ARDIAN

ARDIAN
Coklat Valentine


__ADS_3

Ucapan tante Tari barusan mampu membuat sahabat Ardian bertanya-tanya, mereka ingin meminta penejelasan namun sialnya Ardian malah mengusir mereka, dan menyuruh mereka kembali esok pagi.


Dengan penuh keterpaksaan, ke empat sahabatnya pulang karna Ardian. Sungguh, Ardian tidak ingin malu karna mamanya mengatakan mengenai Nanda yang dia ajak kerumahnya.


Dan sialnya, Tari langsung menyukai Nanda saat itu.


Tari kesal kepada Ardian, dia ingin berbagi cerita kepada anak ARIGEL, namun Ardian langsung menyuruh mereka pulang.


Pagi haripun tiba, pukul 7 pagi, Tari sudah berada di depan pintu kamar anaknya. Dia yakin, Ardian belum bangun jam begini.


Tok...Tok...Tok


Tari mulai mengetuk pintu kamar Ardian, namun tidak ada pergerakan dari dalam, membuat Tari semakin mengetuk pintu kamar Ardian dengan keras.


''Ardian! Bangun! Ini mama!'' teriak Tari, seraya mengetuk pintu kamar Ardian.


''ARDIAN!!!'' Kali ini, suara milik Tari naik beberapa oktaf, membuat Ardian langsung menggeliat dari dalam kamarnya.


Dengan kesal, Ardian melihat jam di dinding, menunjukkan pukul 7 pagi. Mamanya itu sudah membangunkannya, membuat cowok itu berdengus kesal.


Untung saja mamanya, jika bukan, sudah di pastikan dia akan memakan orang tersebut.


''Ardian. Bangun!'' panggil Tari lagi, tanganya masih setia mengetuk pintu kamar milik anaknya itu.


''Ma...Masih jam 7 pagi!'' balas teriak Ardian, berusaha setenang mungkin.


Dia tidur pukul 3 dini hari, dan sekarang dia di bangunkan jam 7 pagi.


''Buruan keluar. Kalau kamu tidak keluar, mama akan memotong uang jajan kamu!'' ancam Tari membuat Ardian dengan terpaksa turun dari tempat tidurnya dengan lunglai.


Ceklek.


Pintu dibuka oleh cowok itu.


''Tadaaaa!''


Ardia menyeritkan alisnya bingung, mamanya didepan pintu kamar membawa buket berisikan coklat Silverqueen.


Buket yang lumayan besar itu, mampu menampung 50 coklat Silverqueen.


''Mama mau kasi Ardian coklat?'' tanya cowok itu dan dibalas gelengan kepala oleh Tari.


Tari masuk kedalam kamar Ardian, lalu meletakkan buket tersebut diatas tempat tidur anaknya itu.


''Buruan mandi. Mama tunggu kamu di sini,'' ucap Tari membuat Ardian kembali menatap mamanya bingung.


Dia mengantuk, jadi tidak bisa mencernah apa maksud mamanya itu membawa buket besar berisi coklat Silverqueen itu.


''Ardian masih mau tidur, Ma,'' ucap Ardian seraya duduk di kursi sofa, yang tersedia di dalam kamarnya itu. ''Mau tidur lagi,'' lanjutnya menyandarkan tubuhnya di kursi sofa.


''Lagian mama juga aneh, bawa buket coklat sebesar itu,'' kata Ardian, seraya menggelengkan kepalanya.


''Ardian nggak suka coklat, mama, kan tahu itu,'' jelas Ardian.


''Ini hari Valentine Ardian, bertepatan dengan hari ulang tahun kamu. Mama bawa coklat ini, bukan untuk kamu,'' beber Tari membuat Ardian menaikkan alisnya sebelah.


''Kalau bukan buat Ardian, buat siapa lagi?'' tanyanya dengan penasaran, membuat Tari tersenyum gembira.


‘’Untuk pacar kamu, Ar.''


''Hah.'' Otak Ardian menjadi bleng, saat mamanya mengatakan coklat itu untuk pacarnya.


Sejak kapan dirinya pacaran?


‘’Ardian nggak punya pacar, Ma.''


''Nanda,'' ucap Tari menyebut nama Nanda, membuat Ardian melototkan matanya.


