karna salting.
Gerald bisa melihat Greta mulai mengompres pipinya sendiri, lalu cowok itu benar-benar pergi dari kantin saat melihat Greta sudah mengompres pipihnya sendiri.
Nanda menghampiri ke empat temanya, yang sedang menenangkan Raisa, karna wanita itu masih tersulut emosi.
__ADS_1