ARDIAN

ARDIAN
Hamil


__ADS_3

"Kenapa dok?" tanya Pute saat dokter selesai memeriksa nya.


Leo menatap dokter yang enggan bicara itu, setelah dia berhasil memeriksa Pute.


"Dok, gimana keadaan Pute? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya Leo dengan khawatir, sementara Pute masih berbaring diatas tempat tidur nya, menunggu jawaban dari sang dokter.


Dokter itu melirik Leo, "kamu siapa nya, Pute?" tanya dokter dengan penuh intimadasi kepada Leo, membuat cowok itu tertegun.


"Saya temannya," jawab Leo, membuat Pute tersenyum kecut, "tapi saya dekat dengan nya, dia sudah lebih dari teman saya." Lanjut nya sembari menatap Pute yang tersenyum ke arah nya.


"Tanggung jawab," kata dokter itu membuat Pute dan Leo saling menatap satu sama lain, tanggung jawab apa yang di katakan dokter tersebut.


"Maksdnya?" tanya Pute dan Leo bersamaan.


Dokter perempuan itu melirik Pute dan Leo secara bergantian, lalu atensinya menatap Pute sepenuhnya, "kamu hamil."


Deg...


"Usia kehamilan kamu sudah masuk 2 minggu."


Leo menahan nafas, saat dokter mengatakan jika Pute hamil, sementara Pute langsung membulatkan matanya, kenapa pikiranya tidak terarah kesini, saat dirinya mual-mual seperti ini.


"Jangan kabur dari tanggung jawab kamu. Kalau kamu benar-benar laki-laki," lanjut dokter itu lagi.


"Gue hamil?" Pute bergumam pelan, suaranya mengecil mendaptkan kenyataan ini. Gadis itu mengusap perutnya yang rata, "ada nyawa di dalam perut gue?"


Kenapa bisa Pute hamil, mereka baru sebulan lebih melakukan hal itu, dan seingat Leo baru tiga kali mereka melakukan hubungan badan, dia tidak menyangka jika perbuatan nya menciptakan nyawa didalam perut gadis itu.

__ADS_1


Pute tidak menangis sama sekali, dia hanya termenung. Karna saat dia menyerahkan tubuh nya kepada Leo, dia sudah menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan yang akan terjadi. Dan semuanya sudah terjadi, buat apa Pute sesali, sementara dia sudah menyiapkan diri jika ini akan terjadi dalam hidup nya.


"Kamu tahu dan sadar akan hal itu, tapi kenapa kamu tetap melakukan nya?" Dokter itu menggelengkan kepala nya tak habis pikir, dokter itu sudah tidak terkejut lagi jika mendapatkan kasus seperti ini, karna hal seperti ini sudah hal biasa, namun dokter itu terkejut karna gadis itu adalah anak teman nya sendiri saat kuliah. 


"Saya mau gugurin janin saya."


Sontak Leo dan Dokter menatap Pute dengan tatapan tidak percaya, jika gadis itu ingin menggugurkan kandungannya.


Leo menggeleng, membantah ucapan Pute barusan. "Nggak!" tolak Leo mentah-mentah, membuat Pute menatap cowok itu.


"Lo mau, kalau papa sampai tahu," kata Pute.


"Kita bakalan tanggung sama-sama," kata Leo dengan yakin, "gue yakin, dokter mau bantu kita, supaya perut lo nggak kentara kalau keluar rumah," kata Leo lagi menatap penuh harap dokter itu.


"Gimana sekolah kita? Gue yakin, lambat atau cepat semua akan ke bongkar," bantah gadis itu lagi.


"Dokter bisa bantu, 'kan?" tanya Leo, yang sudah dokter tahu maksud dari ucapan cowok di depan nya ini.


Dokter itu menghembuskan nafas berat, "baik, saya akan tetap mantau kamu. Kebetulan teman saya ada dokter kandungan. Dia yang tahu segalanya tentang ibu hamil."