''Jadi, coklat itu bu—''


''Iya, Ar. Coklat ini untuk Nanda, bukan untuk kamu. Ini hari Valentine loh, cowok kasi coklat ke ceweknye,'' jelas Tari lagi, membuat Ardian menggelengkan kepalanya.


‘’Nanda bukan pacar Ardian, Ma,'' protes Ardian.


‘’Aduh, Ar. Sebentar lagi dia akan menjadi pacar kamu, percaya deh sama mama. Makanya, kamu mandi, siap-siap kerumah Nanda, bawain dia buket coklat ini,'' Tari semangat menunjuk buketnya yang besar itu, berisi 50 coklat Silverqueen.


''Nggak, Ma,'' tolak Ardian membuat Tari menjadi kesal dengan anaknya itu.


''Kenapa kamu nggak mau bawain coklat itu untuk, Nanda? Apa buket coklat nya kurang besar, jadi kamu nggak mau bawa?'' rentetan pertanyaan di berikan Tari, untuk anaknya itu.


''Bukan gitu, Ma. Cuman, Nanda bukan pacarnya Ardian, yang harus Ardian kasi buket coklat.'' Ardian berusaha memberikan pengertian kepada Tari, agar mamanya mengerti dengan apa yang dia jelaskan barusan.


''Coklat bukan hanya untuk pacar aja, Ar,'' balas Tari, yang tidak ingin kalah oleh anaknya itu.


''Ma..''


''Mama mau kamu bawain Nanda coklat itu. Kalau nggak, mama akan kecewa sama kamu, Ar. Kamu nggak tahu, dari pagi sampai malam mama buat buket. Untung aja ada papa yang bantuin Mama. Kamu nggak kasihan, lihat usaha mama buat buket itu?'' Tari memasang suara lirih, membuat Ardian memijit pelipisnya.


''Kamu yakin, nggak suka sama Nanda?'' tanya Tari, membuat Ardian berhenti memijit pelipisnya.


Dia memang tertarik dengan Nanda, namun dia belum memastikan jika itu adalah sebuah perasaan suka atau apa.

__ADS_1


Yang jelas. Ardian tertarik dengan gadis itu, tapi tidak begini juga, membawakan Nanda coklat, atas perintah Tari.


Apa lagi buket berisi coklat lumayan besar.


''Ar,'' panggil Tari, karna tidak mendpatakan jawaban dari anaknya itu.


''Mama tanya loh, Ar,'' goda Tari.


''Ardian nggak tahu, Ma. Apa Ardian suka sama Nanda atau gimana,'' ucap Ardian membuat Tari tertawa kecil.


''Coba jalani aja dulu, Ar. Kamu deketin Nanda, saat kamu dekat sama gadis itu, apa kamu nyaman atau bagaiamna. Kalau kamu nyaman, berarti kamu suka gadis itu,'' ucap Tari.


''Nanda sangat cantik loh, Ar. Orangnya nggak ngebosanin tau nggak, apalagi dia mirip sama sahabat mama. Kalau kamu udah pacaran sama dia, mama bakalan ajak setiap hari Nanda kesini, buat kue,'' ucap Tari dengan semangat empat lima.


Ardian berpikir sejenak, lalu mengangguk mengiyakan ucapan Tari. Tari tentunya bahagia, ucapanya barusan tidak sia-sia untuk membujuk Ardian membawa coklat tersebut.


''Ardian mandi dulu, Ma,'' ucap Ardian seraya masuk kedalam kamar mandi.


Tari keluar dari kamar Ardian, dia sangat bahagia karna anaknya akhirnya dekat dengan seorang gadis.


Apa lagi, dia sudah melihat Nanda, gadis itu memberi aura positif untuk anaknya kelak. Ibnu suaminya sedang ke kantor, Tari sudah memberi pesan kepada Ibnu untuk pulang cepat.


Karna dia akan mengunjungi Fatur, untuk memberikan ucapan dan hadiah.


Sekitar 30 menit mandi, Ardian keluar dari kamar mandi. Ardian mulai memakai bajunya untuk segera kerumah Nanda.


Untung saja dia sudah tahu rumah gadis itu, sudah hampir pukul 8 pagi, Ardian langsung menyemprot parfum di area tertentu.


Cowok itu melirik buket berisi coklat Silverqueen di atas tempat tidurnya, Ardian tersenyum tipis, seraya melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya.


''Ada-ada aja yang mama buat,'' gumam Ardian, seraya mengambil buket tersebut.


