ARDIAN

ARDIAN
Pute dan Leo


__ADS_3

Memutar shower kamar mandi, dia membasahi tubuhnya dibawah shower, padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dia menangis, berulang kali dia menelfon Leo namun cwok itu tidak mengangkat telfonya, bahkan nomornya sekarang tidak aktif.


Ini pertama kalinya Pute melakukan ini, andai saja itu bukan Leo mungkin dia tidak akan bodoh, andai saja Leo tidak memberikanya sentuhan kasih sayang, mungkin dia tidak akan gila sentuhan.


Baru kali ini Leo menyentuhnya, namun mampu membawanya terbang tinggi, karna perlakuan cowok itu.


Pute mengusap air matanya, yang sudah bercampur dengan air shower dari atas. ''Gue harus ketemu, Leo.'' Pute bergumam, besok dia akan menemui Leo di sekolah.


Gadis itu berdiri dari lantai kamar mandi, mematikan shower lalu mengganti pakainya, hujan di luar sudah tidak sederas tadi.


Dengan langkah lunglai, gadis itu melangkah keluar dari kamar mandi, berjalan menuju tempat tidur, meringkuk diatas tempat tidur memeluk bantal guling, seraya menangis sesegukan.


Leo baru saja pergi, namun dia merasa ada yang hilang dari dirinya saat ini. Entah apa, tapi dia merasa kehilangan Leo saat cowok itu memgambil segalanya.


Pute hanya menangis dalam diam, untung saja di rumah besar ini, dia hanya sendiri, sehingga tidak ada yang menggangu dirinya untuk menangis.

__ADS_1


Drt...


Deringan ponselnya membuat Pute meraba tempat tidurnya, dia mengambil ponselnya, dia berharap yang menelfonya adalah Leo.


Senyuman mengambang di wajah Pute, saat melihat nama terterah di layar ponselnya, rupanya Leo yang menelfon wa dirinya. Padahal, baru saja Pute memikirkan cowok itu, karna Leo tidak mengangkat telfonya.


''Hai, Put.'' Leo menyapa Pute di ujung telfon, setelah gadis itu mengangkat telfonya, mendengar suara Leo membuat Pute kembali sesegukan.


''Hei, lo kenapa?'' tanya Leo lagi di ujung Telfon, cowok itu berjalan menuju balkon kamarnya.


‘’Tadi gue nggak angkat Telfon lo, karna gue lagi nyetir mobil, Rafael.'' Bohongnya pada Pute, padahal bukan dia yang menyetir mobil.


Pute hanya bergumam kecil di ujung Telfon.


‘’Kenapa belum tidur, Put?'' tanya Leo lagi, karna Pute hanya diam saja.

__ADS_1


‘’Besok lo ke sekolah?'' Bukanya menjawab, Pute malah balik bertanya pada Leo.


Leo nampak berpikir sejenak. ''Iya, besok gue ke sekolah. Pulang dari sekolah baru ke rumah sakit, jengukin Gerald,'' jawab Leo.


‘’Emangnya kenapa?'' lanjut cowok itu, karna Pute kembali diam. Leo berjalan ke tempat tidurnya, seraya menunggu jawaban dari Pute.


Leo mengalihkan panggilan, ke panggilan video call, membuat Pute langsung mengangkatnya, menutupi sebagian wajahnya menggunakan selimut, namun begitu Leo bisa melihat mata Pute yang memerah, seperti baru saja menangis.


''Put,'' pangggil Leo, tersenyum di ujung video call, membuat Pute meremas selimutnya. Melihat senyuman Leo membuat gadis itu seketika merindukan Leo.


‘’Kalau udah nggak ada tang yang mau di obrolin, gue tutup telfonya dulu, ya, Put. Gue mau tidur, gue juga nggak enak badan,'' pamit Leo membuat Pute langsung membuka selimutnya, membuat wajahnya terlihat jelas di ponsel.


‘’Gue mau ketemu lo di sekolah besok,'' ucap Pute sebelum Leo mematikan ponselnya.


''Ok, jam istirahat gue tunggu di Roftop sekolah,'' balas Leo lalu kemudian cowok itu mematikan panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2