
Nanda langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, setelah sampai rumah dia langsung di suruh istirahat oleh sosok Boy.
Sehingga Nanda meninggalkan Boy dan Ardian dibawa sana, entah apa yang mereka obrolkan saat ini.
Nanda menatap langit-langit kamarnya, lalu senyuman terbit di wajahnya, kala mengingat momen nya dengan Gerald, entah mengapa ia merasa Gerald sangat jauh darinya.
Huft...
Gadis itu menghembuskan nafas berat, mengingat Gerald mampu membuat peredaran darahnya serasa ingin berhenti mengalir.
"Rald... Gue ngerasa lo jauh," gumam gadis itu seraya menatap langit-langit kamarnya, "gue harap, lo baik-baik aja. Gue kangen sama lo," lanjut gadis itu dengan tawa kecilnya. "Sayang banget, dokter nggak ngizinin siapapun buat jenguk lo, Rald. Gue bisa uring-uringan nahan rindu ke lo. Cukup di bandung aja gue nahan rindu, Rald. Giliran gue pindah ke Jakarta lo malah tidur panjang."
Bibir nya bergetar menahan tangis, air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya mendobrak untuk segera di keluarkan.
"Sahabat gue, yang paling dingin, gue kangen." Menolog nya seorang diri. "Udah tiga hari gue nggak jenguk lo, Rald. Ini semua demi kebaikan lo, meski gue nggak tahu tujuan yang sebenarnya apa. Gue bakalan nunggu hari itu tiba, hari di mana lo bangun dan gue lepas rindu gue ke lo, Rald." Nanda memejamkan matanya, membiarkan air mata membasahi kedua pipi mulusnya. Nanda memejamkan matanya. "Gue sayang lo, Rald."
Saat kata itu meluncur dari mulut Nanda, saat itu juga Nanda langsung membuka matanya, mata gadis itu nyaris keluar saking melotot nya.
Nanda bangun dari tempat tidurnya, Tiba-tiba saja Ardian langsung memenuhi otaknya.
Wajah itu seketika muncul saat mengatakan kata sayang pada sahabatnya, apa dia sedang mengkhianati hubungan mereka?
Nanda menggelengkan kepalanya, lalu kemudian gadis itu bangun dari tempat tidurnya, dia berjalan keluar kamar menuruni anak tangga, netra matanya tengah menatap sosok pria yang sedang memainkan ponselnya di sofa.
"Bang," panggil Nanda, lalu kemudian Boy melirik adiknya, lalu ia suruh gadis itu duduk di dekatnya.
Nanda duduk di samping Boy.
"Vitaminnya udah di minum, Ra?" tanya Boy lembut, seraya memainkan rambut milik Nanda, "ini rambut udah berapa lama nggak di keramas." Boy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Baru kali ini dia melihat adiknya begitu lalai merawat rambut cantiknya itu.
__ADS_1
Nanda melirik Boy, lalu gadis itu menyandarkan punggungnya di sofa, membiarkan Boy memainkan rambutnya itu.
"Kenapa, Ra?" tanya Boy, melihat adiknya hanya diam saja.
Nanda melirik Boy, sehingga mata adik kakak itu beradu, "hidup gue serasa hampa, bang. Mama lagi sakit, papa lagi bahagia sama anak dan istri barunya itu. Gerald sakit dan nggak bisa di temuin, entah sampai kapan." Nanda berkeluh kesah kepada Boy.
Boy berhenti memainkan rambut adiknya, lalu pria itu mengambil posisi seperti Nanda, menyandarkan tubuh tegapnya di sofa.
"Bukan cuman lo yang hampa, Ra. Gue juga, Ra. Gue sakit lihat mama. Tapi mama lebih sakit dari kita, Ra." Boy bebicara dengan suara pelan yang nyaris tercekat.
"Bang.... " Nanda langsung memeluk tubuh kekar Boy, menangis dalam pelukan sang kakak tidak ada salahnya kan?
