
Nanda berulang kali menarik nafasnya dalam, selama dia beranjak SMA, dia tidak pernah ke dapur lagi.
Gina selalu memanjakan dirinya, urusan dapur di urus oleh asisten rumah tangga, yang bekerja di rumah milik orang tuanya.
Dan sekarang? Gadis itu sedang berhadapan dengan beberapa bahan dan adonan di hadapanya.
Tari mengajaknya untuk masuk, bahkan Tari memaksa Nanda untuk masuk, memohon kepada gadis cantik itu untuk masuk kedalam rumahnya.
Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, kapan lagi rumah mewahnya di injak oleh gadis yang di ajak oleh anaknya itu.
Pertama kalinya, rumah Ibnu dan Tari di masuki oleh gadis, sudah lama Tari menginginkan hal ini.
''Maaf, Tan, saya nggak bisa masak,'' ucap gadis itu dengan jujur. Membuat pergerakan tangan Tari yang memecah telur langsung melirik Nanda.
Dia tersenyum kearah Nanda, gadis itu tersenyum kikuk kearahnya. Nanda merasa malu, dia sebagai seorang gadis tidak tau mengenai hal dapur.
Padahal, wanita itu sangat dekat dengan namanya dapur, masak dan terus memasak. Jika menikah nanti, wanita akan tetap memasak dan bertempur di dapur.
Nanda selalu di manjakan oleh Gina, Boy dan papahnya.
Mungkin karna Gina tidak mahir dalam urusan dapur, sehingga Nanda tidak tahu memasak, apa lagi ini sampai buat kue enak seperti yang di tunjukkan oleh mamah Ardian di ponsel miliknya.
__ADS_1
''Kita belajar sama-sama,'' ucap Tari dengan santai.
Tidak masalah bagi Tari, jika Nanda tidak tahu memasak.
''Iya, Tan,'' jawab Nanda.
Ardian tersenyum tipis melihat interaksi antara Nanda dan mamahnya, Ardian juga mendengar apa yang Nanda katakan. Dia sempat tidak percaya, jika gadis itu tidak tahu memasak.
Ardian bisa melihat, raut wajah mamahnya sangat bahagia melihat Nanda di sini. Sudah lama Tari berpesan kepada Ardian, untuk membawa pacarnya kerumah, agar Tari bisa mengajaknya bikin kue bareng di dapur.
Sekarang, dia sudah membawa gadis tanpa sengaja. Bukan pacarnya, melainkan sosok gadis baru di sekolahnya, yang mampu membuat darah milik Ardian berdesir.
Apa lagi saat pertemuan pertama mereka di lampu merah, hingga mereka berdua bertemu di taman belakang sekolah, hingga saat itu dia di hukum berdua oleh Nanda, karna ketahuan bolos.
''Jadi benar...Kamu yang nyulik cowok yang di cari Nanda?'' tanya Ibnu, seraya menyesap coffe miliknya.
Ardian sudah menceritakannya kepada Ibnu, mengapa gadis itu sampai di sini, mencari dirinya.
Ardian sudah memperkenalkan nama Nanda kepada papahnya barusan.
Ardian melirik Ibnu, lalu mengangguk mengiyakan ucapan papahnya barusan.
__ADS_1
Ibnu menggeleng, ''apa untungnya kamu menculik dia?'' tanya Ibnu.
‘’Dendam sama anak VAGOS dan....'' Ardian menjedah ucapnya, melirik punggung Nanda yang sedang sibuk di ajari Tari untuk memisahkan kuning telur dan putih telurnya.
Memisahkan kuning telur dan putih telur saja, gadis itu di ajar oleh Tari. Benar-benar, gadis itu tidak pernah menyentuh bahan makanan di dapur, yang dia tahu hanya makan yang sudah siap saja.
''Karna gadis itu?'' tebak Ibnu.
Ibnu Dan Tari
Ardian tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis, membuat Ibnu sudah paham, maksud dari Ardian.
''Kamu menyukainya?''
Pernyataan Ibnu membuat Ardian menggeleng, ''tidak,'' jawabnya. ‘’Sampai sekarang, belum ada gadis yang buat Ardian merasakan apa itu jatuh cinta.''
''Apa itu jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Ardian belum merasakan itu pah,'' lanjut Ardian.
''Kamu akan merasakan itu cinta, jika kepergianya membuat mu merasa ada yang hilang dalam hidup mu,'' ucap Ibnu membuat Ardian tidak membalas ucapan Ibnu lagi.
__ADS_1