ARDIAN

ARDIAN
HAPI BIRTHDAY ARDIAN


__ADS_3

Pukul 22:00 malam, Ardian masih stay di markasnya bersama dengan kelima sahabatnya.


Sementara Tari sibuk di rumahnya sibuk memasang dekor, dua jam lagi tidak lama pergantian tanggal.


''Pa, serius dong bantuinya,'' kesal Tari, karna melihat Ibnu suaminya lebih banyak beryanyi, sehingga tanganya lambat memasang aksesoris persiapanya untuk tanggal 14 Februari.


''Iya, mama sayang. Papa udah serius ini,'' balas Ibnu.


‘’Gimana caranya Ardian pulang tepat jam 00:00. Sesuai yang mama inginkan,'' ujar Ibnu, karna dia menginginkan Ardian tiba di rumah pukul 00:00. Sesuai yang dia harapkan oleh istirnya itu.


''Bisalah,'' jawab Tari seraya tersenyum kemenangan.


Sementara Ibnu hanya menggelengkan kepalanya, karna dia tahu kemanapun istrinya itu.


''Pa,'' panggil Tari.


''Hm..''


Ibnu hanya membalasnya dengan deheman, karna dia sibuk meniup balon.


''Nggak kerasa ya, beberapa jam lagi, umur anak kita akan memasuki 19 tahun,'' ucap Tari membuat Ibnu langsung menengok kebelakang.


Dia melihat istirnya itu mengusap air matanya, membuat Ibnu langsung memeluk istirnya. ''Anak kita udah dewasa,'' ujar Ibnu dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.


''Pa, gimana dengan anak pertama kanu dari istri pertama kamu,'' ucap Tari seraya menggenggam tangan Ibnu.


Raut wajah Ibnu langsung berubah menjadi datar.


''Tidak usah pikirkan wanita murahan itu,'' cecar Ibnu membuat Tari lngsung menggelengkan kepalanya.


‘’Aku tidak memikirkan istri pertama kamu, yang aku pikirkan anak kamu.'' Jelas Tari membuat Ibnu menghembuskan nafasnya berat.


‘’Setiap aku menghubungi anak aku itu. Dia selalu menolak, bahkan dia memblokir nomor ponsel aku. Sepertinya Livia memercikkan api kepada anaknya agar membenci ku,'' jelas balik Ibnu membuat Tari langsung memeluk suaminya.


''Ulang tahunya dengan Ardian sama, kan?'' tanya Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Ibnu. ‘’Besok kita ketemu dia, ya, Pa. Kita kasi dia hadiah sama seperti Ardian,'' pintah Tari kepada suaminya itu, membuat Ibnu diam sejenak lalu kemudian dia mengangguk mengiyakan permintaan istrinya itu.


Tari menyuruh suaminya itu untuk kembali lanjut meniup balon, dirinya yang memasang dekor kecil-kecilan.


Ibnu sudah meniup sebanyak 10 balon, serasa sudah cukup, Ibnu mengistirahatkan tubuhnya, meniup balon saja membuat tenaganya lumayan terkuras.


''Pa, jangan lupa rencana yang mama bilang tadi, ya,'' ujar Tari dan dibalas anggukan mantap oleh suaminya itu.


''Mama Telfon Ardian jam berapa?'' tanya Ibnu.


''Jam 23:30. Sekitar setengah jam dia bawa motor kerumah,'' ucap Tari, yang sudah hafal bagaiamana anaknya itu membawa motor.


''Ok,'' balas Ibnu.


Ibnu berjalan menuju dapur untuk mengambil air dalam kulkas, tenggerokanya kering karna meniup beberapa balon besar.


Mengambil sebotol air dalam kulkas, lalu pria itu mulai meminumnya.


Ting...


Bersamaan dengan itu, ponselnya bunyi menandakan adanya pesan masuk. Pria itu langsung membaca pesan dari nomor yang tidak dia kenali.


‘’Selamat ulang tahun untuk anak kesayangan papa.''


Deg


Ibnu yakin, pesan itu di kirim oleh anak pertamanya. Dia langsung menelfon nomor tersebut, namun nomornya sudah tidak aktif lagi.


Sementara Fatur langsung meremas kartu itu, hingga kartu tersebut tidak berbentuk lagi.


‘’Gue benci semuanya!'' Fatur membuang kartu yang tidak berbentuk itu lagi.


Besok usianya akan masuk 20 tahun, mamanya Livia sudah tidak ada di sini, semenjak Livia pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya, di situlah jiwa dendam Fatur semakin terpancar untuk Ardian.