"Dokter bisa jaga rahasia, 'kan?" tanya Pute dengan suara pelan, "jangan sampai papa tahu," lanjut nya membuat Dokter itu mengangguk mengiyakan ucapan gadis itu.


"Saat usia kandungan kamu sudah masuk 3 bulan. Kamu harus mengenakan korset saat ke sekolah dan saat kamu ingin bepergian. Saat sudah tiba di rumah, korsetnya langsung kamu lepas, karna nggak baik jika kamu mengenakan korset 15 jam lama nya. Kurangi berkeliaran diluar rumah," jelas dokter itu lagi membuat Leo manggut-manggut paham.


"Dan untuk kamu, jangan lari dari tanggung jawab kamu," kata dokter itu lagi memberikan peringatan kepada Leo, andai Pute bukan anak teman nya, maka dia tidak akan ikut campur soal ini.


Leo hanya mengangguk kecil saja.

__ADS_1


"Bagaimana jika anak ini lahir, sementara kami masih sekolah?" tanya Pute dengan suara pelan, membuat dokter itu kembali melirik Pute.


"Satu bulan ingin melahirkan, kamu harus ngajuin libur di sekolah kamu satu bulan, untuk persiapan persalinan kamu. Untuk ini, tidak perlu di pikiran dulu. Nanti saya yang akan membantu kamu," ujar dokter itu membuat Pute mengucapkan banyak terimakasih, setidaknya ada dokter yang membantu nya soal ini.


Dokter itu pamit untuk pulang, tak lupa pula ia memberikan ceramah kepada Leo, karna dia sudah merusak anak gadis orang, meskipun mereka sama-sama mau, ini sepenuhnya bukan salah Leo.


Setelah kepergian dokter tersebut, Leo langsung kembali ke kamar Pute, dia mencari gadis itu sudah tidak ada diatas tempat tidur, matanya langsung menatap ke arah balkon kamar Pute, rupanya gadis itu Tengah berada di sana.


"Gue minta maaf, gue bakalan tanggung jawab," kata Leo setelah dia berhasil berdiri di samping Pute.


Pute tidak bergeming sama sekali, lalu kemudian dia melirik Leo yang tersenyum kepada nya.


"Gue pikir, lo bakalan minta sama gue, buat gugurin nih kandungan," ujar Pute dengan suara pelan.


"Nggak akan, Put. Gue bakal tanggung jawab." Leo langsung membawa Pute kedalam pelukannya.


"Apa gue harus ngomong sama papa?" tanya Pute, sebenarnya dia sudah berpikir jika dia akan menyembunyikan hal ini kepada sang papa. Namun dia takut, jika sang papa mengetahuinya sendiri dan akan membuat hidup nya menderita.


Leo terdiam, dia tidak tahu harus menanggapi nya seperti apa. "Kalau papa lo ssampai tahu, besar kemungkinan kita bakalan kawin," ucap Leo sembari menghembus kan nafas berat, masih setia membawa Pute dalam pelukan nya, "dan itu jauh lebih baik, karna gue mau jagain lo setiap hari, mastiin lo sama anak daam kandungan lo itu baik-baik. Dengan cara kita kawin lebih dulu."


Pute melepaskan pelukanya, "gimana dengan sekolah kita?" tanya Pute meminta penjelasan kepada cowok di hadapan nya.


"Papa sama bokap gue donatur di sekolah. Nanti gue omongin sama Ardian juga, biar dian bisa bantu kita. Lo tahu, 'kan, Greta sama dokter Boy sudah menikah. Sementara Greta masih sekolah," ungkap Leo membuat Pute diam sejenak.


"Ok, entar malam gue bakalan telfon papa. Dia bakalan pulang, kalau tahu gue lagi sakit. Dan gue bakalan ngomong soal ini," kata Pute dengan yakin.


"Pulang dari sini, gue bakalan ngomong sama nyokap gue juga."

__ADS_1


***


__ADS_2