
Entah sudah berapa kali, sosok gadis cantik itu menghembuskan nafas berat. Sejak pulang dari rumah sakit, pikirannya sudah tidak tenang. Pikirannya berkecamuk memikirkan ucapan papinya Gerald saat di rumah sakit.
Nanda memejamkan matanya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Sudah satu jam lamanya, dia berada di balkon kamar, dengan tatapan sayu.
Ucapan Raga bagai rollercoaster berputar-putar di otaknya. Dia tahu, maksud ucapan Raga tadi pagi. Sudah tidak ada kesempatan baginya untuk menemui Gerald di rumah sakit.
Air mata itu turun kembali, mengingat Gerald yang bermuka dingin membuat Nanda sangat merindukan sahabatnya itu.
Masih dengan mata tertutup, air mata lolos dari pelupuk matanya itu.
"Rald.. Kenapa takdir kehidupan lo sangat kejam, Rald!" Nanda mencengkram pagar pembatas balkon, dengan suara bergetar hebat.
"Gue kangen!"
"Gue benci sama diri gue sendiri. Gue nggak bisa buat apa-apa, buat nolongin lo, Rald!" Tangis gadis itu pecah.
Sejak pulang dari rumah sakit, gadis itu belum keluar kamar, makan pun hanya tadi pagi.
Tok... Tok... Tok.
"Non," panggil Bibi dari luar. "Saya bawa makanan untuk makan malam non Nanda," kata Bibi dari luar.
"Saya nggak lapar, Bi!" balas Nanda dari dalam. Jujur saja, dia tidak nafsu makan sama sekali.
"Kalau non Nanda lapar, makannya saya simpan di meja samping pintu kamar ya non. Nanti tinggal diambil." Bibi langsung menyimpan nampan berisi makan malam, di meja samping pintu kamar gadis itu.
Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Bibi langsung pergi dari depan pintu gadis itu.
***
__ADS_1
Jam sudah menujukan pukul 10 malam, membuat Boy harus siap-siap untuk pulang, karna perintah dari Gina. Karna dia tahu Nanda sedang sendiri di rumah.
"Apa Papi Gerald yakin dengan keputusannya, Boy?" tanya Gina, seraya melihat Boy menutup laptopnya untuk segera pulang.
Boy melirik mamanya sejenak, lalu menghembuskan nafas berat, "iya, Ma. Boy udah ngomong sama dokter Ivan buat pastiin, ternyata keputusan om Raga nggak main-main, Ma." Hembusan nafas berat keluar dari mulut Boy, tatkala menjelaskan ini kepada sang mama.
Boy menyandarkan kepalanya di sofa, menatap langit-langit kamar yang di tempati Gina. "Ini keputusan yang sangat berat, buat om Raga sama tante Jia, Ma. Mereka harus ikhlasin anak tunggal mereka. Untuk.... Selamanya," ucapan terakhir Boy memelan.
Gina mengusap air matanya yang lolos. "Nanda udah tahu, Boy?" tanya Gina serius.
Boy melirik mamanya, lalu menggeleng lemah. "Om Raga sama tante Jia, sepakat buat sembunyiin ini sama Ara. Apa lagi mereka tahu tentang masalah rumah tangga yang menimpa keluarga kita. Mereka nggak mau buat Ara semakin terpuruk kalau tau kebenarannya."
"Om Raga bohong sama Ara. Dia ngomong kalau Gerald mulai sekarang nggak bisa di temuin. Karna kondisi nya makin buruk," Jelas Boy lagi.
Mungkin ini yang baik, dia tidak mau kalau Nanda sampai tahu kebenarannya, jika alat di tubuh Gerald sudah di lepas, untuk melepaskan kepergian cowok itu untuk selamanya.Namun, di sisi lain Boy takut, Nanda berharap lebih, dan jika tau kebenarannya akan membuat adiknya akan depresi jika Gerald sudah pergi meninggalkan mereka.