Ardian mengambil kunci mobilnya, karna dia harus membawa buket, dia tidak membawa motor.


Ardian menuruni anak tangga, membuat Tari yang sedari tadi menunggu putranya untuk turun tersenyum.


''Ar, kamu sangat tampan nak,'' ucap Tari, mencubit kedua pipih milik Ardian.


Ardian hanya tertawa kecil saja, ‘’Makasiih, Ma. Keturunan Papa Ibnu sama mama Tari, kan bibir unggul.'' Ardian berkata membuat Tari tertawa kecil.


‘’Kamu udha lihat rumah Nanda, kan. Kan malam itu kamu yang anterin dia pulang,'' ucap Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


''Ardian tau, Ma. Semalam aja Ardian kerumah Nanda,'' ucap cowok itu membuat Tari menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan anaknya barusan.


''Kamu nggak bercanda, kan Ar?'' tanya Tari.


Tentu saja Tari terkejut, semalam memang anaknya pamit padanya untuk menjenguk teman sekolah mereka yang sakit, namun Ardian tidak mengatakan jika dia kerumah Nanda.


''Kamu ketemu mamanya?'' tanya Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


''Mamanya baik,'' ucap Ardian dengan benar.


''Baguslah, setidaknya kamu harus mencari mertua yang baik juga. Sama seperti mama mu ini,'' canda Tari membuat Ardia menggelengkan kepalanya.


''Tapi ma, mamanya Nanda jauh lebih cantik loh,'' ejek Ardian membuat Tari langsung mencubit perut milik Ardian.


‘’Sakit, Ma!'' tawa Ardian.


Cowok itu langsung kabur, meninggalkan Tari yang masih berkacak pinggang.


''Jangan lupa, Ar. Kamu kasi coklat nya dengan penuh cinta. Biar Nanda terkagum-kagum sama kamu!'' teriak Tari kepada anaknya itu.


''Ok, Ma!'' balas Ardian, lalu benar-benar pergi dari ambang pintu menuju garasi mobil untuk mengambil mobil.


Ardian memasukkan buket itu kedalam mobil, lalu dia mulai membunyikan mobilnya untuk segara kerumah Nanda.


Sementara Nanda baru selesai mandi, dia melihat Instagram, ada bebarapa teman ig nya mempoting coklat yang di berikan doi mereka.


‘’Andai aja gue pacar,'' gumam Nanda seraya tertawa kecil. Namun Nanda menunggu seseorang membawanya coklat.


Yah, gadis itu menunggu Gerald, setiap hari Valentine Gerald selalu mengirimkanya coklat saat dia belum pindah ke Jakarta.


Meski mereka tidak pacaran, namun tetap saja Gerald bersikap sosweet kepada Nanda.


Nanda kebetulan berteman Leo di Instagram, sehingga dia bisa melihat stori milik Leo, dia mengucapkan ucapan ulang tahun kepada Ardian.


Nanda langsung mengklik user name Instagram Ardian, tidak ada postingan cowok itu di ig.


Namun pengikutnya lumayan banyak, Nanda mulai melihat stori Ardian. karna kebetulan aku cowok itu tidak bersifat pribadi.


''Wow!'' Nanda berdecak kagum, kedua orang tua Ardian merayakan ulang tahun anaknya pas pergantian tanggal.


Tok...Tok...Tok


''Ra,'' panggil Gina, seraya mengutuk pintu kamar anak gadisnya itu.


''Iya, Ma!'' jawab Nanda, seraya beranjak dari tempat tidurnya untuk segera membukakan Gina pintu kamar.


Ceklek


Pintu Kmar dibuka, ''ada apa, ma?'' tanya Nanda.

__ADS_1


''Diluar ada tamu, kamu bukain pintu. Mama capek kalau harus turun tangga,'' ucap Gina dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


Nanda lebih dulu menyisir rambutnya, jangan sampai yang datang adalah Gerald, dengan rambutnya yang berantakan.


Nanda langsung menuruni anak tangga, gadis itu membuka pintu utama.


Nanda membuka mulutnya terkejut, saat melihat buket berisi coklat yang begitu besar. Sehingga wajah sang empuh tidak terlihat, karna tertutupi buket besar ini.


''Ger—''


Tenggerokan Nanda tercekat, saat melihat Wajah seseorang yang membawa buket tersebut.


Dia pikir, cowok itu adalah Gerald, tenyata dia salah besar.