Baginya, Ardian sudah mengambil segalanya, kasih sayang, dan tentunya hidup cowok itu terjamin.


Fatur tidak menginginkan uang, dia hanya ingin kasih sayang juga, kasih sayang yang sama seperti Ardian.


Makanya, Fatur sangat dendam dan membenci Ardian. Sementara Ardian tidak tahu mengenai ini, dia hanya dendam kepada Fatur karna cowok itu selalu membuat sahabatnya karna benda tajam yang dia bawa.


Huft


Fatur menghembuskan nafas berat, dia irih kepada Ardian. Dia masih mendapatkan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Sementara dirinya? Semenjak Livia meninggalkannya untuk selamanya dia sudah hidup tanpa tujuan lagi.


‘’Seharusnya Ardian nggak ada di posisi ini,'' geram Fatur seraya menyandarkan punggungnya di kursi.


Dia menyendiri malam ini, sementara teman-temanya berkumpul diluar, sementara dirinya menyendiri didalam kamar.


Arya datang bergabung dengan para teman-temanya. Cowok itu tidak melihat Fatur di sini.


''Fatur mana?'' tanya Arya, seraya menggeser kursi untuk bergabung bersama dengan sahabatnya.


''Di kamar,'' jawab Frizal membuat Arya mengangguk kecil.


Mereka berempat berkumpul, sementara Fatur berada di dalam kamar.


''Gimana persiapanya?'' tanya Arya kepada ketiga temanya.


''Doni udah urus semuanya,'' balas Tio membuat Arya mengangguk lagi.


''Kado buat Fatur udah lo bungkus, Cal?'' tanya Arya kepada Ical.


‘’Udha dong, gue yakin Fatur bakalan suka kadi yang kita kasi.''


Frizal membuang nafasnya berat, membuat Arya, Ical, Tio melirik Fatur.


‘’Lu kenapa?'' tanya Tio.


''Gue nggak bisa lupain cewek yang malam itu,'' ujar Frizal membuat Arya menaikkan alisnya sebelah.


Ical langsung menepuk pundak Frizal. ''Cewek yang mana? Kan, malam itu ada dua cewek,'' jelas Ical membuat Frizal mengingat wajah Cika.


''Cewek yang melintir tangan gue, sampai gue jatuh,'' jelas Frizal membuat Arya yang merupakan mantan Cika tersenyum tipis.


''Lebaik baik lo kubur perasaan lo itu, kalau lo suka sama Cika,'' ucap Arya dengan senyuman tipis melekat di wajahnya.


''Cika itu tipikal cewek yang susah buat di taklukin,''lanjut Arya.


''Lo kenal dia sejak kapan?'' tanya Ical penasaran membuat Tio dan Arya menunggu jawaban dari.


‘’Mungkin karna mereka satu sekolah, jadi Arya tahu,'' sahut Tio.


''Gue sama Cika sejak SMP sampai SMA satu sekolah. Cika adalah mantan pertama gue waktu di smp,'' ungkap Arya membuat Frizal tidak membalas ucapan Arya lagi.


''Tapi lo usaha aja,'' ujar Arya.


''Nggak. Gue nggak suka sama dia, gue cuman nggak bisa lupain wajah songongnya dia,'' ralate Frizal.


‘’Iyain aja deh,'' ucap Tio dan Ical hampir bersamaan.


Mereka tahu, Frizal nggak akan mau sama cewek yang udah menjadi mantan tongkrongannya sendiri.

__ADS_1


Mereka lanjut mengobrol, seraya menunggu tanggal berganti, sementara Doni masih mengurus segalanya untuk Fatur.


''Ohiya, Ar. Cewek yang biasa nongkorng sama kita itu, dia punya scandal di sekolahnya, ya,'' ucap Ical membuat Arya terdiam.


‘’Sayang banget, videonya harus viral kayak gitu. Orang yang viralin juga, kayak nggak punya kerjaan, nyebarin aib teman sekolahnya sendiri,'' gumam Tio seraya menggelengkan kepalanya kecil.


''Padahal dia cantik banget diantara teman-temanya,'' ujar Ical, salah satu cowok yang menyukai Greta dan tertarik dengan pembawaan gadis itu.


''Bahkan, dia lebih cantik dari pacarnya Fatur, sih Naya,'' bisik Tio seraya terkekeh kecil.


Mereka semua mendengarnya dan ikutan tertawa.