Gina tidak kuasa menahan air matanya, sungguh dia tidak tahu harus berbuat apa. Gina berpikir keras, bagaiamana jika Nanda tahu kebenarannya sementara dirinya sudah tidak berada di samping anak gadisnya itu, karna sesuatu.
"Sekarang kamu pulang, Boy. Mama khawatir kalau adik kamu belum makan," kata Gina, setelah perasaannya sudah sedikit membaik.
"Besok pagi Boy akan kesini lagi. Jangan lupa telfon Boy, Ma. Kalau mama butuh apa-apa," peringat Pria itu dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.
"Kalau gitu, Boy pulang dulu," pamit Boy mencium tangan Gina.
"Hati-hati, Boy. Jangan lupa, bawa calon istri kamu kesini," celetuk Gina membuat Boy tertawa kecil.
"Pasti, Ma."
Boy langsung berjalan keluar dari ruangan Gina. Boy tersenyum tipis, hubungannya dengan Greta tidak sesulit yang dia pikir.
__ADS_1
Ya, Boy sempat berpikir. Jika Gina akan menentang dengan gadis yang akan menjadi istrinya. Namun ternyata dugaannya salah. Gina menerima Greta dengan baik.
Gina hanya berpesan padanya, saat menikah nanti Boy harus bersikap dewasa karna pada hakikatnya Greta masih belum terlalu dewasa, Greta dan Nanda sama. Sama-sama masih muda dan membutuhkan peran penting kedua orang tuanya.
Boy melajukan mobilnya untuk segara pulang, tidak butuh waktu lama mobil milik Boy memasuki pekarangan rumah. Bibi yang mendengar suara mobil Boy dengan cepat membuka pintu utama.
"Ara mana, Bi?" tanya Boy, setelah Bibi membukakan nya pintu.
"Di kamar," jawabnya.
"Ara udah makan?" tanya Boy lagi memastikan dan dibalas gelengan kepala oleh Bibi.
Karna sepuluh menit yang lalu, Bibi naik ke lantai dua. Dia masih melihat nampan berisi makanan yang dia bawa tadi masih utuh, belum di sentuh sama sekali.
Boy menyuruh sang Bibi untuk istirahat. Boy naik keatas lantai dua, mengambil nampan berisi makanan itu, lalu dia bawa kedapur. Dia akan memanaskan makanan itu lebih dulu sebelum menyuruh Nanda makan.
Sekitar sepuluh menit memanaskan makanan tersebut, Boy kembali keatas lantai dua.
"Ra," panggil Boy, tanganya memegang nampan makanan. Sementara tangan satunya mengetuk pintu kamar sang adik. "Buka pintunya, Ra. Lo belum makan malam. Gue tahu, kalau lo belum tudur."
Ceklek.
Nanda membuka pintu kamar, mempersilahkan Boy untuk masuk, meski tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Makan dulu, Ra," kata Boy, tidak ada sahutan dari Nanda, membuat pria berstatus kakak itu menghembuskan nafas berat.
Boy dan Nanda duduk di pinggir ranjang, dengan Nanda membuang muka ke samping. Dia tidak mau melihat wajah Boy, lebih tepatnya dia tidak ingin Boy melihat wajah sedihnya.
Boy memegang pundak Nanda, lalu berucap, "sini gue peluk, gue tahu lo mau nangis kan. Gue pinjamin pelukan gue buat lo nangis. Sebelum di milikin Greta nantinya," celetuk Boy dengan candaannya membuat Nanda menatap Boy, lalu beberapa detik kemudian Nanda langsung memeluk erat sang kakak.
__ADS_1
Nanda menangis dalam pelukan Boy, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Boy mengusap rambut adiknya, membiarkan Nanda menangis di pelukanya.
"Gue rapuh, Bang. Gue nggak sekuat yang gue pikir!" raung Nanda dengan suara bergetar hebat. "Gue lemah, Bang!"