
Di balik helm fullfecnya, Rafael menatapa Salsa begitu dingin, hingga membuat Salsa merasakan hawa mencekam dari Rafael.
Namun dia tidak gentar mendekati Rafael. Dia lebih mengenal Rafael sejak mereka kecil.
Hujan turun membasahi bumi, hujan rintik yang turun membuat Salsa menyungkirkan senyum.
Dengan turunya hujan, Rafael tidak akan pergi.
Rafael melepaskan helmnya, lalu berjalan menjauhi motornya.
‘’Gue nggak pergi, lebih baik lo pulang.'' Rafael kembali mengusir Salsa kedua kalinya.
‘’Kamu masuk dulu, baru aku percaya, kalau kamu nggak bakalan pergi,'' balas Salsa dengan lembut.
''Keras kepala!'' Rafael berdecih, lalu berjalan masuk kedalam rumahnya.
Bisa saja dia menerobos hujan malam ini, namun perkataan Salsa tadi, membuatnya takut, jika kedua orang tuanya akan kenapa-napa jika dia nekad pergi.
Hujan semakin deras, bukanya pergi Salsa malah memejamkan matanya, membiarkan hujan membasuhi tubuhnya.
''Rafael, aku cinta sama kamu...hiks!''
Tangis gadis itu pecah ditengah hujan, setiap hujan turun. Salsa akan bahagia, dia bisa berteriak jika dia mencintai Rafael, tanpa di dengar oleh siapapun.
Hanya hujan saksi cintanya, hanya hujan yang tau, bagaimana dia mencintai Rafael begitu dalam, hanya hujan yang tau, siapa nama yang selalu di bawa oleh Salsa, jika hujan trun membasahi bumi.
__ADS_1
Sementara Rafael sudah berjalan menuju lantai dua, untuk menuju kamarnya. Dia malas harus tidur di kamarnya, karna balkon kamarnya berhadapan dengan balkon kamar milik Salsa.
Dia yakin, jika gadis itu akan melambaikan tanganya kearahnya, lalu dia kembali kesal, karna sapaan dari gadis itu.
Huft
Rafael menghembuskan nafas berat, dengan cara sekasar apa lagi yang akan dia lakukan, agar sahabat masa kecilnya itu tidak mengejar cintanya lagi.
Sudah berulang kali Rafael katakan, jika dia tidak ingin berpacaran, baginya wanita adalah kelemahan para laki-laki.
Namun Salsa seakan-akan sudah kebal dengan penolakan yang Rafael berikan, karna gadis itu masih kekeh mengejar cintanya.
Rafael bergerak ingin menutup gorden kamarnya, dia sempat melihat kearah balkon kamar Salsa, melalui celah gorden, namun kamar gadis itu nampak gelap.
🦋
Cowok itu tiba-tiba punya energi setelah putus dari Vani.
Keempat sahabatnya langsung mendongakkan kepalanya.
''Ada apa?'' tanya Leo, seraya log out dari gamenya.
''Dika nggak ada!''
‘’Maksud lo Dika kabur?''
__ADS_1
Izam dan Leo langsung menaiki anak tangga, untuk melihat sendiri, jika Dika memang benar-benar tidak ada.
Sementara Ardian mengepalkan tanganya, rahangnya tiba-tiba mengeras, serta wajahnya menjadi dingin, sekaligus menyeramkan.l
''Ck! Sepertinya anak VAGOS mengusup di markas,'' erang Ardian.
Ardian menekan nomor Telfon Rafael, untuk segera ke markas.
‘’Mungkin anak VAGOS yang sudha menyusup ke markas,'' decak Leo.
Wajahnya yang selalu tenang kini berubah.
‘’Gimana bisa, Lele. Semua ruangan Disini terkunci!'' ucap Izam.
''Ethan, Telfon Gerald. Suruh segera ke markas,'' ucap Leo dan dibalas anggukan kepala oleh Ethan.
Sementara Gerald mencicipi kue yang di berikan Nanda untuknya. Jujur saja, saat pertama kali memakan kue ini, Gerald merasa tidak asing.
Dia seperti sudha lebih dulu memakan kue ini sebelumnya.
''Kamu yakin, Ra. Kalau kamu yang buat kue ini?'' tanya Gerald.
''Iya...Rald. Aku buat kuenya di rumah salsa. Kamu tau sendirikan, kalau dia pintar buat kue. Dia ngajarin aku di sana,'' bohongnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nggak mungkin juga dia mengatakan jika dia dari rumah Ardian.
__ADS_1