''Itu cuman cewek pelampiasan Fatur doang, karna cewek yang dia maui selama ini belum dia dapat,'' ucap Arya santai.


Dan semua teman tongkrongan Fatur tahu ini.


‘’Kasihan banget yah nanti sih Naya. Cuman di jadikan pelampiasan gabut,'' balas Tio lagi. ‘’Yaudah deh, nanti kalau Fatur ninggalin Naya, biar gue yang sama Naya. Sih Naya lumayan cakep juga, meski cakepan sih Greta,'' lanjut cowok itu membuat Ical memutar bola matanya malas.


Sementara Arya menggeleng kecil, sementara Frizal lebih memilih untuk diam. Dia nongkrong bersama temanya, namun pikiranya melayang kesana kemari.


Baru kali ini, ada cewek yang berani bermain fisik denganya, sampai-sampai di terjatuh.


🦋


Pukul 23:10


Huft


Tari menghembuskan nafas legah, saat dekor kecil dan balon-balon sudah terhias, sisa menunggu 20 menit lagi, dia akan menyuruh Ardian untuk datang.


Dengan alasan, di rumah lampu sedang mati, ada yang koslet. Sehingga rumah menjadi gelap gulita, dia akan mengatakan jika Ibnu tidak ada di rumah, dia masih lembur kerja.


Dengan alasan itu, Ardian tidak akan menunda permintaan Tari.


‘’Pestanya diadakan di mana, Ma?'' tanya Ibnu.


''Sesuka hati anak kita, Pa. Besok kita tanya dia, mau rayain dimana,'' balas Tari santai membuat Ibnu mengangguk paham dengan ucapan Tari.


''Sepuluh menit lagi aku Telfon, Ardian,'' ujar Tari seraya berjalan menuju kursi sofa bersama suaminy.


''Apa itu nggak kecepatan, Ma. Anak kita bawa motor itu kencang,'' ujar Ibnu duduk di dekat Tari istirnya.


''Yaudah, deh,'' final Tari.


Gerald pamit kepada teman-temanya untuk pulang lebih dulu, besok dia ada urusan pagi-pagi, dia takut akan pulang kemalaman sehingga besok dia kesiangan.


Gerald mengambil kunci mobilnya pada Leo. Lalu cowok itu berjalan keluar dari markas.


Drt....


Ponsel Gerald berdering.


Cowok itu melihat nomor asing yang menghubunginya, padahal dia berharap jika yang menghubunginya adalah Nanda, namun dugaannya salah besar.


‘’Halo,'' sapa Gerald di ujung Telfon.


''Ini gue, Greta.'' Suara datar dari Greta membuat Gerald menaikkan alisnya sebelah.


‘’Gue mau minta tolong sama lo, kalau boleh,'' ucap Greta di ujung Telfon. Dia tidak ingin basah-basih, karna ponsel tang dia pakai untuk menghubungi Gerald adalah ponsel milik perawat.


Untung saja Greta bertemu dengan Boy, dia langsung meminta nomor ponsel Gerald kepada Dokte itu, dengan alasan ponselnya tertinggal di mobil milik Gerald.


‘’Lo mau minta tolong apa? Sebelum gue balik kerumah,'' ucap Gerald dengan suara khas dinginya.


''Lo bisa jemput gue di rumah sakit? Gue lupa bawa ponsel dan dompet gue. Gue harus pulang, ada adik gue sendiri di rumah,'' jelas Greta di ujung Telfon.


Tut...


Lepas itu, Gerald mengakhiri telfonya. Greta mengucapkan kata Terimaksih kepada perawat tersebut, karna sudah meminjamkan ponselnya untuk menghubungi Gerald.


Greta merasa, hanya Gerald saja. Apa lagi dia melihat cowok itu tulus menolongnya tadi. Gerald langsung melajukan mobilnya untuk segara kerumah sakit untuk menjemput Greta.


Tidak butuh waktu lama, Gerald sudah sampai di rumah sakit. Greta yang sudah hafal mobil Gerald langsung berjalan menuju mobil cowok itu.


Greta membuka pintu mobil belakang, dia memilih untuk duduk di belakang. Tanpa mempunyai niat untuk menegur, Gerald kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Greta pulang.


Mata Greta menangkap coklat di depan Gerald, Greta sangat suka coklat.


''Itu coklat lo?'' tanya Greta kepada Gerald, coklat yang sudah di bentuk menjadi Love itu membuat Greta semakin tergiur untuk memakan coklat nya.


