
Greta berjalan di koridor rumah sakit, ucapan Boy tadi, sungguh sangat menganggu konsentrasinya.
Niatnya kerumah Nanda ingin menjumpai dokter Boy, namun dia malah terjebak pada ucapan pria itu.
Greta melangkahkan kakinya menuju ruangan mamanya, dengan kresek berisi obat di tanganya. Untung saja, saat itu Greta mendapatkan uang dari Boy, sehingga dia tidak perlu bekerja di club beberapa hari ini, jika uangnya habis, maka dia akan kembali bekerja di club, sebagai pelayan tentunya.
Ceklek.
Greta membuka ruangan mamanya, didalam ada adiknya Pai. Dia menatap kedatangan kakanya.
''Kak, orang yang kasi kakak coklat mana?'' tanya Pai, membuat pergerakan tangan Greta terhenti.
Coklat itu dia dapatkan dari Gerald, lebih tepatnya dia yang meminta coklat itu, karna dia doyan makan coklat.
''Dia bukan teman kakak,'' balas Greta membuat Pai manggut-manggut.
''Gre,'' panggil mama Greta dengan suara pelan, kemarin malam mamanya sudah sadar dari komanya, membuat Greta sangat bahagia.
Karna penantian panjangnya, menunggu sang mama membuka mata. Akhirnya terkabulkan juga.
‘’Iya, Ma,'' balas Greta.
Meskipun gadis itu tidak mempunyai harta berlimpah. Namun dia menetapkan sang mama di ruanhan vvip.
‘’Sudah berapa lama mama tidur?'' tanya wanita itu, matanya setia menatap langit-langit kamar rumah sakit ini, sementara Greta langsung menggenggam tangan sang mama.
''Mama fokus sama kesehatan mama dulu,'' ucap Greta.
''Adikmu mana?'' tanya wanita itu, sehingga Pai langsung mendekatinya.
''Mama udah bangun?'' tanya Pai, karna saat menjaga mamanya, wanita itu izin tidur karna sekujur tubuhnya sangat sakit.
Pai memeluk mamanya dengan erat, sementara Greta pergi meninggalkan sang mama, karna dokter Boy mengatakan kondisi mamanya harus di cek setiap 5 jam sekali.
Karna dokter Boy tidak ada, jadi terpaksa Greta mencari dokter lain, yang bertugas menangani mamanya, selama Dokter Boy libur.
Bruk...
Untung saja tangan kekar itu, menarik tangan Greta. Sehingga dia tidak jatuh dibawa lantai.
Matanya dan maya dingin cowok itu betemu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Cowok itu langsung pergi meninggalkan Greta.
Greta memandangi cowok itu, hingga dia hilang seiring langkah kakinya yang menjauh. ‘’Gerald, ngapain dia di rumah sakit?''
__ADS_1
***
Pukul 7 malam, namun Ardian belum juga beranjak dari rumah Nanda, membuat Nanda tidak tahu harus mengusir dengan cara apa, agar Ardian segera pulang kerumahnya.
''Ponsel lo dari tadi bunyi, mungkin aja mama lo nyuruh lo balik,'' ucap Nanda, karna sedari tadi ponsel milik Ardian bergetar, namun cwok itu enggan untuk mengangkatnya.
''Udah nggak nelfon lagi,'' ucap Ardian santai. ''Memang mama gue, pas dia tahu gue di sini, dia bahagia. Malahan dia nyuruh gue buat tinggal di rumah lo,'' lanjut Ardian dengan seringai di wajahnya membuat Nanda melototkan matanya.
‘’Gila lo, kalau ngarang cerita!'' decak Nanda kepada Ardian.
‘’Gue ganggu nggak sih, kalau gue di sini?' tanya Ardian serius.
''Kalau lo suntuk tinggal di rumah, kita jalan-jalan, kalau lu mau. Kebetulan malam ini ada pasar malam,'' ucap Ardian membuat Nanda berpikir sejenak.
Mungkin saja dengan menerima ajakan Ardian, membuat pikiranya sedikit teralihkan oleh masalah-masalah yang datang di hidupnya ini.
''Gue siap-siap dulu,'' ucap Nanda membuat Ardian terkejut. Bagaiamana tidak, dia hanya iseng-iseng saja, karna dia yakin gadis itu tidak akan mau.
Namun ini diluar dugaan.
