
Nanda tidak tahu, jika ada murid baru di kelas mereka. Mungkin karna beberapa hari ini dia tidak masuk, jadi dia tidak mengetahui nya. Tidak penting juga baginya.
Murid baru itu bernama Lika, sudah berapa hari ia pindah ke sekolah ini. Dia duduk di kursi paling depan dekat pintu masuk kelas.
Tring...
Bell istirahat berbunyi, membuat guru yang mengajar di kelas ini mengakhiri penjelasan nya.
Murid-murid mulai memasukkan buku mereka kedalam laci, lalu berbondong-bondong keluar untuk menuju kantin.
"Yuk, kantin," ajak Puri seraya berdiri dari kursi nya.
"Yuk," balas Cika sembari menutup buku bacaannya itu.
"Lu, Put?" tanya Puri karna Pute tidak beranjak.
"Kalian duluan aja. Gue mau mabar sama Leo. Entar Leo ke sini bawain gue makanan," kata Pute dengan senyuman.
Puri mengangguk, lalu matanya menatap Nanda.
"Gue makan di sini aja, gue di bawain bekal sama Ardian," kata Nanda seraya memperlihatkan paper bag berisi bekal yang Ardian kasi.
"Perhatian banget sih mas pacar lo, Nan." Puri ikutan baper mendengar jika Ardian memberikan nya bekal, "mana calon mertua lo baik banget. Semogah aja calon mertua gue kelak kayak nyokap nya Ardian."
Cika menarik tangan Puri keluar kelas, setelah berpamitan pada Nanda dan juga Pute.
Nanda mulai membuka rantang bekal dari Ardian, wanginya makanan itu langsung masuk kedalam indra penciuman nya.
"Put, lo mau makan bareng?" tawar Nanda. Pute hanya melirik sejenak bekal Nanda.
"Makan aja, Nan. Gue lagi diet. Nggak makan nasi dulu," katanya dengan tawa kecil membuat Nanda ikutan tertawa.
Bekal itu berisi 'kan nasi, ayam krispi di potong berapa bagian, ada sosis, telur omlet, sayur dan juga buah.
Gadis itu mulai menyantap bekal yang diberikan Ardian. Masakan tante Tari emang enak, sangat memanjakan lidah. Nanda tentu saja menikmatinya. Lalu kemudian gadis itu tersenyum samar, kala mengingat mama nya tidak terlalu pandai masak, lebih tepatnya tidak tahu sama sekali. Makanya ada Bibi yang mengurus makanan mereka di rumah.
Nanda masih ingat jelas, mama nya sangat bahagia, saat tahu jika dirinya tengah belajar masak di rumah Ardian saat itu.
Tentu saja mama nya bahagia, dan mengizinkan Nanda untuk belajar masak. Bahkan, Gina tak segan-segan menyuruh Nanda kursus masak jika jadwal sekolah nya tidak padat. Karna Gimana tidak mau, jika anak nya kelak mengikuti diri nya, tidak pandai masak, hanya fokus pada pekerjaan nya.
Sehingga dia mengabaikan hal sepele seperti memasak. Apa lagi ia tahu, jika Iksan lebih menyukai makan di rumah makan masakan istri dari pada makan di luar. Tapi sayang nya, dia mendapatkan wanita karir yang tak pandai masak sama sekali. Mungkin itu lah pemicu mengapa suaminya sampai....
"Nan, lo kenapa? Dari tadi lo ngelamun."
Nanda tersentak, entah berapa menit dia melamun. Hingga dia tidak sadar, jika Leo sudah di depan Pute.
"Lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Pute lagi, karna sedari tadi dia mengajak Nanda mengobrol gadis itu hanya menatap kosong kedepan.
__ADS_1
"Eng... Gue nggak apa-apa," jawab Nanda dengan senyuman tipis, lalu kemudian gadis itu melanjutkan makan nya.
"Mau mabar game apa, Put?" tanya Leo lembut.
"ML aja, gue udah seminggu nggak main," kata Pute dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
"Makan dulu makanannya." Leo memberikan snack untuk Pute.
"Makan nya sambil main," balas nya.
"Terserah lo aja." Senyuman melekat di wajah Leo.
Nanda menghabiskan makanan nya, entah mengapa dia tiba-tiba suka makan sayuran begini. Mungkin karna Tari mengolah nya dengan unik.
"NANDA!!!"
