
Jam dinding sudah menununjukkan pukul sebelas malam. Namun belum ada tanda-tanda Salsa akan pulang. Sementara Rafael sedari tadi menunggu kedatan gadis itu Rafael tengah berada di balkon kamar Salsa. Seraya menunggu kedatangan seseorang yang sedari tadi ia tunggu. ''Lama-lama gue susul juga tuh anak!'' Rafael menarik nafasnya panjang, lalu kemudian berucap pada dirinya. ''30 menit lagi, kalau dia belum pulang,
bakalan gue susul kerumahArdian.''
Tidak sampai 30 menit, suara deruman motor seseorang memasuki pekarangan rumah. Rafael yakin suara deruman motor itu adalah motor milik Fatur, yang mengantar Salsa balik. Sayang sekali, dari balkon kamar Salsa,
cowok itu tidak bisa melihat keduanya berboncengan, namun Rafael cukup yakin jika itu adalah Salsa dan Fatur.
Salsa turun dari motor Fatur seraya membuka helm. ''Makasih yah,
Tur. Kamu udah mau ajakin aku kerumah orang tua kamu. Jadi banyak banget pelajaran yang aku dapat malam ini sama mama kamu,'' ucap Salsa seraya tersenyum manis pada Fatur. Meski tadi sempat terhambat karna Tari buru-buru pergi setelah mendapatkan telfon, Salsa tidak tahu kedua orang tua Ardian kenapa buru-buru pergi. Apa lagi saat pergi Tari tidak mengatakan ingin pergi kemana.
Tapi setidaknya Tari mengajarinya berbagai resep pembuatan cake, yang selama ini Salsa tidak dapat.
''Bukan nyokap gue, tapi nyokap nya Ardian,'' ujar Fatur membuat Salsa memanyunkan bibirnya lucu. ''Tante Tari juga mama kamu, Tur. Bukan cuman mama nya Ardian. Apa lagi tante Tari nggak beda-bedain antara kamu sama Ardian. Meski aku baru kenal sama mama kamu beberapa jam yang lalu, aku bisa pastiin kalau dia juga sayang sama kamu. Sama seperti dia sayang sama anak kandungnya sendiri. Apa lagi tante Tari orangnya asik banget,'' ucap Salsa dengan senyuman merekah di wajahnya yang cantik itu.
Wajah Salsa yang tersenyum anggun membuat jantung Fatur berdetak tidak karuan. Entah mengapa wajah polos Salsa membuatnya jatuh cinta sejak dulu.
''Aku mau ngucapin terimakasih banyak ke kamu, Tur. Makasih udah mau kenalin aku ke tante Tari, meski aku yang maksa kamu tadi. Soalnya aku pengen banget belajar buat cake sama tante Tari. Apa lagi sahabat aku bilang, kalau tante Tar[ jago banget buat cake. Jadi aku maksa kamu deh. Nggak apa-apa kan?" Salsa menatap manik mata Fatur, membuat Fatur jadi gelagapan dengan tatapan gadis di depanya.
''Nggak apa-apa, gue lakuin ini buat lo juga," jelas Fatur membuat Salsa lagi-lagi tersenyum tulus pada sosok Fatur.
"Gue yakin banget, kalau kamu sama Ardian nanti udah nikah. Pasti yang jadi istri kalian bakalan bahagia, karna dapat mertua sebaik tante Tari dan om Ibnu. Di tambah lagi tante Tari jago banget buat cake." Salsa tak henti-hentinya memuji Tari, karna wanita itu banyak mengajarinya cara membuat cake yang sangat enak.
"Kamu mau jadi orang yang beruntung itu?" tanya Fatur dengan raut wajah seriusnya menatap Salsa.
__ADS_1
"Mau banget lah," jawab Salsa dengan cengengesan. Siapa juga yang mau menolak hal menguntungkan. Apa lagi jika mendapat mertua yang jago urusan dapur.
Salsa jadi membayangkan orang tua Rafael jago di dapur. Memikirkan itu membuat Salsa menggelengkan kepalanya. Dia baru ingat jika mama Rafael lebih fokus urusan karir ketimbang soal urusan dapur rumah.
"Gimana kalau lo aja yang menjadi orang beruntung itu?"