"Kita harus kuat, Ra. Kita harus nyemangatin diri kita sendiri. Gue sayang sama lo sama mama juga. Gue nggak mau lihat orang yang gue sayang sakit. Cukup mama yang buat gue khawatir sama kesehatan nya, kalau lo jangan, Ra. Gue nggak mampu."
***
Rafael masih setia menatap Salsa dengan sinis, jangan lupa cengkraman nya pada dagu Salsa masih bertengger.
"El... Lepasin. Sakit tau nggak," pintah Salsa.
"Lebay lo." Rafael langsung melepaskan cengkraman dagunya pada Salsa. Cengkraman nya begitu lembut namun gadis itu tetap merasakan sakit.
Salsa mengusap dagunya, dapat Rafael lihat dagu gadis itu sedikit memerah.
"Kam--"
Belum sempat Salsa menyelesaikan ucapannya, Rafael langsung menarik tangan gadis itu menuju Cafe yang dekat dari bandara.
"Kamu mau bawa aku kemana, El. Jangan jauh-jauh. Sejam lagi pes--"
"Diam atau gue permalukan lo di sini!" ancam cowok itu membuat Salsa diam, gadis itu memanyunkan bibirnya kesal, Rafael tidak berubah sedikit pun meski ia sedang ingin meninggalkan cowok itu.
__ADS_1
Salsa dan Rafael masuk kedalam cafe, yang letaknya tidak jauh dari bandara. Rafael langsung duduk berhadapan dengan Salsa di meja nomor tiga.
Salsa meneguk salivanya susah payah, tatapan sinis yang selalu Rafael berikan berganti dengan tatapan membunuh, bahkan ini lebih menyeramkan dari tatapan sebelumnya.
"El... Aku senang kamu ada di sini," kata Salsa, dia berusaha menghilangkan rasa takutnya, lalu kemudian dia tersenyum lembut pada Rafael.
Senyuman yang selalu ia berikan pada cowok itu, senyuman yang siapapun melihatnya akan jatuh cinta.
"Aku pikir, kamu nggak akan datang," Lanjut gadis itu dengan senyuman yang masih merekah.
"Mau bohong lagi lo, biar gue kesini. Biar gue kayak orang bodoh. Ini 'kan yang lo harapin dari gue? Biar gue balas perasaan lo itu!" desis Rafael dengan nada sinis membuat Salsa memanyunkan bibirnya, untung saja dia sudah biasa dengan Rafael.
"Aku emang berharap kamu balas perasaan aku, El. Bukan rahasia lagi, kalau soal itu," kata Salsa dengan senyuman yang masih merekah.
"Lo pikir, dengan lo buat drama kayak gini, gue bakalan luluh dan balas perasaan lo itu?!" Rafael menatap Salsa dengan tatapan kesal, "drama lo bikin gue makin nggak suka sama lo!"
Salsa menaikkan alisnya sebelah, sukses membuat Rafael meneguk salivanya, Salsa yang menaikkan alisnya sebelah seperti gadis dewasa yang sedang bingung, padahal yang di katakan Rafael jelas.
"Aku buat drama? Drama apa, El? Di sini nggak ada kamera El. Aku nggak buat drama apapun," kata gadis cantik itu.
Baru saja Rafael ingin terpesona, namun karna ucapan gadis itu kembali membuat Rafael berdengus.
"Lo itu bodoh atau apa sih!"
Ini kali pertama nya Salsa dan Rafael ngobrol panjang kali lebar, membuat Salsa bahagia.
"El... Dari dulu 'kan aku bodoh," jawab Salsa santai, "kalau nyangkut soal kamu, aku jadi bodoh, hehehe."
Rafael menatap manik mata Salsa, gadis itu sungguh berani padanya, selama ini gadis-gadis akan takut mendekati nya namun berbeda dengan sahabat nya yang jatuh hati padanya.
Salsa yang di tatap seperti itu membuat nya jadi salting, pipinya terasa panas.Gelagat aneh dari Salsa membuat Rafael menautkan kedua alisnya, melihat tingkah aneh gadis itu.
__ADS_1
Salsa berani menatap Rafael. "Jangan lihatin aku kayak gitu, El. Tatapan kamu malah buat aku makin jatuh cinta, bukan takut."