Suara melengking dari Saga, ketua kelas IPA. Dengan ngos-ngosan dia menghampiri Nanda dan Leo.
"Kenapa?" tanya Nanda penasaran, pasalnya, cowok itu meneriaki nama nya itu dengan nyaring.
"Lo kenapa sih?" tanya Pute, karna suara melengking Saga membuat nya hampir tersedak kue.
Jika itu tadinya sampai terjadi, maka dia akan malu di depan Leo.
Saga lebih dulu mengatur nafas nya, lalu menatap Nanda, "pacar lo.... Pacar lo berantem."
Leo melotot kan matanya. "Maksud lo, Ardian?"
"Iya."
Leo langsung berlari kencang keluar kelas, dia sudah melihat kerumunan di lapangan sekolah. Dia penasaran sama siapa Ardian berantem di sekolah.
Apa sama Fatur? Karna hari ini, Fatur juga sudah mulai ke sekolah sebagai kakak kelas mereka.
Tapi Ardian sudah berkata, jika permusuhan nya dengan Anak VAGOS sudah selesai.
Nanda dan Pute juga ikutan, berjalan cepat menuju lapangan yang sudah di penuhi murid-murid.
Leo melihat dengan jelas, sama siapa Ardian baku hantam. Cowok itu bukan berantem dengan Fatur, melainkan murid baru bernama Veer.
Tidak ada yang meleraikan mereka, bahkan sahabat nya juga takut. Bahkan, Rafael hanya memilih diam. Dia tidak mau, jika melerai Ardian yang dalam kondisi emosi yang tidak stabil, maka mereka juga yang akan mendapatkan bogeman dari cowok itu.
"SI*LAN LO NJING!"
Bug...
Ardian terus memberikan bogeman pada cowok yang berada di bawa kungkungan nya. Mereka semua ngeri, melihat darah segar keluar dari mulut Veer, hidung Ardian juga berdarah.
__ADS_1
Wajah mereka sama-sama memar, namun lebih parah memar yang di dapatkan oleh Veer. Ardian memukul nya membabi buta.
Bug..
Bukan mereka yang mendapat kan bogeman itu, namun mereka yang merasakan nyeri.
"LO MURID BARU DI SINI! DAN LO UDAH NYARI MASALAH SAMA GUE!"
Ardian menarik kerah baju Veer. Memaksa cowok itu berdiri.
"Ternyata benar, kalau lo kayak iblis kalau marah. Gue pikir dia hanya bercanda mengatai lo iblis berwujud manusia!" Veer tersenyum menantang kearah Ardian.
Ardian semakin mengeram, dia tidak tahu dia siapa yang di maksud cowok ini.
"MAKSUD LO SIAPA HAH!" nafas Ardian memburu.
Veer hanya tertawa, membuat Ardian semakin dibuat emosi.
Bugh...
Ardian menendang perut cowok itu, sehingga Veer tersungkur jatuh ke bawa.
"Lerai woy! Anak orang bakalan mati di tangan Ardian!" teriak Saga yang ngeri melihat ini.
Mereka yang melihat pertunjukan ini semakin takut pada sosok bernama Ardian.
Ardian kembali mencengkram kerah baju Veer, baju sekolah mereka sudah tersembur darah mereka masing-masing.
Dia memaksa cowok itu untuk berdiri, meski cowok itu sudah lunglai, penglihatannya sudah kabur.
Andai bukan karna seseorang, dia tidak akan seberani ini dan mengantar nyawanya sendiri pada cowok di depan nya.
"Gue kasi lo kesempatan, siapa yang lo maksud!" suara Ardian pelan, namun itu semakin membuat bulu kuduk meremang.
"Lo nggak perlu tahu. Tugas gue cuman rebut apa yang dia ambil dari dia," tentang Veer.
Ardian kembali ingin melayang kan bogeman pada Veer, namun suara seseorang langsung menghentikan pergerakan tangannya.
"Ardian! Stop!"
Suara itu sangat di kenalin nya, siapa lagi kalau bukan suara Nanda.
Veer tersenyum kearah Ardian, "sayang sekali, Nanda harus jatuh di tangan cowok perebut kayak lo!"
Bugh...
Tadinya Ardian tidak ingin memberikan bogeman keras itu, karna suara milik gadis nya. Namun ucapan Veer barusan membuat darah nya mendidih.
__ADS_1