ARDIAN

ARDIAN
Menjenguk Kesya


__ADS_3

''Nggak ada yang dibelain Ethan. Karna dia tadi pesan makan, pas dia datang dia lihat gue sama mantan pacarnya berantem,'' ucap Puri dan dibalas anggukan kepala oleh sahabatnya.


''Nanda mana?'' Salsa celingak-celinguk, tidak ada Nanda di sini.


‘’Nanda lagi ambilin gue baju putih, karna baju yang gue pake sekarang basah. Udah dulu, gue mau rapiin rambut gue.'' Gadis itu kembali masuk kedalam toilet untuk menyisir rambutnya yang sudah tidak karuan lagi.


Ketiga gadis itu menunggu Puri, seraya menunggu kedatangan Nanda juga membawa seragam untuk Puri.


Tidak butuh waktu lama, Nanda datang membawa seragam baru untuk Puri.


''Tadi kamu kemana? Kita baru sadar kalau kamu nggak ada pas di kelas,'' ucap Salsa.


''Tadi gue ngobrol sama Ardian, masa lo lupa?'' tanya Nanda dengan tawa kecilnya.


''Selama itu?'' Cika melempar pertanyaan pada Nanda.


‘’Nggak juga, sekitar lima menit. Tadi gue terus ke kantin karna laper,'' kata Nanda dan dibalas anggukan paham oleh ketiga sahabatnya.


Puri membuka pintu toilet, lalu menjulurkan tanganya pada Nanda, meminta baju putih.


‘’Makasih, Nan.'' Lepas mengucapkan kata Terimakasih, Puri kembali masuk kedalam toilet, untuk segera mengganti seragam sekolahnya.


Lima menit menunggu, akhirnya Puri selesai jug. Gadis itu kembali rapih serta wangi, dia memberikan tas kecil milik Nanda yang berisi alat make up di dalamnya.


''Yuk ke kelas!'' ajak Salsa, lalu keempat sahabatnya mengikutinya.


Mereka sudah masuk kedalam kelas yang isinya tengah kosong, karna murid-murid lainya sudah berada di kantin.


''Gue tiba-tiba kangen sama, Kesya,'' menolog Salsa, sehingga seluruh mata sahabatnya tertuju padanya.


Salsa menatap balik mata para sahabatnya. ''Semenjak kejadian satu minggu yang lalu itu, Kesya udah nggak ke sekolah lagi. Dia hilang jejak, dia nggak pernah aktif lagi,'' lanjut Salsa.


‘’Bagaimanapun kesalahan Kesya, dia tetap sahabat kita. Meskipun dia egois tingkat tinggi,'' kata Salsa lagi.


Nanda hanya mengangguk membenarkan ucapan Salsa saja. Karna bagaimanapun ke empat gadis itu yang lebih lama berteman dengan Kesya, jadi merekalah yang tahu watak Kesya.


Sementara Cika tidak membals ucapan Salsa atau hanya sekedar menanggapinya saja, dia asik dengan buku yang dia baca, ketimbang apa yang dibahas Salsa.


Puri dan Pute hanya diam saja, mereka berdua tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Sejujurnya, di lubuk hati mereka paling dalam dia juga merindukan Kesya, karna bagaimapun Kesya adalah sahabat mereka.


‘’Kalian boleh benci sikapnya, tapi jangan benci sama orangnya.'' Nanda berkata dengan bijak, sehingga Cika, Salsa, Puri dan Pute melirik gadis itu.


Ucapan Nanda tentu saja ngeh pada mereka. Boleh saja mereka membenci sikap Kesya, tapi jangan sampai membenci orangnya.


Apa lagi mreka tahu, jika Nanda dan Kesya itu saudara tiri.


''Jadi kamu nggak benci Kesya, Nan?'' tanya Salsa seraya menopang dagu diatas mejanya, menatap Nanda, pembahasan kali ini sepertinya menarik karna Cika sampai meletakkan bukunya diatas meja.


Nanda tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. ''Gue emang benci sama Kesya. Gue benci sama sikapnya, bukan sama orangnya,'' ucap Nanda seraya menarik nafasnya panjang. ‘’Karna gimanapun, Kesya adalah saudara gue, kakak gue,'' lanjut gadis itu.


‘’Gue salut sama lo,'' ucap Cika dan dibalas anggukan setuju oleh yang lainya. ''Gue nggak nyangka, lo bisa berpikir dewasa kayak gini,'' ucap Cika lagi.


''Gue berusaha berdamai sama semuanya. Berusaha menerima semua kenyataan pahit ini,‘’menolog Nanda.


''Kalau gue jadi lo ya, gue nggak akan mau nerima anak pelakor sebagai saudara gue,'' ucap Cika seraya tersenyum tipis. ‘’Tapi itu semua kembali pada diri kita sendiri. Seberapa ikhlas kita menerima takdir yang udah ditetapkan,'' lanjut Cika.


Pute dan Puri tersenyum, dia salut mendpatakan sahabat yang bijak seperti Nanda dan juga Cika.