''Gue belum pernah ke pasar malam lagi,'' Ardian bergumam seraya melihat punggung Nanda yang semakin menjauh, gadis itu berjalan menuju kamarnya untuk ganti pakaian.
Ini pertama kalinya Ardian akan ke pasar malam, dia tidak suka keramaian. Namun, bagaimana bisa dia menarik kata-katanya kembali.
Cika dan Salsa tadi, lebih dulu pulang, sekitar jam lima sore.
''Mau kemana, Ra?'' tanya Gina, melihat anaknya begitu rapih.
‘’Mau ke pasar malam, Ma,'' ucap Nanda. ''Boleh'kan aku pergi?'' tanyanya.
''Kamu pergi sama siapa?'' tanya Gina, yang tidak tahu, jika dibawa ada Ardian, karna wanita itu baru saja keluar dari kamar.
''Ardian,'' jawab Nanda.
''Kamu perginya hati-hati,'' peringat Gina, seraya mengusap rambut milik anaknya itu. ''Suruh Ardian jagain kamu ya, Ra. Di pasar malam itu sangat ramai, jangan sampai kamu hilang,'' lanjut Gina dengan tawa kecilnya, membuat Nanda menggelengkan kepalanya.
''Anak Mama udah gede, jadi tenang aja. Ara bakalan jaga diri,'' ucap Nanda dengan yakin.
‘’Bilangin sama dia, jangan modus. Kalau dia modus, bakalan Abang potong lehernya,'' ucap Boy seraya memperagakannya.
''Iya-iya!''
Nanda menuruni anak tangga, gadis itu tidak sendiri. Karna Ardian lihat, ada Boy berada di sampingnya.
__ADS_1
‘’Jangan sampai dia juga mau ikut,'' gumam Ardian.
''Hem,'' Boy berdehem kearah Ardian.
Dengan santainya, Ardian menaikkan alisnya sebelah kearah Boy, membuat cowok itu semakin maco dilihat.
‘’Kenapa?'' tanya Ardian.
‘’Jagain adik gue. Jangan sampai macam-macam lo,'' peringat Boy, Ardian hanya mengangguk saja. ‘’Gue sebagai laki-laki, udah tahu gimana pikiran laki-laki bekerja,'' lanjut Boy.
Nanda dan Ardian akhirnya pamit.
''Lo pake seragam sekolah? Nggak mau ganti gitu?'' tanya Nanda heran.
''Nanti, gue bakalan singgah butik buat beli. Sekalian gue ganti baju,'' ucap Ardian, seraya memakai helmnya.
Nanda hanya mengangguk kecil.
‘’Pegang aja pundak gue buat naik. Nggak usah ragu-ragu!'' Kesal Ardian, mengambil tangan Nanda, lalu dia simpan di pundaknya, agar gadis itu segera naik.
Nanda tertegun. Ini yang kedua kalinya dia berboncengan dengan Ardian, namun mengapa suasananya begitu beda, saat dia berboncengan dengan Gerald.
Ardian dan Nanda saling bertatapan. Nanda tidak munafik, jika cowok yang mengenakan tindik itu, cowok yang dia juluki preman, memiliki pesona yang kuat, wajahnya begitu tampan, nyaris sempurna.
Nanda pastikan, siapapun melihatnya akan jatuh cinta dengan cowok itu, apa lagi mata milik Ardian membuat Nanda jatuh sejatuh-jatuhnya, mata Ardian yang indah membuat Nanda tak bosan melihatnya.
Satu kata dalam benak gadis itu, mata Ardian menghipnotisnya.
''Malah bengong, jadi nggak nih pasar malam. Kalau nggak jadi kita ke Mall aja!''
''Mata lo indah, Ar.''
Ardian menyungkirkan senyuman jenakanya, membuat Nanda langsung menutup mulutnya. Kata-kata itu langsung keluar dari mulutnya.
''Cuman mata gue aja yang indah? Muka gue buruk, gitu?''
''Makasih udah muji gue, lo orang yang kesekian kalinya ngomong kayak tadi. Perlu lo tahu, Kesya sama Greta suka sama gue karna ketampanan gue,'' songong Ardian, membuat Nanda memutar bola matanya malas.
''Tapi lo beda sama yang lain, kalau lo tahu,'' ucap Ardian dengan senyuman.
''Beda apanya?'' tanya Nanda penasaran.
''Cewek yang muji gue. Gue tolak. Tapi lo, beda lagi ceritanya. Karna lu yang nolak gue, Nan.''
__ADS_1