
Tari dengan langkah cepat menghampiri anaknya. Sang suami berulang kali menegur istrinya untuk pelan-pelan. Namun karena Tari yang keras kepala dia hanya abai saja.
"Ar," panggil Tari membuat Ardian menatap sang mama.
"Gimana keadaan Nanda, Ar?" tanya Tari lagi, duduk di dekat Ardian.
Nanda saat ini sudah berada di ruangan rawat inap.
"Nanda udah baik-baik aja, Ma. Nanda lagi istirahat. Kata dokter, Nanda banyak pikiran yang buat dia sampai down," jelas Ardian dengan suara lirih. Membuat Tari bernafas legah, karna Nanda baik-baik saja.
Namun, dia juga khawatir karna gadis itu sampai down karna masalah yang dia hadapi. Jelas mereka tahu apa penyebab gadis itu sampai down.
Tari dan Ibnu ingin menjenguk Nanda di dalam sana. Namun niatnya dia urungkan dulu, karna Nanda tengah istirahat. Yang penting, dia sudah tahu kondisi gadis itu sudah membaik.
"Kasihan banget pacar kamu, Ar," kata Tari mengusap punggung anaknya, sementara Ibnu hanya ikut menyimak saja. "Kamu sebagai pacar harus lebih perhatian lagi, Ar."
__ADS_1
"Iya, Ma."
"Kamu harus menjadi pacar idaman, Ar. Kamu harus lebih perhatian lagi. Dalam kondisi seperti ini, pacar kamu butuh perhatian lebih dari orang terdekatnya. Mulai dari keluarga dan pacar. Apa lagi kamu tahu 'kan, Nanda sampai down karna masalah yang dia hadapi sekarang," ucap Tari. "Mulai sekarang, kamu harus kurangi nongkrong kamu sama sahabat kamu dulu. Kamu harus atur waktu kamu. Buat Nanda dan sahabat kamu. Kamu harus adil antara pacar dan sahabat."
Ardian hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamanya.
"Kamu harus seperti papa kamu, Ar. Pas mama sama papa pacaran. Dia atur waktu antara sahabat dan pacar. Jadi, nggak ada waktu untuk mama kesepian," ucap wanita itu lagi, "iyakan, Pa?" Tari melirik suaminya.
"Iya, sayang. Yang mama kamu bilang benar," kata Ibnu.
"Mama ninggalin Fatur sama Salsa di ruma?" tanya Ardian, karna seingat nya, malam ini Fatur datang kerumah dengan membawa Salsa. "Atau Fatur nggak jadi datang?"
"Jadi kok, Ar. Mama ninggalin mereka berdua di sana. Mama percaya kok sama Fatur. Kalau dia nggak akan melewati batas. Apa lagi sama perempuan yang dia sukai," ucap Tari dengan senyuman meyakinkan.
Sebenarnya, Ardian tidak peduli jika Fatur ingin melakukan apa dengan gadis yang dia dekati.
__ADS_1
Mereka bertiga mengobrol ringan, hingga kedatangan Boy yang baru pulang dari cari angin. Angin kok di cari hehehe. Boy sudah menjenguk kondisi Nanda sebelum ia mencari angin diluar sana, untuk menghilangkan sedikit kegundahan hatinya.
"Om, tante. Nggak masuk?" sapa Boy, lalu dia menyalim punggung tangan Ibnu dan Tari. Bagaimanapun mereka adalah orang yang lebih tua darinya. Apa lagi Ibnu dan Tari sahabat orang tuanya.
"Biar Nanda istirahat dulu. Besok tante bakalan datang lagi. Biar bisa ngobrol kecil bareng Nanda," jawab Tari dengan senyuman tulus dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.
Sudah 35 menit Tari dan Ibnu di sini. Mereka berdua pamit pulang lebih dulu.
"Hati-hati, om, tante," kata Boy dengan senyuman tulus.
Ibnu mengangguk dengan senyuman tak kala tulusnya.
"Kamu kuat ya, Boy. Kamu harus jagain mama sama adik kamu. Sampaikan salam tante sama mama kamu." Tari memberikan semangat kepada pria berumur 26 tahun ini. "Semangat Boy."
"Terimakasih."
__ADS_1