Gerald hanya mengangguk mengiyakan ucapan Greta. ‘’Gue boleh minta satu?'' tanya Greta, membuat Gerald terdiam.


Dia ingin menolak, tapi tidak enak juga dengan Greta. Coklat yang dia beli itu khusus untuk Nanda, hari Valentine.


Gerald mengambil coklat itu, lalu memberikanya kepada Greta.


''Buat gue semua?'' tanya Greta, dan dibalas anggukan kepala oleh Gerald.


''Thanks.''


Gerald tidak membalas lagi dengan anggukan, dia fokus menyetir mobilnya. Ini pertama kakinya Greta mengobrol dengan Gerald, ternyata apa yang di bilang teman sekolahnya benar, jika Gerald itu cowok yang sangat dingin.


Gerald akan membeli coklat besok pagi saja untuk Nanda, karna coklat untuk Nanda dia berikan kepada Greta.


Tidak butuh waktu lama, Gerald sudah sampai di depan rumah minimalis milik Greta, gadis itu langsung turun dari mobil Gerald, dengan membawa coklat berbentuk Love itu.


‘’Makasih udah jemput gue. Lain kali, gue bakalan balas kebaikan lo,'' ujar Greta.


‘’Ya, sama-sama,'' ucap Gerald, tanpa menunggu lama, cowok itu langsung pergi.


Greta langsung masuk kedalam rumahnya, berjalan menuju kamar adiknya, dia membuka pintu kamar Pai. Adiknya itu sudah tertidur nyenyak.


Greta meletakkan tiga coklat diatas meja belajr adiknya, lalu lebihnya dia bawa kedalam kamarnya.


Gadis itu masuk kedalam kamarnya, mengambil tasnya kembali menghitung uang yang di berikan Arya di sekolah tadi.


Setidaknya, jumlah uang yang di berikan Arya cukup untuk membayar biaya rumah sakit untuk mamahnya.


Huft


Greta menghembuskan nafas berat, besok adalah hari minggu, untung saja besok tidak sekolah.


🦋


Drt...


Ponsel Ardian berdering, melihat nama yang terterah di ponselnya, nama mama Tari.


''Hal—''


''Ardian, buruan pulang. Mama takut sendiri di sini, lampu rumah mati, Ar. Mama sendiri di rumah, papa belum pulang kerja.''


Ardian menjadi panik


''Mama yang tenang, Ardian langsung kesana!''

__ADS_1


Tut...


Tari langsung mematikan sambungan telfonya.


‘'Mama lo kenapa, Ar?'' tanya Rafael.


‘’Dirumah listrik padam, mama gue sendiri di sana. Gue harus cepat kesana,'' pamit Ardian.


''Kita ikut!'' ucap Rafael, Izam, Ethan dan Leo bersmaan.


Mereka berlima langsung mengambil motornya untuk segera menuju rumah Tari, Meraka melajukan motornya.


Sekitar 15 menit berkendara, akhirnya kelima cowok itu sudah sampai di depan rumah Tari. Mereka melepaskan helmnya, mereka berlima saling berpandangan, karna melihat lampu semuanya menyala.


Hanya saja di ruangan tengah, mereka tidak melihat adanya lampu menyala.


‘’Mungkin maksud mama lo, Ar. Lampu teras sama lampu ruangan tengah yang mati,'' ujar Ethan dan dibalas anggukan setuju oleh Izam.


''Kita masuk aja cek,'' putus Rafael.


Sementara Ardian sudah berjalan lebih dulu, dia ingin membuka pintu utama, namun terkunci.


''Mama sih nyuruh Ardian pulang cepat. Masih ada lima menit masuk tanggal 14,'' gerutu Iksan, yang mendengar suara motor Ardian tadi.


Mereka tentunya tahu, jika Ardian datang tidak sendirian.


''Ma!'' panggil Ardian.


''Ini Ardian, Ma! Mama baik-baik aja, kan di sana?''


''Ma—''


Iksan langsung membekap mulut Tari. ‘’Belum jam 00:00. Tiga menit lagi,'' ujar Iksan sehingga Tari kembali menutup rapat mulutnya.


''Ada sahutan dari dalam?'' tanya Rafael dan dibalas gelengan kepala oleh Ardian.


Cowok itu dengan panik mengeluarkan ponselnya, dia menelfon Tari sehingga ponsel wanita itu bergetar.


''Yang nelfon mama malam-malam begini siapa?'' bisik Ibnu.


''Anak kita,'' jawabnya.