''Hmm...'' Salsa berdeham, ‘’gimana kalau pulang sekolah kita jenguk Kesya di rumahnya,'' saran Salsa.


''Boleh juga,'' sahut Pute. ''Nggak ada salahnya kita jenguk Kesya, siapa tahu dengan kejadian seperti ini, dia nurunin egonya dikit aja,'' lnjut gadis itu.


''Gimana dengan lo, Ci?'' tanya Pute, sehingga sahabatnya menunggu jawaban dari gadis itu.


''Gue ikut aja,'' balasnya dengan santai.


''Kalau lu, Ri?'' Pute menyenggol lengan Puri. Gadis itu nampak berpikir sejenak, sebenarnya dia malas untuk bertemu Kesya.


Terlebih lagi mereka baru saja berantem, karna Kesya mendoakan Gerald magi saja. Meski dia tidak mempunyai perasaan apapun pada Gerald, tetap saja Puri tidak suka omongan Kesya yang berlebihan itu.


Apa lagi kondisi Gerald yang sudah kritis, apa lagi cowok itu belum juga bangun dari komanya.


''Ditanya malah bengong,'' ucap Salsa.


‘’Sebenarnya gue malas, karna ada satu omongan Kesya yang gue benci. Tapi okelah, gue ikut aja,'' ucap Puri.

__ADS_1


Mereka tidak bertanya ucapan apa yang dibenci oleh Puri dari Kesya.


‘’Gimana dengan kamu, Nan?'' tanya Salsa.


Nanda menghembuskan nafas berat. ''Sebenarnya gue mau. Tapi...Kalian tahu sendirikan mamanya Kesya udah benci banget sama gue, pas dia tahu kalau gue anaknya mama Gina.'' Nanda menjelaskan alasanya pada sahabatnya. ''Jadi gue nggak bisa ikut, gue nggak mau memperkeruh masalah lagi,'' lanjut.


Sahabatnya mengangguk memaklumi, apa lagi saat mereka tahu watak asli mamanya Kesya, dia melihat di rumah sakit, hampir saja Raisa menampar Nanda, untung saja Boy datang tepat waktu.


Mereka berempat fix, pulang sekolah akan menjenguk Kesya.


Alasan Nanda selain itu, dia juga tidak ingin bertemu papanya. Boy sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak bertemu dengan Iksan.


Mereka kembali sibuk, Cika sibuk dengan bukunya, Puri dan Salsa sedang bermain ponsel.


Sementara Pute? Dia sedang bermain game, guna menghilangkan kegalauannya mengenai Leo. Meski tidak sepenuhnya terobati, tapi setidaknya mengalihkan sedikit pikiranya.


Drt...


Ponsel milik Nanda bergetar.


''Ponsel lo bunyi,'' ucap Puri lalu kembali melanjutkan bermain ponsel, membalas chat dari Ethan.


''Gue angkat Telfon dulu,'' pamit Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh sahabatnya.


Nanda keluar kelas, lalu mengangkat Telfon dari Boy.


''Lama banget sih lu Ra, kayak seleb aja di Telfon sama saudara sendiri,'' dumel Boy di ujung Telfon.


''Iya-iya, sory.'' Nanda langsung mengucapkan kata maaf.


''Ok, pulang sekolah gue jemput lo. Lo tinggal Telfon gue kalau lo udah pulang,'' ucap Boy di ujung Telfon.


''Ok.''


''Oh iya, Ra. Apa anak Ibnu ada ke sekolah hari ini?'' tanya Boy memastikan.


‘’Maksud lu kesya?'' tanya Nanda.


''Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Gue malas nyebut namanya.''


''Ok.'' Boy langsung mematikan telfonya, setelah mendpatakan jawaban dari Nanda,


***


Bell pulang sekolah berbunyi, Salsa dan sahabatnya bersiap-siap untuk pulang menuju rumah Kesya, kecuali Nanda yang tidak ikut.


‘’Andai gue tahu hari ini nggak belajar, gue bakalan tetap rebahan di rumah gue,'' gumam Pute seraya memakai tasnya.


''Sama,'' sahut Puri. ''Tapi gue lebih malas sih kalau di rumah, karna nggak ketemu kalian.''


''Dih.''


''Gue pulang duluan, Abang gue udah nungguin gue diluar,'' pamit Nanda.


''Hati-hati, Nan,'' ucap mereka dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


Mereka saling melambaikan tanganya, hingga Nanda hilang dari ambang pintu kelas.


Nanda berjalan di koridor sekolah, hingga langkah kakinya terhenti karna di cekal oleh seseorang.


Nanda sudah tahu, siapa pelakunya kalau bukan Ardian.


''Gue antar lu balik. Suruh aja supir lu pulang. Karna gue yang bakalan anterin lo,'' ucap Ardian seraya melepaskan tangan Nanda yang dia cekal.


''Nggak usah,'' tolak gadis itu.