"Caranya gimana?" Salsa seantusias itu menanyakan bagaimana caranya.
"Lo jadi pacar gue."
***
Sedari tadi Rafael menunggu Salsa membuka pintu,namun belum ada pergerakan sama sekali dari gadis itu. Padahal sudah 10 menit lebih Rafael menunggu. "Apa yang mereka bicarakan dibawah sana?" gumam Rafael penasaran. Dia sudah seperti orang gila. Mondar-mandir di dalam kamar Salsa. "Ngapain juga gue mikiri." Jujur saja, Rafael penasaran dengan apa yang mereka obrolkan dibawa,hingga Salsa tak kunjung masuk.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok gadis cantik yang mengenakan celana jens bewarna biru, serta sandalmahal menghiasi kedua kakinya itu.
Salsa membulatkan matanya, saat melihat sepasang kaki dengan sandal yang tidak asing untuknya. Pandanganya yang tadi tertunduk, langsung menatap kedepan.
Deg....
Jantung Salsa berdetak sangat kencang, bahkan keringat bercucuran di pelipisnya. Saking syoknya dengan cowok di hadapanya. Salsa merasakan pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Dia terlalu syok melihat Rafael berada di dalam kamarnya seraya bersedekap dadah, dengan sorot mata yang menatapnya tajam.
Salsa masih tidak bergeming, dia cosplay menjadi patung di depan Rafael. Ini seperti mimpi untuk Salsa. Melihat ada Rafael di sini membuatnya sangat yakin jika dia sedang berhalusinasi. Dia memang mengharapkan Rafael ada di sisinya. Saking berharapnya dia sampai berhalusinasi seperti ini.
"Apa aku sedang halusinasi, sampai-sampai Rafael ada di sini." Salsa memanyunkan bibirnya. "Andai aja orang di depan aku Rafael, pasti aku senang. Saking senangnya pasti aku akan keterusan pingsan kalau ini nyata."
__ADS_1
Rafael rasanya ingin berteriak di depan wajah Salsa, saking award nya dia dengan gadis di depanya. Di tambah lagi dengan ucapan Salsa barusan.
"Apa gue kurang nyata di depan lo!" desis Rafael membuatv Salsa tersentak.
Suara ini sangat nyata, jika ini sebuah halusinasi saja.
"El....Ini beneran kamu?" Mulutnya bahkan kaku melontarkan pertanyaan tersebut1.
"Ini gue, Rafael yang lo sukai sejak kecil sampai detik ini!"
Kaki Salsa melemas, saking tidak percanya jika dia sedang tidak behalusinasi. Salsa merasakan kesadaranya berkurang karna syok dengan Rafael di sini.
Salsa langsung pingsan, untung saja Rafael dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Jika tidak, Salsa akan ambruk dibawa lantai.
"Ch! Menyusahkan sekali. Senang-senang dengan Fatur tapi gue yang susah gendong badan lo yang pingsan ini!" gerutu Rafael seraya mengangkat tubuh Salsa yang pingsan diatas tempat tidur.
Padahal, Rafael ingin memaki Salsa namun gadis itu mala pingsan. Rafael sudah membaringkan tubuh Salsa diatas tempat tidur. Dari jarak yang sangat dekat, Rafael melihat wajah Salsa begitu lekat. Ini pertama kalinya Rafael menatap wajah gadis itu dengan jarak yang sedekat ini.
Rafael mengakui, kecantikan Salsa memang tidak ada tiganya di sekolah. Namun mengapa dia begitu sulit jatuh cinta pada gadis yang sedang di tatap sekarang ini? Kenapa sangat sulit jatuh cinta pada gadis sebaik Salsa?
"Saking terkejutnya gue ada di sini, lo sampai pingsan," Rafael menggelengkan kepalanya saking tidak menyangkanya dengan situasi sekarang. "Lo yang terlalu lebay, atau gue yang nggak ngerti apa-apa?"
Rafael langsung menjaga jaraknya dengan Salsa, sebagai lelaki normal, dia takut jika dia khilaf dan melakukan hal yang diluar pikiranya.
Rafael meninggalkan kamar Salsa, memanggil ART di rumah ini untuk membangunkan Salsa yang sedang pingsan.
__ADS_1