''Ardian.'' Nanda masih tidak percaya, jika cowok yang membawa buket besar itu adalah Ardian.


Cowok yang Nanda juluki preman itu.


Nanda menggelengkan kepalnya, dia masih tidak percaya jika didepanya adalah Ardian.


''Nggak lo ajak gue masuk dulu?'' tanya Ardian membuat Nanda langsung menyuruh cowok itu masuk kedalam rumahnya.


Nanda menutup pintu utama, sementara Ardian meletakkan buket itu diatas kursi sofa.


Nanda belum duduk, dia masih memperhatikan buket tersebut.


''Lo sakit?'' tanya Nanda seraya bersedekap dadah kearah Ardian.


‘’Maksud lo?'' tanya balik Ardian dengan raut wajah bingung.


‘’Atau lo salah alamat?'' tanya Nanda lagi.


‘’Salah alamat gimana, ini rumah lo, kan?'' tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


‘’Berarti gue nggak salah alamat,'' balasnya dengan santai.


Nanda duduk di kursi sofa singel, ‘’ngapain lo bawa buket coklat sebesar ini?'' tanya Nanda membuat Ardian terdiam.


''Hmm...Mama gue yang suruh gue bawa nih buket kerumah lo. Katanya ini hari Valentine, hari coklat sedunia,'' ucapnya membuat Nanda diam sejenak.


''Oh...''


‘’Makasih, sampai ucapan Makasih gue buat mama lo,'' lanjut Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


''Mama gue maksa gue bawa,'' ucap Ardian lagi, agar tidak kelihatan murah saja.


‘’Tanpa lo bilang, gue juga tahu,'' ucap Nanda membuat Ardian berdengus kesal kearah Nanda.


''Nanda, itu temanya nggak kamu bikini minuman?'' tanya Gina menuruni anak tangga.


''Wah!'' Gina bersorak saat melihat buket berisi coklat yang sangat besar itu.


‘’Ini yang bawain siapa?'' tanya Gina.


''Ardian, Ma,'' jawaba Nanda membuat Gina tersenyum.


Ardian tersenyum kearah Gina. Dia seperti sedang pacaran saja sama Nanda, bawa coklat segala.


''Mama yang suruh Ardian, Tan. Bawa buketnya,'' ucap Ardian.


‘’Sampaikan salam tante sama mama kamu, ya,'' ucap Gina kepada Ardian.


''Iya. Tan.''


Gina pamit sebentar, karna dia ingin menyiram bunga-bunganya di taman.


Tanpa terasa, air matanya jatuh di kedua pipinya itu. Dia mengingat suaminya Iksan, momennya bersama Iksan setiap hari Valentine membuat Gina tidak bisa melupakannya.


Tahun ini, tidak ada perayaan Valentine bersama sang suami, sikap manis Iksan slalu Gina ingat.


Seharusnya, Iksan memberikanya hadiah di hari kalau sayang ini, sama yang dia lakukan seperti tahun lalu.


Gina mendongakkan kepalanya, dia mengusap air matanya dengan kasar, dia tidak boleh patah semangat seperti ini, ada dua anaknya yang akan terluka jika dia lemah seperti ini.


Sampai sekarang, Gina dan Boy belum bisa mengatakan kebenaran tentang suaminya kepada anaknya, Nanda.


Dia tahu, anak gadisnya itu berharap Iksan untuk pulang, karna Nanda berpikir jika papanya sibuk mengurus bisnis di luar kota.


Padahal, sang papah sibuk dengan keluarga barunya.


Nanda meletakkan secangkir teh diatas meja untuk Ardian, sudah setengah jam cowok itu di sini, dan gadis itu baru membuatkan teh untuk Ardian.


''Bisa kehausan gue kalau ke rumah lo!'' desis Ardian, seraya meminum teh buatan Nanda.


''Lo aja yang nggak minta,'' balas Nanda dengan malas.


''Gue baru tahu, kalau ada tamu, dia yang minta di buatin minum,'' sindir Ardian membuat Nanda hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.


Nanda tidak tahu, mengapa pula Ardian belum balik. Nanda hanya takut, jika Gerald akan datang kesini dan melihat ada Ardian di sini.


Nanda tidak mau jika Gerald cemburu, karna sejatinya dirinya tidak pantas untuk di cemburui.

__ADS_1


__ADS_2