''Biar gue—''


''Abang gue yang jemput gue, bukan supir,'' potong Nanda dengan cepat membuat Ardian menjadi diam.


''Gue duluan,'' pamit gadis itu lalu melenggang pergi meninggalkan Ardian.


''Lo nggak mau jengukin, Gerald?'' tanya Ardian, namun Nanda tidak menghentikan langkah kakinya juga tidak membalas pertanyaan cowok itu.


Nanda keluar dari gerbang sekolah, lalu masuk kedalam mobil Boy. Setelah Nanda masuk, Boy langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang.

__ADS_1


''Tumben jemput gue,'' ucap Nanda lalu Boy melirik adiknya.


''Mama sakit.''


Deg...


Pernyataan yang diberikan Boy membuat gadis itu diam, ‘’sakit apa, bang?'' tanya Nanda dengan nada panik. ''Pas gue ke sekolah, mama masih sehat-sehat kok.''


''Itu tadi, Ra. Gue dapat Telfon dari pak Budi tadi siang, kalau mama pingsan,‘’jelas Boy.


‘’Terus gimana kondisi mama sekarang?'' tanya Nanda lagi.


‘’Udah gue kasi obat, makanya dia nyuruh gue buat jemput lu,'' balas Boy lagi membuat Nanda bernafas legah, saat Boy mengatakan jika dia mamanya sudah baik-baik saja.


Tidak butuh waktu lama, mobil milik Boy masuk kedalam rumah, dengan langkah cepat Nanda langsung masuk kedalam rumah.


''Ma,'' panggil Nanda seraya membuka pintu kamar milik Gina.


Gina langsung melihat kearah pintu, rupanya anak gadisnya yang dtang. Nanda langsung memeluk Gina.


''Mama sakit apa?'' tanya Nanda seraya memeluk Gina dengan erat, mamanya sedang berbaring diatas tempat tidur, tanganya yang mulai berkeriput itu di pasangi selam infus.


''Mama cuman pusing. Mungkin karna efek kecapaen,'' ucap Gina seraya mengusap rambut milik Nanda.


''Mama nggak usah pikiran papa ya. Itu bakalan buat mama sakit. Kalau mama sakit, Ara sama siapa?'' Nanda meneteskan air matanya membuat Gina tertawa renyah.


''Mama baik-baik aja, kamu jangan cengeng kayak gitu. Entar cantiknya hilang,'' goda Gina.


Nanda tidak percaya, jika mamanya baik-baik saja. Andaikan hanya pusing biasa, mamanya tidak akan di pasangkan infus sepertiIni.


Palingan Boy hanya memberikan obat peredah pusing, tanpa menggunakan infus.


Boy yang melihat interaksi antara mama dan adiknya mendongakkan kepalanya. Dia tidak mau jika air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


Boy langsung pergi dari ambang pintu, dia akan menuju ruanganya sendiri. Mulai sekarang, dia akan menghabiskan banyak waktunya di rumah, seminggu sekali dia akan kerumah sakit.


Dia juga sudah membicarakan hal ini kepada kepala rumah sakit, tempatnya bekerja.


***


Cika, Salsa, Puri dan juga Pute berangkat kerumah Kesya menggunakan mobil milik Cika. Ke empat gadis itu sudah sampai di rumah Kesya, seorang satpam membukakannya gerbang sehingga mobil gadis itu masuk di pekarangan rumah mewah itu.


‘’Kesya nya ada pak?'' tanya Salsa pada satpam yang membukakannya gerbang.


''Ada di dalam, Silahkan masuk,‘’ucap satpam itu dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


Satpam langsung saja mempersilahkan mereka untuk masuk, karna mereka sudah biasa kerumah Kesya.


Tring....


Salsa menekan bel rumah di depan mereka, seraya menunggu seseorang untuk membuka pintu rumah ini.


Ceklek.


Pintu rumah dibuka oleh Kesya, dia sempat terkejut melihat ke empat sahabatnya ada di sini, namun dia kembali menetralkan raut wajahnya.


''Mau ngapain kalian kesini?'' tanya Kesya tidak suka, seraya menatap mereka satu persatu dengan tatapan tidak suka.


''Kita nggak diajak masuk dulu?'' tanya Pute, sehingga dengan terpaksa Kesya menyuruh mereka untuk masuk.


Mereka sedang duduk di ruangan tamu, bibi di rumah ini datang membawa minuman dan juga kue.


‘’Silahkan dinikmati.''


‘’Terimaksih.''


''Ngapain kalian kesini?'' Kesya kembali melayangkan pertanyaan yang sama.


''Kita kesini mau lihat kondisi kamu, Sya,'' jawab Salsa membuat Kesya tersenyum sinis.


‘’Kalian masih peduli sama gue? Setelah gue du terpah masalah,'' ucap Kesya dengan sinis lagi.


‘’Gimanapun, kita adalah sahabat,'' sahut Pute dan dibalas anggukan setuju oleh Salsa.


Sementara Puri dan Cika hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2