''Satu menit lagi,'' ucap Ibnu. ‘’Kalau udah jam 00:00 baru kita buka,'' lanjutnya dan dibalas anggukan paham oleh Tari.


‘’Sekarang.''


Suami istri itu langsung berjalan menuju pintu.


''Ma!'' panggil Ardian.


Ceklek.


Pintu dibuka, sehingga kelima cowok itu langsung di suguhkan pemandangan yang gelap gulita.


Ardian langsung masuk kedalam dengan rasa khawatir, keempat sahabatnya langsung mengikuti Ardian.


''Ma…''


''HAPPY BIRTHDAY!!!!''


Lampu langsung menyala, sehingga yang tadinya gelap menjadi terang.


‘’Happi BIRTHDAY anak papa dan mama.'' Tari datang membawa kue tart dengan lilin angka 19.


Ardian tersenyum, sementara sahabatnya menggeleng, dia tidak menyangkan Teri menyiapkan hal ini tengah malam begini.


Ardian langsung meniup lilinnya, membuat Tari langsung mencium pipih milik anaknya itu.


''Selamat ulang tahun untuk anak mama yang paling ganteng,'' ucap Tari.


‘’Makasih, Ma.'' Tentu saja Ardian terharu dengan ini semua.


Ibnu datang dan mengusap rambut milik Ardian.


‘’Selamat ulang tahun yang ke 19 tahun,'' ucap Ibnu sehingga anak dan bapak itu bertos riah.


''Makasih, Pa,'' ucap Ardian.


Ibnu mengangguk.


‘’Andai aja emak gue sepekan mama dan papahnya Ardian,'' gumam Ethan. ''Bahkan, ulang tahun gue di rayain setelah tanggalnya lewat, nasib punya emak pikun,'' gumam Ethan.


Sementara Rafael hanya tersenyum tipis.


‘’Kelurga yang bikin anak terzalimi jadi irih,'' dramatis Izam, membuat Leon terkekeh dengan ucapan cowok itu.


Ceklek.


''Happy BIRTHDAY, Bos!''


Saat membuka pintu kamarnya, Fatur langsung di suguhkan wajah milik Arya, Frizal, Doni, Ical dan Tio.


Dengan Arya yang memegang kue tart dengan lilin angka 20. Sementara Frizal membawa buket berisi Energen kesukaan Fatur.


Sementara Doni membawa kado, yang entah isinya apa. Sementara Tio membawa trompet dan Ical membawa balon-balon berwarna-warni.


Senyuman tulus terpancar di wajah milik Fatur. Cowok itu langsung meniup lilinnya, membuat teman-temanya menjadi bertepuk tangan.


Arya mulai memotong kue tersebut, lalu mereka satu persatu menyuapi Fatur.


‘’Nggak terasa, bos udah tua,'' ujar Tio membuat mereka tertawa, saat cowok itu menyuapi Fatur kue.


Ardian menyuapi Tari dan Ibnu kue, setelah mama dan papahnya menyuapinya.


Lalu kemudian, Ardian menyuapi sahabatnya, pertama Rafael, di susul Ethan, lalu Izam dan Leo.


‘’Gerald mana?'' tanya Tari.


''Dia pulang, Tan. Ada urusan,'' jawab Izam dan dibalas anggukan setuju oleh yang lainya.


''Papa sama mama punya sesuatu untuk kamu.'' Ibnu mengambil buket berisi energen sebanyak 20 bungkus itu, membuat Ardian langsung tertawa di berikan buket berisi energen.


Namun begitu, Ardian tetap suka. Karna dia menyukai Energen.


''Makasih.''


Mereka berkumpul di sofa, seraya memakan kue buatan Tari.


‘’Hadiah utamanya nggak ada om?'' tanya Izam yang kepo.


‘’Besok,'' jawab Ibnu membuat mereka semua penasaran dengan apa yang akan di hadiahkan Ibnu untuk anak kesayanganya.


‘’Wah hebat, ulang tahun Ardian ternyata hari Valentine,'' gumam Izam membuat mereka semua tertawa.


''Sayang aja kamu jomblo, Ar. Andai aja kamu punya pacar, pasti lo bakalan kasi coklat buat cewek lo,'' ucap Leo membuat Rafael, Izam dan Ethan mengangguk setuju dengan ucapan cowok itu.

__ADS_1


''Siapa bilang anak tante jomblo, anak tante udah dekat sama cewek, namanya Nanda.''


Hening!


__ADS_2